Edelwaisku Telah Mati

Oleh Aiman Bagea

 

Sampai disini runcing hujan
menyulam kisah kita pada helai angin;
Tika kutemukan edelwais yang
kusematkan di hatimu telah kering
Sebab jemarimu tak pandai
samasekali atau kau mungkin sengaja
tak menjamahnya
Daunnya longsor sekeping demi
sekeping
Lalu kelopaknya cemberut, kemudian
meloncat turun.

Nuraniku ingin sekali memberontak,
membakarmu dengan tutur kata
Tapi semua mengapung tanpa
meledak
Bahkan sekedar menyuruhmu pergi
aku tak mampu
Terdiam aku di kunyah sepi sampai
tak bergeming.

O, edelwaisku telah mati !

: sepanjang pagi hingga bulan gendut
Aku akan begini. Aku ingin sendiri.

[]

kabaena, 14 okt 10


Aiman Bagea

Aiman Bagea kelahiran Rahampuu, Bombana, Indonesia. 1 September 1992.

“Tertawalah, karena dunia akan ikut tertawa; janganlah bersedih karena engkau akan bersedih sendiri.”

Kontak : http://www.facebook.com/Aimanbagea

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: