Mudik Lebaran : Aku Pulang, Ibu

Oleh Dwi Klik Santosa

MUDIK lebaran. Tak dipungkiri, ini peristiwa besar. Betapa tidak. Coba kita simak dan teliti dari pemberitaan-pemberitaan dan fakta, betapa penuh, padat, berhimpitan, seruas jalan dari lajur utama ibukota menuju jalur selatan dan utara Jawa. Dari sejak setidaknya seminggu menjelang lebaran. Pesawat-pesawat terbang, Kereta-kereta Api, Bus-bus penuh penumpang. Mobil-mobil pribadi beriringan sesak oleh penumpang dan barang. Sepeda motor-sepeda motor, bahkan berduyun-duyun, bersemangat, ibaratnya iklan KB saja. Berisi bapak, ibu dan dua anak. Juga truk-truk bak terbuka. Sepenuh-penuh, sesesak-sesak. Begitupun bajay dan metromini serta kendaraan apa saja, asal dapat mengantar diri sampai ke tujuan. Sampai ke asal dulu kami pernah diadakan.

Ada apa dengan lebaran? Kenapa harus mudik? Adakah bangsa lain mengenal adab seperti ini?

Lebaran adalah kosa kata nusantara, yang bisa dimaknakan pengenyahan atau penghancuran dari sampah-sampah, sisa-sisa atau jelaga-jelaga. Lebar, lebarlah. Enyah, enyahlah. Hancur, hancurlah. Maka, kami menandang nelangsa selama 30 hari lamanya. Menahan lapar dan dahaga. Mengendapkan nafsu-nafsu dan melatih sabar. Tapi diri yang kreatif inilah intuisi untuk produktif. Puasa kami tidak kenal malas dan stagnasi. Hanya semoga kalbu kami disucikan dari kotoran dan pamrih-pamrih yang menyesatkan. Semoga kreatifitas kami mampu menembus batas yang multi guna. Menghadirkan manfaat yang nyata, mengalirkan kasih sayang bagi sesama.

Di kedalaman sanubari yang fitri. Ibulah pernah mengandung, mengasuh dan melindungi. Di gua garbanya yang suci dan teduh, disitulah pertapaan kedap oleh perdu-perdu. Kampung halaman adalah fitrah dulu kita pernah merasakan hawa dan musim, ketika lalu sang pencipta menitahkan kita terlahir sebagai bayi kehidupan. “Oa .. oaa .. oaaaaa …..” begitu bunyi tangis kita. Keras, pekak dan membahana. Di haribaan udik lah dulu tangis pertama itu menandai. Lahir, besar dan njenggureng sebagai insan. Sebagai umat bagi Penciptanya. Sebagai makhluk sempurna bernama manusia. Sebagai patria bagi nusa dan bangsanya, agama dan lingkungannya. Mudik, menuju udiklah kami. Sujud dan sungkem kami di hakekat telapak kakimu, Ibu. Putra-putrimu yang ingin selalu merindumu. Ingin senantiasa mensyukuri berkah lahir, besar dan mulia. Atas segala sakit dan nestapa ketika dulu kami engkau kandung. Engkau asuh, engkau pintakan nafas kepada sang maha. Terimalah dera kami, tangis kami, sungkem kami.

Tuhan maha Akbar … Tuhan Maha Segala … Tuhan maha suci ….
Semoga Kau-murnikan harkat dan martabat juang kami dari khianat, bangsat dan laknat.

Sukoharjo
11 September 2010
: 06.41

[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: