Tentang Pernikahan Itu

Tulisan sebelumnya : Welcome Hometown

Oleh Very Barus

Tadi malam gue menghadiri acara resepsi pernikahan orang yang pernah dekat di hati gue. Alias mantan pacar gue yang sempat menjalin hubungan…putus-nyambung-putus nyambung (hingga akhirnya putus beneran dan dia berlabuh ke pria lain yang berlanjut ke jenjang pernikahan).

Sebenarnya jujur gue kaget (banget) kalo dia akan menikah. Kekagetan itu muncul saat dia menelpon gue minta doa restu dan minta gue harus hadir ke resepsi pernikahannya. Resepsi yang digelar di sebuah gedung di kota Medan. Kebetulan juga gue sedang berada di Medan (bener-bener semua nggak di rencanakan tapi serasa ditunjukkan jalan untuk bertemu kembali dengannya…meski dalam situasi berbeda).

Flashback dikit

Tahun lalu, gue dengan “C” sebenarnya masih menjalin hubungan. Bahkan bisa dibilang serius. Karena kami sempat berbicara soal ‘pernikahan’. Intinya “C” bukan orang baru di hati gue. Semasa masih kuliah, dia sempat mengisi hatiku selama 4 tahun lamanya. Meski dibumbui putus-nyambung-putus-nyambung (kayak lagu BBB aja ya…). Sampai akhirnya kami benar-benar putus karena lost contact. Gue nggak tau kabar keberadaannya dan sebaliknya, dia nggak tau keberadaan gue.

Waktu berjalan begitu cepat. Gue mengarungi hidup gue di belantara ibukota dengan lika-liku-laki laki yang laku-laku (bukan nggak laku ya…hiks!). Intinya hidup gue bener-bener penuh warna gitu deh. Mulai dari menikah, bercerai dan mau menikah lagi, mau bercerai lagi…(kalo nikah cerai-nikah cerai itu lagu siapa ya…??).

Sampai akhirnya, 2008 lalu gue akhirnya bertemu kembali dengan “C”. Komunikasi terjalin lagi. Semakin dekat dan dekat. Intinya, belajar dari kenakalan masa kuliah dulu, gue komitmen padanya. Kalo mau serius gue mau kok menikahi dia. Asal ada restu dari ortunya. Soalnya masa kuliah dulu, gue pacaran dengan “C” sangat2 ditentang bokapnya. Bahkan sempat ribut dengan bokapnya karena gue dianggap cowok “BADUNG” yang suka merusak anak orang…mainannnnnn kali dirusak!

Dan komitmen itu semakin kuat saat 2009 kami berencana akan menikah (kelak). Pokoknya sudah mengarah ke perbincangan lebih serius deh. Soalnya kalo soal perasaan hati, kami berdua nggak perlu diragukan lagi. Klop!

Tapi, saat hubungan semakin serius, justru kami mengalami cobaan teramat berat. Teror menghujam hubungan kami bak berperang di era penjajahan gitu deh. Tiap hari mendapat serangan teror. Parahnya lagi, bokapnya “C” mengalami sakit keras yang harus bolak-balik berobat ke PENANG dan “C” harus menemani sang bokap berobat…

Masa-masa itulah hubungan kami semakin dipersulit. “C” dipaksa menikah dengan pilihan orangtuanya. “C” curhat sambil menangis tersedu-sedu. Pilihan teramat sulit. Saat bokapnya berharap agar dia cepat-cepat menikah karena kondisi bokapnya sakit parah. Tapi hati kecil “C” sangat menentang pilihan ortunya. Hanya saja, sebagai anak yang sangat SAYANG pada ortu serta desakan keluarga agar dia mengikuti permintaan bokapnya, membuat hubungan gue dengan “C” semakin kayak benang kusut. Nggak jelas mana ujungnya. Konflik-konflik kecil pun terus muncul hingga akhirnya semakin besar dan membesar!

Sampai akhirnya hubungan yang sudah putus nyambung berkali-kali itu bener-bener putus! Kami pun kehilangan komunikasi. Berkali-kali gue menghubungi nomer hapenya tidak ada yang aktif. Dia ganti nomer

Setelah beberapa bulan mengalami kekosongan dan memikirkan keberadaannya. Akhirnya gue menemukan pacar baru lagi. Dan gue pun sudah tidak memikirkan keberadaaannya. Gue yakin kalo kami memang ditakdirkan UNTUK TIDAK BERSAMA…

Time goes so fast

Awal Agustus gue sudah membuat planning pergi ke Medan untuk berbagai urusan. Mulai dari urusan keluarga, kerjaan dan urusan yang selama ini menggantung. Intinya gue berangkat ke Medan 3 Agustus lalu sampai gue menulis Note ini, masih juga di Medan.

Sebelum berangkat tiba-tiba gue menerima telepon dari unknown number. Paling males sebenarnya mengangkat telepon dari unknown. Tapi dengan bijaksananya gue meng-halo-kan telepon tersebut. Dan ternyata suara di seberang telepon adalah suara yang sangat familiar di telinga gue. Kaget?

Jelas! Sempat komplain padanya, kenapa ganti nomer nggak bilang-bilang. Tapi setelah penjelasan panjang lebar, akhirnya gue mengerti kenapa…kenapa…dan kenapanya…

Ternyata telepon tersebut adalah UNDANGAN secara langsung darinya untuk menyuruh gue datang ke acara pernikahannya. Meski sempat speechless, tapi gue tetap menyambut (SOK) bahagia…

“Oiya? Serius nih? Mau menikah sama siapa…?”

Dia pun menjelaskan soal rencana pernikahan tersebut panjang lebar…tapi membuat gue lemes. Dalam hati mikir, kok dia menikah ya…? Tapi hati besarku berucap, ya…bukan jodoh! Mau dipaksa sampe bangkotan juga nggak akan bisa nyatu kalo bukan jodoh!

Perbincangan panjang di telepon pun berujung dengan satu permintaan. ”Kamu harus datang ke resepsi pernikahanku…dan aku minta hadiah dari kamu FARFUM yang sering kamu kasih sama aku waktu itu…”

Hmmm…permintaan yang wajib gue penuhi. Dan gue sempat nanya, kenapa minta parfum itu? Sambil tertawa lirih dia berkata, ”supaya aku terus ingat sama kamu…” (hmmmm…i know what do u feel…).

DAN HARI BAHAGIA ITU TIBA…

Gue datang ala koboy! Gue nggak bawa sepatu resmi dan juga celana formil. Alhasil, gue datang pake kemeja putih berbalut jeans dan converse. Busyetnggak sopan banget sih sebenarnya. Tapi dia juga berpesan, nggak perlu formil-formil amat, yang penting datangnya tulus dan iklas…maka meluncurlah gue dengan koboy leboy…!!! (gue ditemani Dina, sahabat gue dan juga sahabat dekat “C”).

Dina menemani gue selama resepsi.

Hmmgue bener-bener salah tingkah saat gue melihat dia melangkah ke pelaminan bersama pria yang seharusnya posisi tersebut adalah gue. Tapi kenyataannya yang digandengnya adalah pria lain. Saat tatapan mata kami bertubrukan, gue dapat merasakan apa yang sekarang dia rasakan. Kalau dibilang bahagia, gue yakin itu bukan kebahagiaan murni…(tapi gue berdoa semoga dia bahagia…).

TAPI YANG MEMBUAT GUE BINGUNG… Saat resepsi berlangsung, gue tidak melihat kedua orangtua “C”. Yang ada kakak tertuanya dan adik bungsunya. Sempat curiga ada apa gerangan…?? Hingga akhirnya “C” menyamperin gue. Menyalami tanganku dengan erat (erat sekali). Gue tatap matanya yang hampir berkaca-kaca.

Bokap nyokap mana…?” tanya gue.
“Bapak sedang sakit keras. Baru menjalani cuci darah.” Ucap “C” dengan terbata-bata.

Sumpah gue kagetttttt banget. Lemes dan sedih.

“Yang hadir di sini cuma bang Fer dan Duma.” Ucapnya lagi sambil terus memegang tanganku. Sementara dari kejauhan gue melihat suaminya menatap dengan penuh kecurigaan. Whatever lah…yang jelas gue nggak mengganggu hubungan mereka.

Akhirnya, gue mendapat keterangan lengkap dari adiknya, kalau sekarang bapaknya sangat kritis. Tidak bisa meranjak dari tempat tidur untuk menyaksikan hari bahagia “C”. Setiap beberapa hari harus cuci darah permanen. Sehingga mereka harus saling bergantian menjaga bapak mereka…

Hmmm…

Akhirnya gue bisa memahami kenapa “C” menikah dan kenapa pernikahan tersebut terus berlangsung disaat kondisi bokapnya sedang kritis. Demi mengabdi kepada orangtua yang sangat disayanginya, maka pernikahan harus terus berlangsung…urusan hati, hanya dia dan Tuhan-lah yang tau

Selamat menempuh hidup baru “C”… Aku mendoakan kebahagian abadi untukmu dan pasangan hidupmu… Aku juga mendoakan agar Tuhan memberikan muzijat untuk kesembuhan bapak…

Di ujung acara, gue memberikan kado permintaannya. Lagi-lagi matanya berkaca-kaca…dan gue meninggalkan pelaminan dengan sejuta perasaan…sedih, bahagia, haru, hampa dan tetap dengan satu doa… ”bahagia buat “C” dan pasangannya…”

[]

Kisah selanjutnya di : Ternyata Togel Itu Masih Ada Toh..?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: