Jejak Sajak Satu ( Sembilan Sajak )

Oleh Syaiful Alim

Sajak Kesatu: Lelaki dengan Lika Liku Luka

Aku lelaki dengan lika liku luka.

Aku suka jika air mataku kauseka.

Tubuhku penuh jejak peluh

sungai yang mengeluh.

Kemarau meranjau hijau

burung-burung urung berkicau.

Maukah kau jadi Kekasih

basuh basah resah, sisihkan rusuh perih?

Darah lutut netes tanpa kain pembalut

angin hilang arah, angan terbuang di surut laut.

Ingin tangan raih putih Cahaya

tapi aku cuma sahaya.

Masihkah ada dada

bisa terima trauma

yang berputar bagai reroda?

Jujur, nasibku kurang mujur.

Pernah berlayar, mencintai pantai

tapi perahu dengkleh oleh leleh badai

kesal sesal ngucur dari sekujur usia

yang sia-sia menangisi sisa air mata.

Oh! Aku lelaki dengan lika liku luka

betapa hidup sulit diterka!

Sajak Kedua: Matamu Mendung, Air Mata tak Kuasa Kubendung

Matamu mendung

air mata tak kuasa kubendung.

Entah tangan angin lelah

atau bebuah awan mentah

hingga bebutir air urung jatuh

ditadah gundah, gigih tagih jatah

bermusim-musim kemarau latah

melukai rahim mawar dan janin-janin sajak

yang mukim di makam jejak.

Kunamai matamu mendung

air mata tak kuasa kubendung.

“Ayolah menangis. Menangisi air mataku

yang sebentar lagi beku, sebenar rindu padamu.”

Pepohonan kaku, menahan kelu.

Kemarau dibakukan di buku-buku

kabarkan petani yang sunyi

meratapi pipi kian keriput dan tanaman padi

yang tak pernah luput dari rerumput

hama yang lama jadi piyama

senang dan kenyang sebatas umpama.

Oh! Hidup sehangat peluk mama

dingin takluk disengat kutuk nama: Mata!

Sajak Ketiga: Surga tak Terduga

“Eva, mungkin ini Surga sebenarnya

pohon khuldi tumbuh di mana-mana?”

“Adam, ini Bumi?

atau hmm, aku belum mengerti”

“Hmm, sebentar, apakah masuk akal

cuma karena memakan Khuldi

kita diungsikan ke Bumi?”

“Seharusnya kita sangsi”

“Hmm,Tuhan itu otoriter

daripada darah tercecer

lebih baik bumi kita isi dengan puisi.”

“Hmm, bertani, bernyanyi

berpuisi, dan melukis sunyi.”

Sajak Keempat: Ular Liar dalam Dada

“Adam, ada ular liar dalam dada

berbisik, hai Eva, kenapa kau

masih di sisi Adam, cari cara curi

rusuk kanannya. Lalu ajukan surat cuti

lari dari diri menari bersama matahari”

“Eva, juga pada dadaku. Seolah ditusuki paku

berbisik, hai Adam, kenapa tak kau

ambil lagi rusuk kirimu. Supaya kau

kian lelaki.”

Semua bermula dari bisik

lalu luka karma serupa sisik

laku ular menebar kobar berisik.

Ah! Alangkah asyik!

Ah! Alangkah cabik!

Sajak Kelima: Benda dan Beda

Lalu Tuhan berfirman tengah malam:

Kuajarkan kepadamu, Adam, nama-nama benda

manusia suka dendam karena beda.

Iya. Begitulah manusia senantiasa sia-sia

saling duga paling tafsir tanpa pikir ragam makna.

Tak.Tak ingin kautergelincir retak

belajarlah pada sajak, setiap jejak

lahir sejuta berita derita dan cerita cinta.

Sajak!

Sajak Keenam: Kupahat Namamu di Paha Liat Laut

Jangan kauduga cintaku surga berjelaga.

Adalah lega menerima jelaga juga telaga

ada kalah dan menang yang lelah

sayap seolah sebelah, ah!

Aku berjaga di batas getas dan cadas

bertahan dalam laju dan kandas

tersebab cinta menderas

dan rindu tajam menebas.

Karena namamu berurat denyut

maka kupahat namamu di paha liat laut.

Cinta sekuat maut, tak satu pun luput

jemari rindu merebut serabut laut

menghindar dari surut

memudar kalut.

Kemarau gontai bantai pantai

habis badai

habis ombak

jejak tak terlacak

oh! Hidup redup dalam degup tangis

jemari melantai

mengemis gerimis.

Tidak! Demi namamu

aku ikhlas melepas segala

mengemas bianglala.

Tidak! Demi namamu berurat denyut

aku berjibaku dengan pasang dan surut.

: Namamu!

Sajak Ketujuh: Surau Suram

Surau suram

walau cahaya lampu

kilau bikin silau

mampu menggalaukan

ikan-ikan di danau.

Jamaah memamah zikir

tapi kikir pikir.

Ulama berlama-lama seteru

dengan tanda seru dan saru.

Oh! Haru!

Inikah deru juru Bisik

bikin segala penjuru berisik?

Oh! Mata bagai cadik

bidik pelangi di sore yang wangi!

aku saksikan surau suram

hakikat kemarau diikat temaram.

Sajak Kedelapan: Mencintai Rasa Sakit, Menggapai Asa dengan Rakit

Sakit karena rindu adalah niscaya

sedikit jumpa adalah cahaya.

Sejak kau jadi sajak

aku tak hendak beranjak dari kenduri duri

dan mawar penawar hambar hari-hari.

Kita tahu, cinta adalah nama lain dari air mata

maka aku mencintai rasa sakit

menggapai asa dengan rakit

yang terbuat dari seikat bambu kata.

Bisa sebab biasa

kutulis tangis senantiasa

bukan mengemis gerimis

pada pagi yang magis dan amis

darah menjarah segala arah

burung terbang luka parah

paruh tak utuh

peluh luruh

keluh jatuh

di nada nadi tak utuh.

Duh! Adalah mata air kuseduh.

Duh! Adakah pohon teduh.

Duh! Ada yang kuunduh.

Aku mencintai rasa sakit

seperti aku mencintaimu

sebab di balik kesakitan-kesakitan

tumbuh subuh dan embun berkilau bagai intan.

Sajak Kesembilan: Sembahyang Tanpa Asin Sembah, Yasin Mewabah Bagai Air Bah

Aku datang kepadamu, Sayang

membawa sekantung air mata

dan kata yang sulit ditata

jadi puisi. Bayang-bayang

gelita meronta.

Aku sepi, mimpi api.

Aku kerdil, harap kandil.

Aku sahaya, pinta cahaya.

Aduhai! wajahmu yang dihijab seribu tabir

kubuka dengan takbir hingga bibir terkilir.

Aduhai! tubuhmu yang diutuhkan subuh dan pasir

kulabuhkan sentuh yang ngalir.

Lihatlah luka subuh yang tak kunjung sembuh

kambuh rubuhkan tubuh bersimbah

sembahyang tanpa asin sembah

yasin mewabah bagai air bah

mungkin nangisi negeri setengah tiang

dan para bedebah yang tertawa riang

seraya khutbah di masjid raya

serta minta doa kian jaya.

Lampu yang lampau di surau itu

tak mampu memancarkan getar sinar

cuma terdengar suara parau

atau suara muadzin meracau

bau tembakau

bikin kacau

istri dan anak risau

tungku beku tak tanak nasi

perut terisi igau

dan kicau murung burung gagak

lapar yang kaku bagai cagak.

Oh! Bagaimana aku mencintaimu

kalau kilaumu raib dalam gemerlap lampu maghrib

kota-kota ajaib berjibaku dengan aib.

Oh! Ilalang tumbuh di kening

angin lalu lalang goyangkan hening

dedaun beringin pada kemuning

Oh butuh utuh embun bening!

Basah subuh belum kubasuh

sembahyang tanpa asin sembah

yasin mewabah bagai air bah

ah!

Khartoum, Sudan, 2010.

[][][]

TELAH BEREDAR NOVEL ‘KIDUNG CINTA POHON KURMA’ DI TOKO BUKU. BISA PESAN-BELI VIA INBOX SAYA. HARGA CUMA Rp. 60.000. SUDAH TERMASUK ONGKOS KIRIM.

“Tanggal 19 Agustus lalu aku bertemu Joko Pinurbo dan Acep Zamzam Noor. Kami berbincang tentang novel Syaiful Alim, KIDUNG CINTA POHON KURMA. Menurut Jokpin, novel itu ditulis oleh orang yang cerdas. Isinya mengurai tentang pentingnya toleransi, sehingga perlu dibaca tidak hanya oleh orang Islam tapi juga para pemeluk agama lain. Menurut Acep, novel itu sangat bagus untuk mengimbangi kelemahan yang terdapat pada “Ayat-Ayat Cinta”.

( Sitok Srengenge, Penyair )

Iklan

One response to “Jejak Sajak Satu ( Sembilan Sajak )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: