Pagi, Siang, Sore, Malamku Menuju

Oleh Dwi Klik Santosa

Sebungah pagi. Nyanyi burung-burung bagai menjilma inspirasi.

“Mata fajar itu rona-rona. Hangatnya, perkasanya menuntunku hendak mencari.”

Segerah siang. Debu-debu memanja-manja mengepuli sepori-pori makhluk.

“Sepanjang-panjangnya aku bertanya dan menggali.”

Sejumput asa diderak bersama ritmenya.

Semburat merah senjakala. Bagaskara lingsir ke peraduan.

Ilalang-ilalang bergoyang, kidung serunai menandai.

“Pulang, pulanglah kami ke pelukan. Panasmu meninggali catatan.”

Pada malam. Sunyi senyap. Makhluk khusyuk memasrahkan jiwa.

“Kurehatkan tubuh dan isiku, semoga kau jagai aku dari prahara.”

Pondokaren

21 Agustus 2010

: 06.25

[]

foto : getty image

sssshhhh ….. ngookkkk … ngiiiiiikkk ….. bebunyian pun aneka. tangis hanya bagi mereka yang hidupnya ramai merasa ditindas sepi. pula bagi mereka yang hidupnya sepi merasa ditindas ramai.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: