Bunga-Bunga Mekar Di Sukoharjo

Oleh Dwi Klik Santosa

INGIN saya katakan sejujurnya. Selama sepertiga abad lebih usia mengantarkan saya kini dalam sebutan : laki-laki dewasa dan mendekati tua. Be-ribu bahkan berjuta wajah manusia barangkali saya kenali, baik secara dekat hingga lekat saya baui dan hirup-hirup bau nafasnya, maupun yang hanya sekedar saya lihat dari layar-layar monitor elektronik atau juga dari ratusan, atau bahkan ribuan buku yang sudah pernah saya baca hingga detik kini. Banyak sudah sosok-sosok itu menjilmakan ikatan sebagai bahan-bahan. Pemahaman, pengertian yang kadang bisa memanifestasi atau lebih menjadikan sebagai benih-benih yang menjatuhkan airmata-airmata, dan juga pernah putusasa-putusasa begitupun marah-marah yang lalu melahirkan kebencian. Saya harus akui. Saya harus katakan, inilah proses itu bernama.

Saya laki-laki yang dilahirkan di haribaan harkat ruang bernama Sukoharjo. Masa bocah saya, tak terasa saya kenali kini …… pada akhirnya, harus berani saya akukan: inilah percik-percik keindahan itu pernah saya kenal.

Begitupun ketika memasuki remaja. Ya, Tuhan …. banyak sekali kenangan itu menjilmakan pengertian-pengertian. Pemahaman yang mendalam. Yang selama ini acapkali menjejali harkat dari perjalanan untuk mengenali diri. Apa itu kampung lahir? Apa itu teman? Apa itu sahabat? Siapa itu guru? Dan untuk apa orang harus belajar, harus berlatih? Untuk apa harus rela jatuh bangun, demi apakah?

Tentang sebuah harkat dan nilai-nilai. Setiap orang memiliki proses dan kisahnya masing-masing. Saya tidak mencoba mengelak atau bahkan hendak meniru atau memplagiat karena memang harus saya akui, sungguh-sungguh saya tertarik atau tergelitik oleh apa yang telah dirakitkan Ernest Hemmingway dalam serial-serial novelnya. Atau mahakarya-mahakarya Walt Disney dengan istana kreatifnya yang segar dan impresif. Karl May dengan serial petualangan Old Shaterhand yang cadas dan ’gentle’ di ranah Amerikanya atau seri-seri fantasi cerdas nan gurih Charles Dickens, Jules Verne dan Hans Christian Andersen yang demikian memesona perhatian dan lalu sepertinya memengaruhi arus pemikiran saya.

Tapi kiranya, endapan akan sejarah hidup saya sendiri. Bersama sekian jalinan, larutan, genangan, senyawa-senyawaan yang berkandung: jatuh, bangun, selalu terjatuh dan senantiasa bangkit terbangun. Mulai lagi kini rintik-rintik itu bagaikan rinai-rinai berjatuhan dari langit, menitik-nitik merekatkan, menyatukan sebuah alur dan pengukuhan bangunan sebuah risalah bersebut : in-memorium romantika, dan atau, re-impresiva historika.

“Bunga-bunga Mekar di Sukoharjo.”

Hmmm … semoga ada energi dan sinergi yang cukup bagi saya untuk mewujudkannya nanti menjadi sesuatu.

Sukoharjo
14 September 2010
: 09.25

[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: