Sembilan Catatan Cinta

Oleh Syaiful Alim

/1/

Aku tahu, jika kau ucap Cinta

tanpa disadari kita sediakan mangkuk untuk menampung air mata.

Aku tahu, jika kau berkata Rindu

tanpa disadari kita saling pandang dengan hati tersedu.

/2/

Bukan bulan di matamu kumau

senyum asuhmu pembasuh jemu

berapa jauh kutempuh peluh

aduh seduh rindu hendak ketemu.

/3/

Di bangku taman aku tunggu

kaku buku membaca mataku

kau belum juga tiba temaniku

ah, beku diserbu seribu ragu.

/4/

Kau bilang, Rindu itu gurih sekaligus perih.

Sayang, raih ilalang, gores urat nadi, bisikku lirih.

/5/

Kita bukan Adam dan Hawa

dipenjara jarak karena rindu

aku ke kau bagai main dadu

kalah menangis, menang tertawa.

/6/

Aku belum mahir masak sesak

sebagai mahar melamar kau

banyak Penyair merusak sajak

bagai Penyihir hadirkan pukau.

/7/

Kau jernih perigi

aku didih sedih ditindih pergi.

Kau benih pelangi

aku sudra prabu Siliwangi.

/8/

Siapa merintih di deras hujan

hanyut sebut denyut nama.

Siapa menagih puas umpama

tertatih raih putih awan.

/9/

Sudah, jangan panggil aku dalam gigil

anak Jadah menadah gundah.

Hidup adalah menggauli lelah

manja sebentar di dada Bunda bagai anak ragil.

[]

Khartoum, Sudan, 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: