Cerpen : With Mith (Kami Berbicara Tentang Mengasiani Diri)

Oleh Afrilia Utami

Pagi hari yang masih buta, matahari belum penuh berwibawa di angkasa. Aku bergegas pergi di temani Pak Her, menuju rumah Mith. Sengaja kumatikan cellphoneku selama di perjalanan sampai tiba pulang, “biarlah mereka menunggu,” kataku dalam hati. “Hari ini jadwalku bersama Mith,” kataku lagi. Seperti biasa, aku lupa untuk mempersiapkan kata. Lupa membungkus tanya. Lupa menahan rasa, hanya kangenku yang menjadi modal utama dan beberapa makanan bungkus kesukaan Mith untuk mengunjunginya. Dan permintaan yang selalu inginkan hadirku bersama dengan waktunya. Terkadang, aku berpikir sendiri, mengapa sulit membedakan antara senyum dan murungku setiba di depan rumahmu? ragu memijit bel pagar tinggi itu. Aku tersenyum karena kutemukan sahabat sekaligus Guru jiwaku di sini, dan lupa aku murung karena beberapa pikirku menyatakan sudah tak lama lagi waktu bisa setiba, bersamanya.

Dalam situasi seperti ini, kunjunganku ke rumah Mith terasa seperti menikmati embun sejuk di tengah kemarau berkepanjangan. Kami banyak berbicara tentang hidup, tentang keluarga, tentang cinta, dan yang paling di sukai oleh Mith, “Semangat Kasih” dan mengapa masyarakat kita sampai kekurangan nilai ini.

“Apa kau bosan? Mendengarkan keluh luluhku ini, Afril?” kata Mith, dengan suara yang semakin kayuh semakin kuyuh.

“Aku tak pernah bosan mendengarkan, semua kata-kata lisanmu. Semua ucapmu adalah gizi untuk pembelajaranku, Mith .. “ aku menarik nafas. “yang buatku bosan menunggu, kapan aku bisa melihatmu kembali berdiri kokoh, berlari siapa cepat siapa dapat. Sedang kulakukan bosanku untuk sebuah harapan.”  Jawabku, kami semakin saling tatap empat mata.

Ia tersenyum. “Cepat atau lambat bosanmu itu akan menjadi kebiasaan di waktu kita, lalu sesudahnya kebiasaan itu akan pergi, hilang, dan punah…”

“Dan pasti aku akan mencarinya, aku akan merindukannya, aku akan …. “ Potongku.

“Dan kau akan melanjutkan hidupmu.” Ujarnya kembali memotong lisanku.

Sementara itu aku mencermati tanda-tanda perkembangan penyakit yang di deritanya. Jemarinya masih berkerja baik untuk mengangkat gelas minum, dan pensil tuk menulis. Tetapi ia tak bisa mengangkat siku-sikunya lebih tinggi dari dada. Ia selalu menghabiskan waktunya di ruang kerja. Di dalamnya terletak kursi santai besar, dengan bantal dan selimut, pula karet yang terbentuk untuk menyangga pahanya yang semakin melemah. Di samping kursi terletak sebuah lonceng, untuk menandakan permintaan bantuan.

Terkadang ia sulit untuk sekedar menggoyangkannya, sedangkan bel itu berbunyi jika di goyangkan. Ada Jimmy anak bungsunya, dan Carron suster yang di tugaskan untuk menjaga sekaligus merawat Mith.

Aku bertanya kepada Mith, apakah ia menangisi dirinya sendiri?

“Kadang-kadang pada pagi hari” katanya. “Pagi hari adalah saatnya untuk berkabung. Setiap awal kuterbangun aku merasakan tubuhku. Aku menggerakan –apa saja yang masih dapat kugerakan- dan aku berkabung setiap kumenemukan ada bagian atau kemampuanku yang hilang. Aku bersedih karena lambat dan menyaksikan proses kematianku. Akan tetapi setelah itu aku berhenti menangisi diri. Dan kau Afril, apa yang kaulakukan dan rasakan pada posisiku ini?”

“Ya, aku memberi kesempatan kepada diriku untuk menangis kalau itu perlu. Tapi setelah itu aku memusatkan perhatianku kepada segala hal yang masih baik dalam hidupku. Kepada orang-orang yang datang menjengukku. Kepada kisah-kisah yang akan kudengar setiap harinya. Terkhusus setiap salah satu tanggal ganjil sekali dalam dua minggu. Karena kita manusia bilangan ganjil.”

Ia tertawa. Manusia bilangan Ganjil.

“Fril, aku tidak membiarkan diriku terlalu hanyut lebih sumut tapi tidak sekecil semut dalam rasa kasihan berlebihan kepada diriku sendiri. Setiap pagi kubiarkan diriku menagis sedikit, tapi hanya itu.” Ucap Mith, mencoba lebih dalam membelai belahan kasihku.

Aku teringat semua orang yang kukenal, yang menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk menangisi diri sendiri. Alangkah baiknya bila orang dapat menahan diri untuk tidak menangisi diri berkepanjangan. –namun terkadang, itu sulit tuk di lakukan. Karena perasaan kita lebih jujur jika dalam sendiri menghening. Di lakukan sembari senyap mengingat sakit dan luka-luka yang purba atau baru beragam rupa- .cukup beberapa tetes air mata setiap pagi, kemudian menghadapi hari dengan tegar. Jika Mith sanggup melakukannya, padahal ia menderita penyakit yang sangat melilit merajam dan mengerikan…

“Mengerikanlah bila kau memandangnya dengan cara begitu” komentar Mith. “Memang ngeri nyeri menyaksikan bagaimana tubuhku perlahan-lahan kehilangan fungsinya. Tapi aku cukup bersyukur atas kesempatan yang cukup luang bagiku untuk mengucapkan salam perpisahan. “

Ia tersenyum. “Tak semua orang seberuntung aku.”

Aku mengamati sosok tua teronggok dalam kursi yang sedang berhadapan kurang seinci mill. Tak bisa berdiri, tak bisa mandi, bahkan tak bisa membetulkan celana sendiri, atau sekedar menyuapkan nasi. Beruntung? Sungguhkah ia merasa beruntung?

“Afril .. “ panggilnya.

“Ya?”

“Boleh aku meminta sesuatu darimu?”

Tentu, jika aku bisa.

“Aku ingin” ia menarik nafas. “merasakan .. “ di lanjutkan dengan batuk yang berdurasi panjang. Sekali batuk, ia sulit untuk berhenti. Dan pasti batuk itu akan semakin membuatnya lelah, semakin lemah.

“Minumlah dulu..  “ ucapku sambil membawakan segelas airputih.

Sesudah ia habiskan airminumnya. “Aku ingin merasakan … hatimu ada mengalung dekat lalu erat dan kuat di hatiku.dan hangat tubuhmu menghangatkan mayatku.. “

Aku mayat juga. Jika kau mayat. Kita mayat? Siapa yang akan menghangatkan kita. Apa belum, kau rasakan itu semua, Mith?

“Aku ingin mendekapmu, memelukmu dan itu tak menjanjikan untuk waktu lama.”

Aku tersenyum. Baiklah …

Dan mulai dari sanalah aku semakin menyayanginya. Aku semakin tandus akan rindu hangatnya yang arus dan aku selalu haus akan hadir, kata, ucapnya hijau menghumus. Mith, hari ini aku terlalu sulit menceritakannya. Aku tak ahli berkata, aku terlalu patung tuk berhitung, aku terlalu gagap tuk banyak berbicara rangkap. Bercerita akan kisah kita, kisah yang ada dan di adakan. Mungkin hanya lewat coretan sederharna ini, kotretan singkat kebersamaan kita ada dalam hidup cerita.

“Bersyukurlah … Tak semua orang seberuntung aku.”

___________________________________________________

Mith,

Tubuhku masih surut

Separuh napasku makin kerut

Langkah mungkin tak berturut.

Semangat Kasih ini satu miliki raut

Sendiri. Berbagi. Tak pernah saling meribut

Kau turut menjadi kilau di gulitaku

Aku menjadi jantung di jiwa beragamu

Kauaku turut menghidupi waktu suka,luka, haru.

Menjadi satu.

S

A

T

U

Debu.

[]

17 September 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: