Aku Pulang, Kekasih

Oleh Dwi Klik Santosa

 

ketika berakting sebagai raja kampung hati nurani : “aku berkuasa penuh memerintah hati nuraniku.”

 

Kuselesaikan, apa yang semestinya harus kulakukan.
Dan di atas sehamparan padang maut itu pun kehidupan tinggal puing-puing.
Bangkai-bangkai peradaban
mayat-mayat dan jasad-jasad bergelimpangan berserakan.
Selepas, seluas lembah yang landai dan berdebu itu
bau tanah, anyir dan amis.
Panji-panji yang berwarna tegas dan gagah
lusuh saja oleh keringat, debu dan darah.
Berhempasan berpatahan, robek di sana-sini.
Serobek harkat nilai-nilai.
Seremuk hakekat kenaifan makhluk profan bernama manusia.

* * *

 

”Jayalah Suksara! Huraaa .. huraaa ..
hidup Suksara yang gemilang!”
Gempita segenap rakyat Negeri Pasir Madu
menyambut kedatangan panglima perang mereka
yang pulang hendak melapor kepada rajanya.
Di atas kuda mahajantan berbulu hitam
berkilatan aura Panglima Suksara ditempa angin pagi.
Betapa perkasa, nampak di mata-mata kagum para warga.
Betapa cemerlang sosok gagah itu diatas tunggangannya.
Bak kedalaman di sedataran Danau Nirmala di kala purnama
sikapnya tenang. Matanya asih dan acuh.
Ya, sekalipun gemuruh dan gempita itu semata-mata mengarah kepadanya
tapi sikapnya geming saja. Abai saja.
”Ah, Suksara … andai saja kau izinkan aku
seduduk sepelukan bersamamu di atas kuda itu
Pastilah akan kumiliki sepenuhnya arti kebanggaan itu
… Suksara ..”
Bola mata putri Soka yang bening seketika berkaca-kaca.

Tak lepas-lepas ia menatapi sesosok perkasa sekaligus aneh
bahkan sangat-sangat misterius
yang kini ramai dielu-elu
dan berebutan disambuti penuh sorak oleh sekian rakyatnya.
Si jelita, putri semata wayang Raja Susatya yang agung itu
betapa tak hentinya melepas kagum.

* * *

 

”Wahai Suksara! ..
Tak bisa kukatakan lagi
untuk mengungkapkan gembiranya hatiku.
Betapa bangga aku memiliki panglima sepertimu.
Pasukan kita yang hanya segelintir memang gugur di Lembah Maut itu.
Tapi lihatlah. Sepuluh lipat pasukan barbar
yang jahat itu tumpas habis
Punah berikut kejahatannya.
.. Ahahaha … Suksara.”

”Izinkan saya pergi, paduka.”
Dan, kata-kata ini …
Suara yang pelan tapi jelas. Datar begitupun jernih.
Betapa mengagetkan seluruh yang hadir.
Sang panglima Pasir Madu
memanglah sosok terhormat yang dikenal lugas
tak suka berkata-kata. Namun sekali saja ia melepas kata …
”Suksara.
Jika saja akan kau minta tahtaku
dengan senang hati sekarang juga akan kuberikan kepadamu.
Tapi kata-katamu itu
…. Ah, Suksara.”

* * *

 

”Kemana kau akan pergi panglima?”
Menatap Putri Soka sendu.
”Sekehendak kaki saya. Sekehendak angin bertiup.”
”Rumahmu di Pasir Madu, panglimaku.
Lihatlah semua orang membutuhkan dan bangga kepadamu.”
”Rumah saya di kesunyian batin hamba.”
”Suksara … ”
”Hamba tidak layak lagi memiliki kebanggaan.
Perang demi perang terlampau mengikatkan kepedihan di hati hamba.
Tangan-tangan hamba ini
betapa kotor terlampau jauh mencampuri urusan Pencipta …”
”Tapi itu resiko perang, panglima!
Jika tanganmu yang terampil dan sikapmu yang gagah
tidak cermat dan trengginas kau gerakkan
maka para bromocorah yang jahat itu
akan merajalela dan menghabisi kehidupan ini.
Bukankah kau ini seorang ksatria yang cinta hidup damai.”
”Hamba ini …”
”Baiklah, baiklah, Panglima gagah.
Jika kau ingin pergi, pergilah!
Selama ini siapa bisa mencegah niatmu.
Ayahku yang penuh wibawa
dan sangat ditakuti, tak dapat pula mencegahmu.
Apalah aku yang kecil dan lemah ini … ”
Jeda. Pun sejenak bisu.
Angin bukit yang landai
menghempaskan bebuliran bening
dari sesudut bola-bola mata si jelita
Anak-anak air itu serasa dingin menciprat di pipi sang gagah.
”Ajak serta aku, Suksara. Kumohon … ”

* * *

 

Perpisahan adalah hal yang baku dalam hidup.
Tidak ada pertemuan yang lantas tak ada perpisahan.
Tapi ditinggal pergi seorang gagah yang rendah hati.
Seorang hebat yang tak pernah merasa hebat.
Seorang besar yang tak pernah merasa besar.
Seorang pintar yang tak pernah suka umbar kepintaran.
Seorang prajurit yang lahir batin
sepenuh hati berbakti kepada nusa bangsa.
Seorang manusia yang penuh perhatian
tanpa pamrih mengabdi kepada kehidupan.
Seorang laki-laki cakap dan gagah yang seolah-olah tak pernah butuh ….
“Kau tikamkan belati itu di jantungku.
Dan kau biarkan kini luka itu nganga kutanggung sendiri
Kenapa ..? .. Mengapaaaaaaa ..?”

* * *

 

Bukit dan lembah. Lurah dan Ngarai.
Sungai, bengawan dan samodera.
Ditapaki. Disusuri. Didaki. Diselami.
”Betapa tua aku kini.
Tak terbilang lagi rambut-rambut putih ini.
Begitupun berapa jumlah hari-hari telah kulewati.”

Di atas bukit itu sosok renta itu tertatih-tatih
merayap memanjat.
Peluh dan keringat telah menyatukan debu-debu
mengering melekat di sekujur badannya.
Dipandangi segunduk
di dataran bawah pohon berbunga wangi.
Musim kemarau yang panas
meniupkan anginnya yang santar.
Bunga-bunga Kesturi yang elok dan ringan
berhamburan, beterbangan tanggal dari induknya.
Air-air bening itu meleleh-leleh.
Sesekali anak-anak rambut yang memutih itu
dikibar angin menutupi wajahnya.
Diusapnya sedatar batu pualam
di ujung atas gundukan yang berlumut
lepuh dan bertuliskan: HATINURANI.
”Aku pulang, kekasih. Tunggulah aku.”

 

Pondokaren
17 Oktober 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: