Rembulan Di Atas Suramadu

Oleh Dwi Klik Santosa

(Photo: galunggung99.files.wordpress.com)

SORE di atas kemungkinan, begitulah ceritaku ini kali. Yah, sebelum diri masuk kembali ke rutinitas ibukota, kunikmati sesuka-suka, sisa-sisa waktu di Surabaya.

Jembatan itu panjang. Megah, karena terbuat dari beton yang ditanam di dasar laut. Ini bukan sekedar fantasi. Ya, inilah mega proyek. 15 tahun dikerjakan dan dikabar-kabarkan hebat. Dan nyatanya begitu usai dan resmi dibuka, berbondong-bondong orang pingin jalan di atas lajurnya. Bahkan belum tiga bulan jalan, berita-berita pun lantas santar menghembuskan; jalur motornya ditutup, karena sekrup dan besi-besi hilang dari tempatnya. Sangat membahayakan si pemakai jalan…Hwaradakah!

Di atas punggung jembatan Suramadu, kukabarkan lewat sms kepada seseorang. Kuceritakan kepadanya: “Heiii…aku sekarang di atas Suramadu!” Dan tapi jawabnya kemudian; “jangan bunuh diri disitu, ya!”… Haooouuww…teganya, teganya. Pikiran ini entah kemana lagi. Sepertinya terus berlari dan memasuki ingatan adegan-adegan romantis film Hollywood. Bercengkrama dan bercinta di atas jembatan Manhattan. WaaooouAutumn in New York… Angin di atas Suramadu wuiih galaknya. Dan si pak sopir taksi ini betapa cerewetnya. Bercerita kepada seluruh penumpang taksinya, tentang riwayat orang-orang. Orang Surabaya, orang Madura, orang Jember… Dan lalu, welcome Madura!…gersang. Garing. Tandus. Hahahayah, di tanah yang keras, sifat manusia jadi keras. Bagaikan gelombang watak bangsa Viking pada dongengan legenda Skandinavia mencari tanah pengharapan. Mengembara mereka dengan gagah berani dan lalu buas mencari lahan untuk beranak pinak.

Di atas jembatan Suramadu. Terdengar suara dengkur tiba-tiba. Dua sohib perjalananku tumbang bersender di bangku belakang. Dan si Pak Tua cerewet itu pun menikmati setirnya sambil berjula-juli dengan asyiknya. Ah, jembatan ini membelah laut, menghubungkan daratan. 15 tahun mengerjakannya betapa lama. Lha itu Sri Rama dalam dongengan Ramayana, hanya dengan sepekan saja mampu mewujudkan maha karya; Jembatan Situbanda. Bendungan megah itu dibangun dengan gotong royong dan segenap juang para prajurit kera, si putra-putra kahyangan dan ikan-ikan perkasa keturunan Dewa Baruna. Mereka bekerja tak kenal korupsi. Apalagi manipulasi. Puih! Mainan apa itu. Gunung digempur jadi batu. Batu ditendangi para kera perkasa melayang-layang di angkasa, ditangkapi kera lainnya, dan lalu diletak, diatur ikan-ikan pesut dan lumba yang cerdas. Ribuan, jutaan batu-batu melayang dan amblas menumpuki memanjang. Kokoh kuat ditambal dengan tanah liat ajaib ramuan sang Anoman yang jago membangun cagar monumen. Gunung pun tebas dipindah ratakan untuk membelah laut Mangliawan. Dan begitulah, nyanyi-nyanyi para kera yang tiada lelah bekerja, mewujudkan asa, menjembatani juang Sri Rama merebut kembali Sinta dari culik si laki-laki maha jahat Rahwana.

Ah, Sintaku. Jangan engkau mati sebelum aku menemukanmu.” …Jembatan itu pun kokoh terbentang. Menghubung dua daratan yang mustahil sepertinya disatukan. Gilang gemilang segenap pasukan kera menyanyikan orkestra perang. “Jangan sedih Paduka Rama, aku anakmu siap menabur darah, demi keadilan, demi kembalinya ibuku ke pangkuanmu,” teriak Anoman.  …Waooow… Berduyun-duyun bagai semut berbaris. Para kera sigap menembus perisai maut pertahanan para dajal bengis. Alengka si kerajaan besi yang dihuni selaksa raksasa dan raksasi ditaklukkan bahayanya dengan langkah mantap. “Hei, Rahwana akan kutampar sepuluh mukamu. Kuhilangkan sifat jahatmu untuk selama-lamanya. Supaya kau tahu dan kiranya semuanya saja tahu, bahwa jembatan itu dibangun dengan susah payah. Dengan keperihan. Dengan perjuangan. Hanya demi sebuah cinta. Sebuah tanggungjawab kepada isteri terkasih yang hendak kau rebut dengan licik dan pengecut.”

Di ujung jembatan Suramadu. Taksi ini kembali memasuki rahim Surabaya. Sungguh kota yang bagus. Lebih bagus menurutku ketimbang ibukota jalur hidupku sehari-hari. “Yang tadi itu, jalan yang menuju Kamal.”…

”Kamal? Jadi Kamal itu masuk wilayah Madura, ya Pak.” …

”Inggih, ngaten, mas!”…

Woouuuw… Bukankah di kamal, dulu Anggraini kekasih tercinta Panji Inu Kertapati sang Kameswara perkasa itu lenyap bagai terbang ke langit. Di tempat itu dulu, sang dewi harus mati di atas keris jagal Jenggala. Hanya demi cinta. Demi menghormati perasaan sang mertua, yang telah dulu, bahkan sejak dalam kandungan telah menahbiskan sang suami berjodoh dengan si jelita Sekartaji, putri Kediri…

”Anggrainiku … tidak akan ada lagi perempuan lain di hatiku, kecuali dikau.”…dan ksatria perkasa itu pun gila. Edan, karena dipisahkan dengan yayangnya…

Thet! Thet! Thet! Brungg … Bruuung … bruuung! …

“Wong edan!” sumpah pak Tua. Memang gila laki-laki itu, jalanan seperti milik simbahnya saja. Sak udele dewe! …”jangan kencang-kencang, Pak,” seru sohib di jok belakang, “pesawat berangkat masih jam Sembilan.” Dan taksi pun alon-alon waton kelakon. Dan terdengarlah lagi dengkur itu.

Di atas rahim Surabaya, tak pernah aku ditinggali kenangan. Sama sekali tak ada memori yang menghubungkan sebagai jejak-jejak menuju sejarahku. Baru kali ini kiranya, kaki ini benar-benar mendarat dan menapaknya. 4 hari yang melelahkan. Demi sebuah tuntutan profesionalisme pekerjaan. Dan, serba asyik saja, menjalaninya selama ini. 4 hari di kota arek-arek bonek ini, semua orang yang kujumpai penuh sapa, penuh senyum. Hingga Pak Wagub Surabaya si Gus yang mantan menteri itu dan pula Pak Wali dan tokoh lainnya dapat tertawa-tawa, berbagi-bagi kegembiraan dengan semua orang di ruangan itu. “Tak dongakno kabeh maju. Suroboyo maju, Indonesia maju. Sarwo nyenengke kabeh, ora ono sing nggrantes,” inilah kelakar sang Wagub yang merakyat itu.

Di koridor-koridor ini, dalam bingkai fragmen kali ini begitu lengang. Wira-wiri orang entahlah, siapa mereka. Kemana tujuan mereka. Disini, duduk di kursi ini, kuabaikan saja, kuacuhkan saja lenggak lenggok pramugari yang hmm … hmmm … jari-jari tangan ini asyik saja ngutak-utik laptop mungil ini. Tapi sungguh mati. Demi Tutatis dan sejuta topan badai … hahaha … kubayangkan rembulan muncul malam ini. Sehingga kuharapkan laju terbangku nanti ke ibukota tenang teduh, tanpa was-was dan kalis dari bencana.

Dan di atas jembatan Suramadu, pernah tertinggal sepercik asaku disana. Seketil lamunan, soal rembulan. Ah, kenapa tak ada waktu untuk sejenak menikmati rembulan bundar di atas Suramadu? Aku tak mabuk keindahan Manhattan. Tak juga ingin berakting sebagai Sri Rama yang kesepian ditinggal Sinta. Atau sang kelana, Panji Inu Kertapati yang gila ditinggal Anggraini. Tapi dengarlah sepiku, wahai, malam dan juga kau, rembulan di atas Suramadu. Setidaknya ini harapku. Aku ingin mencari jejakku sendiri, tanpa bayangan dan romantisme masa lalu. Hanya sedikit asa. Jikasaja kelak itu mungkin. Aku ingin sekali mengenali apa itu bahagia. Tanpa merasa kesepian. Tanpa gila. Tanpa merasa kehilangan suatu apa. Tidakkah boleh berharap pada mungkin?

Bandara Juanda Sidoarjo

12 November 2009

20:34

[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: