Tag Archives: anak

Sagule

Oleh Adhy Rical
Enam perempuan muda malam itu serentak menyebut Sagule, dukun desa Rangkaya sebagai sang Dewi atau Anawai Ngguluri. Padahal Sagule hanya berhasil menggugurkan kandungan mereka: mengusap perut dengan air ludah dan sedikit mantra. Biaya murah dan terjangkau.

***

Hanya tiga bulan, Desa Rangkaya menjadi ramai. Bukan saja perempuan yang hendak membuang bayinya datang dari desa tetangga tapi justru dari kota. Sagule makin terkenal sebab air ludahnya bisa membuat perempuan kembali perawan. Orang boleh tidak percaya tapi kedewian Sagule tak bisa terbendung lagi. Pun tak ada perempuan yang keberatan kalau Sagule meludahi kemaluan mereka. Selain ludah bercampur sirih dan asam mangga, sisa kretek tak mau kalah, masuk pula.

“Yang penting perawan”, begitulah alasannya.

***

Desa Rangkaya berubah total. Setiap rumah sudah dipasangi stiker: jadual sang Dewi, lengkap dengan tarif yang telah ditandatangi kepala desa. Bahkan, sebuah papan nama di rumah kepala desa tertulis: Menerima Aborsi.

Sagule menjadi dukun terkenal sekaligus selebritis Rangkaya. Apakah ada dukun yang bisa menyamai prestasi Sagule? Dukun yang tak pernah gagal menggugurkan kandungan. Hanya dalam tiga bulan, ia berhasil menggugurkan kandungan 351 orang. Tak ada rasa sakit apalagi darah yang menetes jika Sagule sudah membuang ludah ke lubang kelamin pasiennya.

***

Tujuh hari setelah prestasi yang wah itu, Sagule berhenti menjadi tukang ludah. Bukan karena beberapa petugas kota mulai mencarinya. Bukan karena bayaran yang tak pantas. Mungkin ada yang berpikir, Sagule patut memperoleh bayaran lebih mahal dari biasanya. Bukan!

Ia hanya ingin agar semua janin dalam perut perempuan diambil lalu dipelihara layaknya anak sendiri. Cuma itu syaratnya. “Kalau kau bersedia, temui saya di gunung Tawuna Ula!”

***

Tiga pekan setelah kepergian Sagule. Desa Rangkaya gempar. Kepala desa pun raib. Warga memberanikan diri ke gunung. Mereka hanya tertegun setelah tiba di sebuah rumah bambu sederhana. Mereka mencium bau kretek yang sangat menyengat. Sagule terbaring dengan tubuh telanjang. Kepala desa yang mereka cari terkapar di atas tubuh Sagule. Keduanya telanjang dengan tubuh penuh ulat dan lalat. Sepertinya, kedua kelamin mereka bertemu. Mungkin tak pakai ludah.

[]
Kendari, 2010



Anak-Anak Tanpa Dosa Menanti Ajal

Oleh Mappajarungi Manan

My name is Taneka, I am 10 years old,” kata-kata itu meluncur dengan lugunya dari mulut Taneka, penghuni panti Mashambanzou, Waterfall, Harare, Zimbabwe, ketika ditanya. Kendati pun umurnya 10 tahun, tapi postur tubuhnya layaknya anak yang masih berusia 5 tahun.  Ia sibuk bercanda dengan rekan-rekannya.

Taneka, salah satu anak dari delapan anak-anak penghuni panti Mashambanzou lainnya. Usia mereka tak terlalu jauh terpaut. Penghuni panti itu adalah anak-anak yang positif pengidap HIV/AIDS.  Selain menampung anak-anak, juga menampung pengidap HIV/AIDS dari orang dewasa yang jumlahnya 20 orang.

Kendatipun mengidap virus mematikan itu, tapi Taneka masih berusaha untuk tampak ceria. Ia tak mengetahui kalau ia telah terinfeksi dari kedua orang tuanya yang telah meninggal  dua tahun lalu. Taneka dititipkan oleh kakek-neneknya di panti itu. Saban hari, ia bermain yang dipandu oleh suster-suster yang merawat mereka.

Di Panti itu, dalam ruangan tempat mereka tidur terdapat 9 kasur yang berjajar, banyak tersedia mainan. Usai makan siang, mereka tidur-tiduran sambil menonton tipi.  Di halaman panti, tersedia mainan layaknya taman mainan kanak-kanak yang dicat berwarna warni.

Mereka adalah anak-anak dari ribuan anak-anak Zimbabwe yang terinfeksi virus yang kini belum ditemukan obat penyembuhnya. Mereka belum mengerti apa-apa, mereka hanya bermain-main saban hari dan juga diajari tulis menulis dari suster yang merawat mereka. Mereka tak tahu kapan ajal akan menjemput.

Mereka adalah ODA (Orang Dengan AIDS), sementara OHIDA (Orang Hidup Dengan AIDS), sangat menyayangi mereka. Ruwa, misalnya, salah satu suster yang menjaga, dengan penuh kasih sayang membimbing untuk tetap ceria.

Dua minggu lalu (akhir Juni 2008) salah satu rekan Taneka, Leonard (11 thn) telah meninggal dunia. Taneka, ketika ditanya kemana Leonard, kawannya, dengan santai Taneka menjawab, “dia sudah meninggal dan pergi ke surga bermain.”

Pihak Mashambanzou, menerima para anak-anak pengidap HIV/AIDS dari daerah Harare  dan sekitarnya. Di Harare, ada beberapa panti penitipan anak-anak yang mengidap virus itu. Tidak hanya menampung anak-anak, tetapi juga yang telah dewasa dan yang berstatus suami-istri yang sudah pada tingkat AIDS. Artinya kesehatannya sudah sangat menurun. Karena digerogoti berbagai macam penyakit yang tak sembuh.

Biasanya, kondisi panti-panti di Zimbabwe lima tahun lalu, sedikit bergairah. Artinya, mereka mendapat berbagai bantuan dari organisasi dunia seperti WHO, WFP, MSF dan lembaga-lembaga donor lainnya. Mereka juga mendapat jatah obat seperti ARV, untuk menahan laju pergerakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh mereka.

Tapi kini, dengan kondisi Zimbabwe yang mengalami inflasi lebih dari 2 (dua) juta persen, suplay bahan makanan dan obat-obatan terhenti. Pemerintah setempat seakan tak peduli dengan kondisi mereka. Pejabat sibuk mempertahankan posisi jabatan mereka secara mati-matian dengan melawan seruan dunia.

Masyarakat Zimbabwe kesulitan mendapatkan bahan makanan. Bagi yang punya relasi di South Africa atau negara tetangga, mereka mudah mendapatkan suplai makanan. Harga kebutuhan pokok setiap jam naik. Memprihatinkan memang.

Penduduk Zimbabwe yang berjumlah 13 juta jiwa, pada survey tahun 2000 lalu terdapat 20 persen pengidap HIV/AIDS. Kini, jumlah penduduk Zimbabwe tidak lebih dari 7 juta jiwa, sebab banyaknya penduduk yang hengkang dari Zimbabwe menuju South Afrika, Botswana, Zambia, UK dan berbagai negara lainnya.

“Kami harus tinggalkan negeri kami ini, kami ingin hidup dengan jalan apapun. Karena bertahan di sini, sama halnya kami bunuh diri,” kata Kudawakse, penduduk Masvinggo yang akan menyeberang ke South Africa.

Bagi Kudawakse, berjuang untuk hidup adalah wajar, tapi bagaimana dengan penghuni panti Mashambanzou dan panti-panti lainnya? Mereka hanya mampu pasrah dari berbagai penyakit yang menjangkiti tubuh mereka. Karena virus yang menyerang sistem pertahanan tubuh tak bisa dihentikan.

Kini, dengan memakan seadanya, hanya mempertahankan kondisi tubuhnya yang lemah lunglai. Harapan untuk hidup lebih lama hingga mencapai usia uzur sesuatu yang sulit dan tak mungkin.

Anak-anak tanpa dosa serta orang dewasa yang terinfeksi, menanti hari-hari datangnya ajal menjemput satu-persatu dari mereka. Bagi Taneka, hari-harinya hanya diisi dengan bermain sambil menanti untuk “mengikuti” rekannya, Leonard. Entah kapan, esok atau lusa. Mereka di panti, hanya menanti ajal menjemput. []

July 08, 200

3:41 AM


Peluncuran Novel Grafis “Abimanyu Anak Rembulan” Karya Dwi Klik Santosa

Abimanyu-Anak Rembulan_Dwi Klik Santoso

Launching / Peluncuran Perdana Novis (Novel Grafis)


ABIMANYU Anak Rembulan

karya Dwi Klik Santosa

Bertempat di:

Bentara Budaya Jakarta

Sabtu, 24 Juli 2010

Jam : 19.30 WITA sampai Selesai.

Dimeriahkan pula dengan, pementasan ;

  • Tenor “VITTORIA MIO CORE”

  • Inug Nugroho

  • “WAYANG URBAN” oleh Dalang Nanang Hape Dkk.


Bedah buku / Novis oleh panelis :

Sujiwo Tejo

Yeni Wahid

Henry Ismono

Ni G A Sukmadewi Dj

[]

Fragmen Novis Abimanyu Anak Rembulan (1)

naskah : dwi klik santosa
gambar : isa ansori
penerbit : jagad pustaka
terbit : juli 2010

“Kresna kakakku. Sudah saatnya kini engkau memercayai anakku,” kata Bima, “biarlah Abimanyu saja mewakiliku menumpas kejahatan raja sombong itu.”

[]

Fragmen Novis Abimanyu Anak Rembulan (2)

naskah : dwi klik santosa
gambar : isa ansori
penerbit : jagad pustaka
terbit : juli 2010

“Apalah Dwarawati itu, biar pun diperintah oleh seorang Kresna yang diibaratkan titisan dewa. Atau di dalamnya ada Setyaki si panglima perkasa atau siapa pun. Aku, Jaya Murcita, tidak takut! ” kata Prabu Jaya Murcita jumawa.

[]

Fragmen Novis Abimanyu Anak Rembulan (3)

naskah : dwi klik santosa
gambar : isa ansori
penerbit : jagad pustaka
terbit : juli 2010

……………………

“Tapi yang pasti, saya sangat gembira menyaksikan cucuku Abimanyu yang penuh semangat begitupun ringan tangan berkorban untuk orang lain.”

“Bukankah ia sangat pantas menjadi muridmu, sohib?”

“Hanya saja kalau Abimanyu menerimanya dengan senang hati,” kata Begawan Abiyasa sekali lagi mengerling kepada Semar.

“Saya bersedia, kek,” sahut Abimanyu, “perjalanan jauh menuju kemari memanglah tujuan saya ingin belajar kepada kakek.”

Mendengar kata-kata Abimanyu yang polos, Begawan Abiyasa tersenyum lepas. Sekalipun telah renta, aura orang tua ini menampakkan wibawa yang besar.

“Selamat datang di Padepokan Wukir Retawu, cucuku,” kata Begawan Abiyasa, “dari polos hatimu dan kuat tekadmu, niscaya tiada pengetahuan yang tiada berbuah manfaat. Semoga engkau berjodoh.”

……………..

[]

Fragmen Novis Abimanyu Anak Rembulan (4)

naskah : dwi klik santosa
gambar : isa ansori
penerbit : jagad pustaka
terbit : juli 2010

Alunan seruling bambu yang menyayat seperti menadakan irama rindu yang kesepian. Saat suara melankoli itu lenyap sama sekali ditilapkan hening Hutan Gajahoya yang wingit, mengalunlah kemudian sebuah kidung :

satu purnama lewat
tak juga kutemukan sosokmu
lewat bisikan angin dan pantulan rembulan
di atas permukaan telaga yang tenang
kutemukan keyakinanku
engkau tidak jauh dariku
tidak jauh dariku
sampai sepuluh atau seratus purnama sekalipun
akan sabar kutunggu, sampai kutemukan dirimu
sampai kutemukan dirimu ….

[]


Biro Harga : Pengendalian Harga Pasar Ala China

Seri Tolak ACFTA (III)

(Boks I pada tulisan Free Trade Area : Ketika Indonesia Berperang Tanpa Tameng)

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Pemerintah harus mengendalikan harga pasar. Maksud saya, “benar-benar mengendalikan harga”. Bukan model operasi pasar yang kerap dilakukan pemerintah saat ini. Model kerja pemerintah seperti itu, tidak menjamin kepentingan masyarakat terhadap harga. Malah terlihat jelas, bahwa operasi pasar pemerintah hanya sekadar hendak memastikan kondisi aman saat ada manuver pedagang menaikkan harga; agar tidak kacau, tidak grasa-grusu.

***

OPERASI Pasar. Dua kata itu benar-benar mengelitik. Apa maksud pemerintah dengan dua kata itu? Sebab mendengar penjelasan soal dua kata ini, dan dengan melihat aplikasinya sangat jauh berbeda. Bahkan tidak nyambung sama sekali.

Menurut terminologi pemerintah (dalam hal ini; Badan Urusan Logistik dan Departemen Perdagangan RI), operasi pasar, adalah operasi yang dilakukan pemerintah untuk melihat kondisi harga kebutuhan pokok di pasar-pasar, baik pasar tradisional dan pasar modern, untuk mengantisipasi gejolak akibat kenaikan tersebut sehubungan daya beli masyarakat. Dan, dilakukan secara dadakan.

Padahal, dahulu, ketika pertama kali mendengar dua kata itu, saya menduga pemerintah akan ke pasar-pasar, meneliti harga-harga. Jika mereka menemukan harga yang naik secara tidak normal, mereka akan menindak pedagang yang bersangkutan, lalu kembali menormalkan harga yang terlanjur naik tadi. Saya selalu senang, jika dahulu saya diminta redaktur meliput soal ini. Tetapi, lalu gairah saya menurun ketika menemukan kondisi yang sebenanrnya, diluar perkiraan saya itu.

Memang, pada implementasinya, toh harga di pasar-pasar tetap naik juga. Toh masyarakat tetap kesulitan ketika pedagang menaikkan harga kebutuhan pokok. Ketika pemerintah melakukan operasi pasar, mereka mendapati harga-harga kebutuhan pokok tetap stabil, tetapi begitu mereka meninggalkan pasar, harga-harga kembali tinggi. Ini tentu sangat meresahkan.

Saya tentu, tetap akan mengaitkan ini dengan kondisi masyarakat Indonesia di level bawah, dan mencoba mencari pembenaran atas dugaan saya; jika ini tidak diantisipasi dari awal, di tengah rencana pemerintah maju ke panel pasar bebas, tentu akibatnya bisa diluar dugaan. Masyarakat bisa-bisa tambah melarat alias miskin alias terjepit. Nah, kacau kan jadinya…

PNS Naik Gaji, Harga Sembako Meroket

Kenyataan ini bahkan sudah menjadi lazim, jika ada isu pemerintah akan menaikkan gaji pegawai negeri sipil (PNS), sepekan sebelum isu itu pungkas, harga-harga sembako di pasar-pasar langsung meroket, tak terkendali.

Biasanya, ibu saya, yang guru PNS di sebuah sekolah dasar di Kendari itu, langsung mengomel panjang lebar. Komentarnya pedas soal ini. Tentunya tidak sambil memaki. Ibu saya tidak pernah berkata kasar. Makanya, jika pulang dari pasar, tidak cuma pedagang, kebijakan pemerintah yang tidak tegas pun ikut dia komentari. Kakak perempuan saya, yang PNS juga, ikut nimbrung. Akhirnya, ramai mereka sahut menyahut.

Nah, di rumah kami saja seperti itu, bagaimana di rumah-rumah lainnya, yang pemiliknya senasib dengan ibu saya? Ini kenyataan yang sulit disembunyikan. Bahwa pemerintah kesulitan mengendalikan harga pasar, memang demikian adanya. Untuk soal ini, sepertinya, pemerintah harus melakukan manuver ekstrem, bertindak keras.

Saya teringat pada China. Negeri Tirai Bambu itu, patut dicontoh dalam mengendalikan harga-harga di pasar-pasar negara mereka. Berbeda dengan praktek ekonomi di negara-negara Barat, terlebih di Indonesia, otoritas perdagangan pemerintahan China punya kantor khusus yang disebut Biro Harga.

Biro itu bertanggung jawab menetapkan kebijakan harga pasar dan memantau pelaksanaannya. Meskipun harga produk atau jasa dapat ditentukan oleh perusahaan, masing-masing perusahaan atau usaha patungan China harus melaporkan rencana harga yang akan diberlakukan kepada Biro Harga untuk dipertimbangkan.

Pemerintah pusat China berpendapat, harga barang dan jasa harus diukur dan dikendalikan agar ketidakpuasan politis terhadap reformasi ekonomi dapat diketahui dan dihindari. Menurut pemerintah China,  “kepanikan masyarakat” terhadap harga tidak boleh tidak, harus dihindari. “Kepanikan”, kata mereka, dapat mempercepat hiperinflasi dan menurunkan nilai mata uang.

Oleh karena itu, para pejabat Biro Harga harus melaksanakan tugas mereka dengan bersungguh-sungguh. Selain mengerjakan beberapa kegiatan lain, setiap tahun Biro Harga mencocokkan berbagai komoditi di pasar dengan harga yang ditetapkan pemerintah dan melaporkan hasilnya. Selain harga makanan (sembako), dan barang lainnya (rokok, minuman keras, dan lain-lain), Biro Harga secara teratur memeriksa biaya-biaya yang terkait dengan jasa seperti pariwisata dan angkutan (distribusi).

Biro Harga memiliki hak yang ditetapkan oleh undang-undang untuk mengenakan denda (yang terberat adalah sanksi hukuman kurungan) kepada seseorang yang menetapkan harga produk atau jasa di luar aturan harga resmi. Selain harga, macam atau ragam produk dan jasa yang ditawarkan oleh perusahaan asing atau usaha patungan juga berada di bawah kekuasaan hukum administrasi Biro Harga.

Jika Anda memasok produk atau jasa ke pasar China maka hubungan dengan Biro Harga tidak dapat dihindari. Pada Mei 1998, undang-undang harga yang pertama mulai berlaku di China. Aturan itu menentukan bahwa harga komoditi harus disesuaikan dengan penawaran dan permintaan pasar, tetapi jika diperlukan pemerintah pusat masih berhak mengendalikan harga, terutama harga barang-barang kebutuhan pokok. (Bab Enam: Pejabat Pemerintah Cina; Buku Menembus Pasar Cina; Yuan Wang, Rob Goodfellow, Xin Sheng Zhang).

Pemerintah China sangat peka dengan potensi pergolakan yang mungkin timbul dari hal-hal, yang oleh negara lain dianggap remeh. Biro Harga yang mereka bentuk, bertindak penuh atas nama rakyat dan undang-undang serta pemerintah. Rakyat tidak boleh “panik” akibat kenaikan harga. Sebab “kepanikan” akan mendorong pada instabilitas keamanan dan politis. Ini harus dihindari.

Bahkan, Biro Harga juga menentukan seberapa besar ongkos distribusi suatu barang dan jasa, lalu menentukan harga barang dan jasa yang didistribusikan itu, hingga barang dan jasa yang harus dibayar masyarakat sesuai dengan pendapatan mainimumnya. Jika ada yang tidak patuh terhadap kebijakan Biro Harga, mereka tidak segan-segan menangkap para pelanggar atas nama konstitusi dan dituduh “hendak mengacaukan kondisi rakyat” alias dianggap hendak makar.

Peraturan harga itu tidak terkecuali juga berlaku bagi perusahaan swasta dan perusahaan swasta patungan. Jika tak suka dengan aturan ini, pemerintah mempersilahkan investor yang dianggap “tidak bisa menjamin kesejahteraan rakyat China” itu, untuk angkat kaki dari negara itu, untuk menghindari tindak nasionalisasi perusahaan dan asetnya, oleh pemerintah China.

Inilah yang menjawab mengapa ekonomi China mampu bergerak maju secepat itu. Masyarakat China kini hidup di atas rata-rata. Penduduk kaya negara Panda itu bertambah drastis. Semua itu dikarenakan ketegasan pemerintah mengontrol harga barang kebutuhan pokok dan harga lainnya, yang tentu saja bersinggungan langsung dengan rakyat kecil.

Pemerintah China beranggapan, jika mereka bisa menjamin kehidupan masyarakat kecil, maka pemerintah tinggal melaksanakan agenda besarnya saja. Terangkatnya kehidupan masyarakat kelas bawah akan menjamin ketahanan nasional; pemerintah akan memiliki banyak energi untuk memajukan sektor lain dan sektor riil—sebab masyarakat yang memotori sektor itu tidak dipusingkan lagi dengan masalah kebutuhan hidup mereka.

Perusahaan yang bergerak di bidang kebutuhan pokok masyarakat, harus benar-benar memegang kendali terhadap bahan baku dan biaya produksi barang mereka, untuk menghindari pemotongan harga oleh Biro Harga (seberapa pun perusahaan menentukan harga, Biro Harga akan tetap memotong harga produk mereka, dengan berpegang pada nilai rasional—yang perhitungannya ditentukan dari pendapatan paling minimum masyarakat China—barang atau jasa tersebut).

Pemerintah Indonesia jangan terlampau percaya diri berlebihan dengan panel Pasar Bebas. Pada panel ACFTA, Indonesia akan benar-benar berhadapan pada kekuatan ekonomi yang “terlatih”. Ini fakta empirik yang akan membantu Anda mengetahui lebih dalam lagi, bagaimana kesiapan China dalam panel ACFTA.

Bahwa, sejak reformasi Pintu Terbuka pada 1978, pemerintah China sudah berusaha membentuk sistem ekonomi pasar bebas khas China. Salah satu unsur terkuat dalam model pasar bebas pada perekonomian China yang sedang tumbuh itu adalah pengawasan Partai Komunis (partai yang berkuasa) dan Pemerintah China terhadap berbagai bidang ekonomi.

Jadi penerapan pasar bebas di dalam negeri China sendiri, sudah dilakukan 32 tahun sebelum Indonesia menyetujui panel serupa yang diajukan WTO (dimotori negara-negara kapitalis). Betapa Indonesia jauh tertinggal dalam soal pasar bebas ini.

Meskipun usaha patungan yang telah terdaftar memiliki otonomi untuk mengawasi manajemen dan operasi perusahaan, masih banyak urusan yang ditentukan oleh pemerintah, dalam bentuk dukungan pemerintah. Mencari staf baru, memperoleh pinjaman dari bank, membeli bahan-bahan mentah yang langka, pengangkutan, telekomunikasi, dan bahkan persediaan air dan listrik, adalah kegiatan operasional yang melibatkan campur tangan pemerintah secara langsung.  Baik pengusaha asing maupun China pemilik usaha patungan itu harus melakukan segala daya untuk mendapatkan dukungan pemerintah sesuai dengan kebutuhan tersebut.

***

Tidak ada yang baik dalam pasar bebas nanti. Saya tidak “ketakutan” dengan panel pasar yang akan membuat semua kondisi terbolik-balik itu. Saya hanya mengkhawatirkan banyak hal yang akan berimplikasi buruk pada masyarakat dan generasi Indonesia selanjutnya sehubungan dengan panel pasar bebas yang menyesatkan itu. Makanya, panel itu saya tolak sama sekali.

Akan tetapi, jika pemerintah, memang sudah berkeras hati untuk terus maju, saya hanya berharap pemerintah mau mempersiapkan masyarakat kelas bawah dulu, dari kemungkinan terburuk dari panel pasar bebas itu. Tidak dalam kerangka pasar bebas saja, masyarakat kecil Indonesia masih ada yang hidup “terengah-engah”, kadang setiap hari harus was-was dengan harga kebutuhan pokok di pasar-pasar.

Gunakanlah indikator yang realistis; semisal jika masih ada masyarakat yang mati karena busung lapar, atau jika masih ada masyarakat yang makan aking dan daun ketela untuk mengganjal perut, atau jika masih ada anak Indonesia yang tidak dapat ke sekolah karena alasan yang beragam, atau jika masih ada masyarakat yang tidak bisa berobat karena tidak ada dana, maka sebaiknya urungkan niat Anda berlaga di pasar bebas.

Jangan menjadikan alasan, bahwa kehidupan sejahtera pada masyatakat justru akan terbangun kalau Indonesia ikut dalam Pasar Bebas.

Lho kok,…kenapa justru berharap masyarakat baru akan sejahtera setelah ikut pasar bebas? Itu sama saja “berharap menang perang setelah berada di medan perang”. Bukankah lebih baik, mempersiapkan diri dengan mencukupi semua kebutuhan pokok masyarakatnya lebih dulu, kemudian baru maju ke pasar bebas. Itu artinya, “mantapkan strategi perang dulu, baru berangkat perang” Gitu lho…Ibu M. Elka Pangestu…

Tolak Pasar Bebas! No Free Trade! Ini lebih baik. []


Nasib Televisi Dan Radio Lokal Dalam Panel Pasar Bebas

Seri Tolak ACFTA (III)

(Boks 2 pada tulisan Free Trade Area : Ketika Indonesia Berperang Tanpa Tameng)



Free Trade Area : Ketika Indonesia Berperang Tanpa Tameng

Seri Tolak ACFTA (III)

(Seperti Apa Negara Adikuasa Menciptakan Kemelut Sebagai Jalan Bagi Kebijakan Mereka)

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Jika konsep ekonomi kapitalis, yakni pasar bebas, “menampar” rakyat bawah lebih awal sebelum semuanya dipersiapkan, percaya deh pasti tatanan ekonomi lokal akan goyah sekali.

***

Pemerintah Indonesia rupanya terus melaju dengan rencana peleburan ekonomi Indonesia ke dalam panel pasar bebas. Upayanya tampak jelas dengan kemunculan banyak faktor pembanding dan masif dilakukan Departemen Perdagangan RI. Sejumlah indikator (versi DepDag RI) menggiring ke kerangka pemahaman bahwa Perdagangan Bebas (atau yang saya sebut sebagai Peta Jalan Baru Imperialisme dan Kolonialisme) masih baik-baik saja. Padahal sangat sulit menyerap kalimat “baik-baik saja” itu dalam spons geo-ekonomi dan geo-kultural orang Indonesia. Benarkah sangkaan pemerintah itu?

Pemerintah RI, lewat Departemen Perdagangan, sebelumnya telah merilis angka prosentase industri kreatif Indonesia yang akan menjadi tameng dalam “perang segmentatif” di pasar bebas. Lembaga pemerintah itu memetakan sejumlah usaha kecil-menengah yang mereka sebut industri kreatif, bahwa jika itu dikembangkan (dan berkembang baik) maka keraguan ketidakbisaan pelaku pasar Indonesia dalam tarung pasar bebas, akan pupus.

“Jika”. Bahkan sebelum kata itu pungkas diucapkan, tetapi kita, masyarakat Indonesia pun, belum dapat melihat sejauh mana pemerintah menyiapkan alat pendukungnya. Perbankan belum dapat membangun komitment sepenuhnya terhadap jalannya roda usaha kecil-menengah. Beleid pemerintah yang belum berfungsi sebagai “cemeti” yang dapat dilecut-lecutkan di atas kepala “kuda” perbankan dan investasi, agar sigap dan tangkas menarik gerobak ekonomi Indonesia berjalan lebih laju.

“Anda kok getol sekali menentang pasar bebas?” tanya seorang kawan se-daerah saya yang kini mukim di Singapura sana. “Pasar bebas kan bisa dilihat sebagai motor yang akan membuat ekonomi ngebut,” kata dia lagi.

Mendengar ini, saya tiba-tiba makin yakin bahwa pasar Indonesia tidak bisa sepenuhnya diserahkan pada sistem kapitalis pasar bebas.

Saya membangun faham perihal penolakan itu dari asumsi-asumsi kolosal saja; sudahkah pemerintah menyiapkan tameng kebijakan yang akan melindungi rakyatnya? Sudahkah pemerintah menguatkan lembaga-lembaga yang berkaitan langsung dengan pangan rakyat? Telahkah pemerintah melindungi konsumen Indonesia dengan aturan yang akan menyimpul keras pada tatanan perlindungan? Yakinkah pemerintah atas data-data industri kreatif itu? Seberapa besar dan solid resistensi produsen di tingkat rakyat menanggapi rencana itu? Bukankah yang akan menerima dampak perdana dan paling keras adalah para petani, nelayan, petambak, dan pedagang-konsumen pasar tradisional?

Lalu saya katakan pada karib saya itu.

“Kalo alat ukurmu hanya kapital pertumbuhan ekonomi Indonesia yang di atas empat persen itu, dan gerak maju ekonomi kawasan (khususnya tempat ente tinggal sekarang, Singapura), maka itu sulit diparalelkan dengan kondisi riil mikro ekonomi rakyat. Rakyat kelas bawah di Indonesia tidak tergambar jelas di kepala pelaku kapitalis seperti kamu. Harus ada jaminan; semisal harga pasar untuk komoditas yang mereka butuhkan sehari-hari, dan jaminan terhadap kebutuhan mereka lainnya. Jika konsep ekonomi kapitalis, yakni pasar bebas, “menampar” rakyat bawah lebih awal sebelum semuanya dipersiapkan, percaya deh pasti tatanan ekonomi lokal akan goyah sekali.” Timpal saya.

—Pemerintah harus mengendalikan harga pasar. Maksud saya, “benar-benar mengendalikan harga”. Bukan model operasi pasar yang kerap dilakukan pemerintah saat ini. Model kerja pemerintah seperti itu, tidak menjamin kepentingan masyarakat terhadap harga. Malah terlihat jelas, bahwa operasi pasar pemerintah hanya sekadar hendak memastikan kondisi aman saat ada manuver kenaikan harga; agar tidak kacau, tidak grasa-grusu.—(Baca tulisan selengkapnya soal ini dalam, Biro Harga: Pengendalian Harga Pasar Ala China)

“Lho, bukankah arus barang dan jasa akan lebih laju? Bukankah harga akan tergencet, hingga daya beli terdongkrak?” Lanjut dia bertanya, tidak sabar.

“Mungkin betul begitu. Tapi kan, soalnya bukan disitu. Soalnya berputar di sekitar; siapa yang akan membeli produk yang juga dihasilkan mereka? Tujuan pasar bebas, kan, sesungguhnya hendak membangun komunitas-komunitas konsumen, bukan untuk menyeimbangkan ekonomi. Jika itu tujuannya, bukankah yang paling diuntungkan dengan terbentuknya kawasan-kawasan pasar (koloni-koloni konsumen) adalah korporasi besar yang sedang bersaing-sangian itu?”

Pemikiran dan pertanyaan sederhana itu, membuat dia diam dan tertegun.

Wah, dia tertegun. Kalau sudah begitu, ini pasti tidak remeh. Tapi, dia masih penasaran, “saya lihat orang asing memuji-muji industri kreatif Indonesia itu.. Bukankah ini bagus?

Ha..ha..ha..ha, saya tertawa. “Kawanku yang baik. Industri kreatif Indonesia, oleh kalangan perbankan, belum mereka masukkan sebagai kreditor yang potensial. Lagi pula, produk industri kreatif itu pun pasti terkena penyakit pasar, yakni kejenuhan produksi. Ini kan ambigu. Kalau produksi massal, pasar bisa jenuh, dan membuat harga melorot. Apalagi sulit menjual produk seperti itu dengan harga yang tinggi. Jika pun di produksi terbatas, keuntungannya kecil.”

Kalimat saya itulah yang mengakhiri perbincangan kecil tapi ber-isi itu. Selebihnya, saya lebih senang memberi sedikit wriggled—saya lebih suka dengan istilah meronta-ronta—terhadap rencana pemerintah untuk membuat sistem ekonomi Indonesia terjun bebas ke jurang pasar bebas.

INDUSTRI KREATIF  INDONESIA

Berbicara dalam konteks negara-negara kawasan, peluang produk industri kreatif, bukan satu-satunya domain Indonesia. Negara-negara dalam kawasan ASEAN saja, juga lagi sibuk meningkatkan potensi industri semacam itu. Nah, lho…!

Data departemen Perdagangan RI, menyebut 15 jenis industri kreatif, yang menurut lembaga itu, akan menjadi “penolong” Indonesia dalam panel pasar bebas. Dianggap sebagai andalan, sebab menurut pemerintah, industri jenis ini berbasis padat karya; mampu menampung banyak tenaga kerja, dan bergaya sustainable. Seandainya memang seperti itu.

Dari 15 jenis industri ini, yang paling besar menyumbang ke pendapatan domestik bruto (PDB), adalah industri fashion (43,71%), lalu kerajinan (25,51%), serta riset dan pengembangan (-1%), sedang 12 jenis lainnya menyumbang (10%).

Sayang, ekspos data ini tidak menyebut angka dalam rupiahnya, selain hanya berharap semoga saja prosentase itu dapat mewakili kesan yang timbul, bahwa memang terjadi “ledakan” pendapatan masyarakat melalui 15 macam industri kreatif itu.

Untuk menemukan dasar pemerintah menentukan ke-15 macam industri kreatif tersebut layak dijadikan alasan pemerintah untuk meneruskan langkah masuk ke panel pasar bebas. Menggunakan adagium besi tameng; yah…hitung-hitung, semacam meneliti jenis besi apa yang layak dan baik, untuk ditempa membuat tameng dalam “perang” ini. Mari kita reset kembali.

Mode (fashion). Kendati menurut DepDag RI industri ini menempati posisi sebagai penyumbang PDB terbesar (43,71%) saat ini, namun saya skeptis industri ini masih akan mendominasi ke 15 sektor lainnya dalam PDB. Industri mode China, Thailand, dan Philipina pun, sebenarnya, tidak bisa diremehkan.

Selain dua negara itu, China malah telah lama bermain di tataran internasional dalam hal mode. Jika Anda ke beberapa pasar modern besar di Jakarta (atau bahkan di kota tinggal Anda sekarang), sejumlah rumah mode yang “nongkrong” disitu justru memajang sejumlah desain mode yang dibuat oleh industri kreatif China. Bajakan pun tak apa-apa. Sebab kita memang tidak menelaah masalah di sisi ini. Produk bajakan, mungkin, salah satu keuntungan komparatif China dalam menetrasi pasar.

Tapi, sikap skeptik saya tidak sepenuhnya. Sebab saya masih membaui aroma persaingan dalam bidang ini. Desain mode Philipina, Thailand, dan Indonesia pun tidak bisa dipandang remeh. Namanya juga industri kreatif, maka tidak ada yang sepenuhnya “pakem” di sini. Dengan keunggulan motif batik yang sudah disyahkan UNESCO sebagai warisan budaya dunia milik Indonesia, desain-desain indah akan kerap bermunculan dari tanah air. Namun, China pun punya batik. Tapi apa mungkin motif batik yang kaya dapat menyembunyikan model-model sampiran, potongan-potongan ekstrem, dan melawan kecenderungan mode yang masih berkiblat di eropa? Namun, sekadar meramaikan pasar dalam negeri (alias jadi tuan rumah di negeri sendiri), bolehlah.

Kerajinan. Industri yang satu ini seharusnya tidak dapat diremehkan. Kenyatannya, kerajinan Indonesia belum jadi tuan rumah yang dominan. Entah kenapa pemerintah justru menempatkan industri ini pada rangking kedua (25,51%) setelah fashion. Selama ini—tampaknya—industri ini yang jadi buah bincang dihampir semua bibir orang asing yang pernah ke Indonesia. Industri kreatif jenis ini di sentra-sentra Yogya, Bandung, Bali, Sumatera, Sulawesi, dan Papua, masih harus memperbaiki dan meningkatkan produk, untuk dapat melihat sejauh mana industri kreatif yang satu ini melawan derasnya produk industri serupa dari luar.

Akan tetapi, kecenderungan konsumen global kini berpijak pada produk-produk yang memiliki ketahanan lebih lama. Ini terbukti dengan makin diminatinya produk-produk bergaransi tahunan. Produk berbahan dasar plastik dan baja akan lebih diminati ketimbang produk serupa, yang berbahan kayu, bambu atau rotan. Kecuali, jika pemerintah memberi kelonggaran para perajin mendapatkan bahan baku, dan memajukan kampanye pelarangan beberapa bahan kimia berbahaya—yang selama ini dijadikan campuran tambahan dalam pabrikasi produk plastik dan baja China—rasanya akan menjadi peluang makin berkembangnya sektor ini. Sayangnya, gerak pemerintah belum terlihat ke arah sana.

DUA BELAS INDUSTRI KREATIF  DI POSISI TIGA

Seperti yang tertulis di atas, ada 12 jenis industri kreatif yang memberi pemasukan dalam PDB sebesar 10 persen. Kita lihat saja satu-satu.

Jasa Periklanan. Jasa ini belum berkembang pesat, yang hampir sulit mengejar perkembangan media-media audio-visual, yang juga sama-sama belum signifikan. Aturan periklanan yang belum sepenuhnya memberi ruang pada pengiklan dan jasa periklanan, ikut memperlebar perkembangan sektor ini. Seharusnya, pemerintah sudah memparipurnakan aturan main periklanan Indonesia, yang kini mediumnya merembet kemana-mana, mulai dalam ruang hingga ke luar ruang; dari desain visual hingga audio dan audio-visual; mulai dari kelas “nyantel di pohon” hingga kelas billboard kecil dan besar di titik-titik potensial kota ; iklan statis dan bergerak; hingga ke iklan yang memanfaatkan citra diri kalangan pesohor. Jika tergarap baik (investor dan kebijakan) maka serapan tenaga kerjanya pun lumayan banyak. Sayangnya, bagi siapa saja yang hendak masuk ke dalam industri ini, harus memiliki standar spesifikasi keterampilan tertentu.

Belanja iklan korporasi besar dan kecil akan ikut mendongkrak pendapatan dari sektor periklanan. Beleid pemerintah, di setiap daerah, setali tiga uang. Belum mendorong gerak maju jasa ini. Pun, industri media yang berkembang pesat sulit ditandingi para pemilik jasa periklanan, hingga masih jauh dari harapan menjadikan sektor ini berkembang di masa depan. Tapi apakah para pelaku sektor ini akan mampu bersaing dengan sejumlah pemain asing di sektor serupa, saat ACFTA berlaku nanti? Jasa periklanan asing juga terbukti sangat maju ketimbang jasa iklan dalam negeri. Lihatlah, masih ada beberapa iklan dari giant coorporation yang tidak bisa digarap biro iklan dalam negeri, sehingga iklannya harus “diimpor”.

Dari segi kreatifitas, mungkin saja para pekerja iklan dalam negeri masih mampu bersaing. Tetapi dari banyak segi lain, semisal; kemampuan menggaet klien kakap—yang rata-rata datangnya dari luar Indonesia—mereka harus bersaing ketat; kemampuan olah visual; mampu menterjemahkan citra produk pada konsumen yang tepat; adalah sedikit faktor yang kerap menghancurkan sebuah produk jika tidak digarap dengan baik.

Arsitektur. Seni arsitektur dalam negeri sudah demikian berkembang. Namun, perkembangan itu juga searah dengan perkembangan seni serupa di luar negeri. Banyak hal yang menjadi penentu dalam proses kreatif sebuah rancangan arsitektur; antara lain kondisi iklim dan cuaca setempat, gaya arsitektur, penggunaan bahan, aturan teknis (ukuran), dan lainnya. Selain itu, tentu saja selera.

Kekayaan arsitektur yang berlatar tradisional, dapat dikembangkan pemerintah lebih lanjut. Arsitektur Indonesia yang sangat dipengaruhi kondisi iklim tropis dan kontur wilayah, masih harus diuji kembali sebelum disodorkan pada konsumen yang lebih besar. Cocoknya memang, arsitektur ber-gaya Indonesia ini hanya pas dengan suasana Indonesia. Jangan-jangan pemerintah menterjemahkan sektor arsitektur ini sebagai trading building development—yang kerap disebut rumah-toko alias ruko untuk dagang. Perkembangan ruko memang sedang marak, seiring kemajuan investasi di sektor riil. Tapi apa ini cukup dijadikan indikator? Pikir lagi.

Seni Rupa. Seni rupa justru sangat maju. Bidang ini mampu menempatkan Indonesia dalam jajaran negara-negara perupa maju. Seni lukis, misalnya, yang sudah berkembang sejak jaman Raden Saleh Bustaman, berlanjut ke generasi Basuki Abdullah, Affandy, dan lainnya. Sejumlah maestro perupa justru juga lahir dari Indonesia. Selain nama-nama di atas yang aktif sebagai pelukis, masih ada pematung Nyoman Nuarta yang juga maestro dibidangnya. Karya-karya Nyoman bahkan menembus peminat dan penggemar yang lebih luas, mendunia. Sesungguhnya, bidang seperti ini tidak bisa disebut industri, sebab tidak menyerap tenaga kerja banyak dan peminatnya terbatas.

Seni Pertunjukan. Seni pertunjukan Indonesia memang belum semaju Brodway di Amerika dan Australia sana. Di Asia, seni pertunjukan Indonesia sudah punya gigi. Teater modern, Drama modern, atau bahkan grup-grup band. Seni pementasan tradisional, macam wayang orang, teater (La Galigo yang menembus Eropa dan Amerika), bermacam tarian (Kecak, Topeng, dan lainnya). Pertumbuhan seni pertunjukan, ternyata ikut memajukan sektor lain, seperti bisnis event organizer (penyelenggara acara). Usaha EO bermunculan. Serapan tenaga kerjanya pun banyak. Namun, ada catatan penting di bidang ini tidak boleh diacuhkan; yakni pendapatan pekerja di sektor ini yang tidak menentu, tidak menjamin kesejahteraan.

Indikator perkembangan seni pertunjukan lainnya, mungkin, jika pemerintah bisa memasukkannya, adalah bisnis hiburan modern. Jakarta yang lebih awal memoderasi bisnis hiburan ini menjadi lebih metropolis. Ini pula yang sedikit-banyak mendatangkan banyak wisatawan ke Indonesia. Thailand adalah salah satu negara yang menopangkan pendapatan pariwisatanya pada sektor ini. Hingga negara itu terkenal sekali dengan bisnis dunia malam dan pelacuran. Hingga kini negara itu masih berposisi paling atas dalam sindikat pelacuran anak-anak dan penjualan wanita untuk kepentingan yang sama. Maukah Indonesia terjebak dalam arus hitam budaya kontemporer dan maksiatik seperti ini, yang secara pasti akan ikut membonceng pada penerapan panel pasar bebas? Tinggal pilih.

Desain. Mutu desain Indonesia boleh-lah bersaing. Tetapi, desain-desain dalam negeri masih sebatas memenuhi tuntutan pasar domestik. Mungkin, yang dimaksud pemerintah dengan sektor desain adalah desain secara keseluruhan. Jika demikian, artinya data pemerintah tentang industri kreatif itu tumpang tindih, yang akhirnya menjadi pembenaran keraguan saya, bahwa ekspos DepDag RI terkait industri kreatif itu hanyalah upaya sempalan semata. Berbau agitatif.

Piranti Lunak. Di bidang ini tidak usah ditanya. Masih belum bergigi. Memang, sejumlah programer piranti lunak Indonesia sudah “hidup nyaman” di luar negeri di bajak perusahaan software raksasa. Mereka justru tak mukim di Indonesia. Nama-nama perusahaan piranti lunak lokal, semisal Bamboomedia di bali, dan SahirAccounting di Jakarta, dan beberapa lainnya, baru sebatas memproduksi software untuk program pemasaran lokal. Mutu program yang mereka hasilkan masih sangat kompetitif dengan produk sejenis, dan harga yang mahal. Ini jelas sekali sulit menentukan komparasinya. Bisa sangat mempengaruhi jika banyak software sejenis memasuki pasar Indonesia dari luar negeri.

Film. Masih belum dapat disebut industri, sebab film Indonesia baru diproduksi dalam kuantitas puluhan setiap tahunnya. Dari segi mutu sinematografi, bolehlah. Namun dari segi kuantitas, Indonesia masih kalah dari China (Hongkong), di Asean masih ada Thailand dan Philipina, sedang di kawasan Asia, ada India, Korea dan Jepang. Film pun masih tergantung pada selera penonton. Kendari belakangan, penonton Indonesia mulai menyukai film-film Indonesia, yang sudah diproduksi dengan teknik bagus dan jalan cerita yang menarik. Namun masih sulit membelokkan kenyataan bahwa kebanyakan penonton film Indonesia masih menyukai sejumlah genre film klenik, horor murahan, film impor India, dan China. Jadi jika bicara soal selera, ini belum menggairahkan bisnis film nasional.

Soal budgeting film yang rata-rata menelan biaya Rp2 miliar per judul, masih agak mahal. Posisi sineas dipertaruhkan disini. Artinya, bukan sineasnya yang gak cakap, tetapi umumnya film Indonesia high cost, hingga sineas sulit mendapatkan investor. Padahal masih banyak produksi film asing yang mampu menekan biaya dibawahnya. Sebut saja rumah-rumah produksi  Iran dan China yang mampu menekan biaya produksi di bawah 2 miliar rupiah, namun hasilnya lumayan, dan memenuhi selera tonton (inilah yang penting).

Dilematis, memang. Di satu sisi, sineas dituntut membuat film yang bagus, namun biaya penggarapannya…alamak! Di sisi lainnya, film yang berbiaya murah, jelas akan tidak maksimal sebagai sebuah tontonan. Di tambah selera penonton Indonesia yang sulit dipetakan, hingga bisnis satu ini masih berhaluan “spekulatif”; bikin dulu, sedikit-banyaknya penonton urusan nomor dua.

Musik. Musik Indonesia dalam persaingan kawasan masih dapat diandalkan. Musik Indonesia, menurut Bens Leo, masih lebih maju dari musik Malaysia, Jepang, Philipina bahkan China. Namun kenyataan masih sedikit sekali grup musik, atau individu yang berhasil menembus panggung internasional, sedikit memberi gambaran nasib indusri musik Indonesia nantinya. Tapi lagi-lagi ini soal selera, dan nunut trend. Lihatlah, selera musik yang diminati saat ini, musik ber-genre melayu. Ini soalnya; masyarakat Indonesia masih berupa pendengar musik, belum sebagai penikmat musik.

Televisi dan Radio. Setelah era orde baru, kran media terbuka lebar, dan ikut memacu lahirnya sejumlah lembaga penerbitan dan penyiaran swasta, baik televisi dan radio, yang popularitasnya langsung meroket, meninggalkan TVRI dan RRI. Kedua corong pemerintah itu bahkan nyaris bangkrut akibat sejumlah persoalan yang membelit, semisal korupsi dan buruknya manajemen. Di Jakarta saja, sekarang ini, tidak kurang dari 10 stasiun televisi lokal berskala nasional yang berdiri, dan ratusan radio baru. Pun, bermunculan pula televisi daerah, walau bertumbuhannya belum merata di semua provinsi.

Dengan bantuan pasar bebas, pemain asing dengan kapital luar biasa di bisnis televisi dan radio akan dengan leluasa memanfaatkan klaim pemirsa untuk kepentingan periklanan. Televisi dan radio asing pun, bisa saja membawa pengaruh buruk bagi penonton Indonesia. Pergeseran moral dan sikap akibat tayangan televisi asing yang mereka tonton akan sangat merusak. Anak-anak dan remaja adalah sasaran empuk tayangan asing yang tidak bertanggungjawab itu. Di sisi lain, determinasi televisi nasional yang sudah ada, akan melemah, baik dikarenakan kapital modal yang sulit disaingi, maupun varian program yang lebih menarik (program televisi dan radio di Indonesia saat ini, kadang kala tidak kreatif dan variatif, alias masih terjangkit virus latah. Banyak program yang mirip-mirip, digarap berbeda, tetapi pada dasarnya sama).

Di sisi lain, pemerintah harus lebih tegas soal program yang bermutu dan tidak bermutu. Sudah waktunya ada regulasi yang menghapus sama sekali tayangan gosip dari ruang-ruang televisi Indonesia. Tayangan gibah seperti ini sangat tidak bermutu sama sekali. Terlebih jika nantinya media seperti televisi dan radio (serta media umumnya) ikut dijadikan pemerintah sebagai sektor yang diandalkan dalam panel pasar bebas. Tayangan gosip selain memang tidak bermutu, juga tidak membawa manfaat bagi pemirsa.

Apalagi memang, aturan pemerintah yang ada, belum tuntas membentengi investasi televisi dan radio lokal, bahkan, dari pergerakan usaha televisi dan radio nasional. Dari sini bisa dilihat, usaha televisi dan radio di Indonesia—antara nasional dan lokal—saling berperang, berebut kue iklan dan saling mematikan. Melihat kondisinya, sulit membayangkan jika kemudian investasi sejenis dengan kapital investasi masuk ke Indonesia. Televisi dan radio asing sibuk mengeruk untung, sementara itu televisi dan radio Indonesia masih saling menjatuhkan.

Lagi pula, pemerintah belum serius menggarap peraturan yang terkait dengan regulasi periklanan dan domain iklan secara nasional dan local. (Lihat tulisan yang memuat ulasan lebih lanjut tentang sektor ini terkait hambatan pemerintah, selengkapnya di : Nasib Televisi Dan Radio Lokal Dalam Panel Pasar Bebas)

Penerbitan. Usaha sektor ini tidak akan berkembang tanpa bantuan dan dukungan pemerintah. Usaha penerbitan sangat bergantung dari harga dan suplay kertas. Beberapa tahun silam, usaha penerbitan pernah terkena resesi dikarenakan dua sebab itu. Kendati, usaha penerbitan terlihat maju—dengan bermunculannya usaha ini di daerah-daerah—akan tetap sulit jika usaha sejenis asing sudah mulai masuk, sementara pemerintah Indonesia sendiri tidak membuat perlindungan yang memadai terhadap faktor-faktor kunci kelangsungan hidup usaha ini.

Mainan. Wah, untuk bidang yang satu ini, kayaknya DepDag RI terlalu “pede”. Padahal, tidak perlu ditanya seberapa tinggi serapan produk mainan China di pasar-pasar Indonesia. Jelas sangat tinggi. Survey-lah mainan anak Anda di rumah, saya yakin, enam dari 10 mainannya, pasti bertuliskan “made in china” di bagian bawahnya. Jalan-jalan lah pula di beberapa pasar tradisional di kota Anda masing-masing, Anda pasti akan geleng-geleng kepala menyaksikan bedeng-bedeng jualan dipenuhi mainan buatan negara tirai bambu itu. Ini soal selera anak-anak; yang sangat ditentukan dengan model, dan warna.

Satu dekade lampau, Indonesia “diserang” dengan sejumlah karakter animasi asal negeri sakura, Jepang. Lalu yang terjadi kemudian, pasar mainan Indonesia dibanjiri dengan mainan bertema tokoh-tokoh super dari Jepang itu. Asal tahu saja, mainan-mainan yang berharga murah itu ternyata di bajak dan diimpor dari China, hingga “membanting” sejumlah mainan serupa yang berharga mahal, dan seketika membuahkan keluhan dari pemilik hak atas merek.

Namun kita tidak bisa mengukur tingkat persaingan dalam kasus itu, hanya dengan melihat satu jenis mainan saja. Mainan anak-anak dibagi dalam dua kategori besar, yakni mainan modern dan mainan tradisional. Mainan modern masih memiliki sejumlah varian lagi, semacam mainan yang hanya mengutamakan tampilan karakter saja, dan mainan yang digerakkan dengan sistem mekanik.

Mainan tradisional rata-rata sukar diproduksi massal karena beberapa faktor, seperti bahan dasarnya yang masih menggunakan kayu, bambu dan sejenisnya. Sifatnya yang tidak tahan lama, membuat mainan tradisional begitu mudahnya ditinggalkan anak-anak. Lalu, dunia anak-anak yang penuh imajinasi, membuka pintu yang demikian lebar bagi masuknya ribuan karakter dan bentuk mainan asing yang ternyata lebih sesuai dengan arah imajinasi mereka.

Soal harga produksi mainan China yang sangat rendah, membuatnya sangat mudah diserap pasar. Daya beli dan keputusan orangtua, akhirnya menjadi penentu utama. Makanya, sangat bisa dimengerti jika industri mainan Jerman pun pernah mengajukan nota keberatan pada pemerintahnya sebagai bentuk protes, karena pemerintahnya tidak dapat menahan laju serbuan mainan murah dari China.

Kenyataannya memang, industri mainan Jerman nyaris kolaps (bahkan beberapa perusahaan besar sudah memohon pailit pada pengadilan usaha setempat), sekadar tidak mengatakan tidak bergerak sama sekali. Serbuan itu benar-benar mematikan mereka. Ironisnya, hanya berselang enam bulan, sejak kalangan pelaku industri mainan Jerman melayangkan nota protesnya, berturut-turut Prancis, Spanyol, Inggris, kemudian puluhan negara di Eropa lainnya hampir bersamaan mengeluarkan pernyataan serupa, dan langsung membuat industri mainan Amerika Serikat bersiaga.

Gambaran ini cukup memberikan bukti, bahwa kemenangan China dalam indsutri yang satu ini, karena pelaku industri mainan negara itu mampu memproduksi mainan dengan modal rendah, dan pemerintah mereka cenderung longgar dalam hal proteksi anti pembajakan. Bagaimana pun industri berbasis rakyat yang dijalani China harus tetap jalan, bukan? Akankan China akan melonggarkan sikapnya terhadap Indonesia saat ACFTA nanti? Mungkin tidak.

Video Game. Siapa yang akan menyangkal bahwa industri video game asing masih dikuasai sejumlah pemain tangguh dari Amerika Serikat, Jepang dan Eropa, bahkan belakangan China mulai memasuki industri ini. Sega (Jepang), Nintendo (Jepang), PlayStation (Amerika), Xbox (Amerika), adalah sekian korporasi permainan elektronik yang merajai pasar saat ini. Ingat, pengguna hasil kreatif dari sektor ini tidak memiliki batas usia. Jadi peluangnya mengekspansi pasar Indonesia masih sangat terbuka, dan masif. Belakangan China pun turut “nyemplung” di sektor ini. Selain membajak, China sangat terbukti mampu memproduksi video game yang cukup baik. China tidak saja mampu memproduksi game ber-basis consol PS, Xbox, dan Nintendo. Mereka pun mampu memproduksi game berbasis personal komputer (PC); game untuk gadget komunikasi (handphone); dan game untuk GamesToy (macam gameboy dan game station). Beberapa korporasi game asal China ini, misalnya; Vikya Industrial (China) Co. Ltd., Timeharvest Company Ltd., Shenzhen Hongzhi Electronics Co Ltd., Wintoo Amusement Co., Ltd., Zhongtong Huanyu Technic Beijing Co., Ltd., Swei Electronics Co., Ltd., Shenzhen Sunqt Technology Co., Ltd., Westing Technology Co. Ltd., Kingday Group Ltd., United Supply International Ltd.

Bagaimana dengan sektor ini di Indonesia? Sulit memasukkan sektor ini sebagai industri di Indonesia. Sebab, belum ada yang signifikan dihasilkan para perancang game di Indonesia.

Riset dan Pengembangan (-1%). Inilah inti dari semuanya. Riset dan pengembangan sebagai alat ukurnya. Jika pertumbuhan sektor ini saja masih minim, bagaimana mengharapkan pertumbuhan dari 14 sektor lainnya. Bukankah, sebuah produk akan berjaya jika didahului dengan riset dan pengembangan yang matang. Sebagai lahan tryout (ujicoba) sebuah produk dan jasa, sektor ini hanya menyumbang kurang dari 1 persen, jadi tak perlu berharap banyak akan terjadinya perkembangan di sektor lainnya.

Pemerintah yang ada sekarang tidak dapat disalahkan sepenuhnya. Ini “dosa” turunan pemerintah terdahulu. Kurangnya perhatian dari pemerintah yang silih-berganti berkuasa itu, membuat sektor-sektor ini tidak berdaya jika diperhadapkan dengan panel ACFTA. Banyaknya aturan ikut menghambat perkembangan sektor-sektor di atas. Selain pungli dan tingginya pajak yang dikenakan terhadap bahan baku ikut membuat industrinya sendiri kurang berkembang baik.

***

Melihat data-datanya, kemudian membeber faktor-faktor kunci yang akan membentuk persaingan, agaknya tidak ada artinya sama sekali. Ke-15 sektor ini bukan sektor yang “merakyat” secara harfiah. Sektor-sektor ini memiliki barrier yang lumayan ketat untuk dapat diekspansi masyarakat secara umum.

Seseorang harus memiliki pendidikan yang tepat, pengetahuan yang cocok, dan keterampilan yang memadai untuk dapat menjadi bagian dari ke-15 jenis sektor ini. Sesungguhnya soal pendidikan ini tidak akan menjadi hambatan berarti, jika saja 40 tahun silam, pemerintah memenuhi amanah undang-undang soal 20% anggaran pendidikan. Ah, untuk soal yang satu ini, pemerintah memang tidak pernah serius kok.

Jika kini, angka keterbelakangan pendidikan yang belum usai diurusi itu belum berkurang secara signifikan, pemerintah menyodorkan dalih yang macam-macam, seolah-olah dengan dalih-dalih itu mereka hendak mendilur (membasuh) tangan, dan bilang “lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali”.

KONTRA PRODUKTIF

Di tengah banyak penolakan terhadap agenda masuknya Indonesia dalam panel pasar bebas ACFTA, pemerintah—pada lembaga terkait—masih mencoba “merayu” dengan berbagai bantahan.

Jika pasar bebas masuk, investasi akan marak, lapangan kerja akan terbuka, pengangguran akan berkurang, dan angka kesejahteraan akan naik. Ini kata-kata pemerintah.

Sayangnya, realitas yang muncul saat ini dan kepastian yang akan hadir belakangan, semuanya kontra produktif dengan apa yang berusaha dihadirkan pemerintah. Simaklah.

Investasi yang masuk ke sebuah kawasan pasar (Indonesia), memang akan potensial terjadi jika pemerintah serta-merta menghapuskan semua hambatan pasar dan perdagangan, semisal, pembatasan maksimal investasi, pajak bea masuk, tax holiday, pajak atas barang mewah, dan penyederhanaan birokrasi dalam pengurusan dokumen. Benarkah pemerintah Indonesia akan melakukan ini?

Kalau pemerintah memang mengamini pasar bebas, pastilah ini semua akan dihapuskan dan dilakukan. Tetapi, langkah itu tidak akan membawa keuntungan apa-apa buat pemilik investasi dalam negeri (pengusaha Indonesia). Aliran modal yang tidak terkendali, aliran barang yang sulit dibendung, keuntungan pajak dari program bebas pajak, hadirnya barang mewah yang makin membuat masyarakat makin konsumtif, dan membanjirnya permohonan ijin dalam bentuk yang beragam dari luar negeri.

Saya menyebutnya “capital cracking out”; akan terjadinya “pembunuhan” investasi dalam negeri karena masuknya modal asing yang besar; matinya dominasi barang dalam negeri karena membanjirnya barang luar; hilangnya kepercayaan dunia usaha dari sektor pajak karena pembebasan pajak hanya diberlakukan pada jenis investasi asing; mangkatnya pola hidup sederhana, serta tumbuhnya degradasi moral dan kecemburuan sosial yang tajam.

Lapangan kerja yang terbuka sekadar menjadi kenyataan semu. Jika pemerintah tidak membatasi pekerja asing yang masuk akibat pola rekruiment perusahaan asing, maka sulit melihat pekerja lokal berdaya. Kekurangan itu diperparah dengan belum pungkasnya program pemerintah yang mengarah pada peningkatan teknis dan keterampilan tenaga kerja. Perusahaan mana yang hendak memberdayakan tenaga lokal yang tidak terdidik secara teknis dan tidak memiliki keterampilan yang memadai.

Tenaga kerja lokal Indonesia akhirnya hanya menjadi kuli atau buruh kasar belaka. Kenyataan ini bukan omong kosong. Lihatlah bagaimana posisi pekerja lokal daerah jika ada investasi usaha berskala nasional masuk ke daerah; marjinal, dan hanya menjadi buruh kasar. Sedang di tingkat manajemen dan pekerja menengah diisi oleh orang-orang dari luar daerah (lahirnya istilah “recruitment pusat”).

Imbas dari kenyataan di atas adalah angka pengangguran yang tidak berkurang. Pengangguran masih tetap banyak, kendati kebutuhan dunia usaha sangat tinggi. Konsep usaha menyebut ketidak-efisienan manajemen yang mempekerjakan tenaga yang tidak siap guna. Jadi walau kebutuhan tenaga kerja pada sebuah perusahaan sangat tinggi, perusahaan tidak mau ambil resiko membuang investasinya dengan merekrut tenaga kerja yang tidak siap.

Bukankah dua kenyataan di atas akan ikut menjatuhkan angka kesejahteraan? Masyarakat seolah terpaksa mengikuti pola-pola baku yang sudah disepakati pemerintah dan dunia usaha global tentang mainstream kependudukan dan kesejahteraan. Ukuran yang digunakan untuk menimbang sebuah kesejahteraan adalah ukuran kapitalis, bukan ukuran sosial yang lazim berlaku. Inilah sebenarnya bibit pergolakan itu.

Konsensus negara-negara besar dalam konsep ke-adikuasa-an adalah bagaimana menciptakan ketidakstabilan jalannya pemerintahan sebuah negara-bangsa (nation state), hingga memaksa mereka meminta dukungan asing atas kemelut yang tercipta dalam negerinya. Padahal, kemelut yang lahir itu awalnya bukan berasal dari kesalahan pemerintah, tetapi upaya yang di-setting negara-negara besar. Jika kemudian, negara asing sudah turut campur dalam persoalan internal negara yang tertimpa kemelut, maka kebijakan-kebijakan yang berakar pada tekanan politis trans-internasional akan lahir.

Kini pertanyaannya; bagaimana nasib BUMN dan perusahaan swasta nasional Indonesia? Bagaimana nasib tenaga kerja Indonesia? Bagaimana nasib rakyat di pedesaan Indonesia? Bagaimana moral dan hidup sosial orang Indonesia?

Perdagangan bebas juga akan mendorong pasar gelap, sebagai efek samping. Pasar gelap akan mendorong perdagangan barang-barang ilegal; perdagangan senjata antar negara, perdagangan obat terlarang trans-internasional, perdagangan perempuan dan anak, perbudakan gaya baru, dan transfer konflik dari sebuah wilayah perang ke wilayah lainnya.

Pasar bebas dan segala aturan dalam panelnya adalah rencana besar yang sesungguhnya mengarah pada penguasaan semua sumber daya alam, pangsa pasar, human irritations, dan kebijakan negara-negara yang terlibat. Kemelut yang tercipta adalah akibat imbas dari “capital cracking out” tadi.

Itulah yang sebenarnya akan terjadi.

Tolak panel Free Trade Area dan variannya; AFTA, dan ACFTA. Tolak kapitalisme dan kolonialisme gaya baru. Tolak menjadikan manusia sebagai sasaran produk perdagangan. TOLAK PASAR BEBAS. []


Doa-Doa Manusia Teraniaya ( Lima Sajak )

Oleh Syaiful Alim

Sajak Kesatu: Doa Petani

Tuhan yang Maha Kaya
ini doa terakhir kami yang teraniaya:

Beri kami beras setakar
yang mengenyangkan bermusim-musim lapar.
Kau tahu, kami tak punya sawah lagi
sudah ditanami bangunan-bangunan mewah tanpa hati.

Perut negeri kami latah
lebih gagah mengunyah beras impor
daripada beras sendiri
yang dimasak di kompor dan bau minyak tanah.

Para koruptor mencuri padi dari lumbung kami
lalu ditimbun di lambung-lambung busung mereka
dengan perut hamil lima bulan, entah beratnya berapa.

Kami pupuk tanaman padi
dengan air mata dan keringat
tapi sepi tak kunjung menepi
panen gagal, harga padi dijegal
politik ekonomi yang tak pernah
memihak rakyat.

Kami selalu melarat
Padahal kamilah yang punya sawah, tomat,
gandum, buah-buah berpipi langsat.

Anak-anak kami sekarat
di meja makan, karena menunggu
Ibu masak batu di tungku.

Masa depan kami bagai besi berkarat
hidup tanpa sumur pembasuh peluh
tanpa pohon langit berteduh
tanpa bunga mawar penawar penat.

Tuhan yang Maha Adil
doa kami cuma kecil!

Beri Kami Beras Setakar.

[]

Sajak Kedua: Doa Pelacur

Tuhan,
aku masih fasih menyebutmu ternyata
aku melulu tersisih dari mereka
yang melirikku dengan risih dosa.
Beberapa hari lalu aku ke mushola
sembahyang dan berdoa
tapi tiba-tiba bekas sujudku disiram karena
disangka najis
aku nangis berjalan menuju jalan raya
tanpa busana
tapi tiba-tiba mereka menyeretku
ke sebuah rumah ramah sarang laba-laba

: aku diperkosa.

Mereka bagai anjing
menyantap daging
dengan liur kering
dan lolong nyaring.

: akulah surga sebenarnya.

Tuhan,
Jika mereka kau masukkan surga
aku tidak terima
mereka sudah mengunyah surga
dari tubuhku
sementara aku ditujah neraka
dalam segala gerakku.

“Tuhan, hakikat surga dan neraka itu apa
jika yang saleh dan pendosa tak ada beda
mereka yang mengaku suci ternyata
mengkhayalkanku melucuti pakaianku
satu persatu, dan diam-diam mereka
meniduriku tanpa menyelipkan sehelai
rupiah di bra atau celana dalamku.”

Ah, Tuhan, apakah aku masih boleh meminta?

[]

Sajak Ketiga: Doa Anak Tukang Becak

Tuhan yang Maha Kaya
Bapakku tukang becak
beri ia uang yang banyak
dari keringat yang terbuang
di jalan sepanjang kota.

Tuhan yang Maha Karunia
becak bapakku masuk penjara
karena dituntut undang-undang jalan raya
bapakku tak bisa kerja
ibu butuh biaya belanja
adik sakit malaria
bagaimana?
minjam uang tetangga, malah dihina
minta kepala negara, pasti digertak penjaga istana.

Aku baca kitab suci dan dengar ujar kiai
bahwa Kau Maha Pemberi Rizki
tapi kini tiada bukti
Kau biarkan kami mati.

Oh barangkali aku harus nulis sajak
supaya derit derita sedikit reda
melupa sakit yang sejak lama.

[]

Sajak Keempat: Doa Anak Tukang Bakso

Tuhan
Gerobak bapakku rusak ditabrak mobil
barang jualan berserak di jalan
tulang-tulang bapak retak.

Kini aku jadi tukang bakso
mengganti bapak yang masih loyo
mendorong gerobak dari toko ke toko
dan gang ke gang
tapi tiba-tiba banyak anak geng
yang menggandeng botol dan pisau:

“Ayo beri kami pentol, jika tak, kupukul botol”

Bagaimana aku memberi
baru terjual satu dua mangkuk
lalu mereka ngamuk
menekuk
menusuk
aku ambruk
remuk.

Polisi tiba
kami semua diciduk.

Tuhan!

[]

Sajak Kelima: Hari Buruh, Haru Luruh

Kami berkumpul di lapangan pinggiran kota
aspal mengepul terik matahari
merapal kata, menghapal luka-luka
yang tak henti.

Kami ingat ketika demo
naik bemo depan istana negara
kami dipukuli sekompi polisi
banyak yang mati
dengan perut tak terisi sebiji nasi.

“Sampai kapan kami tidur tanpa dipan
kapan kami bisa hidup mapan”

Cuma itu yang kami teriakkan
sampai serak
berak peluh dan air mata.

Oh, sungguh mahal perihal hidup layak
kami mati dikoyak kehendak.
Oh, sungguh kental bantal ombak
kami mati disentak tombak.

Oh, apakah hari masih mampu menampung pedih
jika kami risih tersisih.
Oh, apakah matahari masih menampang perih
jika suara kami tinggal lirih.

Oh!
Hari Buruh
Haru luruh!

[] Khartoum, Sudan, 2010.


Lalindu

Oleh Adhy Rical

arus yang alir
membawa wajahmu
dari atas bukit tanah merah
mengawan ke hulu
seakan kepak kongga owose
yang lari dari larumbalangi

pucuk-pucuk sawit
dan anak-anak rakit
melambai sayu, merambat saru
kita hidup karena seru

ada ikan di matamu
kerang sungai di rambutmu
kuhirup diam-diam sahaja
kita tiada karena tanya

payudaramu terbelah setengah
gundukan pasir di bawah pusarmu, engah
kita menolak percintaan, lalindu
sebab gairah tak harus dengan rindu

bukankah setiap lekuk perjalanan waktu
berhenti setelah kedua kaki bertemu?
seperti doa yang berkelok ke timur
mata yang pelan-pelan mengabur

Walalindu, 2010

kongga owose: burung rajawali, dalam mitos suku tolaki, darah burung itulah yang membuat seluruh tanah di konawe dan mekongga berwarna merah.


Kupanggili Namamu

Oleh Dwi Klik Santosa

Kupanggili namamu, anak-anakku
Rahimku tak terbilang untuk mengandung dan melahirkan kalian
Ranahku lebih dari sekedar untuk mengasuh dan menjagai hidup kalian
Jangan takut hidup, jangan tanya apa itu mati

Kupanggili namamu, anak-anakku
Pintarlah, kalian cerdas
Gagahlah, kalian pandai
Bercintalah kalian saling, jangan darah dan jerit pilu melulu kau kabarkan
Jangan pula rajin kalian bertanya, “ah, apalagi besok akan kumakan”
Gali dan maknai tanah dan airku untuk sebesar gunamu
Biar saja sunyi dan sepi itu hanya milik ibumu

Kupanggili namamu, anak-anakku
Salam damai dan rukun selalu
dariku ibu yang merindumu

Istora Senayan
25 Juni 2010
: 07.oo


Pagiku, Pagimukah

Oleh Dwi Klik Santosa

Pagi-pagi basah seluruh kampungku
Matahari, tertutup mendung

//

Pagiku suntuk. Dan, tubuh pun bangun ogah-ogahan. Langsung ngibrit, kutinggalkan begitu saja ranjangku. Saat kubuka pintu itu lebar-lebar.

“Kasihani saya, ooom. Hanya sekedar untuk makan hari ini…”

“Astaga…”

Setelah berkelebat, merespon anak ini…

“Pagi-pagi basah seluruh kampungku
Matahari, tertutup mendung
Dan, aku bernyanyi
Meski tanpa burung berkicau”

Larik syair ini, Duh, Gusti. Mengiang lagi. Mengingatkan kembali sebuah kenangan. Sesuatu yang rumit, suangat-sangat pelik. Sangat entahlah, dan menikamkan kenangan yang dalam dan membekas di kalbu. Itulah syair kami. Syair anak-anak Bela Studio. Syair yang telah menjadi hafalan dan laku hidup keseharian anak-anak di sudut kampung Jalan Sawo Rawamangun. Begitupun di saat-saat tertentu dipentaskan di ultah Rendra, di gedung-gedung kesenian, serta di acara-acara undangan teman-teman.

Semasa itu, lagu itu tunggal dinyanyikan anak emas kami. Namanya Kibar Mohammad Pembela. Panggilannya Kibar. Jika telah menyanyikan lagu itu Kibar yang berumur 6 tahun seolah saja bukan Kibar yang anak-anak. Tapi dalam kemantapannya ketika sudah memegang mikropon di atas panggung. Dunianya seperti sudah bukan dunia bocah lagi. Seakan ia telah menjilma manusia dewasa tanpa takaran umur. Vokalnya polos. Dan jika sampai pada reff…vokalnya melengking, sangat tinggi.

Harian Kompas pada sebuah tulisan yang muncul di headline masa itu, menuliskan lengkingan itu mampu mendekati 8 oktaf. Dan, tidak berlebihan kiranya, jika dituliskan oleh salah satu artikel Tabloid NOVA, sebagai si golden boy. Wuiiih

Dan, tapi, anak-anak yang mengaduh dan menghiba tadi. Haduuuuh… Betapa lebih banyak kenangan melankoli itu merasuk dan masuk ketimbang kenangan yang indah-indah dan gagah-gagah. Anak-anak itu…anak-anak kita itu… Ya, Tuhan…

Belum pudar kiranya, ingatan sewaktu silaturahmi ke basecamp-nya Romo Sandyawan di sebuah tanggal di tahun 1997. Pada salah satu ulang tahun Sanggar Akar, binaan beliau, Bela Studio ikut pula memberi kado. Mementaskan senukil fragmen. Dimana aktornya terdiri 5 orang saja.

Saya didapuk jadi bapaknya kere semesta. Agus Begeng (hahaha…) jadi Pak Kamtib. Dan ketiga, three musketers anak-anak pasangan Mas Edi Haryono dan Mbak Bariroh, yaitu Kibar, Jihad dan Ungkai jadi anak-anak kere yang lola alias hidup sebatang kara yang lontang-lantung tak tentu entah. Di jalanan ketiga anak ini berusaha tidak merintih atau mengeluh. Tapi hujan yang basah dan akut, siang yang gahar menyengat serta perut yang kosong, segera menuntut mulut mereka untuk bunyi. Merintih-rintih dan menghiba…lalu datanglah saya. Saya gendong ketiga bocah yang iba itu. Saya bawa kemana kaki melangkah dan mencari tempat yang teduh. Sebab sayalah hanya juga seorang laki-laki dewasa kere.

“Huusshh…hush…husss…jangan disitu,” kata Pak Kamtib, “kalian minggat sana, ngotor-ngotori pandangan saja.”

Dalam panas. Dalam hujan. Saya tak lelah menggendong ketiga bocah. Dan, ndilalah, saat kami kecapekan, ada lincak di bawah pohon yang rimbun. Kami pun berteduh di situ. Malam yang tenang, hujan pun reda. Binatang-binatang malam itu kemudian menjatuhkan mangga dari pohonan itu.

“Ini makanan halal. Makanlah, Nak,” begitu kata saya, “makanan ini sengaja dijatuhkan kelelawar agar kita tetap hidup.”

Dan begitulah. Saya pun mendongeng. Mengajari anak-anak ini bertahan hidup. Dan lalu ending-nya menyanyikan lagu :

“Pagi-pagi basah seluruh kampungku
Matahari, tertutup mendung
Dan, aku bernyanyi
Meski tanpa burung berkicau”

Dan lalu seusai pentas. Saya terlibat diskusi dengan Romo.

“Kenapa anak-anak itu tidak sekolah, Romo,” kata saya, “kami juga, meski pas-pasan hidup di Rawamangun yang sumpek, tapi tetap kami mengusahakan agar anak-anak kami bisa sekolah.”

Romo hanya tersenyum saja mendengarkan apa kata-kata saya.

“Mas Dwi kapan ada waktu senggang,” ini kata beliau.

Lalu pada waktu yang lain, saya penuhi janji untuk datang lagi kepada Romo. Dan, lalu saya pun diajak beliau ke LP Cipinang.

“Anak ini dipenjara karena membunuh temannya sendiri. Kejadiannya sederhana saja. Sewaktu lepas malam anak-anak akan tidur di rumah bersama kami. Ada seorang anak berterus-terang minta uang untuk membeli rokok. Tapi tidak disahuti sama yang lain. Karena mereka telah tertidur. Lalu si anak ini hilang akal. Merogohi saku anak-anak yang tidur. Nah, setelah dapat uang, ia pun beli rokok. Dan ketika si anak yang kehilangan uang itu sadar kehilangan uang, serta tahu bahwa uangnya itu dicuri. Maka ia menghampiri si anak yang mencuri itu, lalu ditikamnya ia dengan belati.”

Saya merinding mendengarkan cerita ini.

“Jangankan untuk bersekolah dan dididik untuk normal seperti yang lain. Lha wong sekedar diarahkan untuk jangan merokok saja, betapa anak-anak ini seperti tak memiliki telinga. Hidupnya tidak ada kasih sayang sejak lahirnya. Jalanan yang keras. Dan hidup sebagai pemulung dan pengemis yang terlunta-lunta, pun masih dijengkang-jengkang nasibnya oleh orang-orang waras seperti kita.”

Duh, Gusti. Mendengar penjelasan Romo, betapa kenyataan yang absurd. Tapi bagaimana pun anak-anak tetaplah anak-anak. Meski mereka itu lola. Meski ia dicampakkan dan dilontarkan sama orang tua yang melahirkannya, tapi mereka adalah titipan Tuhan. Tidak boleh kita tinggal diam. Tapi, Gusti. Bagaimana caranya. Orang-orang pintar dan berwibawa kita saja sudah pada tuli dan bisu. UUD 1945 pasal 34 yang jelas-jelas membunyikan, “yatim piatu dan anak-anak telantar dipelihara oleh negara” abai saja…abai saja! Naudzubillaahhh… Kenapa bajingan-bajingan yang jelas-jelas merugikan negara, justru dipiara oleh negara?

Tapi saya tidak khawatir. Sosok-sosok seperti Romo Sandy, alm. Romo Mangun di Jogja yang kadang dijuluki Romonya Kere Semesta, dan juga kemarin ada teman SMP saya, Romo Antonius Wahyu, yang menampungi anak-anak Nias yang kehilangan segalanya di rumahnya. Meski sohib ini menahbiskan tidak beristeri. Tapi anak-anaknya banyak dan semuanya sekolah. Wuuihhhh… Masihlah kokoh panutan-panutan itu di sekitar kita. Beliau-beliau yang asih ini seperti tak jera dan bosan menampungi dan mengalirkan kasih sayangnya kepada anak-anak itu, meski betapa bengalnya mereka. Karena memang begitulah dendamnya kepada takdir lolanya yang getir dan miris.

“Pagi-pagi basah seluruh kampungku
Matahari, tertutup mendung
Dan, aku bernyanyi
Meski tanpa burung berkicau”

Dan, kukenangkan syair lagu itu pagi ini. Semoga Gusti Sang Hyang Murbeng Dumadi menjagai semangat itu. Semoga.

Pondokaren
6 Desember 2009
: 10.05

ANAK-ANAK BELA. begitu kebanyakan dari yang mengenal mereka suka menyebutnya. anak-anak yang pernah akrab kugauli. berproses bersama. berpentas bersama. ada suka. ada ketawa. ada airmata.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 102 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: