Terkutuk Sebagai Gajah

Oleh Dwi Klik Santosa

 

dok : skuna.blogspot.com

 

Kreatif tak pernah mati
Tidak akan pernah!
Sekalipun kau penjarakan aku.
Sekalipun kau asingkan aku.
Sekalipun kau jauhkan, kau kucilkan dari apapun
hal-hal kesukaanku. Kreatif adalah jalan keluar.
Bukan pedang, senapan atau bom.
Tapi semangat untuk menemukan dan berguna
inilah fungsi utama tujuan.
Tak ada buntu dan buntet yang menjadikan mati dalam hidup.
Tak ada pesimis atau sikap yang skeptis.
Batu angkuh jadi pasir.
Pasir berisik jadi patung.
Patung unik menggelitik bagai bernyawa.
Gerak hidup patung niscaya jadi hiburan.
Jadi nafkah. Jadi barang budaya.
Jadi penanda bungahnya hidup sebuah peradaban.
Siapa bilang tanah kering tak menghidupi.
Dalam jiwa yang basah, penuh tenaga
tanah kering dibajak jadi lahan. Jadi sawah. Jadi kebun.
Jadi rahim kehidupan bagi kembangnya tetumbuhan.

 

“Hei .. engkau Palguna.
Ruangmu terlampau luas untuk kuikuti.
Berbagai dera, berbagai laknat
berbagai pesakitan tak juga kau keluhkan sebagai deritamu.
Makhluk apa engkau ini?” serunya.

Ia yang jumawa duduk di tahta
bersimaharaja atas seolah mutlak kuasa.
Padat, padas, serba batu saja, tandas segala ucap.
Apa yang abai dan lekang, ketika telah menjadi mau dan inginnya.
Raja Binathara begitu nama dan gelar itu menyatu sebagai namanya.

Jika telah kosong tatapnya yang angker.
Itulah gejala, pertanda baginya untuk merenungi
hmm … betapa sebetulnya aku ini kerdil.

 

”Hmm .. hmm ..
Kelak hanya akan menjadi klilip saja bagi jenakku duduk di kursi ini”
Ujarnya masygul.
“Heh .. Palguna.
Sebagai manusia engkau terlalu manusia. Maka kini jadilah engkau binatang.”

 

+ + +

 

Hei, hei .. akulah Gajah Palguna.
Bukan mauku menjadi gajah.
Tapi semangat ini, kumaukan sebagai anugerah.
Tiadalah hal paling berharga.
Sungguhlah, kreatif itu vitamin bagi jiwa.
Dalam jiwa yang gajah
tak benar semangat itu keropos dan patah.

Hei, hei .. gajah-gajah di seluruh hutan.
Jangan hendaknya bodoh mengikuti kemauan manusia yang picik.
Jangan, janganlah kau dekati jerat dan jebakan itu.
Masih syukur kalian akan jadi budak manusia.
Jika dikuliti, diambil gadingmu
dan dibuang saja dagingmu
maka perlu sekali kalian sesali takdirmu.
Tak pernah punya nisan yang bernama dan bertuliskan mentereng :
“gajah mati meninggalkan gading …”
Ah, wasiat apa itu.
“Gajah mati meninggalkan amal ..”
Nah, ini tulisan nisan yang gagah, bukan.

 

Hei, hei .. gajah-gajah.
Janganlah suka berseteru
Jangan gemar berkelahi
hanya demi urusan memperebutkan pasangan atau daerah kuasa.
Jangan latah, jangan kau tiru perilaku manusia-manusia itu.
Simaklah, sepanjang waktu, sepanjang sejarah
hanya rebut-merebut melulu.
Cita-cita damai hanya ditulis-tuliskan
diucap-ucapkan, digombal-gombalkan.
Baju dan jubahnya yang komprong
terlalu kebesaran, terlampau kedodoran
dibandingkan apa yang semestinya harus dilakukan.

 

Hei .. gajah-gajah, temanku.
Hutan adalah rumah kita.
Tuhan yang hidup di segala dzat
sangat suka dengan makhluknya
yang rajin memberi dan mudah senyum.

 

Hei, ayolah kita mulai meranai tekad baru.
Kita ini gajah-gajah yang kreatif dan penuh tenaga.
Kita ini makhluk Tuhan yang punya daya dan mampu bersyukur
Mari bahu-membahu
Bersirasa, bersesama
Membangun, menjadikan hutan sebagai istana hidup yang megah.
Kita sudahi hubungan saling ingin
Kebiasaan dungu dan bodoh yang membingungkan
Mari mendulang capek dan lelah
Demi menjulang sesuatu yang guna, sesuatu yang manfaat.
Siapa tahu bibir-bibir kita makin seksi, tubuh dan badan kita kian berisi, wahai
Makin bergelora, kian senantiasa menghadirkan gairah
Demi hari nanti yang heppi, penuh kembang mekar dan syahdu damai.

 

Hei, .. ayo berkoloni.
Mari kita sinergi
Kita ajak makhluk lain.
Bersibinatang atas nama kemajuan.
Ini hutan, bukti sih pemberian Tuhan
Kita syukuri atas nama iman
Kita dirikan kerajaan kreatif, semoga berkenan.
Tak ada raja yang terjunjung sebagai raja.
Tapi kita semua adalah rakyat yang menjadi raja.
Tidak ada yang terpimpin dan dipimpin.
Karena kita semua sejatinya dilahirkan pemimpin.

 

Duhai, matahari, cahyamu memancar-mancar ..
baiklah, gajah-gajah temanku, waktunya mandi.

 

Zentha
28 Oktober 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: