Kepodangku

Oleh Dwi Klik Santosa

Burung kepodang itu pernah kupiara

Sosoknya mungil, bulunya kuning keemasan

Pun kicaunya riang, terasa renyah di pendengaran

“Sudah tua usianya, melebihi usia remajamu

Kita lepaskan saja, ya. Biarkan ia terbang semaunya”

begitu kata ibuku, lembut menatapku

Dengan perasaan tak menentu

Pintu kurungan itu kubuka lebar-lebar

Dan, terbanglah si Kepodang, menikmati alamnya yang sejati

Tak benar-benar terbang

Berloncatan ia, hinggap di atas genteng

“Terbang! Terbanglah, Kepodang,”

kataku dengan mata berkaca-kaca

Angin pagi, angin yang malas

Kemarau yang terik, cepat mengeringkan apa pun basah

“Mas, kesinilah!”

Teriak si bungsu seserak itu parau di pendengaran

Di genggaman tangan perempuan mungil adikku itu

Si Kepodang lusuh berlumuran darah

“Diplintheng Sipur, Mas.”

Betapa naik pitam aku

Mendengar penjelasan datar adikku

Ingin kujotos saja bocah nakal tetanggaku itu

Kuelus-elus, kujagai baik-baik

Kurawat dengan susah payah kepodangku

Berapa lamanya, hingga kemudian kudengar lagi

kicaunya yang ramai, geraknya yang lincah

“Baiklah, Kepodang, aku tidak akan lagi melepasmu”

kataku.

“Ya, jangan khawatir, Nak,” kata ibuku

“Nanti jika kau tinggal-tinggal pergi, akan ibu rawat Kepodangmu.”

Masa remajaku, seusia SMAku dulu

Kepodang itu kudapat dari hutan

Ibunya pernah kubedil, kena di paruhnya

Kubawa pulang dengan dada sesak dan hati tak menentu

Si anak kepodang yang malang, bercicitan ia

Seperti menangisi ibunya yang celaka

Apa lacur, bagaimana pun kurawat

Induknya yang menjadikannya ada, akhirnya mati juga

Dan, ketika kemarin itu mudik lebaran

Rutin kujalani

Sebetapa gembiraku, karena bertemu ibu, bapak

dan handai taulan

Namun, selengang dan sesepi itu menghinggapi batin pendengaranku

“Nak, kepodangmu, mati beberapa waktu lalu”

begitu kata ibuku hati-hati

“Mati tua, ibu menguburkannya di pojok kebun itu”

Tak ada nisan. Tak ada gundukan tanah

Hanya sedataran basah seusai hujan

Hidup yang lengang. Sepi yang mengiang-ngiang

Tak ada lagi yang bisa kudengarkan

Riang kicau itu. Renyah nyanyi itu

Sosok yang pernah hidup karena ibunya mati disebabkan usilku

Terbangkah engkau? Terbang ke alammu yang merdeka

Kepodangku

Jika saja kau bisa mendengarku

Mengerti apa perasaanku

Sukoharjo

16 september 2010

23.08

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: