Voorijder

Oleh Mappajarungi Manan

Kata itu, diserap dari bahasa Belanda berarti kendaraan kawal. Kendaraan itu berada di depan yang membunyikan sirine sangat memekakkan telinga. Di Indonesia hampir semua pejabat penting bangga dengan perjalanannya bila berada di belakang kendaraan kawal. Dari level bupati hingga presiden. Entah. Bahkan, pengantin-pun kini mendapat kawalan.

Tidak hanya pejabat. Pengusaha yang berduit pula kadang menggunakan kendaraan kawal. Entah dari polisi yang disewa. Namun belakangan ini, pihak bersangkutan membantah kalau menyewakan kendaraan kawal, atau pribadi yang juga memiliki sirine. Intinya, mendapat kawalan dari kendaraan itu, mata pengguna jalan akan menoleh bila mendengar suara raungan itu.

Puncaknya, surat pembaca di harian ibukota menurunkan keluhan tulisan surat pembaca tentang ulah arogan pasukan pengawal presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Komentarpun bermunculan. Padahal, keluhan soal ulah kendaraan itu yang menyebabkan kemacetan dan keluhan warga di Cibubur dan sekitarnya, mungkin sejak awal menjabat presiden telah merisaukan. Namun, maklum penduduk sekitar itu masih toleran. Tidak hanya itu, mungkin juga bangga bertetangga dengan penguasa.

Di belahan dunia ini, tidak semua presiden mendapat kendaraan kawal. Tengok saja Presiden Timor Lesta, Rose Ramos Horta. Ia dengan bebas berjalan ke mana saja tanpa ribet dengan bunyi sirine. Bukan hanya Horta, Presiden Filipina Benigno Aquino III memberi contoh untuk berlaku seperti rakyat biasa. Dia ke mana-mana tanpa pengawalan voorrijder dengan sirene meraung-raung. Presiden lajang itu rela bermacet ria bersama rakyatnya dan berhenti di setiap lampu merah.

Presiden Soekarno, juga tak senang dengan adanya kawalan itu. Ia lebih senang berkendaraan bila tak ada bunyi sirine yang menjengkelkan itu. Soekarno lebih nyaman dan aman berada di kendaraan bila kemana-mana tanpa kawalan. Soekarno akan merasa lebih dekat dengan rakyatnya serta ia merasa dicintai oleh rakyat. Karena seorang pemimpin tidak menjaga jarak dengan rakyatnya. Tengok juga Presiden Cuba. Dulu, Fidel Castro, kendatipun sasaran tembak Amerika, namun ia tak suka dengan pengawalan.

Di Republik Zimbabwe, salah satu negara di Afrika bagian selatan, pengawalan di jalan raya begitu ketat. Jangankan orang di jalan, burungpun mungkin menundukkan kepala bila berpasangan atau bertemu dalam perjalanan Presiden Robert Gabriel Mugabe. Kendaraan yang digunakan ada dua, satu Mercedez Benz S clas keluaran mutakhir serta kendaraan Limousine. Entah yang mana di gunakan. Di belakang kendaraan sekompi penembak jitu (sniper)

Beberapa menit sebelum Mugabe lewat, semua kendaraan harus menepi kalau tak mau berurusan atau ditembak bannya oleh pasukan kendaraan bermotor yang telah “menyapu” jalanan beberapa kilometer di depan sebelum Mugabe lewat. Ngeri. Itu sangat kontras dengan wakilnya dan para menteri-menteri lainnya. Josep Mzika, misalnya, wakil Mugabe, kemana-mana tanpa pengawalan dan kendaraan pengawal. Rakyat Zimbabwe percaya, bahwa semua kesalahan tertumpu pada presiden. Karena itu, presiden harus terjaga seketat mungkin. Nyamukpun tak boleh mendekat. Lah wong, nyamuk itu mengigit. Apalagi tikus, wah tikus apa dulu?…

Pengawalan super ketat memang perlu. Tapi semakin dictator seorang pemimpin, maka akan semakin ketat pula pengawalan di jalan. Rakyat yang berada di jalan, akan mendapatkan hardikan dan bentakan bila tidak memenuhi keinginan protocol kendaraan pengawal itu. Entahlah mereka yang dekat dengan kediaman penguasa akan merasa tersiksa dengan aturan ketat. Atau sebaliknya akan bangga karena lingkungannya terkenal?.. entahlah.

Peminpin yang dekat dengan rakyat, tidak membutuhkan pengawalan. Karena rakyat akan melindungi pemimpinnya. Tidak sebaliknya, pemimpin malah menyusahkan rakyatnya di jalan. Itu hanya di jalan. Mungkin lebih parah pula disemua sector kehidupan apalagi dengan naiknya tarif dasar listrik, harga kebutuhan sembako yang meroket. Mungkin itu lebih menyiksa ketimbang hanya beberapa menit di jalan raya akibat ulah Voorijder itu. []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: