Mabuk Seafood dan Mabuk Anggur

Oleh Mappajarungi Manan

KETIKA di Hout Bay, kami menikmati alam yang indah. Di tempat itu, merupakan kawasan perumahan elit. Banyak orang kaya Eropa dan Amerika serta dari South Africa sendiri membeli perumahan di kawasan Hout Bay. Ah, teringat sebuah lagu yang ada baitnya “cintaku sedalam lautan atlantik”…

Angin semilir menerpa menambah perasaan lapar. Kami berada di Hout Bay pusat restaurant seafood. Masakan seafood gaya Inggris dan Portugis. Bisa makan di tempat dan juga dibawa pulang.
Salah satu restaurant yang disesaki pengunjung adalah Restaurant Fish on the Rock (Ikan di atas batu). Bila hari Minggu, apalagi musim liburan, antrinya bisa dua jam. Menu yang tersedia yakni Cumi-Cumi, Udang, Ikan dan Kentang Goreng. “Wah lezat juga, sama Mc Donald ya?” Kataku kepada istriku. Harganya tidak terlalu menguras kantong, hanya Rand 80 atau sekitar Rp110.000 lebih. Kamipun mabuk seafood.
Usai menikmati makanan laut, saya diajak untuk menyaksikan gerombolan anjing laut (Seal). Untuk menyaksikan harus menggunakan boat yang kapasitas penumpang 140, jarak tempuh dari pelabuhan pribadi di Hout Bay milik orang-orang kaya Cape Town, hanya membayar Rand 35, pelayaran menuju Seal Island membutuhkan waktu 30 menit.
Boat yang kami tumpangi mengitari Seal Island sekitar 30 menit. Luas pulau berbatu yang terletak di laut Atlantik itu sekitar 70 acre yang dihuni oleh ribuan anjing laut. Saya sempat menutup hidung, karena bau kotoran dan pipisnya minta ampun. Anjing laut itu makanan favoritnya adalah memangsa penguin.

Selain keindahan laut yang bersih, alam pegunungan yang indah juga menjanjikan untuk dikunjungi. Hamparan perkebunan anggur bertebaran di kaki-kaki bukit, demikian pula dengan strawberry dan Cherry. Selain hasil tambang seperti emas dan berlian, andalan ekspor South Africa adalah anggur (wine) pusat perkebunan anggur Cape Town-lah yang terbaik dan terbanyak.
Stellenbosch, merupakan jantung dari industri anggur South Africa. Setelah ziarah ke Makam Syeikh Yusuf, hanya sekitar 15 menit berjalan sampailah ke tempat itu. Tempat itu, merupakan perpaduam alam yang indah serta budaya South Africa. Di tempat itu banyak hal yang menarik dan unik.
Sejarah masa lalu, tampak dari berbagai arsitektur bergaya Belanda, Georgia dan Victoria modern. Sepanjang jalan berdiri pohon oak (pohon empat musim.) Suasana indah lantaran pohon itu menghadap tembok-tembok putih dari geduang tua. Pohon ini, pada musim panas, menyerap hawa panas serta menaungi jalanan. Distrik Stellenbosch terletak di tepian sungai Eerste di daerah lembah Jonkershoek. Inilah lahan anggur terbesar di South Africa.
Ketika meninggalkan kota Harare menuju Cape Town, teman sempat berpesan. “Jangan lupa mencicipi anggur dari tempatnya tumbuh, sangat nikmat, sayang kalau dilewati,” katanya berpesan sambil tersenyum. Maklum teman itu sangat suka dengan kualitas anggur dari Stellenbosch. Maka memang target saya juga mengunjungi kebun anggur itu. Di distrik itu, lebih dari 300 perusahaan anggur dari berbagai macam merk. Dari jumlah itu, sekitar 100 perkebunan bisa dikunjungi atau terbuka untuk turis. Menikmati segelas anggur segar di alam terbuka yang penuh dengan hamparan kebun anggur merupakan kenikmatan sendiri. Winelands, itulah nama lain Stellenbosch.
Kendatipun Stellenbosch terlihat tidak begitu sibuk, karena dipenuhi kebun anggur, strawberry, dan cherry, di distrik itu terdapat sebuah universitas, yakni Stellenbosch University, didirikan tahun 1866, yang merupakan universitas tertua di South Africa. Semasa pemerintahan apartheid, mereka hanya menerima mahasiswa kulit putih, tapi kini turunan Indonesia dan kulit hitam berbaur belajar di kampus itu yang kini jumlah mahasiswanya 18.000 orang.

Di daerah itu pula terdapat kegiatan outdoor seperti sepeda gunung, juga terdapat lapangan golf. “Edan, daerah Stellenboshc aja terdapat enam lapangan golf, gimana daerah lainya,” gumanku. Itu memang benar, karena olah raga golf di Southern Africa cukup merakyat, tak heran kalau mereka melahirkan atlet-atlet golf tingkat dunia seperti Gary Player, Ernie Els, Rori Sabbatini, Imelman. Belum lagi para pemain dari Zimbabwe.
Sebagai amatir yang telah meyandang handicap 12, saya tertantang juga mencoba lapangan golf di Stellenbosch. Menariknya, bunker yang ada cukup dalam pasirnya, sehingga mengunakan club sand kadang bola sulit terangkat ke green. Tapi kendatipun demikian bagi yang punya gelar handicap 12 cukup puas kalau berhasil menyelesaikan 18 hole memperoleh 7 hole par, walaupun selebihnya double boogie.
Bagi pemusik, jangan kecewa, di Stellenbosch, ada sekolah musik yang tertua. Juga melakukan festival musik klasik setiap tahun. Para pemusik klasik dari berbagai dataran dunia, setahun sekali kumpul di Stellenbocsh. Sambil bermusik ria, diadakan festival anggur di bulan oktober. Pada bulan itulah pameran anggur serta strawberry diadakan. Para pengunjung bebas menikmati anggur. Bayangkan kalau mencicipi jenis anggur yang ratusan jenisnya itu. Bisa mabuk anggur!!

[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: