Puisi, Pisau, Puasa

Oleh Syaiful Alim

Manakah yang lebih tujah:

Puisi menikam kejam penguasa, sang penyair disalib di tiang nasib,

Pisau menusuk rusuk Adam, dengan meminjam tangan dendam,

Puasa meremuk redam ingin, lapuk jadi angin?

Ah, alangkah tujah, alangkah ludah, lidahku pedih ditagih pilih.

Pernah ada penyair tua, hampir punah, dipanah kata, bersabda:

Puisikan pisaumu sebelum menikam kelam.

Pisaukan puasamu sebelum lapar keram karam.

Puasakan puisimu sebelum mekar kata jadi makar kita.

Ah, alangkah parah sabdamu menjarah.

Ah, alangkah patah jemariku menatah.

Kekasih, lekaslah tunjukkan jantungmu,

Supaya kutusuk khusyuk detak hitungmu.

Puisiku pisau, puasaku puisi, puas aku didera derita diri.

Puisiku pisau, puasaku puisi, sepi pasi aku dirindu duri.

[]

Khartoum, Sudan, 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: