Hadir dan Mengalir

Oleh Dwi Klik Santosa

(ilustrasi : didoth purnomo)

—Buku saya berikutnya yang akan terbit, Insya Allah, judulnya CITRA RENDRA. Ilustrasi dan desain buku akan dikerjakan mas Pang Warman dari Jogja—

Hadir Dan Mengalir

Harus ada yang rela berkorban
Harus ada darah yang ditumpahkan
Tidak untuk apa
Cuma sekedar membuka mata

//

WILLY, demikian ia suka dipanggil. Si anjing liar dari Yogyakarta, Iwan Fals dalam lagunya menyebutnya begitu. Sejauh empiris mencatat, sosoknya eksentrik, unik dan masif. Matanya elang teduh. Geraknya lincah indah. Kata-katanya tajam resap. Hadirnya; mengalir, meruang dan mewaktu. Menggelorakan jiwa muda dan mengendapkan jelaga-jelaga. Hidupnya penuh prestasi dan sensasi. Tak kenal kompromi dan bergerak aktif secara dialektik menjadi dinamisasi.

Bagi pecinta seni dan budaya, siapa tak kenal dia? Tapi siapakah dia? Sehingga dari orde ke orde dari kancah pergulatan dinamika di tanah air ini, hingga beliau wafat, terus dikabarkan secara gagah oleh pemberitaan-pemberitaan media.

“Aku hanya seorang penyair,” akunya. Tentulah, ia bukan sekedar itu. Sebab, lebih dari setengah abad melenggang, ia menandakan ada menggulirkan citra. Cendekiawan, Dramawan, Budayawan, Pujangga, Pemimpin Kaum Urakan, bahkan si seniman Burung Merak adalah julukannya. Dialah Willybrordus Surendra Broto Rendra atau lebih dikenal dengan W.S Rendra, atawa Wahyu Sulaiman Rendra, alias Rendra.

Apa yang istimewa dari Rendra, sehingga hadirnya selalu hangat dan senantiasa ditunggu oleh para pecintanya? Apakah karena ia ganteng, pintar berkata-kata dan eksentrik dalam bergaya? Secara umum, alasan di atas barangkali ada benarnya. Tapi, tentulah terlalu simple menganalisanya demikian, mengingat, di sekitar kita juga banyak orang berkarakter serupa, tapi amatlah biasa-biasa saja, dan kalaulah dikagumi, paling hanya di kalangan atau lingkup pergaulannya saja, dan jarang berselang panjang.

Hadir dan Mengalir! Begitulah gerak dinamis, pikir dan tindaknya. Di setiap senjang ketidak-adilan di tanah air, dari peristiwa Manikebu, Sum Kuning, Malari, Poso, Reformasi, Aceh, TKI, Pembreidelan Media, Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi, dan sebagainya, penyakit akut yang menggerogoti ketahahan moral manusia dan bangsa, silih berganti, tak berkesudahan, tak pernah lelah Rendra memberikan kesaksian. Senantiasa ada dan hanyut memberi kontribusi penyelesaian. Senjakala usia tidak membuatnya uzur dan terhenti. Tapi perhatian, aksi dan dedikasinya, adalah bukti jawaban; demi waktu aku akan terus bersaksi, bereaksi dan beraksi.

Lewat krida teater, puisi, pidato, ceramah dan gerak ritmisnya dari aksi ke aksi, secara dinamis dan dialektik, Rendra tidak saja menyadarkan kawan seperjuangan, tapi juga siapa pun lawan, untuk diingatkan agar mengerti bahwa yang terpenting dalam hidup adalah berselaras dalam kebersamaan. Manjing ing Kahanan, Nggayuh Karsaning Hyang Widhi (masuk ke setiap peristiwa kehidupan, mencapai apa yang diinginkan Tuhan) dalam laku yang sejati. Persekutuan antara roh dan badan itulah sejati. Maka, tidak ada kawan atau pun lawan pada akhirnya, bahwa demi mencapai kebenaran jalan Tuhan, manusia wajib menjalani kodratnya; untuk senantiasa bergerak dan memusatkan pikirannya hanya demi semata memuja keagungan Tuhan. Hadir kemana pun nasib harus dibawa, dan Mengalir begitu saja, mengantarkan jalan manusia menuju dzat yang sejati.

[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: