15 Film Yang Menginspirasiku

Oleh Ade Anita

The rules: Don’t take too long to think about it. Fifteen films you’ve seen that will always stick with you. List the first fifteen you can recall in no more than fifteen minutes. Tag fifteen friends (at least, heeehaww….), including me, because I’m interested in seeing what films my friends choose. (To do this, go to your Notes tab on your profile page, paste rules in a new note, cast your fifteen picks, and tag people in the note – upper right hand side.)

Dapat kuis ini Akhi Dirman dimana dia juga dapat kuis ini dari mbak Maimon Herawati, senior di FLP (nah loh).

Okelah…ini dia film terbaik menurutku.

My Name is Khan (1)

Filmnya menyentuh banget. Saya sampai beberapa kali menitikkan air mata menontonnya. Tentang perjuangan seorang yang menderita Autis untuk mendapatkan cinta dari istrinya hingga mengantarkannya untuk mengelilingi benua Amerika sana.

Kenapa saya meletakkan film India di nomor satu, karena saya suka film India…Hehehe. Ini gara-gara dahulu kala, TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) adalah channel paling bersih yang bisa diterima oleh antena rumah saya sebelum saya pindah ke rumah sendiri sekarang. Apa, TPI itu singkatan dari Televisi Pendidikan India ya? Saking seringnya memutar film India (mungkin karena ongkos sewa royaltinya yang murah). Tadinya sih nggak suka nonton film India, tapi berkat cuci otak yang baik dari TPI akhirnya berusaha untuk menikmati dan akhirnya mulai menemukan keasyikan.

Ada tiga unsur menarik dari film India menurut saya.

  1. Coba perhatikan semua lirik lagu-lagunya yang buanyak itu (ini untuk film India jaman dulu ya). Ternyata, semua sound track-nya tidak dibuat untuk latar cerita saja, tapi juga untuk menguatkan pesan dari cerita itu sendiri. Saya mulai tertarik baca puisi gara-gara keseringan baca teks lirik lagu di film India. Kata-katanya menarik, maknanya dalam tapi sama sekali tidak cengeng atau kampungan. Belakangan, Indonesia pernah membuat film mirip film India, eh, apa sinetron ya? Tapi, sepertinya pembuat syairnya tidak pandai memanfaatkan isi cerita jadi akhirnya lagu yang muncul cuma untuk hiburan belaka. Kadang, terasa untuk memperpanjang durasi saja.
  2. Konflik. Semua film India punya satu konflik besar tapi konflik itu beranak pinak menjadi konflik kecil-kecil. Dan ini yang membuat saya tertarik. Penulis ceritanya, menurut saya kreatif. Bayangkan, bagaimana memanage konflik besar agar tidak dominan dan mengelola konflik kecil agar tidak terlupakan, menurut saya sebuah pekerjaan kepenulisan cerita yang amat sulit. Semua konflik besar dan kecil diolah saling membantu menutupi kekurangan dan mengangkat kelebihan jalinan cerita.
  3. Pengambilan gambar lokasi yang menarik. Jujur, jika saja kita mau bertanya pada banyak orang yang pernah menjejakkan kakinya di India sana, mereka pasti akan sepakat bahwa India itu negeri yang jorok, kumuh, tidak teratur, dan tidak sedap dipandang mata. Tapi, semua itu tidak tercover oleh industri film mereka. Dan ini yang membuat India menjadi menarik. Bahkan ada teman saya yang sampai bilang “I have to go there.” dan menemukan kekecewaan karena ternyata Bollywood itu cuma bagus di film saja. Jadi, saya selalu tersenyum melihat keindahan pemandangan yang ditampilkan di film India, karena itu membuktikan bahwa orang India amat mencintai negaranya. Dan ciri orang yang mencintai itu kan akan berusaha keras menutupi semua kebobrokan dan aib yang dicintai agar tidak diketahui oleh orang lain.

Slamdog Millionaire (2)

Ini cerita tentang seorang pemuda yang mencintai seorang gadis yang menjadi teman mainnya ketika masih kecil dahulu. Dia berusaha untuk mendapatkan cinta gadis tersebut, salah satunya dengan mengikuti sebuah kuis Who Wants To Be A Millionaire.

Masih ingat point ketiga yang menurut saya terdapat pada film India? Nah, film Slamdog Millionaire ini tidak dibuat oleh Sutradara India asli, tapi keturunan Amerika. Jadi, lihat perbedaannya. Mulai disorot sisi lain dari negeri India, yaitu ada daerah kantong kemiskinan yang amat sangat kumuh dan miskin. Itu sebabnya Amitha Bachan yang menonton film ini di bioskop langsung cemberut dan protes. Dan karena yang bikin orang bule, maka tetap, orang Amerika di film ini digambarkan sebagai orang yang dermawan dan beradap (digambarkan lewat tokoh turis amerika yang ikhlas meski dirampok malah bersedia menolong).

3 Idiots (3)

Ini film tentang tiga orang bersahabat yang berasal dari sebuah universitas yang sama. Ketika masih menjadi mahasiswa baru ketiganya disebut idiots oleh seorang dosen yang merasa paling pintar. Filmnya lucu dan menyegarkan, menurut saya. Ada kisah percintaannya juga.

Initial D (4)

Oke. Cukup dengan film India, kita beralih ke film Asia lainnya, ya. Yaitu sebuah film balap mobil dengan pemain Jay Chou. Saya suka film ini, suka banget. Sudah menonton berkali-kali tapi tetap saja suka dan belum bosan. Kenapa saya suka film ini? Karena aslinya saya tidak dapat mengemudikan kendaraan. Hahahaha…alasan konyol, ya?.

Tapi memang betul, karena tidak dapat mengemudi, maka saya selalu berkhayal suatu hari nanti akan ngebut dalam mengemudikan kendaraan. Meski harapan untuk ke arah itu sebenarnya amat sangat tipis untuk terjadi. Kenapa? karena saya mengalami kesulitan pada orientasi perbedaan kiri dan kanan. Itu sebabnya, di tangan kanan saya selalu bertengger sebuah jam dan sebuah cincin. Kedua benda ini membantu saya untuk mengingatkan, inilah arah kanan.

Oh ya, saya suka dengan ketenangan Jay Chou ketika mengelola emosinya sebagai pembalap. Dia tidak merasa sedang balapan. Dia menikmatinya. Artinya begini, pesan moral dari film ini, ketika seseorang mencintai apa yang dia kerjakan, maka InsyaAllah dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik dengan hatinya yang ikhlas. Jadi, cintai apa yang kamu kerjakan dan kerjakan apa yang kamu cinta mengerjakannya, it’s a must. Lomba bukan segalanya. Karena setiap kali kita memenangkan sesuatu, pasti akan ada pemenang yang lebih jago dari kita. Mengejar posisi pertama dalam sebuah perlombaan adalah sebuah kesalahan dan kekalahan yang akan dipetik oleh peserta lomba. Tapi mengejar untuk memberikan yang terbaik karena kita mencintai apa yang kita kerjakan itu, meski hasilnya mungkin kalah, adalah kemenangan yang akan diraih oleh seorang peserta lomba.

Infernal Affair: Trilogy (5)

Ini sebuah film tentang usaha polisi untuk menyusupkan agen mata-matanya di tubuh mafia. Amat sangat menarik dimana orang baik-baik, dilatih untuk berpura-pura menjadi penjahat hingga polisi bisa mengetahui sepak terjang sindikat mafia ini beraksi dan harapannya bisa menggulung kejahatan. Sedangkan sebaliknya, ternyata sindikat mafia juga melakukan hal yang sama di tubuh kepolisian Hongkong. Mereka juga melatih penjahat mereka untuk berpura-pura menjadi pollisi baik-baik agar bisa memperoleh informasi yang memudahkan mereka melakukan tindak kejahatan. Rumit kan? Nah… disinilah kekaguman saya pada tim kreatif penulisnya. Luar biasa, menurut saya. Semua konflik dijalin amat kuat dan semua karakter ditonjolkan hingga tak satupun yang bisa menebak “ujungnya gimana ya?”. Saya belajar banyak dari penonjolan penggambaran karakter-karakter yang ada di film ini. Tidak ada satu pun tokoh utama yang terlihat mendominasi, semua tokoh punya posisi yang sama kuatnya, dalam arti, jika tokoh itu dilemahkan, maka ceritapun menjadi lemah. Menurut saya yang baru belajar menulis, menjalin sebuah cerita dimana menjaga agar tidak ada tokoh yang terlalu mendominasi dan terlihat amat power full dalam jalinan cerita itu adalah sebuah kesulitan.

Eye in The Sky (6)

Ini film Hongkong tentang (lagi-lagi) mata-mata polisi. Tapi kali ini tentang seorang polisi senior yang bertugas untuk melatih sekelompok polisi berbakat yang masih muda untuk menjadi mata-mata yang hebat. Filmnya serius, tapi menarik. Konflliknya kecil sekali, lebih ke arah konflik pribadi yang dimiliki oleh polisi tua ini yang merasa bahwa idealisme ternyata tidak mendatangkan apa-apa selain dedikasi dan kehampaan dan kesendrian di usianya yang memasuki pensiun. Istrinya pergi meninggalkannya karena tidak tahan hidup miskin dan sering ditinggal pergi. Sedangkan di mata para polisi muda berbakat sebaliknya, bahwa idealisme adalah segala-galanya yang bisa membuat hidup ini terasa sempurna.

Gambaran yang amat kontras dari mereka yang sudah pernah merasakan asam garam kehidupan dan mereka yang baru saja disuguhi hidangan makanan asam garam tentang kehidupan. Mana yang benar? Tonton saja film ini, bagus kok. Saya belajar tentang cara menjalin emosi agar bisa selalu tertata apik, dan jangan lupa adegan kekerasannya yang sadis, hmm…ternyata tidak sesadis yang disangka kok.

Red Clift (7)

Film yang disutradari oleh John Woo ini katanya adalah film yang memakan biaya pembuatan hingga 800 miliar dollar. Wow. Ceritanya ber-setting tahun 208 Sebelum Masehi, hari-hari terakhir pemerintahan Dinasti Han, Perdana Menteri pandai Cao Cao (Zhang Fengyi) meyakinkan Raja Han bahwa satu-satunya cara untuk menyatukan seluruh daratan Cina yaitu dengan menyatakan perang terhadap kerajaan-kerajaan Xu di bagian barat dan East Wu di bagian selatan. Maka di mulailah kampanye militer besar-besaran, dipimpin oleh sang Perdana Menteri. Sejumlah peperangan terjadi, baik di laut maupun daratan, dan akhirnya memuncak di Perbukitan Merah (Red Cliff).

Apa yang menarik dari film ini? Strategi perang yang terdapat di hampir sepanjang film. Entah mengapa saya selalu senang membaca semua kebijaksanaan perang yang terjadi di sepanjang kekaisaran Dinasti China yang berganti-ganti itu. Pada tiap-tiap dinasti pasti ada seorang yang bijaksana dengan pemikiran yang brilian. Nah, kebijaksanaan ini yang maknanya amat dalam bagi saya. Yaitu, bagaimana caranya kita bisa memenangkan sebuah peperangan tanpa harus mengorbankan harga diri, melepaskan idealisme, meminimalisir jatuhnya korban yang tidak berdosa, melindungi tokoh-tokoh kunci yang memang diperlukan untuk menegakkan kerajaan.

Nah, pernyataan yang terakhir ini selalu mengingatkan saya pada pertanyaan setiap kali ikut test-psikologi waktu jaman sekolah dahulu. Pernah kan ketemu pertanyaan, “Siapa yang akan kamu selamatkan jika kapal yang kamu tumpangi tiba-tiba bocor sedangkan perahu penyelamat cuma ada satu di kapal tersebut?”.

Jujur, saya dahulu menjawabnya dengan kesal. Mau nolong siapa kek, terserah saya dong. Tapi, setelah membaca banyak sekali kebijaksanaan yang tertuang dalam ilmu perang Dinasti China (hahaha, kesannya militer banget ya, padahal sih karena saya memang pecandu film berlatar kerajaan China; saya tidak begitu suka film perang Hollywood yang amat tidak masuk akal. Ayah saya selalu bilang, “Orang Amerika itu selalu bermimpi bahwa hanya mereka seorang yang bisa menyelamatkan seluruh isi dunia.” Itu sebabnya saya tidak begitu respek pada film perang Hollywood, tapi menaruh perhatian amat besar pada semua film perang kerajaan di China).

Apa yang saya peroleh dari kebijaksanaan peperangan di Dinasti China? Yaitu, bahwa dalam hidup ini, akan selalu ada tokoh yang hanya menjadi pion saja sepanjang hidupnya. Dia ditaruh di depan untuk dikorbankan karena memang tidak ada artinya. Dia ada atau tidak, negara bisa tetap berdiri. Sebaliknya, ada tokoh-tokoh kunci yang harus diselamatkan karena jika tidak, berhentilah kehidupan ini, matilah negara ini, dan berhenti pulalah cerita.

Setiap kali selesai menonton, saya selalu merenung, “Saya termasuk pion atau bukan ya? Jangan-jangan, ada atau tidaknya saya dalam hidup ini sebenarnya tidak pernah diperhitungkan oleh orang lain?” Aih…mengerikan sekali. Jadi, “Ayo Ade, berusaha untuk memberi arti. Berusaha untuk memberi kenangan yang terbaik pada banyak orang.”

Hmm…kebetulan suami saya jago main catur, pernah dia mengajari saya main catur dan saya selalu kalah. Akhirnya, saya mengetatkan peraturan. Dia cuma boleh main (di akhir pertandingan) dengan dua buah anak catur saja, yaitu Raja (hehe, otomatis dong) dan pion. Tapi…hiks, ternyata suami saya bisa tetap menang. Dan ini mampu mengubah pola pikir saya secara ekstrem ternyata, yaitu bahwa kedudukan dalam kekuasaan itu bukan segalanya. Tapi kebijaksanaan, keluwesan bersikap dan berpikir smart menyikapi hiduplah yang amat berarti. Bayangkan, si pion suami saya itu akhirnya diubah jadi menteri dan saya langsung di-skak mat!!!

Children of Heaven (8)

Ya, ini film lama sih, tahun 1997-an. Tapi aku suka film ini, emosinya kuat, ceritanya sederhana tapi dibangun dengan amat apik. Dan aku menangis ketika menontonnya. Juga jadi pelanggan ikan Gararufa kalau lagi pegal-pegal kaki di Fish Therapy (loh? apa hubungannya? Hahaha). Tapi aku suka dan terharu melihat kasih sayang yang sederhana tapi dalam dari Ali kepada adiknya Zahra.

Forest Gump (9)

Ini film Hollywood yang dimainkan oleh Tom Hanks. Aku suka film ini karena bertebaran banyak sekali quotes-quotes sederhana yang memiliki arti amat dalam. Ini salah satunya:

Forrest Gump: Will you marry me? [Jenny turns and looks at him]
Forrest Gump: I’d make a good husband, Jenny.
Jenny Curran: You would, Forrest.
Forrest Gump: …But you won’t marry me.
Jenny Curran: [sadly] …You don’t wanna marry me.
Forrest Gump: Why don’t you love me, Jenny? [Jenny says nothing]
Forrest Gump: I’m not a smart man…but I know what love is.

Hehehe, perempuan itu dimana-mana sama kok. Dia cuma ingin dicintai dengan pasangannya dengan cinta yang bisa membuatnya merasa nyaman.

Atau quotes yang ini nih:

Forrest Gump: My momma always said, “Life was like a box of chocolates. You never know what you’re gonna get.”

Pretty Woman (10)

Oke, saya suka banget sama Richard Gere, dan di film ini sepertinya Richard Gere keren abis. Senyumannya itu lohaduh duh… selalu bikin deg degan.

Fast and Furios: Pentaquel (11)

Semua serialnya dari 1 sampai dengan 5 sukaaaa semua. Nggak tahu kenapa suka, mungkin ya sama dengan alasan kenapa suka film Initial D, tapi mungkin juga karena suka aja lihat Vin Diesel yang macho abis, atau…suka aja dengan tayangan kejar-kejaran dan kebut-kebutan yang mendebarkan itu. Trully Awesome.

The Fugitive (12)

Kisah tentang seorang dokter yang difitnah telah membunuh istrinya. Jalinan ceritanya tidak terduga, amat menarik. Aku suka semua film yang tidak bisa diduga mau dibawa kemana. Juga suka lihat Harrison Ford yang terlihat begitu menjiwai karakter sebagai seorang dokter yang pintar, penuh perhitungan tapi tidak pernah ceroboh memikirkan sebuah rencana.

Indiana Jones (13)

Semua serial film Indiana Jones yang diperankan oleh Harrison Ford aku suka. Dan makin suka karena bapaknya Indiana Jones, yaitu Mr. Jones, adalah Sean Connery. Dua lelaki gaek ini aku suka aja. Terutama janggutnya Sean Connery (apa hubungannya?).

Pirates of The Caribean (14)

Mungkin ini satu-satunya film khayalan yang aku suka jalan ceritanya karena menurutku sih seru. Mau lebay, ya nggak usah nanggung, habis-habisan sekalian kayak khayalan yang ada di semua serialnya Pirates of The Caribean ini. Aku begitu menikmati semua khayalan yang habis-habisan di film ini. Kuncinya, tidak usah berpikir. Just enjoy.

Ah…sudah sampai 15 ya? Nggak terasa. Aku jadi bingung, di nomor terakhir ini mau meletakkan yang mana, karena aslinya masih ada dua film lagi, yaitu; Pride and Prejudice, serta Cinderella.

Ada quotes yang aku suka dari film Pride and Prejudice, yaitu salah satunya:

Strength is nothing than how well you hide the pain.
If a woman conceals her affection with the same, skill from the object of it, she may loose oppertunity to fixing him.

Sedangkan, di film Cinderella, ada sebuah quotes yang aku suka banget, yaitu:

You are beautifull because I Love You, or I love You becouse You are Beautifull…I’m so confuse. But I can’t stop thingking of you.

Yaaa…sudah habis ya jatah 15 filmnya? Dan aku belum meletakkan satu pun film Indonesia disana? Hiks…maaf ya. Lain kali rasanya harus bikin deh 15 film Indonesia yang menginspirasi.

[]

Iklan

One response to “15 Film Yang Menginspirasiku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: