Daily Archives: Mei 2, 2010

Pendidikan dan Kuasa Modal

Oleh Hary El Tampanovic

Revolusi dagang akan runtuh bila kita tidak membeli apa yang mereka jual: ide-ide mereka, versi sejarah mereka, senjata-senjata mereka, dan gagasan mereka. Ingatlah: kita memiliki banyak, mereka sedikit. Mereka membutuhkan lebih banyak dari kita ketimbang yang kita butuhkan dari mereka. (Arundhati Roy, Pengarang Novel The God of Small Thing)

***
Anda pernah mendengar salah satu negara kecil di Kepulauan Karibia yang terkenal dengan cerutu nomor wahid di dunia? Negara ini juga telah membesarkan pejuang-pejuang revolusioner sekaliber Che Guevara dan Fidel Castro. Negara yang kemudian menjadi rujukan negara-negara di Amerika Latin dalam menjalankan kebijakan ekonom politik yang memilih berseberangan dengan ideologi mainstream yang dinakhodai oleh Amerika Serikat dan perusahaan-perusahaan multinasional.

Meski telah diembargo demikian lama oleh Amerika Serikat, namun Kuba mampu menjalanan pembangunannya tanpa mengacu pada resep yang ditawarkan oleh negara-negara maju melalui lembaga-lembaga multilateral semisal IMF, Bank Dunia dan WTO. Salah satu indikator keberhasilan ini dapat dilihat melalui kebijakan pemerintah untuk menggratiskan sektor pendidikan dan kesehatan bagi rakyat. Keberhasilan ini kemudian mendorong penemuan-penemuan mutakhir di bidang bio teknologi dan bahkan negara ini berada sejajar dengan negara-negara maju dalam bidang medis sesuai dengan pernyataan Dr. dr. Samsuridjal Djauzi, Direktur Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta (Kompas, 8 November 2002).

Pendidikan Sebagai Prioritas

Mengapa pendidikan harus menjadi prioritas utama? Dalam salah satu acara di salah satu stasiun televisi swasta, DR. Imam B. Prasodjo, seorang Guru Besar Sosiologi UI, mengatakan bahwa minimal ada tiga alasan mengapa pendidikan harus menjadi perhatian pokok negara yang ingin maju;

Pertama: pendidikan adalah media untuk mentransfer ilmu pengetahuan.

Kedua: dengan pendidikan yang berkualitas maka akan mendorong peserta didik menemukan penemuan-penemuan baru melalui riset dan berbagai metode yang lain dan pada gilirannya akan memajukan potensi tenaga-tenaga produktif di sebuah negara.

Ketiga: pendidikan juga menjadi media efektif untuk menginternalisasi nilai-nilai keadilan, kemanusiaan dan kebenaran, namun hal ini akan sulit dilakukan ketika pilar-pilar pendidikan (pemerintah, pengajar dan pihak-pihak yang berwenang dalam masalah pendidikan) secara internal justru menjalankan praktek-praktek yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang akan diberikan (KKN, tidak dialogis, tidak demokratis, dan sebagainya).

Lalu bagaimana wajah pendidikan di negara kita? Meski pertanyaan ini telah sering menjadi bahasan dan tema berbagai diskusi atau seminar yang dilakukan oleh berbagai kalangan, namun tetap perlu menjadi perhatian kita bersama. Hal ini penting mengingat pembahasan mengenai pendidikan sering kita lepaskan dengan logika kuasa modal (baca:neoliberalisme) yang telah menjadi inheren dalam kebijakan ekonomi politik yang diterapkan di republik ini.

Dengan mengetahui relasi tersebut, maka kita akan terhindar dari pemahaman yang distortif dalam melihat fenomena pendidikan di negara kita. Sebagai contoh, masih banyak diantara kita yang menganggap bahwa kebijakan BHMN-isasi (baca:swastanisasi kampus) yang diperkuat melalui BHP (Badan Hukum Pendidikan) merupakan kebijakan otonom kampus sebagai solusi atas persoalan yang ada semisal persoalan keuangan.

Atau ada pula yang menganggap bahwa kebijakan ini justru merupakan realisasi perhatian pemerintah terhadap sektor pendidikan dalam arti kata bahwa kebijakan ini murni produk negara. Pandangan-pandangan tersebut tentu sangat menyesatkan karena telah melupakan akar permasalahan yaitu relasi negara dengan kuasa modal.

Pendidikan dan Kuasa Modal

Sesuai dengan amanat konstitusi kita bahwa negara berkewajiban untuk memberikan pendidikan yang layak bagi setiap rakyat Indonesia tanpa terkecuali sebagai jalan untuk mencerdaskan bangsa ini. Dengan demikian, pendidikan seharusnya menjadi “barang” yang mudah diakses bagi siapa saja tanpa memepertimbangkan kelas sosial tertentu.

Logika diatas jelas kontradiktif dengan doktrin neoliberalisme yang saat ini menjadi rujukan utama kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Dotrin neoliberalisme mengisyaratkan bahwa berbagai hal yang sebelumnya menjadi tanggungjawab sosial atau menjadi tanggungjawab negara dialihkan menjadi tanggungjawab individu. Sehingga kemiskinan dan kebodohan (baca:tidak mampu mengakses pendidikan yang layak) yang dialami mayoritas rakyat Indonesia dinisbahkan sebagai kesalahan individual rakyat Indonesia yang menurut McLelland tidak memiliki “N’Ach” atau Need for Achievement yaitu keinginan untuk berprestasi. Dengan pandangan ini kita akan terjebak pada proses blaming the victim (menyalahkan korban) yang oleh Kang Jalal dalam bukunya Rekayasa Sosial diketegorikan sebagai salah satu bentuk kesalahan berpikir.

Dalam logika ekonomi neoliberal diterangkan bahwa semua sektor kehidupan termasuk pendidikan harus diarahkan pada kompetisi yang sebebas-bebasnya (laissez faire). Ini berarti bahwa sektor pendidikan yang sebelumnya mendapat perhatian penuh oleh negara melalui jaminan subsidi, kemudian harus dicabut sepenuhnya. Bagi pemerintahan pro neoliberal, subsidi merupakan bentuk intervensi yang memboroskan anggaran dan mendistorsi pasar, hingga harus dihapus. Dengan demikian sektor pendidikan dituntut untuk memenuhi pembiayaan pendidikan dengan usaha sendiri. Kondisi inilah yang membuka peluang besar terjadinya komersialisasi dan swastanisasi pendidikan. Dan sasaran empuknya tentu rakyat miskin yang semakin tidak mampu mengakses pendidikan yang layak dan bermutu.

Dalam suatu diskusi informal, seorang mahasiswa baru dengan lugunya bertanya kepada saya, “Apa Presiden SBY tidak pernah membaca buku Orang Miskin Dilarang Sekolah hingga ia tega mencabut subsidi pendidikan ?. Jawaban dari pertanyaan ini tidak cukup dengan menyederhanakannya bahwa ini hanya persoalan watak birokrasi kita yang sarat KKN, bad governance dan sebagainya.

Namun lebih dari itu mesti kita lihat bahwa kebijaan seperti pencabutan subsidi sosial yang berujuang pada liberalisasi berbagai sektor semisal pendidikan adalah konsekuensi keikutsertaan negara dalam pelaksanaan paketan kebijakan neoliberal yang dipaksakan melalui Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Dalam GATS (General Agreement on Trade in Services), yang merupakan salah satu persetujuan di WTO, tingkatan pendidikan yang akan diliberalisasi terdiri dari Primary Education Services; Higher Education Services; Adult Education; Other Educations Services (Darmaningtyas:2005). Negara kita yang merupakan anggota WTO tentu akan serta merta menjalankan kebijakan liberalisasi di sektor pendidikan sesuai yang tercantum dalam perjanjian diatas.

Kenali Musuhmu

Saya selalu tertarik dengan slogan There Are Many Alternatives (selalu ada banyak alternatif ). Slogan ini selalu mengingatkan saya dengan negara-negara di Amerika Latin yang berpuluh-puluh tahun berjibaku dengan kebijakan neoliberal dan diperparah dengan pemerintahan diktator yang merupakan perpanjangan tangan imperium negara-negara maju. Resep neoliberal semisal pencabutan subsidi sosial (pendidikan, kesehatan, dan sebagainya) justru membuat mereka semakin miskin dan jauh dari sejahtera. Namun beberapa dekade terakhir, beberapa negara di kawasan ini telah mampu memberikan alternatif kepada negara-negara Dunia Ketiga yang sama-sama terjajah oleh kekuasaan modal. Dan ini tentu tdiak hadir begitu saja namun melalui perjuangan yang panjang.

Kita tidak bisa hanya menunggu political will dari pemerintah namun saatnya terlibat serta untuk merubah kondisi yang tidak adil ini. Mulailah dengan mengenali siapa saja yang berada dalam imperium modal global dan tentu siapa saja kaki tangannya di republik ini. Lalu simak dengan seksama bagaimana mereka bekerja agar kita tidak mudah tertipu karena mereka sangat lihai. Dan tugas ini mesti kita lakukan secara bersama karena kekuatan mereka justru berada pada ketidakmampuan kita untuk bersatu.

Tulisan ini juga dapat dilihat di:
http://tamagaga.wordpress.com

Iklan

Kutang Pancara

Oleh Adhy Rical

kutunggu engkau di pancara
melewati sungai konaweha
perempuan pasir menyimpan pokea di kutangnya
jangan takut tenggelam
kita buka dengan kancing baju
agar keringatmu menderas

sudah lama mengail dakimu apung
tapi tak pernah tenggelam lelah
belum bisa mengeja titahmu tatih
padahal kau memanggilku lelaki air
setelah menyelam dalam tangis anakmu
apakah aku mirip perempuan batu menangis?

kutunggu engkau di pancara
menjadi bilalmu
dan dayung masa tuamu
apakah engkau akan datang kutangku?

kutang yang engkau titipkan padaku
sudah kupenuhi beras
kau tak perlu memelas
dua tiga lelaki mendayung tubuhmu

Laosu, 2010

Baca tiga kajian tentang puisi ini :

Bahasa – Kasus Puisi Penyair Adhy Rical dan Fitrah Anugerah Oleh Hudan Hidayat

Berperahu Kutang ke Tuhan Oleh Heru Sylvanata

Kaji Puisi Kutang Pancara Oleh Awan Hitam


Cape Town, Sepotong Surga di Ufuk Africa

Oleh Mappajarungi Manan (Cape Town)

Seandainya orang Eropa, macam Belanda dan Portugis tidak menjajah Indonesia, mungkin saja kota Cape Town dan The Cape of Good Hope alias Tanjung Harapan tak pernah ada. Kalaupun di ujung selatan Benua Afrika itu terbentuk kota, pastilah diberi nama yang lain, dan tak jauh beda dengan kota lain di Afrika seperti Luanda, Sierra Leon, Conakry, dan Mogadishu.

***

Cape Town sungguh berbeda. Kota yang kini dihuni sekitar 3 juta jiwa itu sebagian penduduknya berkulit putih keturunan Eropa. Karena, kota yang dulunya bernama Kaapstad itu didirikan oleh Belanda pada 1625. Kemudian berganti nama menjadi Cape Town setelah diambil alih Inggris pada tahun 1806.

Awalnya, Cape Town dijadikan sebagai gudang atau tempat persinggahan Belanda dalam pelayaran ke Indonesia. Belanda mengendalikan Cape Town alias Kapstaad dari Batavia. Karena itulah, Cape Town punya hubungan historis yang demikian erat dengan Indonesia. Bahkan, banyak pejuang dari Indonesia yang menentang kolonialisme Balanda diasingkan di Kaapstad.

Salah satu tokoh pejuang muslim legendaris yang bermukim di Kaapstad adalah Syeikh Yusuf asal Makassar. Tak mengherankan, di kota modern perpaduan tiga benua—yakni Asia, Afrika, dan Eropa—itu ada sebuah tempat yang sangat populer disebut sebagai Kampoeng Macassar. Ia terletak di Distrik Stellenbosch, kawasan perkebunan anggur yang indah, sekitar 40 kilometer dari jantung kota Cape Town.

Kampoeng Macassar itu dibangun oleh Syeikh Yusuf dan pengikutnya saat pertama tiba tanggal 2 April 1694. Dalam pengasingan, ia bersama 49 pengikut dan keluarganya menggunakan kapal layar Fluyt de Voetboog. Ia gencar menyampaikan pesan-pesan Islam, kendati dalam pengawasan ketat oleh pihak Belanda.

Dalam usia 73 tahun, Syeikh Yusuf mengembuskan napas terakhir. Walau ia hanya empat tahun di Macassar, pengaruh ajarannya cukup kuat dan dilanjutkan oleh para pengikutnya. Hingga kini, turunan Syeikh Yusuf masih banyak dijumpai di Cape Town.

Puncak ziarah ke makamnya dilakukan pada Hari Paskah pada bulan April, yakni saat liburan umat Kristiani. Menurut Fatih, 45 tahun, yang mengaku masih keturunan Makassar, kegiatan itu dilakukan karena sejak zaman dulu para pekerja di perkebunan Belanda hanya libur pada pada Hari Paskah. Nah, pada saat itulah mereka berkumpul. Lalu, Syeikh Yusuf Tuanta Salamaka menyampaikan pesan-pesan Islam.

Sampai sekarang berkumpul dan berkemah serta bazar diadakan setiap bulan April setiap tahun. Sumber di KJRI Cape Town menyebutkan, sejumlah pejabat Indonesia pernah berziarah ke makam Syeikh Yusuf. Beberapa bulan sebelum lengser, Presiden Soeharto berziarah ke makam Syeikh Yusuf. Hal serupa juga pernah dilakukan oleh Presiden Megawati dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Ajaran Syeikh Yusuf menjadi inspirasi untuk menentang pemerintahan apartheid di Afrika Selatan. Karena itu, ia diangkat sebagai pahlawan Afrika Selatan. Ketika menjatuhkan pemerintah apartheid, April 1994, Nelson Mandela menyatakan bahwa ia mendapat inspirasi dari Syeikh Yusuf untuk menentang politik perbedaaan warna kulit di Afrika Selatan.

Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki juga memuji kepahlawanan Syeikh Yusuf. Pada 2005, Syeikh Yusuf dianugerahi Oliver Thambo Gold Award, penghargaan tertinggi yang diberikan Pemerintah Afrika Selatan untuk tokoh yang berjasa besar.

***

Keindahan Cape Town memang mengagumkan. Kota ini mendapat julukan City Bowl (kota mangkuk), karena bentuknya seperti mangkuk bila dilihat dari udara. Dari jantung kota dapat dilihat dari puncak Table Mountain dengan menumpang cableway. Tapi itu hanya bisa dilakukan pada saat cuaca cerah.

Karena cuaca di Cape Town tidak menentu akibat pengaruh angin Samudra Atlantik dan Hindia. Table Mountain merupakan ikon Cape Town. Objek wisata di kota ini terdapat 21 titik. Tapi bagi umat Islam atau yang datang dari Indonesia, maknanya lebih dari itu, karena banyaknya makam syuhada di Cape Town. Selain Syeikh Yusuf ada pula Daeng Mangenang, Jan van Boegis dari Sulawesi, ulama dari Minangkabau, Tuan Guru dari Tidore, serta ulama dari Madura.

Menikmati kota yang punya empat musim ini memang bisa menghabiskan waktu seminggu. Bayangkan saja, terdapat 21 objek wisata yang masing-masing memakan waktu minimal tiga jam. Paling sehari bisa mengunjungi empat objek wisata dengan agen perjalanan. Tapi ada objek wisata yang membutuhkan sehari penuh. Infrastruktur kota hampir sama dengan kota-kota di Eropa.

Nuansa Eropa sangat kental, orang kulit putih terdiri dari keturunan Inggris dan Belanda, karena itu mereka menggunakan bahasa Inggris dan Africaan. Bahasa Africaan ini pada intinya adalah bahasa Belanda campur-campur Africa Melayu dan Inggris, mereka menyebutnya bahasa “Belanda rusak”.

Dan jangan lupa berkunjung ke The Cape of Good Hope alias Tanjung Harapan. Konon, mengunjungi itu bisa mendapat berkah, atau harapan-harapan yang diinginkan bakal tercapai. Karena di situlah letak pertemuan dua samudra, yakni Samudra Atlantik dan Hindia. Dalam perjalanan ke Tanjung Harapan melewati Simon’s Town, saya teringat rumah-rumah panggung di Sulawesi Selatan.

Di sisi bukit di Simon’s Town terlihat perumahannya penduduk mirip di Sulawesi Selatan, tapi rumah di pinggiran Cape Town itu sudah tersentuh gaya Eropa dan lebih modern. Sepanjang jalan menuju The Cape of Good Hope, menyusuri pantai menjorok ke Samudra Hindia, sekitar 20 menit sampailah kami di Boulders Beach, pantai berpasir putih yang dihuni oleh gerombolan penguin Afrika.

Binatang laut yang terbilang setia itu bertingkah menggemaskan. Mereka selalu terlihat berduaan dengan pasangannya. Selain penguin bermain dan bercengkrama di pantai berpasir putih itu, juga dengan jarak yang dekat, banyak pelancong yang mandi.

Dari Boulders Beach, kami melanjutkan perjalanan ke Cape Point yang lebih dikenal dengan nama The Cape of Good Hope. Di sisi kiri adalah pantai Samudra Hindia, sedangkan bagian kanan terdapat bukit-bukit terjal. Beberapa saat meninggalkan Boulders Beach, Saleem, seorang pemandu wisata yang mengaku keturunan Makassar, memperlambat laju kendaraan.

Kami dikejutkan dengan segerombolan babun yang memanjat mobil. “Don’t give some food!” ujar Saleem setengah teriak. Karena bila memberi makan, maka kami akan dikeroyok gerombolan babun. Setelah melewati kerumunan babun, Saleem menghentikan mobilnya, dan meminta saya turun.

Ia menunjuk ke arah laut, karena seekor ikan paus besar sedang berenang sambil memuncratkan air. “Di daerah False Bay ini, pada bulan Oktober banyak paus yang menampakkan diri, tapi sekarang paling satu dua saja,” Saleem menjelaskan. Tempat itu juga dikenal sebagai daerah Vasco da Gama yang kapalnya karam pada 1497.

Di kawasan Table Mountain National Park, pemandangan menuju Cape Point paling ujung benua Afrika itu mengundang decak kagum. Setelah melalui Plateau Road dan Cape Point Road, sampailah kami di palataran parkir yang nyaman. Untuk menuju puncak, pengunjung harus berjalan kaki kurang lebih satu jam. Tapi yang tak mampu, disediakan kereta tarik dengan biaya 60 rand atau setara dengan US$ 5.

Di puncak Cape Point, kita bisa menyaksikan pertemuan Samudra Atlantik dan Hindia. Di situ pula terletak jarak ke semua kota-kota besar, misalnya dari The Cape of Good Hope ke Singapura jaraknya 9.967 kilometer. Dengan berdoa di puncak dan paling ujung benua Afrika itu, konon, semua harapan kita bisa terpenuhi.

Karena itu, tempat ini dinamai The Cape of Good Hope alias Tanjung Harapan. Jangan lupa beli satu botol kecil air laut yang berisi air dua samudra: Atlantik dan Hindia. Di sana juga ada bangunan menara suar setinggi 240 meter, dibuat pada abad XVI, yang penerangannya menggunakan 2.000 lilin.

Dari Cape itu, kami pulang, perjalanan tidak melewati jalan semula, yaitu M4, melainkan berbelok ke M6 atau melewati jalan yang cukup mengasikkan, yakni Chapman Peak Drive atau M6. Sepanjang perjalanan cukup mengundang jantung berdegup, di sisi kanan bukit batu yang menjulang. Di sisi kiri jurang karang yang terjal. Tapi jangan khawatir, semua ruas jalannya mulus, menyusuri tepian laut Atlantik menuju Hout Bay.

Hout Bay merupakan kawasan perumahan elite. Banyak orang kaya Eropa dan Amerika membeli perumahan di kawasan Hout Bay. Di Hout Bay terdapat restoran seafood bergaya Inggris dan Portugis. Salah satu restoran yang disesaki pengunjung adalah Fish on the Rock. Menu yang tersedia menggunakan bahan cumi-cumi, udang, ikan, dan kentang goreng. Harganya tidak terlalu mahal, cuma 80 rand atau sekitar Rp 110.000.

Usai menikmati makan makanan laut, saya diajak untuk menyaksikan gerombolan anjing laut (seal) di Seal Island dengan menggunakan boat. Pelayaran menuju Seal Island membutuhkan waktu 30 menit. Sesuai dengan namanya, pulau berbatu yang terletak di laut Atlantik ini dihuni oleh ribuan anjing laut.

***

Selain keindahan laut, alam pegunungan yang indah juga menjanjikan untuk dikunjungi. Hamparan perkebunan anggur bertebaran di kaki-kaki bukit, demikian pula dengan stroberi dan ceri. Selain hasil tambang seperti emas dan berlian, andalan ekspor Afrika Selatan adalah wine hasil pusat perkebunan anggur di Cape Town.

Stellenbosch merupakan jantung dari industri wine di Afrika Selatan. Jaraknya sekitar 15 kilometar dari makam Syeikh Yusuf. Tempat itu merupakan perpaduan alam yang indah dan budaya Afrika Selatan. Banyak bangunan indah dengan gaya arsitektur Belanda, Georgia, dan Victoria modern.

Sepanjang jalan berdiri pohon oak, yang membuat suasana begitu indah lantaran pohon itu menghadap tembok-tembok putih gedung tua. Pohon ini, pada musim panas, menyerap hawa panas serta menaungi jalanan. Distrik Stellenbosch terletak di tepian Sungai Eerste di daerah lembah Jonkershoek inilah lahan anggur terbesar di Afrika Selatan.

“Jangan lupa mencicipi wine dari tempatnya tumbuh, sangat nikmat,” kata Saleem sambil tersenyum. Di Stellenbosch terdapat lebih dari 300 perusahaan pembuat wine berbagai macam merek. Semuanya terbuka untuk turis. Menikmati segelas wine segar di alam terbuka yang penuh dengan hamparan kebun anggur merupakan kenikmatan sendiri.

Kendati Stellenbosch terlihat tidak begitu sibuk, karena dipenuhi kebun anggur dan stroberi dan ceri, di distrik itu terdapat Universitas Stellenbosch. Perguruan tinggi yang didirikan pada 1866 itu merupakan universitas tertua di Afrika Selatan. Semasa pemerintahan apartheid, mereka hanya menerima mahasiswa kulit putih. Tapi kini keturunan Indonesia dan kulit hitam berbaur belajar di kampus yang kini jumlah mahasiswanya 18.000 orang itu.

Di daerah itu pula terdapat kegiatan outdoor seperti sepeda gunung, juga terdapat lapangan golf. Di Stellenbosch saja terdapat enam padang golf, karena olahraga golf sangat populer di Afrika Selatan. Dari negara inilah muncul pe-golf profesional tingkat dunia seperti Gary Player, Ernie Els, Rori Sabbatini, dan Imelman.

Sebagai amatir yang telah menyandang handicap 12, saya tertantang juga mencoba lapangan golf di Stellenbosch. Menariknya, bunker yang ada cukup dalam pasirnya sehingga mengunakan club sand kadang bola sulit terangkat ke green. Tapi kendati demikian, bagi yang punya gelar handicap 12 cukup puas kalau berhasil menyelesaikan 18 hole memperoleh 7 hole par, walaupun selebihnya double boogie.

Bagi pemusik, jangan kecewa. Di Stellenbosch, ada sekolah musik yang tertua. Juga melakukan festival musik klasik setiap tahun. Para pemusik klasik dari berbagai dataran dunia setahun sekali kumpul di Stellenbocsh. Sambil bermusik ria, diadakan festival wine pada bulan Oktober. Para pengunjung bebas mencicipi ratusan jenis wine.

***

Cape Town di musim panas di bulan Desember dipadati turis mancanegara, terutama dari Eropa. Di sebuah cafe di Water Front, bisa menikmati life musik yang mengalun indah. Aktivitas malam di Water Front sungguh bergairah. Sejumlah pemusik ternama dari Cape Town tampil di Water Front. Hiburan musik ini gratis bagi pengunjung.

Di situ berbagai hiburan malam tersedia, sebab Water Front adalah campuran kosmopolitan antara budaya, bisnis, industri, hiburan, sejarah, dan inovasi. Selain sebagai tempat hiburan malam, juga terdapat tempat konferensi tingkat dunia, restoran, dan akomodasi hotel berbintang lima.

Di kawasan patung Nelson Mandela dan Desmon Tutu serta De Kleer, terdapat akuarium dua benua. Beberapa jenis ikan hiu yang putih dan hitam, serta ratusan jenis ikan dari dua samudra, dapat disaksikan di akuarium dua benua itu. Di depan pintu masuk terdapat sebuah showroom hasil kerajinan tangan Afrika yang cukup menarik. Semua menggoda untuk dimiliki.

Sebagai kota internasional, Cape Town juga dilengkapi dengan kasino. Letaknya terpisah dengan Water Front. Pusat judi yang yang baru dibangun dua tahun itu tidak kalah megahnya dibandingkan dengan Macao. Terlambatnya pembangunan pusat perjudian itu karena ditentang keras oleh komunitas muslim di Cape Town. Maklum, di Cape Town bertebaran masjid yang jumlahnya mencapai 200 bangunan.

Kini, pembangunan Cape Town berlomba dengan beberapa kota lainnya, seperti Pretoria, Johannesburg, Sun City, Durban, Pietersburg, yang akan mejadi tuan rumah Piala Dunia 2010. Stadion yang semula kecil dirombak total untuk dapat menampung 100.000 penonton yang terletak di Greenpoint. Bandara internasional Cape Town dipercantik.

Sebagai orang Indonesia, tidak lengkap rasanya kalau tidak mengunjungi kawasan Boo Kaap. Orang menyebutnya Kampoeng Malay. Di sinilah Jan van Boegis mendirikan masjid pada tahun 1808. Juga terdapat makam Tuan Guru dari Tidore. Disebut unik, karena budaya Melayu-nya sangat kental.

Berbelanja menjadi kegiatan yang mengasyikkan di kota ini. Sebagaimana di Eropa, pusat perbelanjaan di mal-mal besar juga tersedia di sini. Dari daerah Boo Kaap, yang memiliki kantong tebal juga bisa membeli permata berlian yang bertebaran di berbagai tempat di Cape Town.

Tapi pusat penjualan berlian yang cukup besar ada di Long Street. Dari ukuran karat yang terkecil hingga yang terbesar tersedia. Kualitas pemotongan cukup memuaskan, sehingga menghasilkan berlian jernih yang berkualitas. Harganya dari US$ 100 hingga puluhan ribu dolar. Sedangkan untuk membeli berlian yang harganya agak miring bisa memilih tempat di Canal Walk, St. George, yang memajang barang lokal dan berbagai merek terkenal mancanegara.

Satu lagi tempat menarik yang berlokasi tak jauh dari Cape Town, yakni Robben Island. Di pulau ini terdapat bangunan penjara legendaris tempat Nelson Mandela dijebloskan selama 27 tahun. Di sini pula sejumlah pejuang Indonesia pernah ditahan oleh pemerintah kolonial Belanda. Bahkan, seorang pejuang muslim dari Madura meninggal di dalam sel tahanan penjara itu. Kini Robben Island menjadi cagar budaya yang dilindungi Unesco. []

Tulisan ini pernah dimuat di rubrik Perjalanan, Gatra, Nomor 9. Kamis, 10 Januari 2008.


Daeng

Oleh Mappajarungi Manan

Tiga puluh tahun silam, tiap liburan sekolah, aku selalu diajak oleh bapak untuk liburan ke kampung halaman kakek-nenek. Maklum, saya tinggal di desa yang terpencil di Rate-Rate, Kolaka. Begitu riang gembira rasanya. Bisa jalan-jalan ke Ujung-Pandang (Makassar, kini). Kendatipun kampung bapak di Bontoramba, namun terbilang dekat jaraknya dari kota Sungguminasa, ibukota Kabupaten Gowa. Demikian halnya dengan Ujung Pandang.

Memori masa kecil masih tergambar dalam benakku. Setelah lebih dari 30 tahun itu. Apalagi tiba-tiba dari gedung Senayan tempat wakil rakyat itu berkantor keluar kata Daeng dari mulut Poltak (politik tak karuan) yang meminta mantan Wapres M Yusuf Kalla agar tenang dengan memanggil Yusuf Kalla, “Daeng”. Kontan para wakil rakyat yang ada di gedung itu memprotes. Tak ayal lagi, gemanya hingga ke penjuru belahan negeri ini. Disambut nada protes!.

Sejak kecil, ditelingaku akrab mendengar sebutan Daeng. Teringat, saat bermain di rumah sepupu di Sungguminasa, di samping rumah sepupu tinggal seorang perempuan nan cerewet. Di halaman perempuan itu terdapat pohon mangga. “Mappa, kita panjat mangga” ajak sepupuku yang namanya Accang. Adik Accang, Cilli, juga ikut. Kedua sepupuku badannya ramping. Tapi, dalam soal panjat-memanjat, aku terbilang lincah.

Pendek kata, aku memanjat mangga di halaman perempuan tua itu. Maklum anak-anak melihat mangga ranum, langsung sikat saja. Cilli yang kecil dan lincah tiba-tiba lari dan teriak. “Mappa!!,.. Turun!!.. ada Daeng Kuning”. Accang juga berlari. Tinggallah aku di atas pohon mangga itu meringis. Namun, aku sempat berpikir : “Kok perempuan ini dibilang Daeng Kuning, kenapa pakaian dan kulitnya tak kuning?” Aku tak berani turun dari pohon mangga itu, kendatipun Daeng Kuning meminta aku turun. Tegang , aku pasrah.

“Punnah teako naung, kujoloko,” kata Daeng Kuning. Akupun turun dan segera berlari menuju rumah sepupuku yang bertetangga dengan Daeng Kuning. Tak menghiraukan omelan Daeng Kuning. Dari kecil, aku sering bertanya dalam hal apa saja. Nah yang selalu terngiang soal Daeng Kuning, kenapa sampai dinamakan Daeng Kuning?..

Di Sulawesi Selatan semua yang dianggap tua dipanggil Daeng. Bagi etnis Makassar yang mendiami Kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Maros. Tidak memandang itu tukang becak, dipanggil daeng becak, tukang kayu dan tukang apa saja kalau dia lelaki lebih tua dari yang memanggil, pasti dipanggil Daeng. Entah sejak kapan panggilan itu melekat pada diri Daeng becak dan Daeng-Daeng lainnya. Kata Daeng mulai merakyat dan dipergunakan pada khalayak setelah Indonesia merdeka, maka nilai-nilai sakral daeng mulai tergerus oleh zaman.

Padahal, bagi etnis Makassar, penggunaan kata Daeng itu, sangat sakral. Itu, hanya diperuntukkan bagi kalangan bangsawan. Kalau bukan bangsawan, maka ia akan dipanggil sesuai dengan namanya saja. Misalnya, seorang lelaki bernama Hardik, maka ia akan dipanggil dengan Hardik saja. “Oe Hardik, kamu mau kemana?” begitulah panggilan buat yang bukan keturunan bangsawan.

Tapi, bila ia keturunan bangsawan, ia akan memakai nama pemberian Daeng. Misalnya Sultan Hasanuddin Daeng Mattawang, atau Rahim Daeng Nyonri. Demikian pula dengan wanitanya juga ada pemberian Daeng (Pa’daengang). Misalnya: Hayati Daeng Rannu (perempuan yang periang) Wati Daeng Puji (Wanita terpuji perbuatannya), Endang Daeng Te’ne (Perempuan yang manis). Jadi cara memanggil mereka, jangan menyebut nama yang ada didepannya, tetapi nama pemberian yang ada setelah Daeng, Misalnya Endang, harus dipanggil Daeng Te’ne. Kalau memangil namanya, akan kurang sopan dan dinilai tidak bermartabat..Nah kepada Perempuan Daeng Kuning, sampai sekarang saya masih belum mengerti kenapa diberi nama Daeng Kuning?.. Nama sebelum Daeng Kuning, saja juga tak tahu. Entahlah.

Di Kalangan etnis Bugis dan etnis lainnya di Sulawesi Selatan seperti Lu’, Mandar, Tator, Duri, Silaja, yang merupakan saudara-saudara etnis Makassar sangat kental penggunaan kata Daeng. Dulu, sebelum penggunaan kata Andi, bagi bangsawan Bugis, juga menggunakan pemberian nama Daeng. Namun entah, bagi kalangan Bugis sudah jarang penggunaan Daeng. Hanya saja kalangan Bugis menggunakan kata Daeng untuk memanggil orang-orang yang lebih tua baik kepada perempuan maupun kepada Laki-laki. Jadi bagi orang Bugis, kata Daeng adalah Kakak Tertua. Begitupun kini di kalangan Makassar.

Di bumi sulawesi selatan, kendatipun ada beberapa etnis yang berlainan bahasa namun sikap dan karakteristik sama. Sama-sama menjunjung tinggi harga diri. Siri na pace. Siri adalah malu, pacce adalah harga diri yang turut membantu teman, intinya adalah solidaritas. Jadi, jangan heran persatuan dan kesatuan dari Sulawesi Selatan sudah lama terbangun. Jadi, ketika orang-orang Sulsel dipermalukan, maka akan timbul pacce secara serentak, untuk melawan orang yang mempermalukan itu. Sebab, bila tidak maka orang yang dipermalukan tak lain itu ibarat hewan. Malu adalah harga diri, harus ditegakkan.

Dalam kasus Poltak tadi, etika penggunaan kata Daeng memang kurang tepat. Karena dalam forum terhormat itu, alangkah bijaknya kalau Poltak memanggil M Yusuf Kalla sebagai saudara. Karena bagaimanapun, parleman merupakan lembaga tinggi negara yang dipilih oleh rakyat. Kalau memanggil Bapak, juga kurang tepat. Namun, etika politik Poltak intinya tidak elegan. Sistem komunikasi politik yang dimilikinya tidak ada.

Sedikit mengutip pakar komunikasi politik, Barlund, dalam berkomunikasi, harus dinamis yaitu suatu proses perilaku yang dipikirkan seorang penafsir dan bukan suatu yang tersendiri dan tidak dipikirkan. Lalu, dia memahami makna yaitu ada urutan yang linear dalam arus makna dari seorang kepada yang lain. Tapi si Politik Tak Karuan itu, tidak memahami makna, terkesan ingin mengacaukan dan carmuk. Tidak hanya melecehkan “Daeng” tapi juga pernah menghina Chines. Nah Poltak. []

Tulisan ini juga bisa dibaca di: http://www.mappajarungi.multiply.com/


Bandit, Bandot, dan Badut

Oleh  Ilham Q. Moehiddin

Perkembangan kasus “gado-gado” yang saat ini sedang mempermalukan muka hukum Indonesia, makin menarik sekaligus memuakkan. Sepertinya drama satu babak ini akan berakhir dramatis: tidak ada tersangka, tidak ada si penyuap, tidak ada yang disuap, dan semua senang.

Asumsi terhadap drama yang akan berakhir seperti ini, tercermin dari pernyataan Tim Delapan yang membuahkan tiga rekomendasi, yang tanpa disebut pun, ketiganya mengarah pada vatsun penghentian penyelidikan.

Ada yang lega? Terang saja ada. Para oknum penerima suap dan penyuap, leganya bukan alang-kepalang. Dalam tayangan tvOne, Chandra dan Bibit, wajah keduanya terlihat seperti baru saja melepas beban. Lalu bagaimana kabar Susno Duadji, Abd Hakim Ritonga, Wisnu Broto, Ari Muladi, Anggoro, dan Anggodo? Sampai tulisan ini selesai dibuat, belum jelas. Sebab sejak rekomendasi Tim Delapan dirilis, nama-nama yang saya sebutkan ini belum ‘nongol’ di media mana pun, tiada secuil pernyataan. Saya pasti mengira, orang-orang ini selega Bibit dan Chandra. Semua senang.

Dimana-mana, jika ada bandit yang lepas, yang resah tentu polisi-nya. Tapi sikap reaksioner polisi menerima pernyataan Tim Delapan tidak terlihat, justru keresahan ini jelas nampak pada Kejaksaan Agung dan Komisi III DPR-RI.

Jaksa Agung, Hendarman Supanji langsung menyitir dengan pernyataan akan meneruskan perkara, sebab menurut dia—sekaligus lembaganya—kasus ini bergelimang bukti. Jika bisa, untuk meminimalisasi dampak “kerusakan nama lembaga” akibat kasus ini, jaring mereka siap-siap di lempar ke Bibit-Chandra.

Nyaris senada, Benny K Harman, Ketua Komisi III DPR-RI mencela Tim Pencari Fakta (Tim Delapan) bentukan presiden, yang diketuai tokoh Ahmadiyah, Adnan Buyung Nasution ini, yang dinilai Benny tidak bekerja ala biasanya TPF bekerja di seluruh dunia.

Menurut Benny, Tim Delapan tidak bekerja secara vatsun. “Tim 8 seharusnya bekerja secara diam-diam, seperti layaknya TPF bekerja di seluruh dunia. Seharusnya, apapun yang ditemukan oleh tim ini, diumumkan (atau tidak) oleh orang yang membentuknya, bukan oleh tim itu sendiri,” demikian Benny.

Beginilah, jika menepuk air di dulang terpercik ke muka sendiri. Setelah ketahuan salah, semuanya mendadak berlagak jadi hero. Tim Delapan yang sedari awal pembentukkannya sudah “lebay” alias berlebih-lebihan, sehingga membuat gerah Komisi III DPR-RI, yang langsung pula secara maraton mengagendakan rapat kerja dengan ketiga institusi hukum ini. Komisi ini pun rupanya, berharap dilihat sebagai hero oleh rakyat ditengah carut-marut perkara ini.

Seperti tidak mau kalah dengan Mahkamah Konstitusi yang “berhasil” meminta rekaman penyadapan diputar dan dinikmati khalayak, Komisi III DPR-RI pun berusaha keras memanggil dan berhasil mendatangkan, sebut saja; Susno Duadji (ketika itu hadir dalam rombongan Kapolri), lalu Abd Hakim Ritonga (yang juga datang bersama Kajagung).

Dalam pertemuan ini, kendati berhadapan dengan institusi yang secara moral “tidak santun”, rupanya Komisi III DPR-RI juga melupakan kesantunan. Bergiliran para anggota komisi, seperti berlomba, mencecar, bahkan ada yang menghujat ketidakberesan kinerja lembaga-lembaga negara yang sedang duduk di depan mereka. Mungkin karena ingin numpang tenar dihadapan rakyat dalam kasus yang menyita perhatian ini, beberapa anggota komisi yang berasal dari partai Islam, luput menyimak narasi sumpah Susno Duadji, yang belepotan dan tidak pakem.

Susno bersumpah di hadapan jutaan penonton tanpa menyebut nash sumpah dengan benar, dan parahnya, ini tidak diinterupsi oleh para anggota komisi yang berbasis partai Islam. Apa dengan sumpah model begitu, lantas semua orang yang berada dalam ruangan itu berharap rakyat Indonesia percaya begitu saja dengan “ludruk” yang pentas sampai pagi itu. Huh, dasar badut.

***

Jika pun Susno berhasil bersumpah dengan menyebut nash dengan benar, maka seharusnya narasi sumpahnya tidak begini, “Demi Allah, saya tidak menerima 10 milyar dari siapapun”. Konyol.

Kenapa Susno tidak bersumpah dengan nash dan akad sumpah yang benar dan dengan isi sumpah yang seperti ini, “Demi Allah, jika benar saya menerima suap barang sepeserpun dan dari siapapun, maka saya siap menerima azab apapun dari Allah SWT”. Tentu saja, Susno tidak akan berani.

Ada lagi ulah Komisi III DPR-RI ini yang dinilai aneh. Ketika menggelar rapat kerja dengan KPK (termasuk Bibit dan Chandra), Komisi III tidak mengadakannya dalam bentuk terbuka seperti dua lembaga negara lain, Polri dan Kejagung. Ada apa? Sama seperti Anda, saya pun bertanya demikian.

Adakah dalam rapat tersebut ada pernyataan yang harus dilindungi sehingga para jurnalis tidak boleh tahu. Apakah dengan aksi teatrikal ini, kita boleh mengira bahwa Bibit dan Chandra memang oknum penerima suap dalam tubuh KPK? Lalu apa kesimpulan komisi? Apakah dengan realitas yang kita saksikan sekarang adalah manifestasi kesimpulan komisi; Demi kredibiltas negara dan pemerintah serta presiden, sebaiknya Bibit-Chandra ‘tidak dipersoalkan’.

Jika hukum diberlakukan terhadap mereka atas tindakannya yang berkenaan dengan kredibilitas institusi negara, maka dikhawatirkan keduanya akan buka mulut, sehinga akan menyeret dan merusak beberapa institusi negara lainnya. Dampaknya bukan saja akan menghilangkan kepercayaan kepada pemerintah yang legitimate, bahkan akan lebih jauh membuka kebobrokan sumberdaya manusia dalam lembaga-lembaga ini sehingga jelaslah terpampang di hadapan rakyat bahwa selama ini reformasi yang dijalankan hanya bualan semata. Huh, dasar bandit.

***

Drama ini makin jelas ending-nya. Ending yang aneh, mengejutkan, membuat kepercayaan hilang, dan makin membuka mata bahwa mafia peradilan sudah seperti kanker pada stadium akhir. Bayangkan saja, kanker korupsi ini sudah berhasil menggerogoti bagian vital tubuh negara.

Diagnosanya terlambat? Oh, tidak sama sekali. Sejak dahulu, Indonesian Coruption Watch dan Transparacy International sudah membenarkan bahwa kanker korupsi memang ada dan siap-siap menyerang area vital negara.

Obatnya tidak tepat? Oh, obatnya (KPK) sudah tepat. Hanya saja, dosis obatnya masing kurang dan kuat, hingga kankernya resistant, dan malah mengerogoti obatnya.

Apa tindakan medisnya? Satu-satunya cara adalah pembedahan besar (major surgery) dan transplantasi terhadap organ vital negara yang sudah terjangkit, organ lama diangkat lalu diganti organ baru. Organ penggantinya bisa saja berupa organ hasil donor (model penanganan hukum dari negara lain).

Setelah operasi apakah hasilnya akan baik? Yah…berharap saja semoga demikian. Sebab, cuma harapan yang tersisa dari bangsa ini.

***

Jadi tidak perlu ditanyakan lagi kenapa kasusnya seperti ini. Sebab lingkaran kasusnya sudah terbentuk sempurna, ujung yang satunya sudah berhasil mengait ujung lainnya, hingga sukar untuk dilepas. Apapun usaha, dan dari siapapun yang berusaha untuk memutus lingkaran ini akan berhadapan dengan tiga institusi besar hukum negara, termasuk DPR-RI, sejumlah departemen dan kementrian.

Coba saja simak grand scenario-nya: Jika Anggodo Widjojo bicara lebih banyak lagi, maka Susno Duadji (Polri), Abd Hakim Ritonga (Kejagung), Bibit-Chandra (KPK) akan terseret makin dalam di kubangan kasus Masaro. Jika Susno Duadji yang bicara, semua elemen lembaga hukum negara yang terlibat akan ikut jatuh. Demikian pula jika Abd Hakim Ritonga, atau Bibit dan Chandra yang bicara, maka mata rantai yang sudah disambung untuk menutup kemungkinan pihak lain masuk, mengait, dan membuka kebenarannya, tidak ada sama sekali.

Yulianto? Siapa lagi ini? Menurut Anggodo, ini karakter fiktif. Menurut polisi, orang ini real dan sedang dicari. Menurut Bibit-Chandra, karakter ini tidak mereka kenal dan tidak pernah menemui mereka.

Tetapi menurut saya, karakter ini (baik nyata atau tidak) sengaja diciptakan melalui mulut Ary Muladi agar semua pihak bisa cuci tangan. Sebab tanpa tokoh kunci ini, siapapun sulit menghubungkan aliran uang dari Anggodo kepada ke Bibit-Chandra, Susno Duadji, Abd Hakim Ritonga. Dan, dengan tokoh ini, semua pihak yang terkait, paling tidak saat ini, berada di posisi sebagai ter-fitnah.

Jadi, secara eksplisit, semua pihak yang sedang terkait dalam masalah ini, saling bergandengan tangan dan saling dukung agar kasus ini tertutup rapat. Siapa korban sesungguhnya?

***

Tentu saja masyarakat. Rakyat Indonesia, disuguhi tontonan “sampah” dan asyik menyimak episode demi episode drama ini. Seperti kebanyakan sinetron Indonesia; di setiap episodenya melahirkan konflik baru dari konflik yang sudah ada, karakter baru, dan—anehnya—seringkali mudah ditebak akan berujung kemana.

Masyarakat Indonesia terhadap kasus ini, dibiarkan berpendapat sendiri, dan memilih sendiri akan berada di pihak mana. Dengan kata lain; masyarakat Indonesia kini terbelah.

Ada mayarakat, yang menganggap kasus ini untuk melemahkan KPK secara institusi dengan berusaha membenturkannya dengan lembaga hukum lainnya, sehingga melahirkan komunitas Cinta Indonesia Cinta KPK.

Ada masyarakat, yang menganggap telah terjadi niat pelemahan KPK dengan tuduhan suap terhadap Bibit-Chandra. Penonton jenis ini terjebak dalam pemahaman buta bahwa penangkapan Bibit-Chandra akan melemahkan KPK secara institusi. Padahal, Anggodo dengan jelas menyatakan menyuap Bibit-Chandra bukan menyuap KPK. Sampai-sampai ada forum di facebook khusus menggalang dukungan terhadap kedua oknum ini, bukan membela KPK secara institusi. KPK sebagai lumbung bukan tidak mungkin bebas dari tikus, bukan? (Baca: Beberapa Fakta Empirik Tentang Mafia Peradilan).

Bukankah cerita model begini adalah lagu lama di negeri ini. Kejaksaan juga pernah coba dilemahkan di banyak kasus terdahulu. Demikian juga Polri, bahkan Sekretariat Negara pernah dituduh sebagai lembaga pemberi suaka pada para koruptor yang akan pulang ke Indonesia.

Lalu, ada masyarakat yang menganggap kasus ini hanya akal-akalan dan merupakan tontonan memalukan. Kelompok masyarakat ini, sepenuhnya percaya bahwa apa yang sedang terjadi tidak lebih dari praktek mafia hukum, dan memilih kemungkinan bahwa semua pihak terlibat, sampai mereka dapat membuktikan diri sebaliknya.

Dan, ada kelompok masyarakat yang sepenuhnya skeptis terhadap sumberdaya manusia dalam lembaga-lembaga hukum negara ini. Kelompok ini menghendaki adanya pembersihan menyeluruh dan perbaikan secara gradual dan sistematis. Jika perlu, kinerja aparat penegak hukum di Indonesia, ditransplantasi dengan model kinerja hukum negara lain (China, misalnya) yang sangat keras terhadap tindak kriminal, keras terhadap upaya korupsi. Mungkin, saya, berdiri di kelompok ini.

***

Jika Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, sukses menjadikan Indonesia sebagai negara kunjungan wisata dunia (pasca Bom Bali I dan Bom Bali II), dengan berhasil meraih devisa besar dari sektor ini, mungkin saja semua institusi hukum juga sukses menjadikan Indonesia sebagai negara tujuan kriminal dunia.

Sebab dengan penanganan hukum model centang perenang dan carut marut seperti Indonesia, menjadikan negara ini sebagai lahan aksi kriminal transnasional (human traficking, drugs traficking, dll), dan tujuan utama para gembong mafia internasional (gembong narkotika Afrika, triad China, yakuza Jepang) untuk beroperasi di sini. Huh, dasar bandit.

Sampai-sampai, karena kisruh soal ini, perhatian masyarakat teralih dari pelantikan para kepala staf TNI yang baru; teralih dari kasus penembakan di Papua; teralih dari masalah penanganan gempa; teralih dari masalah korupsi Bupati Bombana dan keluarganya; bahkan teralih dari pembebasan Syech Puji yang menikahi anak di bawah umur. Huh, dasar bandot. []

BEBERAPA FAKTA EMPIRIK TENTANG MAFIA PERADILAN

Kasus suap Mahkamah Agung tahun 2005, tentang Harini Wijoso, mantan Hakim Tinggi Yogyakarta yang bertindak sebagai pengacara pengusaha Probosutedjo dalam kasus korupsi dana reboisasi di Kalsel senilai Rp100,9 milyar, tertangkap saat menyerahkan uang sebesar US$500.000 (5 milyar rupiah) ke Pono Waluyo. Dana ini sedianya digunakan untuk menyuap para Hakim Agung Mahkamah Agung. Pono kemudian diketahui bekerja sebagai juru parkir di Mahkamah Agung.

Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), AKP Suparman juga terlibat kasus pemerasan terhadap Tintin Surtini, dijatuhi hukuman 8 tahun penjara. Tintin Surtini adalah saksi dalam perkara korupsi PT Industri Sandang Nusantara. Terdakwa menekan Tintin hingga saksi ketakutan, dan menyerahkan dana senilai Rp413juta, US$300, tiga Nokia 9500 Communicator, dan mobil Atoz thn 2004 miliknya senilai Rp100juta. Sebelumnya selain Suparman, beberapa penyidik KPK juga dipecat dan perkarakan karena terlibat suap.

***

Kondisi Indonesia ini sedikit banyak menjawab telaah Jared Diamond dalam buku Failed State; 2005, dan Foreign Policy; 2008, bahwa lembaga-lembaga hukum Indonesia belum dapat diandalkan untuk menegakkan hukum. Fenomena ini menurut Diamond merupakan indikasi negara gagal (failed state).

Senada dengan Diamond, Louis Kraar (1988) juga mengkhawatirkan Indonesia akan menjadi bangsa terbelakang, dan akhirnya hanya menjadi halaman belakang (back yard) di kawasan Pacific Rims.

Gunnar Myrdal menyebut Indonesia sebagai “soft state” alias negara lembek. Istilah “cleptocrasi state” (Negara Maling), atau “vampire state” (Negara Pengisap), “envelope culture” (Budaya Sogok dan Suap) juga menghiasi berbagai referensi asing tentang Indonesia. [] Ditulis 17 Nopember 2009

Sumber: http://ilhamqmoehiddin.wordpress.com


Festival Dago: Tanpa Kebaya dan Kelom Geulis

Oleh Mappajarungi Manan (with Hidayat Gunadi)

Tubuh semampai Indah Lestari dan Wina Astarini terus bergoyang mengikuti irama musik yang dimainkan Mocha Band. Sesekali, dua gadis berusia 20-an tahun ini berjingkrak dan berteriak histeris kala lagu kesayangannya mengalir apik dari kelompok pemusik pemula itu. “Penampilannya oke punya,” kata Indah, yang malam itu menongkrongi stan Hard Rock FM, di depan Bank Niaga, Jalan Dago, Bandung, Jawa Barat.

Bagi Indah, di akhir pekan penghujung tahun 2002, suasana di kawasan Dago sungguh istimewa. Berbagai pentas seni tersuguh di hampir setiap sudut jalan. Ada atraksi barongsai, pergelaran musik, pantomim, dan pameran seni rupa. “Pokoknya, malam ini suasananya lebih heboh, deh,” kata Indah.

Maklumlah, malam itu sedang berlangsung pesta kawula muda bertajuk: Dago Festival. Suasana pesta mulai terasa sejak petang hari. Suguhan marching band menjadi pertanda dimulainya acara. Lalu, ada happening art berupa tari-tarian oleh mahasiswa Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung.

Selepas magrib, suasana makin panas. Entakan musik dari beberapa stasiun radio kawula muda mulai membahana, seakan berlomba menyedot perhatian. Mereka tak sekadar siaran langsung, melainkan juga menggelar panggung pertunjukan. Beberapa kelompok musik idola anak muda yang sedang naik daun tampil di sana.

Pelukis asal Bandung, seperti Tisna Sanjaya dan Nandang Gawe, ikut memeriahkan festival dengan memamerkan lukisannya. “Festival ini sepenuhnya ajang unjuk kreativitas barudak Bandung,” kata Winnie dari Republik Entertainment, pelaksana Dago Festival. Winnie tak menyebut angka, berapa duit yang habis untuk acara ini. Namun, beberapa sumber Gatra menyebut angka Rp 500 juta. Dana sebesar itu dikumpulkan dari beberapa sponsor.

Malam kian larut, pengunjung pun tambah membludak. Jumlahnya ditaksir mencapai 50.000 orang. Mereka menyesaki ruas Jalan Dago, dari simpang Jalan Dipatiukur hingga perempatan Jalan Merdeka. Saking padatnya, laju kendaraan yang melintas terpaksa merayap, dan harus membelok di perempatan Jalan Tamansari. Sebab, mulai dari situ hingga persimpangan Jalan Merdeka, jalan tertutup bagi kendaraan.

Bagi Evie, gadis mungil yang malam itu tampil modis, sebetulnya Dago Festival tak ada bedanya dengan suasana Dago pada malam-malam sebelumnya. Ada pentas musik, kafe tenda yang menyajikan beragam makanan, hilir mudik mojang dan bujang, serta pengamen jalanan. “Mungkin bedanya, jumlah pengunjungnya yang lebih berjibun,” katanya.

Bersama teman-teman kuliahnya, Evie memang tak pernah absen menghabiskan malam Minggunya di sana. “Ya, sekadar nongkrong, menghilangkan penat setelah sepekan belajar,” ujar mahasiswi Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, itu. Jalan sepanjang empat kilometer yang membentang dari pusat kota ke arah utara kota Bandung itu memang jadi pilihan buat nongkrong anak muda.

Boleh dibilang, Dago menjadi penerus legenda Jalan Braga yang begitu sohor pada zaman penjajahan dan awal kemerdekaan. Kala itu, Braga menjadi tujuan para pelancong. Mereka bisa minum teh di beranda hotel sambil cuci mata. Menyaksikan kemolekan mojang Bandung yang hilir mudik berkebaya dan ber-kelom geulis. Banyak pelancong, termasuk meneer Belanda, yang dibuat kepincut.

Saking moleknya, menurut “kuncen Bandung” Haryoto Kunto (almarhum) dalam bukunya, Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, sampai-sampai ketika itu moto pariwisata Bandung berbunyi: “Don’t come to Bandung if you left a wife at home!” Jika “pesan” ini dilanggar, bisa-bisa istri di rumah terlupakan, karena sang suami terjerat neng geulis.

Nah, zaman kiwari, tempat mejeng neng geulis itu bergeser ke Dago. Mereka tetap tampil modis. Namun, yang membalut tubuh mereka tentu tak lagi kain kebaya, melainkan celana jins, baju tank top, dan sepatu kets. Kendaraan yang mereka tumpangi pun tak lagi delman, tapi mobil mengilap keluaran teranyar.

Dibandingkan dengan Braga, kawasan Dago memang lebih nyaman. Ruas jalannya lebih panjang. Terdiri dari dua jalur, dengan pemisah jalan di tengahnya. Lebar setiap jalur sekitar lima meter. Suasananya pun lebih teduh berkat pohon tanjung dan ki hujan yang berjejer tegak di sepanjang jalan.

Awalnya, kawasan yang punya nama resmi Jalan Ir. H. Juanda ini tak berbeda dengan jalan lainnya di kota Bandung. Wajah Dago, kata Rahman, pedagang batagor (bakso tahu goreng) yang sudah 10 tahun mangkal di pojok Jalan Ganesa, mulai berubah sejak 1998. Ditandai dengan menjamurnya kafe tenda di sepanjang bahu jalan.

Beraneka menu makanan dan minuman ditawarkan. Mulai yang tradisional, seperti jagung dan ketan bakar serta bandrek, hingga yang modern, semisal steak, burger, serta milkshake. Sejak itulah, sepanjang malam –terutama malam Minggu– Dago seakan tak pernah tidur. Menjadi ajang gaul kawula muda. Mereka menghabiskan malam sambil melahap makanan atau sekadar mejeng di pinggir jalan.

Biasanya mereka berkelompok, berdasarkan kegemaran yang sama pada satu jenis kendaraan. Mereka memarkir tunggangannya dengan rapi. Ada kelompok penggemar VW kodok, Civic Nouva, serta Mercy tua. Pemilik sepeda motor pun tak mau ketinggalam. Mulai kelompok penggemar Vespa, Honda bebek tahun 1970-an, hingga motor tua seperti Norton dan BSA. Mereka seakan ingin pamer tunggangan yang sudah dipermak habis.

Bagi pasangan yang sedang mabuk cinta, Dago pun menawarkan suasana romantis. Ketika mobil berhenti di lampu merah atau melambat akibat macet, sang arjuna bisa membeli setangkai mawar yang dijajakan di sepanjang jalur pemisah. Untuk mendapat mawar berbalut plastik tipis dengan ikatan pita di tangkainya, cukup merogoh kocek Rp 3.500.

Bunga mawar beraneka warna itu didatangkan dari Desa Cihideung, Lembang, sekitar 20 kilometer arah utara kota Bandung. Bagi Mak Onah, satu dari puluhan penjaja bunga, hasil berjualan mawar cukup membuat dapurnya ngebul. Untuk satu tangkai, katanya, “Saya dapat untung lima ratus perak.” Jika sedang hari baik, Mak Onah bisa menjual hingga 50 tangkai semalam.

Bila malam Minggu tiba, Mak Onah mesti bersaing dengan penjual dadakan yang usianya jauh lebih muda dan parasnya kinclong. Mereka adalah sekelompok mahasiswi yang menjajakan mawar dengan tujuan mengumpulkan dana. “Untuk kegiatan kampus,” kata Henny, mahasiswi Unpad, yang malam itu berjualan mawar bersama teman kuliahnya.

Lain halnya dengan Devi dan kawan-kawan. Mereka lebih memilih jadi pengamen untuk mengumpulkan recehan dari pengendara yang lewat. “Daripada bete di rumah, mendingan suka-suka sambil dapat uang,” kata cewek yang baru masuk perguruan tinggi swasta di Bandung ini.

Daya pikat Dago makin bertambah dengan kehadiran beberapa factory outlet (FO) yang menyediakan busana merek terkenal berharga miring. Tak kurang dari “raja” FO, Perry Tristianto, membuka dua gerai di sana. Rich and Famous buat pembeli kalangan menengah, dan Happening Outlet lengkap dengan kafenya untuk kalangan berduit tebal. “Dago merupakan aset yang sangat laik jual,” kata pemilik enam FO di Bandung itu.

Hampir tiap pekan mobil berpelat nomor B (Jakarta) memadati areal parkir setiap FO. Para pengusaha hotel pun kecipratan rezeki. “Tiap akhir pekan, hotel kami penuh,” kata Erna Djanulum, Public Relations Hotel Panghegar, kepada Sulhan Syafi’i dari Gatra. Hotel bintang empat di Jalan Merdeka ini memiliki 190 kamar.

Udara malam Dago yang dingin pun menjadi hangat oleh kehadiran stasiun radio yang mengkhususkan segmen pendengarnya anak muda. Misalnya Oz, Rase FM, Ardan, Ninetyniners, dan Hard Rock FM. Setiap malam Minggu, mereka mengusung peralatan siarannya untuk cuap-cuap langsung dari pinggir Jalan Dago.

Radio Ardan, misalnya, memboyong cyber mushing stage seharga Rp 250 juta dan cyber obee van seharga Rp 500 juta ke halaman parkir FO Dago Stock Eksport. “Kami sudah teken kontrak dengan sponsor untuk tampil on air di Dago selama setahun,” kata Dewan PiaR dari Ardan. Pada Dago Festival kali ini, Ardan menggelar “Ardan Asereje Dance Competition”. Tak tanggung-tanggung, mereka juga memanggungkan Fatur, Java Jive, dan Tofu.

Hal yang sama dilakukan radio Ninetyniners, yang mengambil tempat di pelataran Dago Plaza. Sudah tak terhitung grup band yang sudi manggung bersama radio yang sedang naik daun ini. Termasuk band tenar asal Bandung, /rif.

Adapun Hard Rock FM, selain menghadirkan Mocha Band, juga menggelar aneka kuis yang dipandu Neng Tikeu, pendamping Indra Safera dalam acara “Ngobras” di sebuah stasiun TV. Semua suguhan hiburan ini gratis. Sehingga, Indah dan Wina pun bisa bergoyang tanpa merogoh kocek. []

Tulisan ini pernah dimuat di rubrik Astakona, GATRA, Nomor 09. Senin 13 Januari 2003.


Sketsa: Untuk Seorang Ayah, Paman, Kawan, BSH

Oleh Iwan Piliang, Literary Citizen Reporter

“Profesi wartawan tak bisa dibeli.” Budiman S Hartojo (BSH), wartawan senior dan penyair, mantan wartawan Tempo, ini, Jumat pekan lalu dimakamkan. Ia berpulang di usia 71 tahun. Teman, ayah, paman, sekaligus “lawan” diskusi, BSH, begitu ia akrab disapa, menjadi kamus berjalan wartawan muda. Sebuah penggalan kenangan bersama pendiri Persatuan Wartawan Indonesia Reformasi (PWI-Reformasi) ini; tauladan etika dan prinsip jurnalisme, tempat bersandar saling-silang belajar; antara senior dan yunior. Sebuah situasi nan kini sirna di meja redaksi media.

JUMATsiang menjelang shalat Jumat, 12 Maret 2010 Mendung menggayut. Matahari malu-malu dibalut awan. Hujan titik rintik. Keranda jenazah Budiman S Hartojo, kelahiran Solo, berpulang Kamis, 11 Maret 2010 pukul 14.22, itu, dibawa ke masjid di sebelah halaman taman rumahnya,di bilangan Jati Bening II, Bekasi, Jawa Barat.

Di saat itulah ingatan saya menerawang kepada sosoknya. Ketika saya pindah ke Jakarta 1979, dari Pekanbaru, Riau, semester akhir SMP, dan tinggal di bilangan Karet Belakang, Karet Kuningan, Jakarta Selatan. Saya tak menduga bertetangga dengan seorang wartawan Tempo, majalah yang edisi bekasnya suka saya bulak-balik, beberapa artikel kadang saya baca.

Menuju kelas 1 SMA, intensitas perjumpaan dan ngobrol dengan BSH meninggi. Apalagi kedua orangtua saya yang sudah duluan tinggal di Jakarta, sejak 1973, lebih dulu mengenal BSH dan isterinya Djati Budiman, sosok perempuan cantik, kelahiran Cirebon.

“Ibumu kalau bikin rendang enak sekali,” ujar BSH.

Entah karena pintar memuji, setiap ibu saya memasak, termasuk gulai kepala ikan, pastilah BSH tidak terlewatkan. Bahkan sup tulang tungkai sapi, yang berisi sum-sum, menjadi santapan kegemaran BSH. Bisa Anda bayangkan kolesterolnya? Sayalah kebagian mengantar ke kediaman kontrakannya. Sepenggalah saja jaraknya dari tempat kami.

Tukar-menukar penganan acap kali. Di jeda sowan itu, ada saja obrolan dengan BSH. Dari situlah satu dua bukunya, suka saya pinjam dari perpustakaan pribadinya. Banyak buku sastra, termasuk majalah Horison yang lama. Buku kumpulan puisinya tak pernah terlewatkan.

Intensi mengobrol dengan BSH, seingat saya ketika saya kelas dua SMA, soal pembredelan Tempo. Saya banyak mendengar beragam masalah liputan Tempo, yang tak disukai oleh rejim Ordebaru, kala itu. Juga soal internal majalah berita mingguan itu. Di hari-hari deadline, terkadang ia meminta saya tidur di kamar depan rumahnya, karena Tante Djati, seorang diri di rumah. Mereka tak punya pembantu, juga belum dikaruniai anak keturunan hingga akhir hayatnya.

MOBIL jeep Toyota Land Cruiser hardtop, coklat muda itu, baru saja dipasang rak di atas plafonnya. BSH menaikkan barang berukuran besar. Untuk ukuran badan kecil, pendek, dengan napas tersengal, tak tega melihatnya. Barang bawaan itu umumnya buku. Di medio 1980-an itu, BSH harus pindah ke Bandung, menjadi Kepala Biro Tempo, Bandung, Jawa Barat.

Mengenakan topi, bak Mafioso Italia, lengkap dengan jas kotak-kotak dengan bagian siku berornamen bulatan coklat, saya tertawa geli melihat sosok mafia kecil seakan tenggelam di balik lingkaran setir mobil yang besar. Kendati duduknya sudah diganjal bantal, badan BSH tetap tak kunjung meninggi.

Saya, ayah, dan ibu, melepasnya berangkat menuju jabatan baru. Jadilah kediamannya di Jakarta, bak rumah kami. Saya sehari-hari menunggui. Beragam buku koleksinya, menjadi santapan hari-hari. Ada dosa terasa di dada saya. Satu dua buku koleksinya ada yang terbawa, lalu dipinjam kawan, dan tak kembali. Dari sosoknya saya begitu memahami pentingnya literasi.

Dosa berikutnya, ketika mobil dinasnya sudah berganti dengan Daihatsu Charade merah. Suatu waktu ia pertama dapat jatah dari Tempo menunaikan hajji. Jadilah saya menemani Tante Djati, dan hari-hari wira-wiri dengan mobil merah itu, mejeng.

Pertemanan BSH dengan sumber berita luas. Kendati kritis terhadap pemerintahan Ordebaru, sosok macam almarhum Rudini, mantan Kasad, secara khusus mengirim ucapan selamat lebaran pribadi: foto Rudini dan isteri lengkap dengan tanda tangan pribadi, salah satu yang saya ingat dipajang di meja rumahnya. Ia berkawan dengan banyak orang, terutama seniman yang suka mangkal di Taman Ismail Marzuki (TIM). Ia memilih bersahabat dengan banyak anak muda.

Suatu hari di Bandung. Saya melihatnya bekerja. Suara mesin tik-ketak-ketuk. Suaranya keras, setajam tarikan pena kalau ia menuliskan sesuatu, termasuk tanda tangannya dengan haruf B dominan bertekanan. Entah karena melihat suara ketikan itu pula, hingga kini, kolega saya programmer Anthony Seger, selalu protes akan gaya saya mengetik di komputer.

Di Bandung saya melihat wartawan muda seperti Bambang Harimurti, kini Pimpinan Umum Tempo, dan banyak nama lain yang beredar di dunia penerbitan di Indonesia. Sosok Moebanoe Moera, kini Redaktur Pelaksana TRUST, dulu juga di Tempo, yang kebetulan berdiri di kanan saya saat men-shalatkan jenazah BSH, mengaku sebagai salah satu muridnya.

BSH mengingatkan saya akan ejaan. Hingga ia berpulang, penulisan ejaan saya tak pernah 100 % benar. Padahal, ejaan salah satu kunci profesional, begitu BSH selalu mewanti-wanti.

Maka ketika saya berkuliah di jurusan komunikasi massa, sebuah buku tipis Ejaan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar, terbitan Balai Pustaka, yang menjadi acuan kami satu semester, hanya mengantarkan nilai kuliah di angka do-re-mi. BSH terpingkal-pingkal. “Maka jangan anggap enteng urusan ejaan,” ujarnya. Seingat saya, itulah tawa heboh sosok yang suka bercanda ini.

Acap pula dia memperlihatkan tulisan yang hendak ia serahkan ke redaksi Tempo, ke saya untuk dibaca. Dan selalu hampir tak ada cacad salah tulis. BSH mengingatkan menuliskan di menyatakan tempat, seperti di muka dipisah. Beda dengan penulisan dikerjakan, kata sifat. Hingga kini hal remah begini masih alpa dilakukan, tak terkecuali wartawan tua apalagi muda. Dia akan senang hati jika kita ikut mengoreksi tulisannya.

Suatu saat setelah pensiun di Tempo, BSH, masih kiri kanan berusaha bekerja menulis. Ia menulis untuk majalah Pantau, 2003. Naskahnya tak keberatan diedit oleh sosok muda seperti Andreas Harsono.

Kecuali ketika Andreas mempertanyakan, mengapa tak ada tanda-tanda kekerasan dalam ‘sarang teroris’ di Pesantren Ngruki?

“Lah saya itu reporter, apa yang saya lihat, itu yang saya tulis,” jawab BSH.

BSH bilang reporter itu profesi wartawan seumur hidup.

“Redpel, Pemred, itu kan hanya urusan jabatan.”

Tulisan BSH di Pantau, ditempatkan oleh kawan-kawan jurnalis sebagai salah satu literair yang bagus. Penulisan literair itu pulalah yang kemudian menjadi pendalaman saya.

“Dan menulis macam ini, bukan barang baru. Tahun dua puluhan, Adi Negoro sudah menulis dengan langgam literair dalam Buku Melawat ke Barat.”

KETIKA menginjakkan kaki melangkah ke masjid di Jumat pekan lalu itu, sambil mengiringi keranda jenazah BSH, ingatan saya masih melayang akan kediamannya. Kendati bersahaja, rumah itu didesain oleh arsitek Adhi Moershid, arsitek yang pernah mendapatkan Aga Khan Award atas karyanya untuk Masjid Said Naum, Jakarta.

Suatu hari masih di medio 80-an, ia memperlihatkan sketsa di kertas putih, goresan tangan sang arsitek. BSH bermimpi mewujudkan rumahnya itu, kendati tak tahu harus membangunnya melalui rejeki darimana. “Baguskan desainnya? “ katanya. Saya melihat matanya menerawang, bermimpi.

Di kediamannya itu pula pernah suatu hari saya menemani sosok almarhum Prof Dr. Saleh Poeradisastra, ahli sejarah cum sastrawan, yang sedang menulis buku. Ia ingin di tempat sepi tak terganggu. Saya naik angkot biru menemani Prof., Saleh ke sana. Jalanan becek berlubang. Kini walaupun sudah beraspal dan beton, jalanan seputar rumah masih ada bolong-bolong. Di rumah yang masih standar KPR kala itu, Buyung Saleh, begitu sang Profesor akrab disapa menyelesaikan terjemahan Darul Islam, misalnya.

Akibat perkenalan dengan Buyung Saleh, suatu hari saya ketika bekerja sebagai reporter di majalah Matra, membutuhkan referensi urusan asal muasal kata Menteng. Kami sedang melakukan liputan panjang kata Menteng. Amarzan, sebagai Redpel Matra, mengingatkan saya agar menemui Saleh. Benar saja. Saleh menyebutkan kata Menteng dari nama orang. Namun ia enggan dikutip dulu sebelum ada referensi.

Di suatu Kamis petang, Saleh bersandal jepit, membawa tas kresek berisi buku tebal berbahasa Belanda. Ia langsung menuju meja saya di mana Matra kala itu berkantor di Setiabudi Building II, Jakarta Selatan. Saleh dengan peduli menterjemahkan bagian penting bagi reportase saya. “Nama Menteng itu dari nama tuan tanah, Daeng Menteng,” ujar Saleh. Di saat VOC bubar, malamnya Gubernur Jenderal Belanda di Batavia, mengembalikan tanah-tanah tuan tanah.

Itulah gunanya senior, memberi arah, mengantarkan ke sumber yang bertanggung-jawab. Sejak saya berkecimpung tulis menulis, tak menemukan lagi bagaimana sosok macam Prof Saleh, punya tanggung jawab literasi besar sebagai sumber.

Dan pergumulan saya ke dunia tulis-menulis sebagai profesi, tidak terlepas dari katebelece BSH. Setelah saya menjadi reporter lepas majalah Swasembada (kini SWA), BSH membawakan surat untuk diberikan kepada Kemala Atmojo, Redaktur Pelaksana, di kantor majalah Zaman, sebagai bagian dari Tempo, kala itu di Proyek Senen. Di 1985 itu, Zaman akan berganti wajah menjadi Matra. Setelah mendapat penugasan dari Sori Siregar, Redaktur Zaman yang juga penulis cerpen, saya masuk sebagai list reporter lepas, hingga kemudian bekerja full di Matra.

Suatu petang, BSH memanggil saya, yang lagi mengetik laporan di Matra. Seperti biasa ia bersemangat dan tersenyum.

“Ini kenalkan Buyung, saudara juga.”

Sosok yang dikenalkan menjawab, Kemal.

“Ini Kemal Efendi Gani, dari Solo, orang Padang tapi lebih Jawa,” tutur BSH tertawa.

Ia menenteng Kemal bertemu Bondan Winarno – – kini terkenal dengan Maknyus itu — kala itu Redpel SWA, yang kantornya bersebelahan dengan kami. Tempo kala itu baru punya Gedung baru di seberang kami di HR Rasuna Said.

Kemal kini Pemimpin Redaksi SWA. Maka ketika saya melihat Bambang Halintar, Pemimpim Umum dan Perusahaan SWA, yang dulu juga di Tempo, hadir di antara pelayat, saya bertanya, ke mana Kemal?

Pertanyaan yang sama, agaknya, juga ditanyakan kawan-kawan kepada saya, “Ke mana Iwan?” di saat BSH dirawat di RS Thamrin, Jakarta Pusat.

Di saat saya di Abu Dhabi, Medio Februari 2010, SMS dari tanah air masuk. Eddy Mulyadi, mantan Sekjen PWI-Reformasi mengabarkan, “Jenguklah BSH, keadaannya mengkuatirkan.”

Dalam urusan SMS inilah saya sebagai anak, pernah melawan BSH, melarangnya berkirim SMS. Karena pernah menimbulkan salah pengertian di saat saya menjabat Ketua Umum PWI-Reformasi. Lebih jauh, saya pernah menghitung uang SMS yang dikeluarkannya untuk memotivasi wartawan jangan menerima amplop, termasuk menggerakkan organisasi PWI-Reformasi, jumlahnya sudah bisa mengganti mobil Daihatsu Classy Putih tuanya ke Kijang terbaru. Dan hingga akhir hayat, ia hanya mampu mengganti kelir mobil itu dari putih ke hitam. Bukan mobil baru.

Sekembali dari Abu Dhabi, bahkan telah tiga Sketsa saya tuliskan, saya tak kunjung juga menjenguk BSH ke rumah sakit. Entah mengapa jauh-jarak seakan melilit bak antara kutub utara dan selatan, langkah saya tak kunjung sampai ke rumah sakit. Lalu datanglah kabar melalui SMS bertubi-tubi dari kawan-kawan jurnalis, bahwa BSH sudah berpulang.

TANAH di pusara baru saja ditutup. Abdul Hakim, adik kandung BSH memberikan sambutan. Saya teringat akan bagaimana BSH mendidik adik kandungnya itu dulu bekerja. Abdul Hakim pernah dari satu rumah ke rumah lainnya mengukur jalanan Jakarta, mendagangkan buku terbitan Tira Pustaka. Seingat saya BSH hanya memberikan ongkos bis saja ke Takim, begitu kami menyapanya.

Saya pernah bertanya, makan siangnya bagaimana?

“Ia harus cari sendiri,” ujar BSH.

Maka sering ibu saya menawarkan makan seadanya kepada Takim, di saat bajunya lepek basah pulang kerja di era 80-an itu. Di Kamis malam di saat jam sudah menunjukkan 00.30, setelah 20-an tahun tak bertemu, Takim, menjabat tangan saya. “Sekarang saya jadi ustad,” katanya. Senyum dan tawa khasnya masih seperti dulu. Masih ingat dalam benak saya, hampir tiap malam Takim mengaji, membaca Al Quran.

Usai Takim berkidmat, kerabat diminta bicara terhormat. Toriq Hadad, Pemimpin Redaksi Tempo, mengenakan baju koko putih, berkopiah, di sebelah saya menatap, mengangguk, seakan meminta saya tampil. Adalah afdol Toriq mengucapkan kata akhir.

“Yang kita makam kan ini adalah guru kita, guru banyak kawan-kawan jurnalis,” ujar Toriq.

Sekelebat ingatan saya ke November 2008, di mana saya berada di liang lahat menutup pusara ibunda saya. Dari sudut mata, saya tatap BSH kala itu berkopiah haji, berjaket biru bersepatu karet putih, menatap nanar.

Ia ucapkan duka menjabat saya. “Ibu Agusti orang baik, pasti diterima di surganya Allah.”

Kala itu juga kalimat yang sama saya tabalkan dalam hati: Ya Allah, Budiman S Hartojo, orang baik, semoga Surga-Mu imbalannya. Amin.

Di Minggu, 21 Maret 2010, petang kami sekeluarga datang ke kediaman BSH. Menduga ada tahlilan, sebagaimana kebiasaan banyak dilakukan masyarakat. Ternyata menurut Tante Djati, isteri almarhum, mereka tidak mengadakan.

Keesokan paginya bangun tidur, isteri saya menangis sesenggukan.

Ada apa?

“Kok Pakdhe tidak ditahlilkan?”

Pakdhe adalah panggilan bagi ketiga anak kami terhadap BSH.

Saya jawab, pasti banyak orang mendoakan, banyak cara berdoa, termasuk malaikat akan mendoakan.

“Iya, ingat bagaimana dia bermain dengan anak-anak, mengajak anak-anak menggambar, sedih,” ujar Vivi, isteri saya.

Saya pun terbawa perasaan, bertanya dalam hati, mengapa sepi kawan dan kerabat mengantar BSH ke pusara, padahal begitu besar namanya? Jarak, waktu, dan kesibukan, telah membuat segalanya jauh. Sama dengan sok sibuknya saya, sehingga alpa hadir di saat Oom Bud – – begitu saya menyapa – – masih dirawat. []

Tulisan ini dapat pula dibaca pada blog penulisnya, di: http://blog-presstalk.com


Sketsa PEA I: Perjalanan Kemanusiaan: Ziad di Tanah Syeh Zayed

Oleh Iwan Piliang, Literary Citizen Reporter

Sebulan saya di Abu Dhabi, Persatuan Emirat Arab (PEA), sejak medio Januari 2010 hingga Februari. Perjalanan membawa pulang Ziad Salim Zimah, 44 tahun, yang semula bermasalah keluarga di Abu Dhabi, tertahan urusan legal, tak bisa balik sejak 2002. Adalah Wahid Supriyadi, Dubes RI di PAE, memfasilitasi saya memediasi masalah, sehingga Ziad dapat pulang bersama saya, bertemu kembali dengan ibunya sakit tua, pernah menangis darah merindukan anaknya. Sebuah literair pembelajaran kesabaran, jejak hukum dan kemanusiaan.

PADA 28 Januari 2010 pagi pukul 9.00 waktu Abu Dhabi, Persatuan Emirat Arab (PEA) Di meja makan Dubes RI di Wisma Duta, di kawasan Villa, pemukiman baru, Muhammad bin Zayed City, sudah terhidang ayam, tempe dan tahu goreng, tumis pare dirajang tipis dengan cabe hijau. Kerupuk udang di dalam toples. Sarapan pagi itu, kali kedua saya ke sana Setelah sepekan di Abu Dhabi, saya sempat pulang dulu ke Jakarta seminggu. Pagi itu dengan Wahid Supriyadi, Dubes, kembali kami sarapan bersama.

Saya melihat ke kanan ke luar jendela. Di halaman samping, makin hijau tanaman sawi – – campuran mie ayam seperti di Jakarta – – daun singkong, tiga batang pepaya, tumbuh sepinggang. Daun bawang sup dan serai juga menghijau. Udara di luar 19 derajat celcius, mengingatkan saya akan kawasan Puncak, Jawa Barat.

Cabe rawit di meja di piring kecil, berikut pare yang ditumis, sedang saya lahap, juga hasil kebun samping, tidak begitu pahit. Justeru rasa pedas menyengat. Saya berkeringat.

“Syukurlah, Anda kembali, bisa menjembatani solusi, membantu Ziad bisa pulang, tinggal proses hukumnya diurus,” ujar Wahid.

Ziad yang dimaksud Wahid adalah sosok pria Indonesia sebaya saya. Ia pada medio 2002 ke Abu Dhabi menemui adiknya Firza, yang telah menikah dengan Saleh Alkatiri, warga negara PEA. Kehadiran Ziad ke sana, untuk mencoba mendamaikan keluarga sang adik. Di mana Firza menyatakan sudah tak kuat mepertahankan rumah tangga, karena acap menerima kekerasan fisik di rumah tangganya.

Berbeda dengan Manohara, ketika terjadi kekerasan fisik padanya belum memiliki keturunan. Tetapi pada kasus Firza, telah diperoleh dua pasang anak. Karenanya, atas keinginan Saleh, suami Firza, meminta Ziad berusaha membujuk adiknya melanggengkan perkawinan mereka.

Kepada saya, Ziad menuturkan, ”Firza bilang dia sudah sangat tak kuat,” kata Ziad pula mengutip Firza, “Mau saya paksakan meneruskan perkawinan, tetapi kalau nanti mendengar saya misalnya lompat tak kuat gimana?” Ada nada ancaman bunuh diri di mulut Firza ke kakaknya.

Mendengar kalimat adiknya itu, Ziad tak dapat berbuat apa-apa. Sang adik ipar, Saleh Alkatiri, salah seorang pengusaha papan atas di sana. Bisnisnya salah satunya menjadi vendor pakaian militer dan polisi PEA. Firza sebagai isteri kedua Saleh. Ia “minggat” pulang ke Indonesia, meninggalkan anaknya yang kini sudah di tingkat SMU dan SMP itu, bersama sang paman, Ziad di Abu Dhabi.

Malang tak dapat diduga, untung belum dapat diraih, Ziad kemudian diperkarakan oleh Saleh ke pengadilan di Abu Dhabi. Ia dituduh menggelapkan uang semasa perjalanan perkawinan dengan adiknya. Tidak tanggung-tunggung tuntutannya mencapai US $ 7 juta. Ziad yang sudah berpacaran serius dengan seorang dokter gigi cantik di Jakarta itu, dikenal keluarganya amanah, seketika seakan menghadapi tembok buntu. Sebab, begitu menghadapi proses hukum, seseorang menjadi tergembok meninggalkan PEA.

“Pernah saya mencoba pulang pada 2002 dari Dubai, tapi passpor saya langsung di blok,” kata Ziad.

Ia lalu berhadapan dengan setidaknya 5 kasus yang kemudian dituduhkan Saleh Alkatiri. Nun di setiap ujung kasus pengadilan, Ziad dinyatakan tidak bersalah. Tetapi begitu satu kasus menyatakannya bebas, kasus berikutnya sudah menghadang. Satu kasus memakan tempo bahkan hingga dua tahun. Lantas, keputusan akhir mahkamah pada awal 2009 – – – setelah 7 tahun berperkara – – menjatuhkan vonis kepada Firza (bukan untuk Ziad) mengganti kerugian mantan suaminya sebesar US $ 500.000.

Keputusan pengadilan itulah yang membuat Ziad seakan tersandera entah hingga kapan di PEA.

Bahkan setelah Saleh Alkatiri meninggal dunia pun pada September 2009, sebulan kemudian sang adik, Hasan Alkatiri melaporkan Ziad melakukan pidana memalsukan dokumen. Lagi-lagi kenyataan ini membuat Ziad kian menghadapi tembok baja untuk bisa ke luar dari negara penghasil minyak ketiga terbesar dunia itu.

Bila dilanjutkan setori ini, sebenarnya menceritakan ketidak nyamanan tentang diri sendiri, keluarga sendiri, bangsa sendiri. Contoh kasus, selama ini passpor Ziad tidak bisa diperpanjang. Alasannya, menurut penuturan Ziad, pernah ia datang ke KBRI, dikatakan kalau KBRI belum bisa memperpanjang karena ia masih bermasalah hukum. Keterangan demikian tentu dibantah oleh KBRI. Justeru sebaliknya, yakni, Ziad tidak muncul-muncul ke KBRI.

“Bagaimana saya datang, baru sampai di gerbang KBRI, tidak dibukakan pintu, ditolak masuk oleh petugas KBRI, ia bilang urusan kamu dengan Saleh Alkatiri belum beres,” tutur Ziad.

Laku saling menyalahkan ini tentu berlangsung di era sebelum Wahid Supriyadi sebagai Dubes.

Passpor Ziad baru dapat diperpanjang awal 2010 ini. Hal itu terjadi ketika Teguh Wardoyo, Direktur Perlindungann Warga Negara Indonesia (PWNI) di Deplu mengirim stafnya, Iskandar, awal 2010 ke Abu Dhabi. Ziad dapat ditemui Iskandar dan kala itu pula paspornya diperpanjang KBRI. Namun Iskandar tak bisa membawa pulang Ziad, karena memang urusan hukumnya belum tuntas.

Adapun Teguh, tergerak, setelah mendapatkan kontak dari Muhammad Rahmad, staf ahli Fraksi Demokrat di DPR. Rahmad saya kenal ketika saya memverifikasi kasus Pembunuhan David Hartanto Wijaya di Singapura. Rahmad kala itu salah satu staf KBRI Singapura. Saya meminta bantuan Rahmad, setelah suatu siang bertemu ibu Ziad

Sosok ibu Ziad, wanita tua, berkulit putih, dengan jalan agak membungkuk. Ia kena penyakit gula, jantung dan ginjal. Kerinduan mendalam kepada anaknya yang tak bisa ia temui selama 8 tahun, menyiratkan kepedihan mendalam. Ketika saya bertemu untuk ketiga kali ketika sempat pulang ke Jakarta sepekan, saya melihat mata kanan ibu Ziad mengeluarkan darah. Rupanya kepedihan tajam, telah mebuat pembuluh darah di matanya pecah. Seumur-umur dalam hidup saya, baru kali itulah saya menemui fakta pepatah: menangis darah! Ibarat melihat ibu kandung sendiri, mebulatkan tekad saya, Ziad pasti bisa saya bawa pulang.

Di dalam verifikasi saya di lapangan, Saleh Alkatiri, memang dekat dengan orang-orang di KBRI, bahkan mantan supir Saleh, kini juga menjadi driver KBRI. Saleh juga punya anak yang bekerja di pengadilan Abu Dhabi, punya relasi luas dengan detektif kepolisian. Kenyataan inilah tampaknya, kehadiran saya, sebagai mediator, setidaknya menjadi pemecah kristal kebuntuan.

Sebuah kejadian pernah pula menimpa Ziad. Oleh oknum kepolisian Abu Dhabi, ia pernah mendapatkan perlakuan kasar. Sejak itu ia lebih banyak “bersembunyi” mengurung diri. Rutinitasnya, sebagaimana ia paparkan: bangun pukul 3 dinihari, shalat tahajud. Lalu memanti waktu subuh, shalat, berzikir, tidur, bangun pukul 10, lalu shalat dhuha, berzikir menanti zuhur, dan seterusnya demikian di antara waktu shalat. Begitu monoton, percaya atau tidak, ini dilakoni Ziad selama 8 tahun. Rasa takut menghantui hari-harinya. Kejiwaan Ziad mengalami sindrom ketidak-percayaan kepada orang lain.

Pintu solusi kemudian seakan terbuka, setelah sepekan sebelumnya saya mara ke Abu Dhabi. Adalah dari Hasan Alkatiri, adik almarhum Saleh Alkatiri, saya mendapatkan keterangan, bahwa tuntutan Saleh terakhir kepada sebuah rumah yang dibeli untuk keluarga ayahnya, WNI, yang ada di Indonesia. Properti itu masih dikuasai keluarga Firza. Dan jika aset itu dikembalikan, ahli waris akan mencabut semua tuntutan kepada Ziad, dan Ziad boleh pulang ke Indonesia. Urusan khalas (selesai).

DI KEPOLISIAN Khalidiyah, Abu Dhabi, medio Januari 2010. Saya bersama Amin Appa, staf lokal bagian konsuler di KBRI, mencoba menelusuri kasus dan berkas Ziad. Mengingat semua berkas itu harus diurut dan dicabut di kepolisian sehingga black list-nya di imigrasi dapat dihapus dan ia bisa pulang.

Di siang mentari terik tapi udara dingin itu, kami sengaja meninggalkan Ziad di mobil Toyota Innova – – Kijang Innova di sana 2.700 cc mesinnya – – kuatir Ziad yang selama ini menghilang justeru akan ditangkap polisi. Logikanya jika di dalam mobil berpelat CD, tak bisa ditangkap siapapun, ada ranah kekebalan diplomatik.

Setelah berkas Ziad kami perlihatkan ke lima orang investigator dengan proses menunggu mencapai sejam, investigator meminta Ziad dihadapkan ke mereka. Dengan berpura-pura memutar mobil, seakan menjemput Ziad, kami kembali membawanya. Lama kami menunggu, waktu magrib tiba. Ziad rupanya dibawa ke ruang bawah di sel-kan dengan kaki dirantai. Saya begitu kuatir. Keadaan ini kian memperburuk kejiwaan Ziad.

Untunglah kala itu Hannan Hadi, staf konsuler KBRI berkenan datang. Ia mencoba berbicara dengan Hasan Alkatiri, adik Saleh. Dari dialog itu saya menangkap Hasan berkenan mencabut laporan pidana di kasus terbaru, di mana Ziad dilaporkannya memalsukan dokumen. “Nah jika ada kasus hukum demikian, membuat KBRI sulit berbuat. Satu-satunya cara, mendekati pihak yang memperkarakan, menyelesaikan,” ujar Hanan Hadi.

Al hasil, pada pukul 21 malam, Ziad dapat kami bawa pulang dengan jaminan KBRI, dan paspornya ditinggal di kepolisian. Dan mulai hari itu Ziad diminta KBRI tinggal di KBRI. Saya masih ingat hari itu Kamis malam Jumat – – hari di mana libur di PAE. Saya pulang lega ke Wisma Duta. Keesokan pagi, terjadi kejutan, Ziad menghilang.

Komunikasi dengan Ziad sirna. Agaknya, pengalaman singkat dirantai di polisi itu, sebagaimana saya duga, kian membuatnya trauma.

Padahal, dari body language Hasan Alkatiri saya menangkap kesan damai. Ketika ia pertama datang ke lantor polisi di depan saya, saya lihat Hasan yang berpakaian kandura putih panjang, duduk jongkok di kaki Ziad meminta maaf. Dalam bahasa Arab. Bahkan ketika rantai di kaki Ziad dilepas dan ia boleh pulang, Hasan merangkul, memeluk Ziad. Konon sikap demikian sebagai budaya Arab di urusan khalas. Sinyal itu yang membuat saya optimis. Tetapi kaburnya Ziad, membuat harapan pudar. Saya lemas. Saya memutuskan pulang ke Jakarta.

Selama 8 tahun ini memang Ziad merahasiakan keberadaannya, juga komunikasinya melalui mobile phone, sangat kuatir dilacak polisi. Ketika kembali ke Jakarta saya yakinkan keluarga Ziad. Alhamdulillah komunikasi akhirnya bisa terjalin kembali antara Ziad dan keluarga.

Aset properti yang diminta keluarga Saleh Alkatiri, senilai Rp 1 miliar dapat saya yakinkan ke pihak keluarga Ziad untuk diserahkan. Toh Ziad, juga atas dukungan KBRI, juga kan dapat dipulangkan, jika seluruh kasus hukum sudah dicabut pihak memperkarakan.

Di depan notaris di Jakarta, keluarga Ziad menyerahkan kunci, sertifikat tanah di bilangan Duren Sawit, untuk saya bawa kembali ke Abu Dhabi.

Dan di pagi saat sarapan bersama Wahid Supyaridi itu, saya sampaikan ihwal penyerahan asset itu sebagai adanya pintu solusi kasus yang merepotkan ini. Atas dasar itulah Wahid menyampaikan kalimat syukurnya.

Akan tetapi, lain padang lain ilalang, mencabut kasus di mahkamah pengadilan PAE, juga mencabut blac list di polisi dan imigrasi, tidaklah macam membalik telapak tangan. Pada tulisan lain tentang perjalanan ini, akan saya tuliskan dalam sesi tersendiri.

WAKTU menunjukkan pukul 09.30. Pagi 28 Januari 2010 itu, saya kembali menumpang mobil dinas Dubes, Mercedes Benz S 350. Di udara yang dingin saya amati, kendaraan kebanyakan dengan kapasitas mesin besar. Ada mobil seperti Mercedes Benz CL 65 (6.500 CC), biturbo, dua pintu, yang dipacu di jalur paling kiri – -khusus kecepatan tinggi – – dengan kecepatan 200 km perjam. Jalanan masing-masing 6 jalur, lebar beraspal kokoh massif dan rata. Satu dua Ferrari lewat di kiri kami. Bentley dua pintu, bahkan Roll Royce menjadi biasa di jalanan. Sekelabat lewat Bugatti Veyron hitam merah, persis mobil-mobilan mainan yang dibeli anak saya. Inilah salah satu negeri tempat menyimak manca ragam mobil mewah.

Abu Dhabi kota yang oleh pendirinya, Syeh Zayed, ditabalkan hijau. Adalah keinginan Zayed mengubah gurun berpasir gersang, menjadi hijau raya-raya. Untuk membuat kehijauan itu, di setiap meter tanah, membentang bermeter-meter selang air, baik berukuran besar dan kecil. Di masing-masing pipa ada cerobong air dapat diprogram menyiram otomatis. Aliran pipa air itulah kemudian memberikan kehidupan bagi rumput, bunga, pohonan, termasuk kurma tumbuh hijau di sepanjang trotoar dan pembatas jalan lebar.

Bersama Wiahid Supriyadi, Dubes, kami berdiskusi betapa peluang Indonesia besar merambah pasar PEA. Itulah titik perhatian Dubes saat ini. Di era Wahid ini pula kini sudah mulai masuk investasi langsung ke Indonesia, seperti investor untuk batubara dan jalan kereta api di kalimatan Timur senilaiUS $ 5 miliar.

“Nanti Juni, Garuda mulai lagi terbang ke Amstrerdam, dan transit di Dubai. Kita punya peluang mengirim beragam produk ke sini,” ujar Wahid.

Setiap hari tak henti-henti Wahid menjalin kontak, mencari akses bagi masuknya investasi ke Indonesia.

“Jika terfokus melayani tenaga kerja bermasalah, tidak akan ada habisnya. Sayang jam kerja diplomat habis disibukkan dengan urusan yang tak sesuai dengan kapasitasnya,”

“Lihatlah negeri ini, jangan cuma terfokus di kasus Ziad,” nasehat Wahid.

Saya sependapat dengan Dubes kita ini. Bayangkan setiap hari di banyak KBRI, kini, terutama di Timur Tengah, waktu para diplomat dan staf lokal, habis tersita mengurus TKW bermasalah di rusan yang terkadang remah-remah.

Sebagai contoh, di Abu Dhabi saya bertemua dengan anak, sebut saja Santi, TKW asal Cianjur. Ia baru bekerja 3 bulan, lalu terdampar di KBRI. Katnya ia diperkosa adik majikannya.

Ketika saya tanya, umurnya baru 18 tahun. Lebih parah ia tak mengerti apa itu diperkosa.

Saya tanya badannya diapakan?

“Dada saya diraba. Tetek saya dikenyot-kenyot,” jawab Santi polos. Maaf hal ini saya tuliskan, agar Anda mendapatkan kesan betapa lugu dan polosnya sosok Santi, contoh TKW yang dikirim oleh bangsa ini ke negeri orang.

Lalu?

“Celana saya dibuka.”

Sampai di sini tak tega saya menuliskan, Sidang Pembaca. Intinya dari deskripsi Santi, ia baru hendak dimasukkan “senjata” pria dari belakang. Konklusi, pelecehan seksual terjadi.

Tetapi apakah sudah diperkosa? Wallahuawam. KBRI menghadapi dilema; pertama jika dilaporkan polisi, negara kita pasti disalahkan, mengapa mengirim anak di bawah umur? Santi tak mau pula di otopsi, lebih parah, di benaknya yang ada pulang, minta dipulangkan. Padahal PJTKI yang mengirimnya, konon, illegal pula. Kasus demikian ribuan corak dan ragamnya. Energi diplomat kita terkuras untuk hal demikian.

“India, Pakistan, Banglades yang lebih miskin, tidak mengirim tenaga kerja wanita ke negeri orang, Filipina mengimkan tenaga terdidik seperti kasir untuk supermarket,” kata Wahid. Saya lihat kegemasan di wajahnya.

Saya katakan, tidak akan pernah sebuah bangsa bermartabat, jika memperlakukan para perempuannya, berhamburan menjadi babu di negeri orang, lalu kemudian direndahkan, diperkosa, dilecehkan.

Dalam perjalanan ke kantor KBRI, kawasan Maharba Area Street 32, di pagi hari itu, terlintas di benak saya, bahwa segala masalah TKW di luar negeri, bermula dari laku kita di dalam negeri. KBRI di luar negeri ketiban apes.

Salah satu kegundahan yang sama di benak kami adalah: bagaimana para diplomat di luar negeri waktunya habis di urusan TKW. Mulai dari isu perkosaan, pengiriman tenag kerja di bawah umur.

Setiba di KBRI, saya seakan sudah memiliki pos sendiri. Saya menuju dapur. Di lokasi ini akses wifi untuk internet berjalan cepat. Ada meja makan di mana saya dapat membuka laptop. Dan begitu senangnya saya, Ziad rupanya sudah ada di dapur. Itu artinya, kami bersama KBRI, bisa meneruskan mengurut berkas kasus Ziad, mulai dari mahkamah, polisi, investigator. Sudah saya bayangkan kerja yang melelahkan, membutuhkan kesabaran sekaligus bikin dag dig dug.

Kendati kuatir, hati saya kian mantap dapat membawa Ziad pulang, selain bekal sertifikat tanah yang sudah di tangan, sikap Wahid Supriyadi, Dubes, telah memperlakukan saya di luar dugaan. Ia meberi penginapan lebih dari memadai, makan lebih dari tiga kali sehari jika mau, menyediakan supir, mobil dan penterjemah untuk ke mahkamah. Sikap Wahid ini tentu berbeda dengan apa yang saya alami ketika memverifikasi kasus pembunuhan David Hartanto Wijaya di Singapura – – baca di 17 Sketsa soal David dib log-presstalk.com Saya menduga sikap ini karena keterbukaan berpikir sang Dubes, toh, jika kasus Ziad selesai, artinya menyelesaikan satu dari sekian banyak masalah yang mereka hadapi.

Laku demikian, memang seharusnya diperbuat oleh KBRI di luar negeri, memberi fasilitas dan perlindungan kepada warga negaranya. Jika bukan KBRI siapa lagi?

Di Sketsa PEA berikutnya, saya bertutur lika-liku mengurus berkas Ziad, potensi negeri kita yang kaya seharusnya bisa seberkibar Persatuan Emirat Arab, yang kini telah memiliki gedung pencakar langit di Dubai, Burj Khalifah, tertinggi di dunia. [] (bersambung)

Tulisan ini dapat pula dibaca pada blog penulisnya, di: http://blog-presstalk.com


Sketsa PEA II: Ibarat Puzzle Inilah Penggalan “Kombur” TKW & Ziad

Oleh Iwan Piliang, Literary Citizen Reporter

Tugas diplomat Indonesia di luar negeri, seperti saya simak di Persatuan Emirat Arab (PEA), juga cerita sosok Indonesia bekerja di Oman, bermuara: galebeh-tebeh urusan Tenaga Kerja Wanita (TKW); kabur dari majikan; di bawah umur; dilecehkan seksual; diperkosa; jatuh dari gedung; disetrika panas; sengaja menjual diri alasan terpaksa; bersuami seakan berpoliandri di negeri orang; panjang kata jika dilanjutkan. Jahanam kali laku lelaki – – termasuk saya – – mengirim perempuan mara ke manca negara. US $ 6, 615 miliar peneriman dari TKI, 2009, setara Rp 59, 5 Triliun, tiada arti apa-apa dibanding penggelapan pajak melalui transfer pricing pelaku usaha di Indonesia yang setahun melebihi Rp 1.000 Triliun. Buat apa mendidik, menggaji mahal para diplomat, jika pekerjaannya terguras arus mengurus TKW. Lanjutan Sketsa Ziad Salim Zimah yang “tertahan” 8 tahun di PEA, pulang bersama saya 16 Februari 2010: mencairkan rindu air mata darah sang ibu.

JARUM JAM menjelang pukul 00.00 di Villa, Wisma Duta, kawasan Muhammad bin Zayed City, Abu Dhabi.. Di ruang tamu Dubes RI, tiga cangkir teh dan toples kecil berisi korma hitam terhidang di atas meja. Saya, Ziad Salim Zimah, 44 tahun, dan Wahid Supriyadi, Dubes, berbincang hangat. Ziad mengucapkan terima kasih, atas bantuan yang diberikan KBRI. Pukul 02.00 dinihari itu, 16 Februari 2010, Ziad direncanakan dapat terbang pulang.

Walaupun tampak tersenyum, saya menangkap kekuatiran di wajah Ziad. Tiket pesawat, dokumen pencabutan seluruh berkas kasusnya di pengadilan, baik perdata dan pidana, termasuk bukti pencabutan black list di kepolisian, juga surat keterangan scanning retina mata di imigrasi Dubai, semuanya lengkap – – memakan tempo sebulan kami urut pengurusannya bersama pihak pihak KBRI.

“Ya Ziad, selamat, Anda akhirnya malam ini dapat pulang, atas upaya keras semua pihak yang membantu. Jadikanlah kasus ini sebagai pengalaman berharga, mari menyambut hari esok lebih baik, salam saya untuk keluarga “ ujar Wahid.

Kalimat Wahid bak seorang bapak, tapi tak mengubah kecut di wajah Ziad. Ziad baru sedikit terhibur, ketika kemudian datang Hannan Hadi, Sekretaris III, Protokol dan Konsuler KBRI, yang turut menemani kami ke lapangan terbang. Itu artinya, kami mendapatkan pengawalan hingga ke airport. “Untung ada Pak Hannan, kalau tidak jika nanti ada apa-apa lagi di airport bagaimana?” kata Ziad.

Sekadar menunggu waktu, pembicaraan di ruang tamu itu bergulir kembali ke soal TKW. “Coba Anda bayangkan, jika kami mengurus terus permasalahan TKW, kapan kami membangun citra baik negeri kita, kapan kami harus melakukan lobby mendatangkan investor, misalnya?” tutur Wahid.

Setiap bulan mendekati angka 100 orang TKW yang harus ditampung di KBRI. Manca ragam masalah. Urusan gaji belum dibayar majikan, dipukuli, hingga dimaki-maki. Untuk kasus dimarahi, pihak KBRI kesulitan menghadapi. Bisa jadi, majikan marah karena sang TKW memang datang dengan ke-awami-an; alias tembak langsung dari ndeso, memakai mesin cuci saja kagok, misalnya.

Lebih mengenaskan diperlakuan perkosaan.

Bila di Sketsa PEA I, saya deskripsikan soal Santi, lugu, di bawah umur, diduga tak paham arti kata: perkosa. Berbeda dan Laksmi, sebut saja namanya demikian. Saat saya temui di KBRI Abu Dhabi, mengaku sudah bersuami. Sosok wanita 35-an tahun itu, diperkosa oleh anak majikannya. Derita kemiskinan di kampungnya di Jawa Tengah, uang pendidikan mahal dan kesehatan selangit, telah “memisahkan” keluarganya. “Kadang bisa pulang sekali setahun, kadang dua tahun sekali,” ujar Laksmi.

Bisa Anda bayangkan perih luka hati sang suami, jika mengetahui derita sang isteri. Saya tentu tak perlu bertanya kepada Anda, para pria, jika isteri Anda diperkosa, adik perempuan, atau saudara diperlakukan demikian? Saya pastikan darah kalian bergelegak mendadak sontak!

Apa yang dicari mara ke negeri orang jika kenyataan hidup demikian?

Maka menjelang jarum jam berdentang 12 kali di malam itu, ingatan saya melayang ke Depnaker, ada pula badan add-hoc yang dibentuk oleh negara di era reformasi ini bertajuk BNP2TKI: kedua badan ini, plus para PJTKI, dengan bangga mengatakan perolehan devisa dari TKI, terutama TKW nomor dua setelah Migas.Pada 2009 negara menerima US $ 6,615 miliar ( Rp 59, 5 Triliun) devisa dari TKI.

TKI dikatakan pahlawan devisa. Jika fakta di lapangan berbeda dengan yang didengungkan, tidak berlebihan saya mengatakan bahwa bangsa ini menipu dirinya sendiri dengan riang gembira sengaja. Lebih tak berperi lagi, sesungguhnya penerimaan negara dari sektor lain tidak terurus, dari penggelapan pajak melalui transfer pricing, misalnya, diduga lebih Rp 1,.000 triliun setahun, dilakukan para pengusaha Indonesia, termasuk BUMN. Ke mana negara?

Terpikir juga di benak saya malam itu. Bisa jadi kepahitan hanya mendera para TKW yang di Timur Tengah saja. TKW di Hongkong, misalnya, banyak kisah sebaliknya, lebih manusiawi hidupnya?

Namun dugaan saya lebih baik para TKW di Hongkong itu di luar dugaan pula. Adalah Nova Riyanti Yusuf, akrab disapa Noriyu, sosok penulis tiga buah buku novel ini adalah anggota komisi 9 DPR, salah satu termuda di Partai Demokrat. Saya berjumpa dengan Noriyu pada 18 Februari 2010, di DPR saat Fraksi Demokrat menerima Ziad dan kaluarga di Lantai 9, Gd, Nusantara I.

“Ada tiga kelompok TKW yang saya lihat di Hongkong, “ Noriyu melanjutkan, “Pertama berpakaian tomboi, lelaki abis, kedua feminin dan seksi abis, rok mini menantang.” Laku lesbian menjadi trendi di TKW di Hongkong. Urusan laku hubungan intim itu, di Abu Dhabi saya seakan mendapatkan jawab, sekaligus menonton teater romansa hidup.

Mengiriman TKW sekaligus melawan kodrat Tuhan. Bayangkan mereka yang sudah menikah harus berpisah dengan pasangan. Bagaimana pula kebutuhan batin harus mereka penuhi? Sehingga, jika bukan diperkosa, hubungan persebadanan suka sama suka menjadi biasa.

Macam itulah para TKW kita berarakan nasibnya di luar negeri . “Suatu hari saya pernah mengunjungi penjara. Di sana saya bertemu para TKW yang berbuat susila, diantaranya. Saya tanya kok kamu begitu? “ tutur Wahid pula, “Ya gimana Pak, habis cowok itu ganteng-ganteng kayak di film India.!”

Wahid geleng-geleng kepala mendengar jawaban TKW yang dihukum karena berzina. Masih untung penjara di Abu Dhabi tak macam di Indonesia, makanan terjamin, lingkungan penjara sehat. “Mereka malah jadi gendut-gendut,” ujar Wahid.

“Kejenakaan” TKW yang ditemui Wahid itu belumlah klimaks. Suatu hari stafnya kedatangan seorang TKW melaporkan dirinya diperkosa. Karena faktor surat-suratnya lengkap, PJTKI yang mengirimnya jelas, umurnya dewasa, maka dilaporkan ke polisi dan diotopsi.

Kongklusi otopsi?

“Looks comfortable.” Artinya tidak terdapat luka vagina yang dipaksa.

Staf KBRI yang bercerita ke saya berurai air mata tawa, geli menceritakan pengalaman ini.

Ada pula TKW di KBRI yang ditanya kamu diperkosa?

“Ia Pak!”

Berapa kali?

“Ada lima kali!”

Di waktu berbeda?

“Iya Pak?!”

Lain di PEA, lain pula di Arab Saudi. Menurut Noriyu, anggota DPR kita itu, kini ada 20.000 TKI asal Indonesia yang over stay di Jedah.. “Saya ke Jeddah, melihat mereka berserakan di bawah-bawah kolong jembatan, mereka memasak di sana,” ujarnya. Kisahnya ini belum lama.

Noriyu menyaksikan di Oktober 2009. Di kelebihan masa tinggal itu, seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah Arab Saudi memulangkan? Agaknya volume manusia sudah demikian besar, mereka masih di sana.. Hingga kini belum tercapai kesepakatan kedua negara bagaimana cara memulangkan ke-20.000 manusia itu. “Dalam waktu dekat akan ada agenda pembiacaraan lagi soal over stayer oleh kedua negara,” kata Noriyu.

Yang pasti, simak data ini: dari 20.000 ribu orang itu, sekitar 10% -nya adalah pernah tercatat menjadi Perkerja Seks Komersial (PSK) di tanah air. Dan saktinya lagi, hampir 1.000 dari mereka mantan narapidana. Jika mantan napi, mantan PSK, ikut berhamburan ke negeri orang, bagimana dengan pertanggung-jawaban moral mereka?

Mereka kini mengalami nasib macam Ziad, belum bisa pulang di negeri seberang, dan itu terjadi berulang-ulang, tak tahu lagi lema yang harus saya tuliskan, melihat negeri ini yang sesungguhnya kaya raya, tetapi anak negeri berjuang belang-belentang.

WAKTU SEDIKIT lagi pukul 00.00. Mengingat dokumen Ziad yang mesti diurus di bandara, kendati penerbangan Etihad yang akan membawa kami pulang take off pukul 02.00, kami pamit kepada Wahid Supriyadi, Dubes. Saya jabat tangannya, sambil mengucapkan janji, sepulang ke tanah air, sebatas bisa, minimal melalui tulisan, akan melakukan upaya agar Indonesia ini tidak lagi mengirim TKW-nya ke luar negeri, Kendati berkerja di negeri orang adalah hak, akan tetapi bila TKW yang dikirim dipastikan mudaratnya lebih tinggi dari manfaat. Maka, atas dasar itulah saya lebih hormat kepada India, Pakistan, Bangladesh bahkan Nepal, tidak mengirim perempuannya menjadi babu.

Dua hari sebelum saya pulang Tuhan sekaan mengantar contoh solusi kepada saya. Saya seakan mendapatkan jawaban. Adalah Untung Wiyono, Bupati Sragen, Jawa tengah, Ia berkunjung untuk misi dagang ke PEA. Ia melakukan presentasi di KBRI Abu Dhabi. Saya diberi kesempatan Wahid, Dubes, menyimak. Di luar dugaan saya, daerah yang bersemboyan bebas pengemis, bebas pengasong, pohon tanpa paku, tanpa ada pemboman ikan ini, sudah sejak 2003 tidak lagi mengirim TKW ke luar negeri.

Kok bisa?

Hampir setiap malam sebelum tidur di PEA, saya selalu bertanya dalam hati, bagaimana solusi lapangan kerja, agar Indonesia terbebas mengiriim TKW ke luar negeri. Eh, jalan Tuhan, telah mengantarkan saya bertemu contoh nyata di PEA.

Di kesempatan makan pagi bersama Untung dan Wahid, saya mendapatkan penjelasan, bahwa jika suatu hal memang diniatkan, pasti ada jalan. “Kami memiliki techno park untuk mendidik tenaga kerja berpengetahuan, terdidik. Kredit usaha kecil kami maksimum hingga Rp 500 juta tanpa agunan dijalankan oleh Pemda langsung,” ujar Untung. Sehingga kini, praktis tak ada warga yang menganggur.

“Bahkan pegawai negeri di luar jam kerja, saya suruh jadi pengusaha,” ujar Untung.

Entah mengapa saya terlambat tahu, dan baru dibukakan telinga setelah jauh di negeri seberang. Karenanya saya berjanji kepada Bupati Sragen itu untuk di suatu kesempatan bertandang dan dapat membuat literair untuk Anda, mengapa Sragen bisa tak lagi mengirim TKW mara ke manca negara bekerja.

TURUN dari mobil hendak memasuki terminal bandara di pukul 00.15 itu, udara terasa dingin menyapa kulit. Di mobil hingga turun bandara itu, Ziad saya perhatikan tak bicara,. Ia menjawab satu dua kata saja pertanyaan saya. Misalnya, apa surat, paspor sudah dikantung? “Sudah,” ujarnya.

Kami ditemani supir staf KBRI Syamsu Rizal, akrab disapa Jali. Sosok inilah di waktu silam yang menjadi supir pribadi, Saleh Alkatiri, adik ipar yang memperkarakan Ziad. “Jali pula dulu yang memberikan paspor saya ke Saleh, sehingga Saleh dapat menahan paspor saya,” tutur Ziad kepada saya.

Saya tegaskan ke Ziad, kaji lama tak perlu dikenang. Urusan baru, bak kata Wahid, hari esok menjadi lebih penting. Apalagi malam itu, Jali, menemani kami sudah bak pejabat RI, yang kalau bertugas ke luar negeri acap merepotkan staf KBRI, harus diantar dan ditemani hingga masuk ke ruang boarding bandara.

Benar saja, di migrasi saya dengan mudah lewat. Tidak demikian dengan Ziad. Setelah melihat surat dan paspornya., ia diminta menemui polisi di ruangan sebelah migrasi. Saya melihat Ziad dari jauh. Sebagaimana diperkirakan Ziad, untung ada Hannan Hadi. Pejabat KBRI ini kemudian berdiplomasi. Rupanya Ziad harus dicek ulang retina matanya.

Kala itu saya sudah bertekad dalam hati. Jika Ziad belum juga bisa pulang, saya akan tunda terbang, biarlah dua tiket yang sudah kami beli hangus. Rasa penasaran, senang berkecamuk kesal berurusan legal di PEA: seberapa panjang lagi urusan di negeri yang dibangun oleh Alamrhum Syeh Zayed, yang dicintai rakyat itu?

Untunglah setengah jam kemudian Ziad bisa lolos dari imigrasi.

Alhamdulillah, Puji Tuhan.

Serta merta wajah Ziad saya lihat masih tegang.

“Saya baru akan tenang kalau pesawat sudah take off,” uajr Ziad.

Saya hibur Ziad dengan mengajaknya membeli sekotak dua kotak coklat, sekadar ole-ole.

DI RUANG tempat boarding Etihad dengan penerbangan EY 472 itu, mata kami kembali tertumbuk dengan ratusan TKW. Mereka umumnya berpakaian lusuh. Satu dua ada yang rapi berjins ketat berselendang. Padanan warnanya serasa kurang pas, merah diadu hijau, selendang hitam. Bibir berggincu merah menyala.

Para TKW itu ada yang transit dari Mesir, Oman, Arab Saudi. Salah seorang tampak berjalan tertunduk seperti orang sakit. Ia ditemani oleh staf darat Etihad yang tampaknya wanita Filipina. Ia diminta duduk di ruang tunggu, tetapi begitu pendamping crew darat Etihad bergerak, sosok TKW itu pun ikut berjalan. Wajahnya ketakutan. Saya enggan bertanya.

Begitu pengumuman penumpang dipersilakan naik pesawat, mereka berebutan, tidak mengerti antri. Logika saya, setelah mereka di negeri orang, seharusnya mereka paham bahwa antri itu salah satu budaya, yang menandakan beradabnya sebuah bangsa. Saya perhatikan satu dua orang bule yang satu penerbangan dengan kami, tersenyum kecut.

Setengah jam kemudian barulah kami naik pesawat. Sambil bercanda saya minta Ziad mencubit jangat tangannya. Apa bukan mimpi pulang?

“Saya belum tenang.”

“Pengen rasanya mendorong pesawat ini agar cepat take off,” ujar Ziad.

Sambil menunggu pesawat take off saya berusaha menyapa seorang pria di kanan bangku kami. Ia rupanya bekerja di sebuah perusahan migas di Oman, tepatnya di Muscat. Di belakangnya seorang ibu paruh baya, TKW asal Karawang. Ia mengaku pulang karena tidak tahan bekerja membersihkan WC di kota Salalah, 900 km dari Muscat, ibukota Kesultanan Oman.

Kota Salalah adalah kota tua unik di tepi pantai kawasan Timur Tengah. Di sana dikenal dua musim; panas dan 4 bulan hujan gerimis. Kawasan di sana berada di ketinggian dan hijau. Di saat wilayah Timur Tengah lain didera panas hingga mencapai 50 derajat celcius, Salalah kian sejuk di bulan Juni hingga September. Di Salalah dimakankan Nabi Ayub, salah satu Nabi yang tertera untuk diimani sesuai amanat Rukun Iman Umat Muslim.

Selama di udara 8 jam itu, sepertiga waktu saya habiskan mendengar cerita soal tenaga kerja di Oman. Urusan TKW menjual diri macam yang saya temui di dua restoran Indonesia BDG dan SR di malam hari di Abu Dhabi, rupanya, di Oman lebih parah lagi.

“Para supir taksi di Oman, sudah paham kalau TKW kita itu, maaf, citranya bisa memang bisa dipakai,” ujar Burhanudin, sebut saja demikian. Sosoknya mengaku dulu pernah pula bekerja di PJTKI. Ia merasa bersyukur kini bisa hijrah dan bekerja di bagian purchasing sebuah oil company di Muscat.

“Nanti kalau ada waktu di bandara Jakarta, Mas ikuti saja, banyak dari TKW yang sudah menyiapkan uang untuk pungutan ini dan itu. Dan, maaf, ya, bahkan mereka ada juga menyiapkan bandannya.”

Masya Allah!

“Suatu hari ada kenalan saya berlibur dari Muscat ke Jakarta. Ia bingung melihat wanita Indonesia yang berbeda jauh dengan apa yang mereka lihat di Oman,” tutur Burhanudin.

Saya lalu terlelap setelah meminta segeals red wine kepada pramugari Etihad yang ramah. Film Transformer, salah satu yang saya pilih dari 73 DVD yang tersedia, saya memencet touch screen. Mata saya nanar. Mata Ziad masih terang menerawang. Entah apa yang sedang bekecamuk di dadanya?

Menjelang terlelap, tak terasa air mata saya mengalir. Dua orang wanita seakan menyapa malam di ketinggian 33 ribu kaki itu. Pertama ibuku, ia telah berpulang pada November 2009 lalu. Kedua wajah tersenyum ibu mertuaku, juga sudah meningglkan kami sejak 5 tahun silam. Keduanya sosok wanita yang kukagumi kesabarannya.

Ibu mertuaku tercatat sebagai karyawan teladan di Deppen – – kini Depkominfo – – kami anak menantunya baru tahu setelah seorang pejabat Depkominfo datang melayat, menyampaikan ucapan duka di hari berkabung, bahwa yang kami shalatkan adalah karyawan teladan, ibu teladan, wanita terhormat, bukan bak TKW yang bersebutan entah untuk apa ke negeri orang?

Untuk uangkah? “Gaji saya kecil, saya mau cari kerja di Jakarta saja, sebab kalau pulang ke Karawang malu sama tetangga,” kata ibu paruh baya di kanan saya tadi.

Ketika terbangun, sinar matahari sudah menembus jendela pesawat, persis menusuk pandang mata. Saya sapa Ziad, sebentar lagi kita mendarat. Baru siang itu saya lihat wajahnya senang. Delapan tahun lamanya ia dominan berhadapan dengan tembok: takut ke luar rumah, kuatir ditangkap polisi, karena urusan nasibnya yang diperkarakan namun tak terbukti bersalah itu.

Etihad EY 472 itu mendarat pukul 14.00. Para penunmpang bergerak berdiri mengemasi barang bawaan. Namun mendadak sontak, suara pramugari berbahasa Indonesia mengumumkan sesuatu.

“Penumpang diminta duduk kembali, untuk sekitar sepuluh menit menunggu polisi menjemput seorang penumpang!”

“Aduh Pak Iwan, pasti saya?”

Wajah Ziad pucat-pasi.

Saya duga tangannya dingin. Saya hibur Ziad: Jika sudah di Jakarta, bukan Anda yang akan ditangkap, tetapi saya – – saya menjawab sekenanya demi menenangkan Ziad.

Tak lama kemudian, 4 orang polisi bandara yang bertugas untuk Etihad berpakaian biru-biru masuk ke kabin pesawat.

Muka Ziad pucat.

Darah seakan pergi dari bibirnya!

Rupanya, polisi itu menghampiri seorang pria berwajah Arab seperti Ziad. Ia duduk tiga baris di kanan belakang kami. Ketika dalam perjalanan, pria itu merokok. Ia sempat ditegur penumpang lain, tetapi malah melawan. Sempat ditegur pramugari Etihad tapi tak terima. Begitulah, di saat mendarat, diringkus polisi bandara ganjarannya.

“Alhamdulillah, “ kata Ziad plong! [] (bersambung)

Tulisan ini dapat pula dibaca pada blog penulisnya, di: http://blog-presstalk.com


Sketsa PEA III: Manusia Universal dan Masjid Monumental

Oleh Iwan Piliang, Literary Citizen Reporter

Inilah Sketsa ke-3 perjalanan memfasilitasi kepulangan sosok Ziad dari Abu Dhabi, Persatuan Emirat Arab (PEA) ke Indonesia. Ada pembaca, mengeluhkan panjangnya tulisan ini. Satu tulisan lebih dari 2.500 kata. Konon bagi majalah sekaliber The New Yorker, tulisan 2.000 kata (edited), mereka masukkan ke kelompok rata-rata. Saya mencoba belajar ke sana, tentu spesial saya hidangkan bagi Anda yang senang membaca. Karya monumental tak boleh asal. Lihatlah bangunan Masjid Syeh Zayed di PEA.

DI KAMIS di minggu pertama Februari 2010 itu, udara berdebu halus, berpasir kuning kecoklatan, berkabut menyaput. Angin dingin masih di 20 derajat celsius. Menurut Sidin, supir Dubes KBRI, Abu Dhabi, keadaan udara begitu akan diikuti hujan esok harinya. Pertanda akan beralihnya musim dingin ke panas.

Saya menunggu. Janji siang itu menemui pejabat di mahkamah, kantor pengadilan di Abu Dhabi. Siang itu melanjutkan mengurus manca-ragam berkas kudu dicabut untuk kasus Ziad Salim Zimah, 44 tahun, yang menghadang mengakibatkan dirinya 8 tahun tak bisa pulang, Jeda waktu saya gunakan shalat zuhur ke masjid terdekat dari KBRI.

Beribadah di masjid-masjid kecil di Abu Dhabi, Persatuan Emirat Arab (PEA), menjadi pengalaman tersendiri. Saya memperhatikan mobil-mobil datang di parkir. Anda tinggal sebut merek? Di halaman masjid, seperti Bentley dua pintu, Porche 4 pintu keluaran teranyar, pemandangan biasa. Mereka cenderung memilih kelir putih.

Tak satu pun masjid saya perhatikan menarok tromol atau kotak sumbangan uang. Urusan kebersihan masjid terjaga, termasuk kamar kecil tidak beraroma pesing. Namun menjadi tanya bagi saya, mengapa di Abu Dhabi, kebanyakan WC-nya jongkok, bukan duduk.

Saya menuju tempat wudu. Letaknya tak jauh dari sebatang pohon kurma. Tandan buah mulai mencigap. Di bawahnya deretan keran air agak ditinggikan dengan marmer. Saya membasuh tangan, muka. Begitu mengangkat kaki, seorang pekerja taman, pria asal India, menegur. Rupanya tempat wudu itu keran air minum. Tempat minum gratis bagi siapa saja.

“Hua ha ha ha,” tawa Ziad pecah.

Setelah tiga pekan di Abu Dhabi, bulak-balik ke kepolisian, ke mahkamah pengadilan, menemui beragam-langgam pejabat di PEA, mengenal karakter manusia berbagai bangsa, baru kali itulah saya melihat wajah Ziad geli kali.

Saya malah menjadi begitu senang bisa membuat tertawa. Selama ini senyum dan tawa lepas seakan pergi dari wajah Ziad. Bisa dimaklumi waktu 8 tahun yang menganjar jantung bergetar, membuat wajahnya jadi nanar. Ia dihantui beragam persoalan mendera, tak tahu awal pangkal dan akhir masalah berakhir.

“Jika kurma ini berbuah, setiap orang boleh mengambil untuk dimakan,” tutur Ziad. Sudah bisa bunyi Ziad, bagaikan Emirati – – orang Emirat .Pohon kurma memang mendominasi trotoar dan ruas jalan di seputar Abu Dhabi. Bisa dibayangkan jika semuanya matang dan harus dipanen, melimpah buah.

Di saat melangkahkan kaki kembali ke KBRI, beberapa rumah yang lahan terkecilnya seperempat lapangan bola kaki, di sebelah kanan jalan, saya amati juga menyediakan keran minum di kiri gerbang masuknya. Letaknya ditarok di bawah pohon-pohon kurma yang mereka tanam di halaman.

Seorang bapak tua tampak memacul, membuat gembur tanah ke sepokok pisang yang tumbuh hijau. Di sebelah kakinya saya perhatikan ada serumpun serai menghijau, juga daun ruku-ruku, sejenis kemangi berbatang keras, di Jakarta saja langka.Di kampung saya, Sumbar, kami menjadikan ruku-ruku bumbu memasak gulai kepala ikan. Melihat tanaman itu, tanah kelahiran serasa kental dalam kejapan.

Di dalam keadaan udara berkabut debu menyaput, pukul 14 itu, dengan ditemani oleh Amin Appa, pria asal Bugis, staf lokal bagian Konsuler, KBRI, beristerikan wanita Bosnia, sudah terbilang kali menemani kami menuju mahkamah setengah jam bermobil dari KBRI.

Bangunan mahkamah itu bundar. Dulu, konon bangunan tua, melingkar macam koloseum di kota Roma. Namun bagian tengah ada taman kosong, Segala urusan, pengadilan, digelar di ruang-ruang mengeliling.

Di saat saya di Abu Dhabi, bangunan itu dalam tahap penyelesaian akhir renovasi total. Bagian atapnya kini berkubah kaca yang diberi ornamen bak kaca pateri raksasa berbentuk melati. Seluruh lantai sudah bergranit, dinding ber-alukubon – – bahan aluminium tebal dicat duko, banyak juga dipakai untuk gedung-gedung baru, untuk mendapatkan kesan post modern. Di bagian tengah grand lobby kini sebuah air mancur indoor terus menyemburkan air.

Di grand lobby mahkamah yang macam hotel berbintang lima itu, sudah ada satu cafe. Sepekan lalu cafe itu belum siap melayani pembeli. Hari itu karena sosok yang harus kami cari belum muncul, segelas cappuccino menemani. Harganya 15 dirham, setara dengan Rp 32.500, sama dengan harga segelas kopi di mall di Jakarta. Kopi bertajuk Java Mocca, dibandrol di harga sama.

Berurusan dengan dengan pihak investigator di kepolisian, para kadi di pengadilan, bagian data dan sekretariat, kebanyakan waktu kami habis menunggu. Seperti hari itu. Ada sosok yang sudah sebelas kali kami temui. Konon di mejanya sebuah berkas kasus Ziad tertimbun.

Data perkara di lima tahun terakhir di PEA, kini semuanya sudah mengacu ke online system. Mulai dari kepolisiaan, pengadilan, imigrasi, semuanya tinggal pencet enter di komputer. Celakanya sebagian kasus yang membuat Ziad berurusan di pengadilan, terjadi pada 2002 di era manual. Sehingga harus diurut satu-satu, berkas per berkas, helai per helai.

Tersebutlah satu kadi keturunan Palestina. Sebut saja namanya Ahmad. Berkali-kali kami bulak-balik ke ruangannya, menanyakan berkas Ziad. Ia selalu bilang tak ada. Hingga datang di hitungan kunjungan ke-13, entah kebetulan atau memang angka 13 sakti, Ahmad baru terperanjat, dan mengambil map di bagian bawah lacinya.

“Iya, tapi kamu harus membayar US $ 500 ribu,” ujar Ahmad.

Wajah Ziad pucat.

Ahmad menakut-nakuti Ziad, sambil sudut mata jahilnya mengedip ke saya.

Dan di urusan mencabut berkas itu, selain harus bertemu prosecutor, bulak-balik lagi ke head prosecutor.

“Walaupun sudah dicabut pelapor, mereka masih melihat lagi apakah ada masalah hak negara yang dilanggar,” ujar Amin Appa.

Maka, tak mudah memang mengurus kasus hukum. Hal itu bukan saja di PEA, di hampir semua negara di dunia agaknya demikian. Lebih repot prosecutor yang menangani kasus Ziad, di Kamis itu masuk di petang hari.

Sang prosecutor harus menyidang banyak perkara. Mulai dari kasus pengeroyokan hingga kekerasan keluarga. Seperti petang itu, ada 9 orang pria Filipina tampak duduk dirantai kakinya menunggu. Mereka harus diinterogasi satu-satu. Maka kami harus menunggu di lobby, hingga pukul 21, malam.

Begitu berkesempatan masuk ke ruang prosecutor, kalimatnya singkat saja, tolong kembali Minggu. Padahal Jumat dan Sabtu di PEA libur. Kenyataan inilah yang membuat urusan menjadi lama di PEA. Bisa dimaklumi, bila pihak KBRI terkesan butuh waktu panjang menghadapi birokrasi demikian. Waktu mereka tersita, terutama terutama mengurus TKW.

Jika mengurus satu kasus Ziad, menghadapi kenyataan macam di atas, membubutuhkan waktu dan energi khusus. Selama ini tidak diurus fokus, apalagi penyelesaian sengketa keluarga belum ada tanda-tanda nyata, sehingga tidak pernah tuntas persoalan jadinya.

Dari pengalaman bulak-balik ke kepolisian dan mahkamah di PEA, saya menemukan premis dasar, hampir tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan dengan komunikasi.. Kami malam itu, dengan hati agak kecewa, balik ke KBRI.

USAI JUMATAN, siang keesokan harinya. Saya dan Ziad baru saja melangkah ke luar dari arah dalam masjid Syeh Zayed. Masjid ini ketiga terbesar di dunia, setelah Masjidil Haram, Mekah, dan Masjid Nabawi, Medinah. Agaknya menjadi salah satu masjid terindah di dunia. Di grand lobby dominan berbatu granit putih masif impor Italia. Seluruh ornamen ukiran berpahatan granit putih, semacam white on white. Beragam lekukan bunga, semuanya dibuat bergranit rumit. Di saat saya berceloteh ke Ziad, seorang pria menepuk pundak saya.

“Mas Iwan Piliang ya?”

Saya melongo, kok ada yang menyapa?

“Saya Hari Kurniawan. Saya bekerja di Iran, lagi liburan ke mari. Saya menonton Mas di YouTube, yang lagi berdebat sama Roy Suryo, “ ujar Hari pula, “Saya dengar suara Mas, teringat saya ke rekaman di Metro TV itu..”

Seketika bulu di lengan saya merinding. Mengingat di tengah jamaah Jumat yang lebih dari 40 ribu orang, di negeri orang, disapa orang . Ini salah satu link yang dimaksud Hari: <http://www.youtube.com/watch?v=671V7_Vm2NA&gt;

Kami berbincang sebentar tentang Iran. Saya katakan di Dubai ada Dubai Village (DB), kawasan pameran semacam Jakarta Fair. DB berlangsung tiga bulan setiap tahun – – Desember – Februari. Saya terkesima dengan produk Iran di DB. Mereka mengisi stand pameran dengan tema makanan, manisan dan aneka kue kering. Terbayang di benak saya kue kering Nastar yang berisi nenas khas Nusantara pasti laku di sana.

Satu dua toko karpet anyaman maha karya Persia mengusik mata saya. Motifnya bunga, dan siluet gadis menari perut dengan gradasi tekstur 3 dimensi berbahan wol dan katun, dijual seharga Rp 80 juta selembar, berukuran sajadah. Agak menjadi tanya di benak saya, mengapa ada lukisan siluet wanita, bukan kepercayaan Iran tak mengenal orang divisualkan. Saya teringat akan penulis Jeffry Archer di buku novelnya, secara gamblang bilang bahwa permadani buatan tangan asli, hanyalah berornamen bunga, macam di dalam masjid, atau ukiran lain.

Permadani di Masjid Syeh Zayed tercatat sebagai ambal buatan tangan terbesar di dunia, tanpa sambungan. Ambal itu secara khusus didatangkan dari Iran dan didesain khusus oleh seniman terkemuka, Ali Khaliqi. Luas ambal yang dipasang di mencapai 5.627 meter, lebih setengah lapangan bola, mencapai 47 ton: 35 ton wol dan 12 ton kapas.

Suasana stand Iran di Dubai Village itu beda sekali dengan stand pameran Indonesia, yang tak memiliki tema. Sudahlah ukurannya kecil, kalah dengan stand Nepal di sebelahnya persis. Kalah besar dari Vietnam dan Ruwanda, Afrika. Di stand Iran itulah, pertama hayat saya memakan buah delima yang bijinya empuk, manis gula, merah menyala.

Saya teringat kalimat Wahid Supriyadi, Dubes RI di PEA. “Lihat stand Cina di Dubai Village, permanen, besar,” tutur Wahid pula, “Saya tanya Dubes Cina, itu bukan sang Dubes yang urus, pemerintah pusat Cina dan swasta langsung inisiatif.”

Stand pameran Cina yang mencapai 6.000 meter di Dubai Village itu, tidak seberapa besar jika dibandingkan dengan trading house maksi bertajuk Dragon Mart yang dibangun Cina di Dubai. Panjangnya 1,5 km. Di dalamnya ada 4.390 toko; satu toko ada yang mengambil luas setengah lapangan bola. Pemerintah Cina sangat paham bahwa Dubai, salah satu kota dari 7 kota di PEA, merupakan hub barang merambah Timur Tengah dan Asia Selatan, seperti Iran. Anda sebut saja produk apa? Semua ada. Maka saya melihat inilah ekspansi produk Cina tak berkira.

Makanan Khas Iran lain, gulali putih kapas berorama vanilla dan susu. Saya membeli 6 bungkus ketika untuk tiga kali ke Dubai, masing-masing 10 Dirham sebungkus. Ingin rasanya belajar membuat gulali putih kapas manis dan harum, lembut ditekan.

Di festival Film Iran di Jakarta pada September 2009, yang diprakarsai oleh Parfi yang dipimpin oleh Jenny Rahaman, saya mendapatkan kesan kemajuan Iran. Di saat rehat minum kopi, saya sempat berkenalan dengan seorang yang menjadi perwakilan penerbangan Iran yang akan beroperasi terbang langsung dari Taheran ke Jakarta di wakhir kwartal I 2010 ini. Hebatnya penerbangan itu seluruh tempat duduk peswat untuk business class, tak ada kelas ekonomi. Konon orang Iran mara ke manca negara, selalu berusaha mendapatkan pelayanan kelas satu. Itu artinya rakyat Iran kini memiliki daya beli tinggi.

“Iya, Iran maju. Liputan media barat saja yang memojokkan seolah Iran rusuh, tidak berkembang demokrasinya,” tutur Hari, karyawan Slumberger di Taheran.

Bangga hati mendengar Hari yang bekerja di perusahaan kontraktor Migas itu. Tentulah pendapatannya US $, antara bumi dan langit dibanding TKW yang hampir semuanya bermasalah. Macam di Oman, TKW Indonesia melekat dengan citra perempuan babu, murahan, gampang dilecehkan dan, maaf, mudah digauli.

Seketika ingatan saya melayang kepada penggalan catatan sejarah Saat Raja Khalid dari Arab Saudi berkunjung ke Pakistan. Ia mengharapkan dari Presiden Pakistan saat itu, Jendral Zia ul-Haq, agar Pakistan mengirim tenaga kerja untuk memasok kebutuhan tenaga kerja di Saudi Arabia. Zia ul-Haq menyanggupi, tapi dengan tegas menyatakan, “Jangan pernah meminta kami mengirim wanita. Kami tidak yakin kami bisa melindungi kehormatan wanita kami di sana”.

Kita jangankan melindungi, seperti saya temuai di PEA anak ingusan yang belum tahu apa arti diperkosa, apa arti hubungan badan, dikirim juga oleh negara kita, sebagaimana sudah saya tulisakan di Sketsa PEA II. Sebagaimana di banyak ranah kehidupan kini, indikasi urat malu bangsa seakan putus: sehingga tak malu-malu mengirim babu.

Padahal pendapatan devisa dari TKI total di luar negeri 2009 lalu hanya Rp 59,5 triliun, bandingkan dengan indikasi korupsi pajak, terutama transfer pricing yang angkanya bisa membuat mata Anda terbelalak, bisa mencapai Rp 1.000 triliun setahun, tidak terurus. Pangadilan pajak di Dedung Dhanapala, Depkeu Lantai 9, terindikasi “main-main”.

Saya jabat tangan Hari, mendoakannya kian sukses lagi di negeri orang, sehingga memberi citra positif bangsa, tidak macam laku pejabat di Depnaker dan di BNP2TKI, juga para PJTKI, cuma tahunya mengirim sebanyak-banyaknya TKW, tanpa mempedulikan hajat hidup manusia yang mereka kirim.

Di mana di ujung-ujungnya kerepotandan kesusahan di tangan para diplomat di manca negara: Mereka dibiayai mahal oleh negara seakan dipaksa berkutat mengurus galebeh-tebeh TKW yang jumlah kasusnya ribuan tiap tahun. Maka di Sketsa PEA sebelumnya sudah saya tuliskan, lebih banyak mudaratnya mengirim TKW bekerja ke luar negeri.

Kami melangkah menuruni tangga masjid sebelah barat. Deretan pilar-pilar dan menara setinggi 115 meter tampak di empat sudut. Di setiap pilar itu ada guratan ornamen bunga, macam di pilar-pilar putih granit masif di dalam masjid, berderet-deret ditempeli kulit tiram mutiara langka. Konon PEA, sebelum tercatat sebagai negara terbesar pengekspor minyak, penduduknya bermata pencaharian mencari mutiara di samudera lepas.

Jumlah kubah masjid 57 buah, menaungi halaman dalam dan gedung utama. Masjid Syeh Zayed juga dihiasi tujuh lampu berlapis emas dan tembaga, kristal merah, hijau dan emas, buatan Swarovsky. Ketujuh lampu itu secara khusus didatangkan dari Jerman.

Kandil Kristal terbesar berdiameter 10 meter dan tinggi 15 meter.Halaman masjid dilapisi granit berdesain motif bunga dan ukurannya mencapaii satu tiga perempat lapangan bola. Ruang terbuka akan dilewati pengunjung jika mereka mengambil wudu. Di salah satu pojok, turun ke bawah menggunakan eskalator. Seluruh tempat wudu juga terbuat dari granit Italia kelas satu. Ketika kita naik dari tempat wudu menatap ke atap kubah, kalah megah rasanya ballroom hotel bintang lima di Jakarta.

Di depan saya seorang turis Jepang tampak berfoto. Turis perempuan mengenakan abaya, baju terusan hitam, yang mesti dipakai turis perempuan, dapat diambil di bagian depan. Segenap pengunjung dari agama dan kepercayaan apapun boleh masuk di saat jam interval shalat. Jika hendak meninggalkan masjid, perempuan pemimjam abaya itu, tinggal menggantungkan kembali ke trolly, macam di hotel bintang lima, untuk kemudian masuk ke tempat laundry di masjid itu.

Saya teruingat ketika masuk ke gereja Saint Peter Basilika, Kota Vatikan, Roma, Italia, pada medio 90-an. Di Vatikan manusia dari bergam agama juga boleh ke sana. Saya masih ingat turut pula memegang jari kaki patung besi Simon Petrus. Lekuk jari kakinya menjadi rata, karena kebanyakan dipegang pengunjung. Di Masjid Syeh Zayed, karena tak ada patung yang bisa dipegang, umumnya turis saya lihat ahanya berdecak kagum macam suara cicak.

Tanaman hijau, kurma, dan kolam-kolam air panjang dan lebar di halaman masjid. Kaki saya melangkah menuruni tangga ke makam Syah Zayed di samping masjid. Suara hafiz Al Quran melantunkan ayat dengan speaker buatan Beng Olufsen. Dii Indonesia, ada kebiasaan orang duduk mengaji berzikir di seputar makam. Di i sana publik hanya mampir berdiri sekejap, lalu pergi berjalan gontai. Itu pun umumnya turis.

Saya tatap tanah kuning di atas pusara granit putih, senada dengan seluruh granit putih masjid. Saya teringat akan komentar banyak warga PEA tentang sosok yang di makamkan, Syeh Zayed bin Sultan Al Nahyan, dicintai rakyat, karena membela dan berjuang mensejahterakan rakyatnya.

Di samping makam, saya tertunduk memanjatkan doa: Ya Allah, semoga pemimpin di Indonesia, dapat menauladani Syeh Zayed, memahami bahwa kekayaan materi harus mengalir mensejahtrerakan rakyat. Amin.

Saya tengadah, tampak Ziad masih takzim berdiri. Entah doa apa yang ia panjatkan, namun kuat dugaan saya kala itu: semoga Allah memudahkan dirinya cepat pulang bertemu ibundanya tercinta. []

Tulisan ini dapat pula dibaca pada blog penulisnya, di: http://blog-presstalk.com


%d blogger menyukai ini: