Aku Masih Ingin Lebih Lama Dipangkuanmu, Ibu

Oleh Afrilia Utami

 

 

Hari ini seorang anak bertemu

Dengan riwayat sebuah kerinduan

Pada jendela pertemuan

 

Akan hangat tembang suara lantunnya

Akan cantik faras pesona raga jiwanya

Akan pertama aku. Seorang anak,

mengenal sesosok pahlawan abadi.

Yang tak jemu memperkenalkan

Apa itu nafas..

Apa itu hidup..

Apa itu cinta..

Dan, apa itu Tuhan.

 

Kaulah, yang memperkenalkan aku.

Ibu.

Pada,

Muasal nafas cinta tumbuh di tiapnya

Abu usiaku.

 

 

Hari ini, aku. Anakmu, Ibu… yang dulunya singgahi rahimmu selama Tujuh bulan lamanya, tanpa tahu seberapa banyak susahmu membesarkan semua lelah dan deritamu yang kausebut itu bahagia, itu anugrah terindah yang pernah kaumiliki di dunia ini. Semakin harinya, senyummu semakin mekar  umpama embun kasturi ucap ayah, setiap aku bergerak dalam kandunganmu, tiapnya kaki nakalku menendang-nendang perutmu.  Kemudian, mendengar kabar akan kehadiranku sebentar lagi, kaubersemangat memilah baju ditoko-toko, keranjang tempat nanti lumpuh mungilku tertidur manja didalamnya, beragam mainan dengan warna cantik, dan tak lelah dua matamu kaupaksa membaca buku-buku tebal tentang bagaimana cara terbaik membesarkanku, aku. Anakmu. Meski aku terlahir prematur.

 

“Sayang, kelak kau akan tahu, seberapa besar cinta Ibu padamu.. meski tak setiap waktu ibu menjagamu.“

 

Ibu, bukan kelak dan nanti kuakan tahu. Tetapi sebelum celotehku pertama kali terlontar, Cintamu sudah jelas memupuk rindang diputihku.

 

Masih ingatkah Ibu? kala itu, Hujan cukup besar. Aku masih takut dengan deras suara rintik airnya, dilanjutkan dengan wajah-wajah cahaya yang bergemuruh. Tapi kau ibu, kau terus saja menimangku, mengelus ubun-ubunku dengan lembut, penuh dengan tulusnya kasihmu. Senyummu saat itu kuperhatikan, kusimak dengan dalam, semakin dalam semakin tenang jiwa ini. Mungkin semua ketenangan ini terlahir karenamu, ibu.. Meski masa kanakku tak selalu setia ada bersamamu.

 

“Kau tak perlu menjadi siapa-siapa, karena kau satu dirimu sendiri, Anakku. Janganlah ingin menjadi, tapi jadilah apa yang kauinginkan.”

 

Apa yang sebenarnya kuinginkan ibu? Apa aku tak mempunyai cita-cita pada saat kautanya apa yang kucita-citakan. Sebaris iklan mini hanya bertuliskan “aku ingin membahagiakan, ibuku.”. apa yang kau inginkan dariku ibu? Aku terlahir di sini untukmu.. untuk setia merajut tiap senyummu menjadi busana yang akan kaukenakan bersamaku. Lalu kuberi nama busana itui “bahagia”.

 

Namun pada nyatanya, kini aku jauh darimu, ibu. Aku jauh dari peluk teduhnya kata lisanmu, dari hangatnya senyummu. Dari tiap kilau yang kutemukan di dua matamu, yang tergurai bebas di hitam rambutmu. Dan disegaris manisnya kaumembangunkanku dengan apa itu cinta yang tak kenal dengan dendam dan nafsu jiwa. Maafku ibu, kini jarang sekali waktu mempertemukan kita. Mungkin lama airmatamu menitik meruah di laut yang urung hadirkan ombak.

 

Sekarang aku di sini ibu. Anakmu, yang dulu buat bekas jahitan diperutmu. Pada tiap malamnya, mengetuk-ngetuk mimpi malammu. Di paginya, yang hadirkan kejengkelan berepisode panjang tak kunjung usai.

 

Ya, dekaplah lagi aku ibu. Meski aku bukan anakmu yang pada saat itu berumur 5th, atau pada tiap keluh kesal di usia 17th, yang semakin bertanya perihal di kediaman kepala empatmu. Anakmu ini, sudah tua, ibu. Sudah siap untuk kaumandikan untuk terakhir kalinya. Izinkanlah ibu, untuk aku mencium syurga kakimu,kembali. Aku tidak malu menangis dihadapmu, tapi aku takkan biarkan melihatmu semakin melinangkan mataair di kudus jiwa ibumu.

 

Kaulah, yang memperkenalkan aku.

Ibu.

Pada,

Muasal nafas cinta tumbuh di setiapnya

Abu usiaku.

 

Aku masih ingin lebih lama dipangkuanmu, Ibu ..

 

“Happy birthday, Mom ..and today I’m here again find love.”

 

 

[ Love you, Mom… ]

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: