Fragmen: Apa Yang Anda Pikirkan?

Oleh Adhy Rical

Kau bisa bayangkan sebuah batu terbelah, sepeluk orang dewasa. Di tengahnya ada sebuah mutiara kuning seperti emas. Mereka menyebutnya Batu Latengu. Legenda suku Moronene. Aku sendiri melihat batu itu dari tiga sudut yang berbeda, tetap saja mataku menafsirnya seperti kelamin. Entah, mereka tak mau mengakui itu, bisa kualat katanya.

Bicara kualat tentu saja menarik. Ini bukan soal percaya atau tidak tapi muatan filosofis kadang ada pada kata yang ‘kampung itu’.

Begini, sekali waktu pada malam Jumat, ibuku pernah menyimpan dupa di depan pintu. “Biar setan tak masuk”, katanya. Kini, 220 km dari kota, pada dinding gua lumutan, aku ingin menyimpan dupa, sekadar mengimbangi makian kecil pada nyamuk, kelelawar, dan wajahmu yang mulai menghantui nalarku.

Aku harus belajar mencintai kebosanan meskipun selalu menang melawannya, diam-diam cemburu mendera. Atau kau yang cemburu karena mimpimu hanya perempuan kekar pemecah batu? Bukankah aku lebih memilih perempuan batu merasuk dalam gambarku daripada kisah Pongasi Tinano—minuman khas suku Tolaki—usianya bisa mencapai 20 tahun di dalam tanah. Disuguhkan pada keluarga lelaki yang hendak melamar. Tanda cinta bagi perempuan yang sejak lahir dijodohkan. Ada tiga kelompok yang berhak meminumnya: tetua adat, keluarga lelaki, dan tamu kehormatan. Rasanya seperti apa ya?

Maaf, aku tidak sedang membicarakan hal-hal yang besar tentang diriku. Hanya batu-batu pecah di wajahnya. Renta dan belia mengepul menjadi debu seperti kau datang membasuh dahiku, ibu.

Kau sebenarnya tak bahagia jika bercerita tentang dirimu. Kau pun dengki dan iri jika menceritakan orang lain. Sungguh bodoh jika kau tak menceritakan apa pun.

Baiklah. Aku memilih yang terakhir saja: carilah kutu di kepala lalu belajarlah menghitung jari sendiri.

Bagaimana mungkin, tak ada yang bisa mengeja namaMu di kampung ini. Padahal aku ingin mengaji di matamu agar kelak, aku yang kedua kali kau lihat setelah kau dipanggil olehNya. Bukankah hari lalu aku menikmati demam dengan gumam?

Hmm, mulai timbul pergolakan sepele dan sedikit romantisme. Membayangkan roti pada ondo—ubi hutan—Senyumlah tanpa simsalabim.

Begitukah? Ya. Sebutir padi meletup di wajahnya. Terbayang sebutir peluru mengulum bibir lelakinya. Kalimat terakhir dari kang Eko, “imaji ganjil yang mengusik”. Tapi tak apa, sambil menisik rindu pada ilalang, kuserahkan padamu, ibu, yang tak pernah puas sujud padaNya, anakmu mengandung bambu (sebuah sms masuk):

R: “Jaga diri, kau akan melihatku menangis sepanjang malam.”
A: “Tak apa. Hanya 3 cm belok kiri lambung bilah itu menusuk perutku.”

Kau tahu yang membuatku menang berlawan dengannya? Semangatnya menyala tapi tidak membara. Tapi kau membalasnya dengan: “Dhy, kau sedang jatuh cinta?”

Ya. Aku belajar mencintai ondo dan nama-nama aneh: Tinangkiu, Kotiwu, Palembang. Tetua itu begitu fasih memanggil tiga ekor kerbau yang meracik matahari di kakinya.

Bukankah kau bilang hanya tujuh nisan terbelah ia pernah singgah. Tapi tak ada tanda di sini tempat yang ramah. Hanya ada hujan di jejari. Ada bau tubuhmu di sesela reranting. Bolehkah memelukmu meskipun kau tidak ada?

Aku hanya ingin melihatmu pulas agar dapat menghitung denyut jantungmu. Meskipun aku tahu bagaimana membuatmu terjaga agar jantungmu lebih berdenyut di jantungku.

Hanya malam gigil memanggil dan dinding gua berbasahan. Kaukah yang bertenang itu, penyetia? Mulai merisik batu lumutan tapi kau tidak ada: bau bacin dan amis mungkin kelakar saja. Memelukmu pada batu: sanggama yang tak sudah.

Hujan turun siang di kebun jagung. Dua ekor nuri berbasahan. Yang jantan memagut kuku kaki betinanya. Yang betina menjumput sisa makanan pejantannya. Aku hanya berdiam, berharap imajimu sampai malam ini.

Hmm. Bolehkah menghujan di matamu agar tiada lagi tanya mengapa berbasahan sesiang ini? Kau tahu, aku seperti kunang-kunang liang batu bertenang. Hendak tinggalkan wangi pandan karena kisah tak selesai di atas sampan. Apakah kau sepi dalam ramaimu?

Bu, kirimkan doa, khilafku datang, lupaku tertawan pada perempuan penyetia itu.

Sudahlah! Jika mencintai seseorang bukan berarti kau harus mengetahui semua tentangnya tapi bagaimana memahami semua yang tak boleh kau ketahui tentangnya.

Seorang kawan bertanya: “Apa enaknya keliling kampung hanya mengumpulkan mantra tetua. Belum tentu pula berhasil kau rapalkan. Kalau pun mantra itu telah kau simpan dalam pita, lalu buat apa?” Aku hanya ingin mencuci pakaian dalamku karena semalam tidurku pulas sekali: mimpi basah.

***

Sesorean ini, bau tubuhmu tercium lagi pada reranting, jarimu menirus seperti pelukan belum selesai. Sudah ya! Tanggalkan dulu doa-doamu. Aku hanya ingin mendengar suaramu, ibu. []

Konawe, 6 Desember 2009.

Baca kajian literatur untuk cerpen ini di :

Literair : Batu Lateng’U Oleh Ilham Q. Moehiddin


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: