Perempuan dalam Hujan

Oleh Syaiful Alim

Aku memandang hujan dari jendela kamar rumah flatku. Hujan ini membawaku padamu, perempuanku. Bukankah kau suka hujan? Masa kanak-kanakmu datang lagi jika hujan mengguyur bumi yang belukar. Kau keluar kamar. Bermain basah dengan air. Rambutmu yang panjang tergerai itu kaubiarkan dicumbu bibir hujan. Bibir hujan bersujud di rambut lembutmu. Aku, lelakimu, cuma bisa memandang tubuhmu dan mendengar teriak kanakmu. Karena aku tahu seusai ini kau akan berkata, “Cinta, peluk aku.” Begitulah kau menjaga kehangatan cinta. Kaujadikan hujan sebagai jalan untuk menggodaku dan memasak sesakku. Mungkinkah kelahiranmu disertai dengan turunnya hujan? sePertanyaan ini masih kusimpan. Aku belum berani bertanya padamu. Dan mungkin kau sudah tahu bahwa aku jatuh cinta padamu juga karena hujan. Hujan sore itu. Hujan yang melahirkan pelangi.

Kilau warna-warni pelangi itu sembunyi di teduh matamu dan lesung pipitmu. Jika pelangi itu tak muncul lagi di langit ini, aku masih bisa menatapnya, menatap dan mendekap mata teduh dan lesung pipitmu. Akhir-akhir ini pelangi sulit melahirkan warna-warni cahaya. Peperangan yang tak henti-henti, pertikaan dan pembunuhan selalu tumbuh di bumimu dan bumiku. Burung-burung lupa jalan pulang. Sarang-sarang mereka yang bertengger di reranting, rerimbun daun dan ketiak pohon kurma telah hangus terbakar. Asap-asap menyesak dada. Mungkinkah umat manusia kini lebih tertarik pada logika perang dan pedang? Seolah peperangan adalah jalan menuju perdamaian. Betapa deras airmata dukaku jika ayat-ayat Tuhan diperalat untuk menumpuk mayat. Berapa kali kita akan melayat bersama lalat. Mungkinkah dunia sudah terhipnotis mantra-mantra berikut ini:

“Setiap aliansi yang tidak dimaksudkan perang, sama sekali tidak ada gunanya.” (Adolf Hitler)

“Setiap orang yang tidak ikut perang, harus bekerja untuk kaisar, tanpa upah, untuk suatu masa tertentu.” (Jenghis Khan)

“Semua perang menghendaki perdamaian.” (St. Agustinus)

“Hiduplah dalam keadaan perang.” (Friedrick Wilhelm Nietzsche)

Kau perempuan dalam hujan. Aku sengaja menjebakmu dengan hujan. Hujan yang turun dari langit sajak-sajakku. Seperti biasanya kau keluar kamar menyambut hujanku dengan kerongkongan kemarau. Dan aku mengamati tubuhmu yang utuh dan basah dari simpang jalan. Sambil membawa pencil dan kertas, aku catat setiap gerak dan teriak serak merdumu. Sejak itulah aku jatuh cinta padamu. Kau jatuh cinta pada sajak-sajakku dan aku jatuh cinta pada gerak dan teriak serak merdumu. Gerak tubuhmu yang lincah dan deras hujan sudah beberapa kali menetaskan sajak-sajak dari jemariku. Suara teriak serakmu mengoyak sepiku. Sepi yang pisau. Menusuk-nusuk daging adamku. Mengalir darah sederas hujan itu.

“Cinta, peluk aku!”

Kauulangi lagi pintamu. Aku tidak memelukmu. Aku lebih baik memberimu handuk. Aku yakin kau masih ingin menikmati basah hujan yang melekat di tubuh dan rambutmu. Usaplah tubuh dan rambutmu, sayangku, bujukku. Dan sudah kuduga apa yang terjadi: kau menolak dan melempar handuk ke lantai, lalu menubruk tubuhku, tubuh karang.

“Aku suka tubuh karangmu.”

Kau selalu mengulang kata-kata itu di depanku. Sungguh aku belum pernah menjumpai perempuan yang begitu jujur seperti kau. Kau selalu jujur dengan nafsumu. Kau selalu jujur dengan pujianmu. Aku suka tubuh karangmu. Rayumu itu membuat nafasku memeluk nafasmu. Dan aku tak berhenti memelukmu sebelum kau meraung dan mengerang.

“Tubuhku memang karang, Sayang, namun di gelombang lautmu aku sering tumbang.”

Hujan dan perempuan. Bukankah kedua jenis mahkluk ini bisa menghidupkan dan mematikan? Aku selalu memandangmu sebagai hujan yang turun membasahi tanah-tanah retak dan sawah-sawah kering. Menumbuhkan tunas pohon yang meranggas. Menumbuhkan benih-benih kehidupan. Membangkitkan akar-akar pepohonan dari trauma panjang. Aku pun sadar, sewaktu-waktu kau menjelma hujan bandang yang memporak-porandakan rumah sembahyang, gedung-gedung, dan ladang-ladang.

Kau hujan santunku, Sayangku. Hadirmu kaupersembahkan kepada akar-akar pepohonan yang terkapar, kembang yang hilang tembang, rerumput yang surut denyut, kerongkongan padi-padian dan umbi-umbian yang kerontang, suami-istri yang berbagi punggung, dan aku yang murung.

Daun-daun pohon kurma berisik diusik angin cerdik. Tubuh hujan yang terpelanting di atap genting menjadi bebunyian denting, namun aku merasa hening. Butir-butir air itu mengalir mencari lubang dan kubang. Wahai hujan, di sini, di negeri ini, kau tak kan menjumpai yang kau mau. Cuma pasir dan debu muaramu berakhir. Seperti aku. Iya, seperti aku yang mencari dermaga bagi badai resahku malam ini. Cinta dan rinduku ditentukan oleh kawat yang merambat di udara dan kabel bandel yang suka membuat sebel. Dolar di sakuku selalu terkapar ketika aku merindu suaramu. Suara serak merdu itu. Ah, cinta memang hanya serindang pohon, sisanya air mata yang memohon. Ah, cinta memang hanya semanis buah manggis, sisanya air mata yang menitis. Ah, cinta memang hanya sesuap nasi, sisanya lumbung padi yang belum terisi. Ah, cinta memang sehelai puisi, sisanya pisau yang sepi. Ah, cinta memang sedesah berahi, sisanya resah yang berujung pada mati.

“Apa yang akan kita lakukan jika bertemu?

Diam batu? Atau meredam nafsu?

Bermain gitar? Atau menusukkan puisi pisau di daging sepiku?”

Ha ha…. Tanyamu yang bertubi-tubi itu membuatku tertawa. Sungguh aku belum tahu apa yang akan kuperbuat. Akankah aku menjelma seekor singa lapar? Akankah aku menjelma pengungsi yang seminggu belum mencium bau beras setakar? Atau lebih baik aku merawat getar dan debar agar mekar mawar? Kelak kita nikmati wangi, meski diri ditikam-tikam duri.

Perempuanku, aku berandai, jika hujan malam ini adalah kau….

*BISA DIBACA VERSI UTUH DALAM NOVEL KIDUNG CINTA POHON KURMA. SUDAH BEREDAR DI TOKO BUKU ATAU PESAN VIA INBOX FACEBOOK SAYA.


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: