Siapa Menjaga Kebudayaan

Oleh Dwi Klik Santosa

SEMPRUL : Aku tidak mengerti bagaimana caranya mengembangkan, atau setidaknya ikut merawat dan menjaga kebudayaan kita yang hebat ini?

TEMBEM : Ah, besar amat bahasamu. Nasibmu sendiri tuh kau rawat.

SEMPRUL : Ini bangsa yang besar, bung. Bangsa yang memiliki banyak hal kenapa disebut besar. Hayo bertaruh… kumpulin para sarjana terpandai kita. Suruh menghitung dan menimbang. Adakah keanekaan dan corak yang beragam-ragam itu pernah dimiliki oleh bangsa lain di bumi kehidupan ini?

TEMBEM : Masa iya sih… logika yang mana, penalaran yang bagaimana, untuk memahamkan kebesaran itu… jangan-jangan itu hanya jargon-jargon saja seperti biasa dan lazim dikoarkan para-para yang suka mau naik kursi… dan setelah kursi itu diduduki, berbual saja… menindas saja kerjanya… Tolong kau beri sedikit pencerahan, bung. Biar aku yang awam ini jadi ikut ngeh dan paham…

SEMPRUL : Heii… dengar ya. Sudah bagus itu… ada nada kritis keluar dari pesimismu. Gini, mari sama-sama kita simak dan kita tanyakan nanti ke Biro Pusat Statistik. Dari Sabang sampai Merauke… ada berapa bahasa kita miliki? Adakah bangsa lain di dunia ini sekaya itu?… Bahasa mencerminkan bangsa. Kenapa harus..? Kenapa melulu bahasa asing?… apanya yang kurang bagus dan besar dari bahasa-bahasa kita… Sehingga seakan-akan, jika ada yang berkata secara fasih dengan lafal bahasa-bahasa asing itu demikian pedenya merasa punya kelebihan dan besar… Pernahkah, sekali-sekali kita memahami, meneliti materi dari adiluhung kata-kata yang terkandung dari bahasa-bahasa kita sendiri…

TEMBEM : O, iya, ya…

SEMPRUL : Ya, perlu contoh lagi. Kesenian… Hmm… Tari Cakalele, Tari Pendet, Tari Jaipong, Tari Bedaya… Musik… hmm… Degung, Krawitan, Angklung, Sasando… Semuanya asli. Semuanya indah. Semuanya hebat… Kau pasti tidak tuli… juga tidak buta, bukan, terhadap kenyataan ini?

TEMBEM : Iya. Iya… Tapi… tapi… omonganmu itu… aduuuh… apa tidak terlampau lebar mulut itu kau ngangakan? Bercermin dong… Siapa kamu?

SEMPRUL : Ya, aku memang hanya sebatang individu yang dekil dan kecil. Tak punya gelar. Tak punya baju… Tak punya sebutan gagah yang mentereng. Pendeknya bukan siapa-siapa. Seperti lazimnya, selalu dipinggirkan, dan dianggap tidak ada. Tapi kau dengar ya. Aku ini anak bangsa. Punya ide. Punya gagasan. Punya inisiatif. Punya hak aktif. Punya partisipasi.

TEMBEM : Iya, deh.. iya, deh… Terus kamu mau ngapain? Mau berbuat apa? Mau jadi apa? Mau ikut-ikutan menyebut diri budayawan?

SEMPRUL : Semua orang semestinya budayawan. Sebab kita semua ini adalah pelaku budaya. Bisa berbuat budaya. Bisa menghasilkan budi dan punya daya. Hanya saja… Hanya saja…

TEMBEM : Ya, ya… aku mulai paham jalan pikiranmu…

SEMPRUL : Ya, jargon-jargon orang yang merasa besar kadang-kadang mengecilkan arti dan nilai-nilai kita… Partisipasi, intuisi, keberadaan dan kehadiran kita…

TEMBEM : Jadi… jadi…

SEMPRUL : Ya! Mari mendidik diri! sebaiknya, jangan terlalu bergantung sama orang-orang yang kita anggap merasa besar. Mari jalani saja. Apa yang bisa kita perbuat. Apa yang bisa kita lakukan… Untuk menghasilkan… untuk produktif… untuk mempertahankan… untuk menjagai… untuk merawat… untuk mengkreasi lagi produk-produk adiluhung itu dengan kemasan-kemasan yang cerdas dan mudah dicerna oleh teman-teman, sohib-sohib, adik-adik, anak-anak kita semua… Dari bumi Aceh sampai Papua… Di semua lini, di semua ranah, di semua lingkup…

Pondokaren
28 Agustus 2010
: 05.o2

[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: