5 Sajak Pinokio (The Story Continued)

Oleh Ade Anita

 

 

I

Aku melihatmu kekasihku

Pada sebuah mall yang amat terkenal di Jakarta

Wajahmu sumringah

Matamu sendu dengan pendar-pendar kejora di atas pupilmu

“Hah? Dimana? Kok nggak manggil?”

 

Aku ingin memanggilmu kekasihku

Kau tahu, namamu adalah nama yang selalu terukir indah di hatiku

Bukan hanya tinta emas aku menulisnya

Hamparan berlian pun kubentangkan sebagai lembaran untuk menulisnya

Kamu amat berarti

Kamu juga yang selalu kunanti

Sungguh aku hendak memanggilmu sayang

Tapi sedetik sebelum mulut ini berucap

Ada seorang gadis belia yang mengejarmu dengan langkah menarinya

Manja dia bergayut di tangan kekarmu

Lalu kaupun mendaratkan kecupan sayang

 

Sembarangan. Mana mungkin aku pergi dengan wanita lain selain dirimu. Kamu tahu sendiri seluruh hatiku sudah kuserahkan padamu. Aku amat mencintai dirimu.”

 

Senyumku langsung terkembang lebar mendengar pengakuan cintanya.

Dada ini sesak oleh rasa haru. Bukan.

Bukan karena bahagia.

Tapi demi melihat hidung kekasihku yang kian mancung ke depan

Dan kedua telinganya yang memanjang seperti kuping keledai

 

Terima kasih Tuhan, dalam haru aku berdoa, karena tidak pernah kau ubah pinokioku menjadi manusia

 

 

II

Cinta… mengapa engkau buta

Tak kau lihatkah aku merana karena meraba-raba

Tersandung aku oleh angkara

Tapi suka cita mengubur lara

 

 

III

Aku tidak bisa keluar rumah sayang

wajahku sudah amat buruk, hidungku ini amat sangat mengganggu

potong saja dengan gergaji

biarlah berdarah aku tak peduli

 

Tidak sayang, jangan lakukan itu

Aku akan mencintaimu apa adanya

Bahkan meski harus menggenggam bara

Hanya saja, jangan lagi berkata bohong

Karena hanya itu penyebab utama hidungmu berubah

Katamu akan mencintaiku apa adanya?

Lalu mengapa tidak ikhlas menerima kebohonganku?

 

Stt… Aku memang selalu mencintaimu apa adanya

Tapi kebohonganmu hanya akan memperparah keadaan

Dan itu merugikan dirimu sendiri

dan juga diriku yang masih tetap tergila-gila padamu

 

 

IV

Mataku bergerak ke pojok paling sudut melirikmu

berusaha mengintip apakah pintu hatimu sedikit berderit

ketika mendengar anakmu menjerit

“Aku tidak mau sekolah. Aku malu, bapakku berhidung panjang.”

 

Ya Tuhan,

Kenapa sulit sekali mengajak orang yang kita cintai untuk senantiasa jujur?

 

 

V

STOP

Jangan teruskan, tolong jangan teruskan

Jantungku sudah cukup hancur berantakan

Tubuhku sudah terlalu banyak memiliki luka

Teruskan saja berbohongnya

Karena ternyata kejujuran yang kamu ucapkan lebih menaburkan wangi bunga

dan mengobati hati yang merintih karena kasmaran

Aku akan selalu mencintai hidung panjangmu

Suatu hari nanti, dia bisa dipakai untuk mengambil buah jambu

[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: