Cafetar(i)a

Oleh Afrilia Utami

 

: penyair Husni Hamisi

 

Dari berkas cahaya

Yang mungkin ada

Hingga menjadi-jadi antara

Maya dan nirwana

Akankah kilau itu padamu?

Tak padam tak legam

Digulung gulita yang bermalam

 

Di cafe saat dzikir mengucap degup

Rambutmu hitam terlepas

dan sisir biru di sakumu itu

kaupasangkan untuk kacamataku.

Lalu, kubaca huruf itu

“Bacalah hari ini, mungkin nyata?”

 

Sore itu mulai gerimis

Lalu hujan meritmis ditengok jendela

Kakilangit segaris

Menculik cubitan manis

“Lupa jemuran belum kuangkat pulang.”

Katamu saat itu, gerah palingkan pandang

Ya, gelisah…

 

Di cafe, empat kursi masih menunggu geser

Yang mencinta harap bersembunyi

Kau malah asik di podium itu bernyanyi

Dansa ke sana dan kembali duduk di sini

“Mari ikutlah…hari ini, kita bernyanyi

Sebelum usai kita dinyanyikan sebuah nyanyian…”

Ah, kau membujuk. Bicara matamu sungguh kutemu

 

Kita telah lama menunggu, bukan?

Sebuah desain hari ini…

 

[]

07 Oktober 2010

 

(Maaf ya Bang Husni, hanya ini yang Af bisa tulis sederharna tukmu. sudah biasa, terlambat pula. tetapi teriring doa terbaik untukmu selalu. Saudaraku..)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: