Empat Puisi Rindu

Oleh Syaiful Alim

SAJAK KESATU: Rindu dan Kulkas

Rindu ini, cintaku, kusimpan dalam kulkas

supaya tetap awet dan bernafas.

Sehabis mengiris alis manismu

aku didera derita insomnia

dililit derit jerit memanggil-manggil namamu

dalam gigil yang menggila.

Rindu ini, cintaku, kusimpan dalam kulkas

agar tetap segar dan membekas.

Selepas mengupas kulit hijaumu

aku dihempas ampas-ampas senyummu

yang menancap di pipi dan tubuhku

dan kini tumbuh luka baru yang biru.

Rindu ini, cintaku, kusimpan dalam kulkas

supaya kau tak lepas dari diriku yang ganas.

Seusai meneguk danau mungil di liang telanjangmu

aku dicumbu kerikil-kerikil perjalanan menuju rumahmu.

Jejakmu tak terlacak, bercak darahmu membeku

aku retak ditetak sajak-sajak baku.

Cintaku, kulkas itu tak kuat menampung gelombang  rinduku.

Entah bagaimana caranya aku bisa menumbangkanmu

supaya darahmu menggenang di jantungku.

SAJAK KEDUA: Bangkai Waktu, Bingkai Rindu

Sudah berapa waktu membangkai

terkulai aku dalam lalai.

Sudah lelah menunggu

kelu aku dalam masam lagu.

Bangkai waktu menumpuk di kamar

ranjang kian lapuk, kain sprei memar wangi mawar.

Rindu begitu perih, lirih kudengar suaramu samar

wajahmu tertatih kuraih, melayang kenang bagai camar.

Kekasih, letih kumenanti tibamu

di surau tua ini, burung gereja senandung parau

hinggap di bumbung atap, meratap aku pada lambung harap tuju.

Perkenankan kubingkai rindu

dengan kayu air mata membeku.

SAJAK KETIGA: Menggarami Rindu

Kau tahu rindu bagai semangkuk sup bayam

garam hadir mengalir geram.

Aku tahu puisi bagai setangkup roti

tiada tanda berakhir mati.

Jejak kakimu mulai memuai

gejolak hati mulia memberi.

Sajakku tergelatak di meja

hendak tegak merangkai makna.

Cinta, rindu ini begitu hambar

sebentar lagi hilang debar.

Cinta, puisi ini betapa basi

mata mengeja, wajah pucat pasi.

Biar kugarami rindu

liar aku mengejar sepi.

Biar kugarami rindu

liar aku mengakar api.

SAJAK KEEMPAT:  Ketika Kau Rindu Padaku

Ketika kau rindu padaku

tatap senja saja, supaya tahu

betapa cinta serupa jelaga

menghitamkan atap telaga.

Ketika kau rindu padaku

buka buku, supaya tahu

betapa dunia penuh warna liku

bagai sayap pelangi dan kupu-kupu.

Ketika kau rindu padaku

ambil pisau, supaya tahu

betapa waktu itu tajam

menikammu diam-diam.

Ketika kau rindu padaku

dengar derit jendela, supaya tahu

betapa di luar sana

ada yang menjerit terlunta.

Ketika kau rindu padaku

unduh bunga mawar, supaya tahu

betapa penantian itu debar

duri mengintai bagai nasar.

Ketika kau rindu padaku

tulis sajak, supaya tahu

betapa hidup ini karunia

tak ada yang sia-sia.

Ketika kau rindu padaku

lukis pintu, supaya tahu

betapa tangismu

kelak habis dalam temu.

[]

Khartoum, Sudan, 2010.

Iklan

One response to “Empat Puisi Rindu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: