Surat Origami Untuk Sahabat Terindahku…

Oleh Afrilia Utami

: Rachel Qisthi Amelia

Hai Rachel, sahabat terbaikku. Apa kabar? Hmm…apa perlukah aku bertanya tentang kabarmu, sedang kutahu kabarmu selalu baik di sana, bukan? Ya, kau selalu baik, pastinya. Rachel, masih ingatkah kau denganku, aku sahabat kecilmu. Sahabat yang selalu temani sepimu, lengkapi waktu yang membosankan dan kita mulai belajar saling mencintai kebosanan. Kau tahu Rachel? Sudah hampir 13 tahun semenjak kepergianmu, tapi selalu saja ada bayangmu atau perihal kenangan kita dulu setia menari-nari terpatri dipikiran jiwa, bahkan celoteh senyummu, lambaian suaramu, atau ketika marahmu yang sulit terkendalikan menyulitkanku tuk mengenal siapa sahabat terbaikku ini. Tepat Hari ini, masih ingatkah, Rachel? Hari di mana kita pertama tersesat di sebuah hutan. Saat perkemahan gabungan umum, saat itu. Haha, ya, mengingat dulu selalu saja membawa tawa kecilku. Namun ada hilang yang mengambang hingga menjadikan hambar tawaku, saat ini.

Rachel…

Aku sangat ingin bertemu denganmu, meski lekas hanya sekilas, izinkanlah… sedikitnya tepiskan dulu tentang kangenku ini. Mengapa kerap kau alpa dalam setiap malam-malamku? Bukankah, dulu pernah ada ucap janji. Kita akan selalu bersama, lengkapi kekosongan dalam isi, dan isi dalam kekosongan. Bahkan kueja selalu namamu dalam gumamku selepas sepi yang mencaci, bahkan duka yang terbuka, atau senang yang melayang. Jangan kau tanyakan arti airmata ini. Setiap berkunjung di beranda rumah terindahmu, tempat sekujur jasadmu terkubur, batu nisan yang lengkap menuliskan namamu, tanggal masehi tempat lahirnya kau ke lubang bumi, hingga purba kembali pada liang bumi. Rachel… apakah belum cukup kejam kau menghukumku? Mengurai sepi sendiri, bahkan diamnya mematung di dekat dinginnya tungku yang membakar baranya api unggun. Banyak sekali, sobat. Apa yang sebelum tak pernah terpikirkan sama sekali, kini harus kujalani. Hampir perihal perbandingan dulu dan sekarang cukup besar skala perubahan, tapi kau takkan pernah berubah dalam riwayat hidupku, tetaplah menjadi sahabat terindah yang pernah kumiliki, bahkan memasuki jendela kedua ruang hati, dan diri ini belum berubah. Masih membenci akar-akar bilangan-bilangan, lelah beregoisasi omongan, dan belum mengenal apa itu dendam, mungkin hanya kadang ada dekap amarah yang merajam, namun tetap saja memaku dan kaku. Tak bisa kuangkat sebelah sepatu, meluncurkan kerasnya kepalan tangan, berbicara dengan noktah tinggi, marahku hanya diam, dan mencari ketenangan dalam heningnya sepi. Sambil berulangkali intropeksi diri. Tapi aku bisa melukai diri sendiri.

Sahabat…

Masihkah harus kumenunggu setiap celah waktu yang lupa terbukukan waktu, bahkan terlantar tak dijadikan kamus-kamus penjelasan panjang lebar. Aku tak mungkin menyalahkan seorang majikan yang duduk tenang di belakang Seorang Supir ceroboh itu, hingga harus membuat kita tak bersama dalam satu dimensi. Tapi nyatanya, prasasti tentang kita, belumlah berkarat, takkan lapuk termakan rayaprayap usia. Aku masih mengejanya dalam setiap detak nadi yang kian menghentak. Masih kumengumpulkan senyum-senyum layu yang belum mekar mengharum bayu. “separuh langkahmu, adalah langkahku. Maka di hela nafasmu adalah nafasku” ya, masih jelas akan ucap itu. Saat pengakuan disaksikan oleh separuh purnama, bahkan berjuta bintang, dan hanya dua kejora yang berbicara, kau dan aku. Kita.

Sahabatku Rachel…, jangan tanyakan arti airmata ini…

Hanya saja, seorang yang bernama Afrilia sangatlah merindukan seorang kawan terindahnya.

Merindukan, separuh langkah dan hela nafas jiwanya.

Maaf jika surat ini, terlanjur basah kuyup dengan air asin, berharap tinta-tinta ini tak samar tersalin.

[]

Sebuah Ruang Putih, 18 Agustus 2010

Dari sahabat separuh langkahmu.


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: