Menonton ‘Badik Titipan Ayah’

Oleh Dwi Klik Santosa

SUDAH lama saya tidak menonton film garapan Pak Dedi Setiadi. Jika nama sutradara ini disebutkan, masih terkenang nyanthel dalam ingatan saya film-film serial  beraroma Indonesia Asli. Sangat sederhana tapi begitu lama mengikatkan kenangan. Sebut saja Film ACI. A bisa AmirC bisa Cici. I bisa Ito. Tapi ACI, Aku Cinta Indonesia. Serial Film TV yang legendaris saya rasa. Disiarkan setiap malam minggu sehabis Isya’ oleh TVRI Pusat. Wuiii … menyenangkan. Begitu pun yang masih saya ingat, selain itu, juga ada film-film bernas: serial Keluarga Cemara dan Rumah Masa Depan. Sangat Indonesia dan mencerdaskan, menurut hitungan saya.

Suatu sore di hari Sabtu, 2 Oktober 2010, ketika saya sedang ogah-ogahan karena dilindap demam yang menyebalkan, seorang teman mengirimkan sms. Ada film “Badik Titipan Ayah” sutradara Dedi Setiadi, bintangnya Widyawati, di SCTV jam 22.oo, tolong nonton ya …. Wah, jika teman ini tidak spesial bagi saya, tidak mungkin ia menekankan kata “tolong” seperti itu. Hmmm ….

Karena masih surup, badan panas tak terkira, saya harus bikin strategi.  “Aku harus nonton film itu” … lalu saya pun tidur. Dan agak sial, hujan yang rimis-rimis melelapkan baring saya di depan TV. Bangun-bangun langsung nyetel SCTV …  dan sudah jalan film itu. Sepertinya saya ketinggalan 10 – 15 menit-an. Yaaahhh …

“Badik Titipan Ayah” … tadinya saya mengira yang jadi Daeng Tiro atau yang sering dipanggil Tetta “dengan tekanan tertentu” dalam setiap adegan itu adalah akting Pak Amoroso Katamsi. Hanya karena kurang membaca informasi dan kurang mengenal sosok sebenarnya si aktor pemeran orang tua penuh kharisma itu kiranya, baru ngeh setelah film selesai, membaca teks ternyata Pak Aspar Paturusi. Luar biasa bagus akting itu. Setiap kali muncul adegan Tetta, melulu menegangkan urat syaraf saya. Teatrikal dan sangat kuat. Saya seperti mengenal betul karakter sang Daeng: seperti ayah saya sendiri di kampung. Ya, ampun. Kerasnya beliau itu laksana batu. Bahkan masih begitu hingga detik ini.  Sebegitu ngotot dan militan meyakini setiap pendapat dan keputusan yang dibuatnya.

Konflik keluarga yang tersentral dari hierarki seorang ayah. Otoriter! Selama bertahun-tahun, saya selalu bertanya dan ingin menggugat fakta ini. Disebabkan empirisme hidup saya yang seakan-akan terbelenggu, karenanya saya begitupun keempat saudara saya ingin saja sepanjang jalan, memberontak.

Tapi, Ya, Tuhan … apakah ayah saya salah? Apakah Daeng Tiro salah? Bukankah karena militansi, adat dan istiadat itu kukuh tegar berdiri. Ia memiliki harkat dan martabatnya yang kokoh, setegar gunung karang. Jangankan penjajah, sudah pasti penjilat tak akan tedas melindasnya. Bukankah begitu, karakter-karakter itu kita kenal dari ruang-ruang baca dan cerita-cerita menggelegar dari orang-orang tua kita ketika sedang berkisah tentang pahlawan-pahlawan kita. “Pantang bumi dipijak jahanam!” bukankah begitu elan Pattimura menggelegak.

Daeng Tiro. Orang tua buta. Seorang yang tegas, tak disangsikan. Seorang yang jujur, tak diragukan. Jika tidak, tidak mungkin sang istri — diperankan artis kawakan Widyawati – meyakininya sebagai suami tercinta. Begitupun Tenry dan Aso, kedua anaknya. Lha .. tapi apa salah Tenry. Apa salah ia jatuh cinta? Kenapa Tetta Tiro melarangnya, bahkan ingin membunuhnya, menghilangkan saja dari percaturan hidup di muka bumi. Bukankah ia darah dagingnya? Bukankah ia buah kecintaannya?

“Aku mencintai Tetta. Tapi aku juga cinta Firman, laki-laki pilihanku,” begitu kata Tenry. Dan lalu Tenry pun memilih hengkang dari rumah. Kawin lari bersama Firman, laki-laki tersayangnya sebagai pasangan hidup.

“Aso! … engkau harus melakukannya. Demi kehormatan. Demi martabat,” seru Daeng, tandas menyerahkan badik itu.

Dan, begitulah, Aso yang mahasiswa. Pikirnya terbelah. Perintah Tetta tercinta adalah amanah. Sedang hati nurani adalah fitrahnya. Bukankah Tenry adalah saudara kandungnya. Sedarah dan memiliki kehormatan yang sama sebagai manusia.

Fragmen demi fragmen mengalir. Tegang. Dramatis. Teatrikal. Kultur Bugis- Makassar dikemas dalam film yang padat. Ilustrasi musik yang pentatonik ranah Sulawesi pun selama sejam lebih, meregang menyayat, makin mempertajam,  agar perhatian tak lepas, terus melototi hingga film purna.

“Biarkan kami sekarang berdamai, Tetta … jangan lagi badik itu kau wariskan kepada anak-anak kita untuk mencerai cinta itu satu sama lain …,” begitu ibunda, istri Daeng Tiro bicara dengan airmata di hadapan mayat Tetta yang terbujur. Daeng Tiro mati dalam goncang meyakini kecintaannya pada putri tersayang, namun perih karena dijalari racun kesumat yang dideritanya. Kata-kata perempuan sendu itu menjadi pamungkas yang meredakan semua ketegangan. Hingga mampu meleburkan kemarahan dan was-was  itu menjadi airmata-airmata. Betapa sedetik saja, jika ode lembut menyayat itu telat bersuara, maka tujahan badik-badik tak ayal akan memuncratkan darah, kian dalam menancapkan kesia-siaan.

Dendam persahabatan. Inilah muasal. Dulunya Daeng Tiro punya sahabat lekat. Tapi karena suatu hal, mereka terlibat pertengkaran. Dan memuncak, hingga dalam sebuah perjalanan bersama naik mobil. Mobil yang dikendali si sahabat hilang kontrol, menabrak pohon. Sahabat itu tewas. Sedang Daeng Tiro sendiri mengalami kebutaan karenanya. Tragedi. Meski telah merenggut dan membawa kematiannya, namun dendam pada pengkhianatan itu terus menyala. Dan mata yang buta, kebutaan yang terjadi karena meyakini nilai sebuah kejujuran, salahkah jika mengharuskan badik itu harus dititipkan? Bagaimana kira-kira, halnya dengan kita. Jika ada anak perempuan kita jatuh cinta dengan seorang laki-laki, dimana ia itu terlahir dari seorang yang kita anggap sahabat terbaik, tapi kemudian berkhianat? Akankah kita seperti Daeng Tiro?

[]

Zentha

7 Oktober 2010

: 09.57


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: