Buaya Tak Pernah Lupa

Oleh Dwi Klik Santosa

“Hei … flamboyant!

Kemana saja engkau ini.

Betapa lelah selama ini aku mencari.

Aku kangen mulutmu yang manis.

Aku rindu engkau menghiburku.

Menciumiku. Menyentuhku.

Merontokkan segalaku.

Kembalilah bersyair, jantanku.

Kurindu selalu bual-bualmu …”

Aroma melati di pojok itu.

Wanginya semerbak.

Betapa baunya yang norak menusuk hidungku.

Hmm ..

Bagaimana bisa aku tak ingat.

Bagaimana mungkin melupa.

Aku datang padamu melatiku, aku datang.

“Hei … parlente!

Dari ujung ke ujung aku mencari-cari.

Tak juga kutemukan, tak pula kudapatkan.

Takkah kau kasihan padaku?

Lihatlah kini aku yang kurus.

Kusut. Merana. Meragu. Menyendiri setiap waktu.

Kesepian ini, haduh …

Kutemukan dikau kini.

Kumaukan sekarang dirimu disini.

Bawalah aku. Bawa kemana ingin kau bawa.

Jadikan aku juga maumu.

Jangan lagi ragu. Jangan lagi, ya, kumohon.

Jangan pernah lagi lupakan aku.

Jangan sekali-sekali ……”

Ini lagi.

Mawar berduri di ujung kali.

Sintal padat sepenuh-penuh.

Nafasnya panjang. Gairahnya tak sudah-sudah.

Aduh, genitnya. Aduh, manjanya.

Bagaimana bisa kulupa. Tidaklah lekas ingin kulupa.

“Hei .. jagoan! …. ”

“Hei .. Don Juan!”

“Hei .. Samson!”

“Hei  ..Scoby Doo!”

“Hei .. Hei .. hei …” ……

Alamak! Sudah setas penuh. Betapa capeknya aku.

Zentha

23 Oktober 2009 : 07. 36


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: