Asmara Sang Kelana

Oleh Dwi Klik Santosa

“Di belantara sepi kini sunyiku ditemani. Bunyi jengkerik dan gegesekan ilalang acapkali menggetari gairahku. Cahya bulat purnama itu, aduhai…engkaukah, wajah lugu itu, Dindaku.”

“Nanda Anggraini sudah tiada, pangeranku. Kiranya ia telah berpulang menghadap sang pencipta. Hendaknya jangan terlalu larut ditangisi…”

“Anggrainiku tersayang masih hidup, paman Jarodeh. Lihatlah purnama itu. Bekerjapan matanya lekang melepasku. Senyumnya… Teduhnya… Syahdunya…aduhai, betapa cahya itu meresap, merasuk, menyentuhi batinku…dia itu Anggrainiku, paman. Dialah dindaku tersayang…”

“Duhai, pangeran budiman. Hendaknya jangan seperti si pungguk merindukan bulan…”

“Saya bukan si pungguk, paman. Sayalah Panji Inu Kertapati cucu Airlangga sang penakluk. Tiada perempuan lain manis seelok Anggraini.”

“Ya, Anandalah cucu sang kusuma yang gagah. Tiada lagi paman meragukan itu. Tapi percayakah Ndika, bahwa kata-kata paman ini sebenarnya lebih bermanfaat dan mujarab, dibandingkan dengan apa kata ilalang, atau angin malam…”

“Ya, pamanku yang arif. Cerita apa yang hendak paman sampaikan kepada saya…”

“Dalam suatu tidur yang lelap, Paman diberikan mimpi. Sesuatu yang aneh. Sesuatu yang gaib yang kiranya paman percayai ini sebagai petunjuk…”

“Mimpi apa paman? Kiranya paman bersedia bercerita kepada saya…”

“Ya, anakku yang tampan. Sebuah kata-kata meluncur dari atas langit berbicara dengan paman. Wahai…berjalanlah kalian dengan tujuan. Mantapkan tekad. Perangi angkara si penindas rakyat jelata. Jika telah sirna si bromocorah musuh kehidupan, niscaya sih sang maha pencipta akan menghidupkan kembali Anggraini.”

+ + +

Dari Lemah Abang mengarungi Laut Bali, melabuh di Madura, bergerak ke Banyuwangi, Blitar, Pasuruan dan Madiun, ditaklukkan raja-raja songar dan perompak-perompak penjarah. Ditaklukkan para jahat musuh Kerajaan Daha dan Jenggala. Dua kerajaan sekandung warisan sang Airlangga. Si pendekar Kelana yang direstui Dewa Asmara, begitu julukan itu disematkan. Dibawah nasehat Jarodeh, si pengasuh bijak. Betapa hanya seratus pengikut saja, krida Sang Kelana dikenali trengginas berperang bak bayang-bayang siluman.

“Nah, anakku. Perang telah kita selesaikan dengan gemilang. Takkah kau lihat sekarang. Dewi Sekartaji, putri Yang Mulia Lembu Amisena Raja Daha, cantik melebihi cahya rembulan. Bukankah dia itu sepadan dengan kegagahanAndika menggantikan Anggraini…”

Mata yang jalang bak elang itu berkaca-kaca. Berlinangan. Bertetesan air bening itu meleleh membasahi kedua pipinya.

“Tidak sangka, jika paman Jarodeh yang arif, tega membohongi saya…”

“Adakah saya berbohong kepada Ananda…”

“Tidak ada perempuan lain hidup di hati Inu Kertapati. Paman tahu itu…Paman pasti mengerti perasaan saya. Dan mimpi paman itu…kebenaran apa yang ingin saya pahami?”

Angin malam berhembus khidmat. Sekhusyuk Jarodeh memanjatkan doa, purnama terang pun agung memancar-mancar. Cahyanya yang keemasan bagai menyorotkan berkah ilahi.

“Anakku, Inu Kertapati. Coba Ndika pandangi dengan hati yang hampa. Siapa sejatinya Dewi Sekartaji, sepupu kemenakan Ndika yang menawan itu.”

Kata-kata Jarodeh yang lantun dihantar angin. Merasuki telinga dan menembusi relung kalbu sang pangeran kelana.

“Aha, Anggraini! Benarkah dikau Anggrainiku. Dikaukah dindaku sayangku…”

Dipeluk ditangisi Dewi Sekartaji, si perempuan anggun yang senyumnya elok bak purnama itu. Dialah sekar kedaton Kerajaan Daha anak Raja agung Lembu Amisena, putri yang diperjodohkan dengannya semenjak ia lahir bahkan.Tapi apa lacur, perjodohan adalah persoalan hati. Kepada Anggraini, putri Arya Kudanawarsa, patih sang ayahanda hatinya telah dijatuhkan. Disebabkan ketetapan hatinya yang kukuh, menyebabkan Anggraini si perempuan terkasih harus tewas di ujung keris jagal Jenggala. Itulah politik para raja. Ambisi orang tua yang berkata atas nama kehormatan wangsa.

“Dengarkan kata-kata paman, anakku. Sesungguhnya yang telah mati tidak akan pernah bisa hidup kembali. Tapi kiranya Tuhan maha berkehendak. Roh Nanda Anggraini, kekasih Ndika tercinta itu terbang ke pangkuan. Menetes-netes dalam doanya, agar kiranya Tuhan Yang Maha Bercahaya berkenan menjilmakan cintanya yang tulus menyatu ke dalam cahya purnama. Oleh angin yang rajin mendengar tangis nestapa Ndika, menghantarkan cinta kasih yang suci itu menyatu dalam jiwa raga, lahir dan batin Dewi Sekartaji…”

Ditatapnya mesra wajahsi pangeran lugu.

“Anggraini dan Sekartaji bagaikan rembulan kembar, menyatu melebur keduanya dibawah naungan agung cahya purnama. Jangan ragu lagi, anakku. Candra Kirana, dialah itu kekasih Andika yang sejati.”

Pondokaren

12 september 2009 : 11.38

[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: