Raja Tega

Oleh Mappajarungi Manan

Tak pernah terpikirkan sejak semula. Akhirnya aku kembali menikmati suasana “kota Udang”, Cirebon.

Pada tanggal 21 sampai 22 July 2008, aku mengunjungi kembali kota ini, tetapi ini kali, kedatanganku bukan untuk sekadar tamasya, namun aku datang atas undangan pihak panitia SCBDP (Suistainable Capacity Building for Decentralization Project), semacam lembaga pemberi pelatihan teknis Hubungan Masyarakat. Sangat menarik dan menantang bagiku.

Tapi, walau begitu, acara SCBDP itu bukan semacam pelatihan. Lebih tepat dikatakan…tukar pendapat. Karena, peserta yang mengikuti pertemuan itu adalah mereka yang memiliki kapasitas tertinggi di kantornya, yakni pengambil kebijakan—alias Decision Maker-lah hehehehe. Ya, para peserta itu adalah para Kepala Dinas Instansi Pemerintah se-kota Cirebon.

Sejak era reformasi, penghapusan entitas Departemen Penerangan berimbas pada hilangnya fungsi kehumasan di sejumlah Pemerintah Daerah (Pemda). Ini mengakibatkan para Kepala Dinas Instansi kerepotan dengan arus masuknya informasi dari berbagai kalangan. Di Pemda Kota Cirebon, misalnya, praktek kehumasan ditangani langsung oleh Kepala Bagian (Kabag) Umum. Sementara, dinas-dinas kota itu berhadapan dengan benturan-benturan birokratif yang memang jamak di kalangan lembaga pemerintahan.

Ketiadaan fungsi dan lembaga kehumasan di lingkup Pemda pada instansi setingkat dinas, secara langsung membawa masalah tersendiri. Para kepala dinas kerap direpotkan dengan ulah “wartawan” yang ingin langsung berhubungan dengan mereka. Para pejabat itu, merasa kesulitan menolak kehadiran dan keinginan “wartawan” untuk bertemu. Padahal, di keseharian mereka memimpin lembaga masing-masing, mereka sudah cukup disibukkan dengan urusan internal lembaga mereka sendiri.

Nah, disinilah sebenarnya, keberadaan Humas, dipandang sebagai hal yang penting. Sebab organ humas pada sebuah lembaga di lingkup pemda bekerja berdasar azas komunikasi dua arah; antara Pemda dan masyarakat, sehingga terbina hubungan saling pengertian. Jadi, sudah barang tentu, Humas juga penting sebagai mitra media massa.

Sebagai mitra media, Humas memiliki kapasitas mengatur, bukan mengarahkan media. Fungsi mengatur adalah memberi pemahaman kepada wartawan bila ingin menggali informasi internal di lingkup kerja mereka. Mengatur jadwal wawancara dengan pejabat yang akan dihubungi, misalnya. Serta memberi informasi yang jelas terinci dan tak ada hal yang ditutupi, adalah juga fungsi lainnya.

Akan tetapi, Humas yang diharapkan dan memiliki structural, tidak terdapat di Pemda Kota Cirebon. Akibatnya, pejabat-pejabat atas di lingkup Pemda itu, merasa direpotkan oleh ulah pencari berita (wartawan). Kalau wartawannya professional, pejabat itu tidak merasa kerepotan. Tetapi, mereka itu berhadapan dengan “wartawan-wartawan” yang membuat mereka benar-benar resah dan gelisah. Belum lagi turut campurnya polisi dan kejaksaan.

Kerepotan yang dimaksudkan adalah, ada kala “wartawan” tiba-tiba muncul sambil membawa berita—yang berkaitan dengan aktifitas instansi atau kepala dinas bersangkutan—yang telah mereka buat (berita jadi), tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Parahnya, para “wartawan” ini sama tidak jelasnya dengan media yang mereka bawa-bawa. Entah itu koran atau tabloid, atau apakah media mereka itu hanya cetak 20 hingga 50 eksamplar saja. Ujung-ujungnya mereka meminta duit. Lebih parahnya lagi; meminta proyek.

Jikalau pejabat itu memberi duit, esoknya atau beberapa hari kemudian, muncul lagi serombongan wartawan yang datang. Kadang bak copet, saat pejabat mengeluarkan dompet, mereka malah merampas dompet si pejabat lalu uangnya diambil sendiri. “Ini, saya laporkan ke polisi,” ujar pejabat itu. Wah…sungguh memprihatinkan.

Tidak hanya itu. Entah dari mana asal usulnya, ketika hari raya Idul Fitri, sekitar puluhan wartawan berkumpul di rumah para pejabat Pemda. Mereka antri minta amplop. Anehnya bila isinya hanya Rp 30.000, amplopnya seketika mereka tolak. Ulah demikian ini adalah tingkah laku wartawan yang tidak jelas. Mereka mengaku-aku sebagai wartawan.

Tingkah laku pewarta macam itu akan menjelaskan mutu perusahaan penerbitan media di daerah. Kerap kali ada media yang tidak mampu menggaji wartawannya, hingga ulah culas wartawan di lapangan sulit dikendalikan.

Tampaknya, para pejabat Pemda Kota Cirebon, sudah tidak berdaya lagi. Banyak faktor yang melatarbelakangi kondisi itu; entah…apakah para pejabat itu “mengantongi” daftar kesalahan yang akan berbuntut apabila terekspos, atau juga khawatir menjadi bulan-bulanan oknum aparat kejaksaan dan oknum polisi. Lalu, sampai kapan kondisi seperti itu akan terjadi? Jika dibiarkan, tentunya akan makin berlarut-larut, bukan?

Karenanya, ketika sesi tukar pendapat berlangsung saat itu, sebagai fasilitator, saya menyarankan untuk mengidentifikasi media dan identitas pelaku yang mengaku sebagai wartawan. Kalau-kalau, ternyata ulah mereka itu sekadar motif, menjadikan pejabat sebagai “mesin ATM” alias hanya sapi perahan saja. Saya sarankan agar mereka—para pejabat itu—dengan tegas menolak, dengan tidak memberi uang atau menolak memberi sesuatu dalam bentuk apapun, tak terkecuali dalam bentuk proyek.

Praktek-praktek wartawan yang tidak professional seperti itu, tentu saja tidak boleh dibiarkan. Karena, bila hal semacam itu berlarut-larut, sampai pejabat tersebut pensiun pun, mereka akan tetap terbebani dengan ulah oknum wartawan pemeras. Seorang wartawan yang bekerja professional dan dari media yang akuntabilitasnya teruji, sudah barang tentu tidak berperilaku seperti itu. Wartawan hanya bekerja demi informasi yang bermanfaat dan kredibel, tak mengharapkan pemberian apapun dari pejabat manapun.

Saya menyarankan pada para pejabat itu, jika bisa sesekali-lah meniru tabiat “Raja Tega”. Jika para “wartawan” itu memaksa meminta sesuatu pada mereka, maka mereka harus berani bertindak; mengusir mereka. Apapun itu. Keberanian moral sebagai pejabat kadang-kadang memang diperlukan.

Nah, siapkah para pejabat itu menjadi Raja Tega…?

[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: