Aku Pilihmu, Kekasih.

Oleh Syaiful Alim

 

 

Aku pilihmu, Kekasih.

Pisauku pahat kayu

jadi perahu

hanyutkan pedih.

 

Betapa air mata!

Kawah sedih mendidih

ronta, renta, rentan

asap-asap doa maraton merotan

mewujud kursi dan dipan

seorang kakek duduk, batuk

memandang langit gelap: Kutuk?

 

Gempur lumpur.

Ratap merapi.

Epidemi stunami.

Gempa longsor wasior.

 

Bagaimana aku zikirkan namamu dengan bibir cibir?

Bagaimana aku ukir namamu dengan jemari nyeri?

Bagaimana aku endapkan namamu dengan dada duda?

 

Lihat. Lihatlah kaum pejabat kami

Memakai baju safari pelesir ke luar negeri

Sementara rakyat sekarat memanggul keranda mayat

Oh, terus sayat dada kami. Dada kami. Dada kami.

Dada kami. Dada kami. Dada kami.

Dada kami. Dada kami.

Dada kami.

Dada.

Kami.

 

Cuma kau kupilih, Kekasih

dari ribuan kekasih.

Pulihkan lukaku. Lukamu juga, bukan?

Jangan. Jangan biarkan aku mati

tanpa dalih.

Aku tahu suka luka silih berganti

tapi betapa berat aku meniti.

 

Kekasih, bagaimana aku mencintaimu seutuh hati?

 

[]

Saudi Arabiya, 02 11 10.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: