Aku Cinta Padamu

Oleh Hera Hizboel

 

aku cinta padamu

tapi aku tak mau jatuh cinta padamu

 

“hatiku telah mampu menerima aneka bentuk dan rupa;

ia merupakan padang rumput bagi menjangan,

biara bagi para rahib, kuil anjungan berhala,

ka`bah tempat orang bertawaf, batu tulis untuk Taurat,

dan mushaf bagi al-Qur’an

agamaku adalah agama cinta,

yang senantiasa kuikuti

ke mana pun langkahnya;

itulah agama dan keimananku”

(Ibnu Arabi 1165-1240 M)

 

BULAN September lalu dua orang teman saya mendapat musibah.  Yang satu suaminya meninggal dunia, sedangkan  yang seorang lagi karena bercerai dari suami yang telah memberinya tiga orang anak yang manis. Keduanya telah melewati usia pernikahan hampir dua puluh tahun. Tentu sangat menyedihkan bila tiba-tiba terpisah dari orang tercinta yang telah puluhan tahun bersama-sama menjalani suka duka kehidupan. Selama berhari-hari dua teman saya itu tenggelam dalam kesedihan mendalam. Keluarga dan sahabat tak henti mendampingi dan menasihati agar ikhlas menerima ketetapan Allah tersebut.

 

Di tempat berbeda, pada suatu sore, sahabat saya seorang wanita lajang berusia hampir 40 tahun , mencurahkan perasaannya. Dengan air mata berlinang ia menceritakan kisah cintanya yang kandas.  Pacarnya pergi ke pelukan wanita lain, padahal mereka sudah merencanakan pernikahan tahun depan.

 

Tiga perempuan di atas menangis karena cinta.  Kesedihan karena keterpisahan dengan orang yang dikasihi memang bukan perkara sederhana. Taruhannya adalah hati dan masa depan. Memang, di antara deretan cobaan  hidup dari Allah, yang paling berat adalah cobaan cinta karena letak cinta di dalam hati.  Ujian cinta adalah ujian hati.  Cinta, meski tersembunyi, getarannya  mampu mempengaruhi pikiran sekaligus mengendalikan tindakan.  Cinta dapat mengubah banyak hal. Pahit jadi manis, sedih jadi membahagiakan, derita menjadi nikmat.  Bahkan, cinta dapat membuat orang sehat menjadi sakit, dan orang waras menjadi gila.  Tentu saja, cinta yang saya maksud tadi adalah cinta yang orientasinya lebih kepada fisik emosi. Bukan cinta yang dilandasi oleh keimanan kepada Allah SWT.

 

Ibn Arabi membagi cinta menjadi tiga bagian. Pertama, cinta alamiah. Cinta ini muncul dari rasa cinta jasmani saja. Cinta semacam ini biasa muncul pada diri orang awam yang landasan cintanya hanya sebatas perasaan lahiriah. Kedua, cinta ruhaniah. Cinta ini bermula dari kecintaan seseorang pada sesuatu yang tujuannya adalah untuk sampai kepada zat yang dicintainya dan berakhir pada penyatuan diri antara pecinta dengan yang dicinta. Cinta jenis ini memiliki dua unsur utama sebagai penyebab kemunculannya. Dua hal yang dimaksud adalah jasad (fisik) dan ruh.  Ketiga, adalah cinta Ilahiah. Cinta dalam bentuk ini hanya berhubungan dengan ruh saja tanpa ada persinggungan dan persentuhan fisik materi, karena segala hal yang inderawi terangkat pada posisi non inderawi, karena pemilik cinta tersebut melihat bahwa alam materi merupakan sandi dan penampakan lahiriah dunia akal, sehingga kecintaannya pada hal-hal tersebut bermakna cinta atas segala penjelmaan Ilahi.

 

Menurut saya, cinta itu absurd sekaligus masuk akal. Jatuh cinta adalah anugerah sekaligus cobaan. Pergulatan hati, jiwa , dan akal dalam “melawan” pesona cinta yang luar biasa, merupakan ujian berat. Perjuangan beratnya adalah bagaimana saya tetap mengedepankan logika dan kesadaran spiritual ketika cinta itu datang melanda. Saya juga terus berusaha memakai akal sehat  (ketika jatuh cinta), agar tidak terjebak ke dalam pusaran romantisisme yang akhirnya memalingkan hati saya dari-Nya.  Belum benar-benar berhasil, tapi setidaknya saya terus belajar untuk itu. Kata-kata yang saya pegang ketika saya tengah dilanda kerinduan dan romantisme luar biasa pada kekasih saya adalah: Kenapa demikian? Karena saya tidak mau kehilangan perasaan cinta saya padanya, tapi sekaligus saya tidak mau Allah cemburu dan memisahkan saya darinya (dengan cara-Nya).“aku mencintaimu, tapi aku tak mau jatuh cinta padamu.”

 

“Cinta adalah perasaan yang bergetar,” demikian kata penyair besar Kahlil Gibran. Tentu saja saya sungguh yakin bahwa cinta adalah anugerah indah dari Allah untuk mahluk ciptaan-Nya yang paling sempurna yang bernama manusia. Tapi, Dia pasti “cemburu” kalau kita jatuh cinta mati-matian pada seseorang dan melupakan-Nya. Karena itu, jatuh cintalah tapi jangan sampai membuat eksistensi Allah di hati kita “terancam.”  Meski barangkali kita belum bisa meneladani kata-kata penyair sufi Jalaluddin Rumi yang mengatakan: “Cinta sejati tidak memberi tempat kepada yang lain kecuali Dia yang satu – Kekasih yang Maha Indah.” Namun, setidaknya kita bisa sedikit menggubah komposisi perasaan cinta yang bersemayam dalam hati agar tak terlalu bergulung-gulung dan merampas habis ruang waktu kita. Komposisi yang paling aman adalah dengan cara menjadikan cinta sebagai energi psikologis dan energi spiritual untuk memperindah kanvas kehidupan kita, dan sebagai sarana untuk meraih cinta-Nya yang sejati.  Segenap usaha tadi bisa dibarengi dengan memanjatkan doa indah (petikan syair) Kwaja ‘Abdullah Ansari:

 

ya Illahi

tunjuki kami wajah-Mu

hingga kami tak memandang

selain wajah-Mu

bukalah pintu-Mu hingga kami takkan

mengetuk selain pintu-Mu.

 

[]

 

hera-26/10/10

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: