“Kidung Cinta Pohon Kurma” Novel Yang Bagus

Oleh Dwi Klik Santosa

Sedikit uneg-uneg saya

“Pohon Itu Mengajarkan Menemukan Cinta”

KIDUNG CINTA POHON KURMA karya Syaiful Alim. Talenta baru di kepenulisan lahir di Sidoarjo, Jawa Timur, 6 Juli 1985. Kini menempuh pascasarjana Studi Keislaman di Universitas International University of Africa, Khartoum, Sudan. EDAN !

+++

Pertama sekali yang ingin saya kemukakan setelah membaca buku itu dan membaca sedikit tentang latar belakang atau biografi sang penulis ; pasti ia orang yang romantis. Setelah itu, pasti ia hobby baca, kutu buku dan pemerhati siaran TV.

Maka, bagai kamus umum pengetahuan saja, layaknya novel ini. Memberi pengetahuan apa saja yang dibutuhkan oleh pembaca menyoal hal-hal yang urgen dalam hidup, semisal; agama, keyakinan, idealisme, edukasi dan muara dari semua pencarian manusia yaitu kearifan.

Membaca dari awal sampai akhir, memang agak mengandung kelemahan jika itu dipahami dari sudut pandang cerita. Susunan dramaturgi atau ploting yang oleh sebagian para kreator suka dimaknai sebagai alur yang berpotensi mengharu biru atau memacu adrenalin kepenasaran pembaca dari klimaks ke anti-klimaks atau sebaliknya, seperti kurang mendapatkan atensi dari penulisnya.

Namun kiranya, dari halusnya bahasa yang tersusun. Baik dari setiap gejala persoalan yang menjadi tema atau dilema, dan kemudian untuk dipahamkan “bagaimana barangkali sebaiknya” cukup memberi gambaran bagi saya; penulis ini tak diragukan adalah seorang yang intelek. Penalaran dan logika filsafatnya kuat. Tidak melulu dari sudut Islam, bahkan Injil, Gandhi, Nietszhe… Bahwa CINTA itu sesuatu yang universal. Sesuatu yang bisa dipandang, ditelaah, dimengerti, dipahami, dijalani… dari berbagai sudut. Secara dialektis. Secara dinamis.

Barangkali oleh sebuah riset panjang (mudah-mudahan bukan dzu’udzon) lalu oleh mas penulis, perjalanan manusia untuk menemukan cinta itu, bisa saja mengambil guna dan manfaat yang sebesar-besarnya, yang sebaik-baiknya dari sari-sari filosofi POHON KURMA. Ada ketahanan. Suka menderma atau memberi. Begitu juga pergulatan yang ulet dan TANPA PAMRIH.

Kalau saja saya harus berjujur. Meski beliau ini masih berusia seperempat abad, relatif sangat muda dari usia saya, namun kiranya semuda ini banyak kelebihannya dibandingkan saya. Terbukti sekali dari terbitnya buku ini. Dan, Syahrul Ahimsa sebagaimana itu menjadi tokoh utama dalam novel ini, ingin saya curigai tidak sekedar dzu’udzon “jangan-jangan ia manifestasi dari penulisnya sendiri”. Maka, tak heran, jika sisi keromantisannya, keluasan wawasannya, kehalusan budinya banyak disukai cewek-cewek…hahaha…

Jadi sejujurnya saya sangat mengiri. Dan, makanya saya bersyukur bisa membeli buku ini. Supaya saya banyak belajar dari yang muda. Untuk banyak tahu dan mampu kemudian jadi sosok yang romantis dan teladan seperti Syahrul Ahimsa.

Salam.

Zentha

24 Agustus 2010

: 10.oo

[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: