Category Archives: Film

[Resensi Film] Sang Penari (2011)

Oleh Endah Sulwesi

 

***

Sutradara: Ifa Isfansyah

Skenario: Salman Aristo, Ifa Isfansyah, Shanty Harmayn

Pemain: Oka Antara, Prisia Nasution, Landung Simatupang, Slamet Rahardjo, dll.

Produksi: Salto Films

Durasi: 111 menit

***

Semalam (10/11/2011) saya nonton Sang Penari. Empat jempol untuk penyutradaraan dan akting Oka Antara sebagai Rasus dan Prisia Nasution sebagai Srintil yang sungguh terpuji. Rasanya mereka pantas dicalonkan untuk mendapat Citra di FFI. Jangan lagi Landung Smatupang dan Slamet Rahardjo, nggak heran deh kalau mereka bermain bagus. Yang tak kalah keren adalah Dewi Irawan sebagai Nyai Kertareja. Meski lama tak muncul, aktingnya masih oke. Suasana Dukuh Paruk berhasil dihadirkan bukan saja secara visual tetapi juga diperkuat oleh dialog-dialog dalam bahasa Banyumasan yang medok oleh para pemainnya. Kalau kamu sudah baca novelnya yang dahsyat itu, kamu akan tahu bahwa Ifa sukses menerjemahkan naskah tersebut ke dalam gambar. Tentu, ini bukan pekerjaan mudah jika mengingat novel RDP yang sudah dikenal masyarakat. Selalu ada risiko menuai kritik dari para pembaca setianya.

Sekarang saya mengerti mengapa Pak Ahmad Tohari sebagai penulis novel trilogi itu menangis terharu saat menyaksikan film ini. Sangat berbeda ketika novel yang sama difilmkan oleh Yazman Yazid menjadi Darah dan Mahkota Ronggeng (1983) yang hanya mengekspos masalah seksnya dengan Enny Beatrice sebagai  Srintil. Saat itu, Enny Beatrice terkenal sebagai artis yang kerap bermain dalam film-film hot. Saking kecewanya, Ahmad Tohari tidak pernah sudi meyaksikan film tersebut. Sampai sekarang pun. Namun, Ifa telah membayar semua kekcewaan Pak Toh lewat Sang Penari.

Jika hendak bersetia dengan novelnya, awal mula Srintil menjadi ronggeng seharusnya pada usia dua belas, ketika ia menadapat haid pertama kali. Tetapi, dengan pertimbangan moral, Ifa memutuskan sedikit mengubah bagian itu dengan Srintil yang sudah berusia 17. Keputusan yang bijak, saya rasa.

Ya, ini kisah yang sarat tradisi lokal, tentang seorang ronggeng di Dukuh Paruk. Ronggeng itu bernama Srintil. Di Dukuh Paruk yang miskin, keberadaan ronggeng adalah sebuah keharusan sekaligus anugerah turun temurun. Ronggeng terakhir tewas beserta beberapa warga dukuh yang lain akibat keracunan tempe bongkrek bikinan ayah Srintil  Srintil waktu itu masih bocah ingusan. Ayah ibu Srintil akhirnya juga ikut mati oleh tempe buatan mereka sendiri. Untunglah, Srintil selamat. Kemudian dia diasuh oleh kakeknya (Landung Simatupang).

Srintil memiliki sahabat, Rasus namanya. Mereka tumbuh bersama dan tanpa sadar benih-benih cinta telah turut bersemi seiring beranjaknya usia mereka. Jika Rasus mengisi waktunya dengan bekerja sebagai buruh tani di kebun singkong, Srintil diam-diam memendam hasrat untuk menjadi ronggeng yang telah lama tiada di dukuh mereka. Meski Rasus tak setuju dengan cita-cita Srintil, tetapi takdir lebih berkuasa menjadikan Srintil sebagai penari. Maka, pada waktu yang telah ditentukan, digelarlah upacara penobatan Srintil sebagai ronggeng. Selain harus menari, dalam upacara itu dia juga harus melewati ritual “bukak klambu”.  Dalam ritual ini keperawanan Srintil dilelang dan akan diserahkan kepada penawar tertinggi.

Rasus yang cemburu tak sanggup membayangkan gadis yang dicintainya itu melakukan ritual bukak klambu. Dia lalu menemui Srintil yang menyambutnya dengan gairah yang sama. Di dalam kegelapan kandang kambing, Srintil dan Rasus menyatukan tubuh dan cinta mereka.

Dan selanjutnya, Srintil menjelma ronggeng yang dicintai Dukuh Paruk. Rasus yang tetap tak sepakat, memilih meninggalkan kampungnya dan kemudian menjadi tentara.

Seiring perkembangan politik tanah air masa itu, Dukuh Paruk tak luput dari jangkauan partai komunis. Kemiskinan dan kebodohan orang-orang di desa itu adalah sasaran empuk bagi propaganda partai yang berpaham kerakyatan itu. Bakar berhasil mendapatkan pengikut melalui jargon “semua untuk rakyat”, termasuk kesenian. Termasuk ronggeng.

Srintil yang lugu dan hanya tahu menari pada akhirnya harus menanggung akibatnya. Ketika pecah kaos pada 1965, bersama orang-orang Paruk, Srintil ditangkap dan ditahan. Ironisnya, petugas/tentara yang melakukan penangkapan itu salah satunya adalah Rasus.

Percintaan Rasus dan Srintil yang menjadi sentral cerita tergarap dengan baik, tidak terjerumus menjadi adegan-adegan seks yang murahan atau meratap-ratap. Begitu pun untuk bagian huru-hara politik 1965. Ifa menampilkan kehadiran PKI di Dukuh Paruk lewat sosok Bakar (Lukman Sardi), seorang anggota PKI, dan warna merah pada beberapa properti (caping, selendang, ikat kepala, spanduk). Seingat saya tidak satu kali pun kata “PKI” terucap, bahkan oleh para tentara yang melakukan “pembersihan” di Dukuh Paruk itu.

Detailnya juga cukup rapi. Setting tahun 1950-1960-an hadir tanpa canggung melalui kostum para pemain, mobil-mobil, truk tentara, angkutan umum, sepeda, motor, rumah, jalan, dan pasar.

Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih kepada Ifa Isfansyah, Oka Antara, Prisia Nasution, Salman Aristo (penulis skenario), dan seluruh kru film Sang Penari yang telah bekerja dengan baik menciptakan karya sinema bermutu ini. Film Ifa selanjutnya yang akan tayang akhir Desember ini adalah Ambilkan Bulan (Mizan Productions) ***


15 Film Yang Menginspirasiku

Oleh Ade Anita

The rules: Don’t take too long to think about it. Fifteen films you’ve seen that will always stick with you. List the first fifteen you can recall in no more than fifteen minutes. Tag fifteen friends (at least, heeehaww….), including me, because I’m interested in seeing what films my friends choose. (To do this, go to your Notes tab on your profile page, paste rules in a new note, cast your fifteen picks, and tag people in the note – upper right hand side.)

Dapat kuis ini Akhi Dirman dimana dia juga dapat kuis ini dari mbak Maimon Herawati, senior di FLP (nah loh).

Okelah…ini dia film terbaik menurutku.

My Name is Khan (1)

Filmnya menyentuh banget. Saya sampai beberapa kali menitikkan air mata menontonnya. Tentang perjuangan seorang yang menderita Autis untuk mendapatkan cinta dari istrinya hingga mengantarkannya untuk mengelilingi benua Amerika sana.

Kenapa saya meletakkan film India di nomor satu, karena saya suka film India…Hehehe. Ini gara-gara dahulu kala, TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) adalah channel paling bersih yang bisa diterima oleh antena rumah saya sebelum saya pindah ke rumah sendiri sekarang. Apa, TPI itu singkatan dari Televisi Pendidikan India ya? Saking seringnya memutar film India (mungkin karena ongkos sewa royaltinya yang murah). Tadinya sih nggak suka nonton film India, tapi berkat cuci otak yang baik dari TPI akhirnya berusaha untuk menikmati dan akhirnya mulai menemukan keasyikan.

Ada tiga unsur menarik dari film India menurut saya.

  1. Coba perhatikan semua lirik lagu-lagunya yang buanyak itu (ini untuk film India jaman dulu ya). Ternyata, semua sound track-nya tidak dibuat untuk latar cerita saja, tapi juga untuk menguatkan pesan dari cerita itu sendiri. Saya mulai tertarik baca puisi gara-gara keseringan baca teks lirik lagu di film India. Kata-katanya menarik, maknanya dalam tapi sama sekali tidak cengeng atau kampungan. Belakangan, Indonesia pernah membuat film mirip film India, eh, apa sinetron ya? Tapi, sepertinya pembuat syairnya tidak pandai memanfaatkan isi cerita jadi akhirnya lagu yang muncul cuma untuk hiburan belaka. Kadang, terasa untuk memperpanjang durasi saja.
  2. Konflik. Semua film India punya satu konflik besar tapi konflik itu beranak pinak menjadi konflik kecil-kecil. Dan ini yang membuat saya tertarik. Penulis ceritanya, menurut saya kreatif. Bayangkan, bagaimana memanage konflik besar agar tidak dominan dan mengelola konflik kecil agar tidak terlupakan, menurut saya sebuah pekerjaan kepenulisan cerita yang amat sulit. Semua konflik besar dan kecil diolah saling membantu menutupi kekurangan dan mengangkat kelebihan jalinan cerita.
  3. Pengambilan gambar lokasi yang menarik. Jujur, jika saja kita mau bertanya pada banyak orang yang pernah menjejakkan kakinya di India sana, mereka pasti akan sepakat bahwa India itu negeri yang jorok, kumuh, tidak teratur, dan tidak sedap dipandang mata. Tapi, semua itu tidak tercover oleh industri film mereka. Dan ini yang membuat India menjadi menarik. Bahkan ada teman saya yang sampai bilang “I have to go there.” dan menemukan kekecewaan karena ternyata Bollywood itu cuma bagus di film saja. Jadi, saya selalu tersenyum melihat keindahan pemandangan yang ditampilkan di film India, karena itu membuktikan bahwa orang India amat mencintai negaranya. Dan ciri orang yang mencintai itu kan akan berusaha keras menutupi semua kebobrokan dan aib yang dicintai agar tidak diketahui oleh orang lain.

Slamdog Millionaire (2)

Ini cerita tentang seorang pemuda yang mencintai seorang gadis yang menjadi teman mainnya ketika masih kecil dahulu. Dia berusaha untuk mendapatkan cinta gadis tersebut, salah satunya dengan mengikuti sebuah kuis Who Wants To Be A Millionaire.

Masih ingat point ketiga yang menurut saya terdapat pada film India? Nah, film Slamdog Millionaire ini tidak dibuat oleh Sutradara India asli, tapi keturunan Amerika. Jadi, lihat perbedaannya. Mulai disorot sisi lain dari negeri India, yaitu ada daerah kantong kemiskinan yang amat sangat kumuh dan miskin. Itu sebabnya Amitha Bachan yang menonton film ini di bioskop langsung cemberut dan protes. Dan karena yang bikin orang bule, maka tetap, orang Amerika di film ini digambarkan sebagai orang yang dermawan dan beradap (digambarkan lewat tokoh turis amerika yang ikhlas meski dirampok malah bersedia menolong).

3 Idiots (3)

Ini film tentang tiga orang bersahabat yang berasal dari sebuah universitas yang sama. Ketika masih menjadi mahasiswa baru ketiganya disebut idiots oleh seorang dosen yang merasa paling pintar. Filmnya lucu dan menyegarkan, menurut saya. Ada kisah percintaannya juga.

Initial D (4)

Oke. Cukup dengan film India, kita beralih ke film Asia lainnya, ya. Yaitu sebuah film balap mobil dengan pemain Jay Chou. Saya suka film ini, suka banget. Sudah menonton berkali-kali tapi tetap saja suka dan belum bosan. Kenapa saya suka film ini? Karena aslinya saya tidak dapat mengemudikan kendaraan. Hahahaha…alasan konyol, ya?.

Tapi memang betul, karena tidak dapat mengemudi, maka saya selalu berkhayal suatu hari nanti akan ngebut dalam mengemudikan kendaraan. Meski harapan untuk ke arah itu sebenarnya amat sangat tipis untuk terjadi. Kenapa? karena saya mengalami kesulitan pada orientasi perbedaan kiri dan kanan. Itu sebabnya, di tangan kanan saya selalu bertengger sebuah jam dan sebuah cincin. Kedua benda ini membantu saya untuk mengingatkan, inilah arah kanan.

Oh ya, saya suka dengan ketenangan Jay Chou ketika mengelola emosinya sebagai pembalap. Dia tidak merasa sedang balapan. Dia menikmatinya. Artinya begini, pesan moral dari film ini, ketika seseorang mencintai apa yang dia kerjakan, maka InsyaAllah dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik dengan hatinya yang ikhlas. Jadi, cintai apa yang kamu kerjakan dan kerjakan apa yang kamu cinta mengerjakannya, it’s a must. Lomba bukan segalanya. Karena setiap kali kita memenangkan sesuatu, pasti akan ada pemenang yang lebih jago dari kita. Mengejar posisi pertama dalam sebuah perlombaan adalah sebuah kesalahan dan kekalahan yang akan dipetik oleh peserta lomba. Tapi mengejar untuk memberikan yang terbaik karena kita mencintai apa yang kita kerjakan itu, meski hasilnya mungkin kalah, adalah kemenangan yang akan diraih oleh seorang peserta lomba.

Infernal Affair: Trilogy (5)

Ini sebuah film tentang usaha polisi untuk menyusupkan agen mata-matanya di tubuh mafia. Amat sangat menarik dimana orang baik-baik, dilatih untuk berpura-pura menjadi penjahat hingga polisi bisa mengetahui sepak terjang sindikat mafia ini beraksi dan harapannya bisa menggulung kejahatan. Sedangkan sebaliknya, ternyata sindikat mafia juga melakukan hal yang sama di tubuh kepolisian Hongkong. Mereka juga melatih penjahat mereka untuk berpura-pura menjadi pollisi baik-baik agar bisa memperoleh informasi yang memudahkan mereka melakukan tindak kejahatan. Rumit kan? Nah… disinilah kekaguman saya pada tim kreatif penulisnya. Luar biasa, menurut saya. Semua konflik dijalin amat kuat dan semua karakter ditonjolkan hingga tak satupun yang bisa menebak “ujungnya gimana ya?”. Saya belajar banyak dari penonjolan penggambaran karakter-karakter yang ada di film ini. Tidak ada satu pun tokoh utama yang terlihat mendominasi, semua tokoh punya posisi yang sama kuatnya, dalam arti, jika tokoh itu dilemahkan, maka ceritapun menjadi lemah. Menurut saya yang baru belajar menulis, menjalin sebuah cerita dimana menjaga agar tidak ada tokoh yang terlalu mendominasi dan terlihat amat power full dalam jalinan cerita itu adalah sebuah kesulitan.

Eye in The Sky (6)

Ini film Hongkong tentang (lagi-lagi) mata-mata polisi. Tapi kali ini tentang seorang polisi senior yang bertugas untuk melatih sekelompok polisi berbakat yang masih muda untuk menjadi mata-mata yang hebat. Filmnya serius, tapi menarik. Konflliknya kecil sekali, lebih ke arah konflik pribadi yang dimiliki oleh polisi tua ini yang merasa bahwa idealisme ternyata tidak mendatangkan apa-apa selain dedikasi dan kehampaan dan kesendrian di usianya yang memasuki pensiun. Istrinya pergi meninggalkannya karena tidak tahan hidup miskin dan sering ditinggal pergi. Sedangkan di mata para polisi muda berbakat sebaliknya, bahwa idealisme adalah segala-galanya yang bisa membuat hidup ini terasa sempurna.

Gambaran yang amat kontras dari mereka yang sudah pernah merasakan asam garam kehidupan dan mereka yang baru saja disuguhi hidangan makanan asam garam tentang kehidupan. Mana yang benar? Tonton saja film ini, bagus kok. Saya belajar tentang cara menjalin emosi agar bisa selalu tertata apik, dan jangan lupa adegan kekerasannya yang sadis, hmm…ternyata tidak sesadis yang disangka kok.

Red Clift (7)

Film yang disutradari oleh John Woo ini katanya adalah film yang memakan biaya pembuatan hingga 800 miliar dollar. Wow. Ceritanya ber-setting tahun 208 Sebelum Masehi, hari-hari terakhir pemerintahan Dinasti Han, Perdana Menteri pandai Cao Cao (Zhang Fengyi) meyakinkan Raja Han bahwa satu-satunya cara untuk menyatukan seluruh daratan Cina yaitu dengan menyatakan perang terhadap kerajaan-kerajaan Xu di bagian barat dan East Wu di bagian selatan. Maka di mulailah kampanye militer besar-besaran, dipimpin oleh sang Perdana Menteri. Sejumlah peperangan terjadi, baik di laut maupun daratan, dan akhirnya memuncak di Perbukitan Merah (Red Cliff).

Apa yang menarik dari film ini? Strategi perang yang terdapat di hampir sepanjang film. Entah mengapa saya selalu senang membaca semua kebijaksanaan perang yang terjadi di sepanjang kekaisaran Dinasti China yang berganti-ganti itu. Pada tiap-tiap dinasti pasti ada seorang yang bijaksana dengan pemikiran yang brilian. Nah, kebijaksanaan ini yang maknanya amat dalam bagi saya. Yaitu, bagaimana caranya kita bisa memenangkan sebuah peperangan tanpa harus mengorbankan harga diri, melepaskan idealisme, meminimalisir jatuhnya korban yang tidak berdosa, melindungi tokoh-tokoh kunci yang memang diperlukan untuk menegakkan kerajaan.

Nah, pernyataan yang terakhir ini selalu mengingatkan saya pada pertanyaan setiap kali ikut test-psikologi waktu jaman sekolah dahulu. Pernah kan ketemu pertanyaan, “Siapa yang akan kamu selamatkan jika kapal yang kamu tumpangi tiba-tiba bocor sedangkan perahu penyelamat cuma ada satu di kapal tersebut?”.

Jujur, saya dahulu menjawabnya dengan kesal. Mau nolong siapa kek, terserah saya dong. Tapi, setelah membaca banyak sekali kebijaksanaan yang tertuang dalam ilmu perang Dinasti China (hahaha, kesannya militer banget ya, padahal sih karena saya memang pecandu film berlatar kerajaan China; saya tidak begitu suka film perang Hollywood yang amat tidak masuk akal. Ayah saya selalu bilang, “Orang Amerika itu selalu bermimpi bahwa hanya mereka seorang yang bisa menyelamatkan seluruh isi dunia.” Itu sebabnya saya tidak begitu respek pada film perang Hollywood, tapi menaruh perhatian amat besar pada semua film perang kerajaan di China).

Apa yang saya peroleh dari kebijaksanaan peperangan di Dinasti China? Yaitu, bahwa dalam hidup ini, akan selalu ada tokoh yang hanya menjadi pion saja sepanjang hidupnya. Dia ditaruh di depan untuk dikorbankan karena memang tidak ada artinya. Dia ada atau tidak, negara bisa tetap berdiri. Sebaliknya, ada tokoh-tokoh kunci yang harus diselamatkan karena jika tidak, berhentilah kehidupan ini, matilah negara ini, dan berhenti pulalah cerita.

Setiap kali selesai menonton, saya selalu merenung, “Saya termasuk pion atau bukan ya? Jangan-jangan, ada atau tidaknya saya dalam hidup ini sebenarnya tidak pernah diperhitungkan oleh orang lain?” Aih…mengerikan sekali. Jadi, “Ayo Ade, berusaha untuk memberi arti. Berusaha untuk memberi kenangan yang terbaik pada banyak orang.”

Hmm…kebetulan suami saya jago main catur, pernah dia mengajari saya main catur dan saya selalu kalah. Akhirnya, saya mengetatkan peraturan. Dia cuma boleh main (di akhir pertandingan) dengan dua buah anak catur saja, yaitu Raja (hehe, otomatis dong) dan pion. Tapi…hiks, ternyata suami saya bisa tetap menang. Dan ini mampu mengubah pola pikir saya secara ekstrem ternyata, yaitu bahwa kedudukan dalam kekuasaan itu bukan segalanya. Tapi kebijaksanaan, keluwesan bersikap dan berpikir smart menyikapi hiduplah yang amat berarti. Bayangkan, si pion suami saya itu akhirnya diubah jadi menteri dan saya langsung di-skak mat!!!

Children of Heaven (8)

Ya, ini film lama sih, tahun 1997-an. Tapi aku suka film ini, emosinya kuat, ceritanya sederhana tapi dibangun dengan amat apik. Dan aku menangis ketika menontonnya. Juga jadi pelanggan ikan Gararufa kalau lagi pegal-pegal kaki di Fish Therapy (loh? apa hubungannya? Hahaha). Tapi aku suka dan terharu melihat kasih sayang yang sederhana tapi dalam dari Ali kepada adiknya Zahra.

Forest Gump (9)

Ini film Hollywood yang dimainkan oleh Tom Hanks. Aku suka film ini karena bertebaran banyak sekali quotes-quotes sederhana yang memiliki arti amat dalam. Ini salah satunya:

Forrest Gump: Will you marry me? [Jenny turns and looks at him]
Forrest Gump: I’d make a good husband, Jenny.
Jenny Curran: You would, Forrest.
Forrest Gump: …But you won’t marry me.
Jenny Curran: [sadly] …You don’t wanna marry me.
Forrest Gump: Why don’t you love me, Jenny? [Jenny says nothing]
Forrest Gump: I’m not a smart man…but I know what love is.

Hehehe, perempuan itu dimana-mana sama kok. Dia cuma ingin dicintai dengan pasangannya dengan cinta yang bisa membuatnya merasa nyaman.

Atau quotes yang ini nih:

Forrest Gump: My momma always said, “Life was like a box of chocolates. You never know what you’re gonna get.”

Pretty Woman (10)

Oke, saya suka banget sama Richard Gere, dan di film ini sepertinya Richard Gere keren abis. Senyumannya itu lohaduh duh… selalu bikin deg degan.

Fast and Furios: Pentaquel (11)

Semua serialnya dari 1 sampai dengan 5 sukaaaa semua. Nggak tahu kenapa suka, mungkin ya sama dengan alasan kenapa suka film Initial D, tapi mungkin juga karena suka aja lihat Vin Diesel yang macho abis, atau…suka aja dengan tayangan kejar-kejaran dan kebut-kebutan yang mendebarkan itu. Trully Awesome.

The Fugitive (12)

Kisah tentang seorang dokter yang difitnah telah membunuh istrinya. Jalinan ceritanya tidak terduga, amat menarik. Aku suka semua film yang tidak bisa diduga mau dibawa kemana. Juga suka lihat Harrison Ford yang terlihat begitu menjiwai karakter sebagai seorang dokter yang pintar, penuh perhitungan tapi tidak pernah ceroboh memikirkan sebuah rencana.

Indiana Jones (13)

Semua serial film Indiana Jones yang diperankan oleh Harrison Ford aku suka. Dan makin suka karena bapaknya Indiana Jones, yaitu Mr. Jones, adalah Sean Connery. Dua lelaki gaek ini aku suka aja. Terutama janggutnya Sean Connery (apa hubungannya?).

 

Pirates of The Caribean (14)

Mungkin ini satu-satunya film khayalan yang aku suka jalan ceritanya karena menurutku sih seru. Mau lebay, ya nggak usah nanggung, habis-habisan sekalian kayak khayalan yang ada di semua serialnya Pirates of The Caribean ini. Aku begitu menikmati semua khayalan yang habis-habisan di film ini. Kuncinya, tidak usah berpikir. Just enjoy.

Ah…sudah sampai 15 ya? Nggak terasa. Aku jadi bingung, di nomor terakhir ini mau meletakkan yang mana, karena aslinya masih ada dua film lagi, yaitu; Pride and Prejudice, serta Cinderella.

 

Ada quotes yang aku suka dari film Pride and Prejudice, yaitu salah satunya:

- Strength is nothing than how well you hide the pain.
If a woman conceals her affection with the same, skill from the object of it, she may loose oppertunity to fixing him.

 

Sedangkan, di film Cinderella, ada sebuah quotes yang aku suka banget, yaitu:

- You are beautifull because I Love You, or I love You becouse You are Beautifull…I’m so confuse. But I can’t stop thingking of you.

Yaaa…sudah habis ya jatah 15 filmnya? Dan aku belum meletakkan satu pun film Indonesia disana? Hiks…maaf ya. Lain kali rasanya harus bikin deh 15 film Indonesia yang menginspirasi.

[]


15 Film Yang Menginspirasiku

Oleh Ade Anita

The rules: Don’t take too long to think about it. Fifteen films you’ve seen that will always stick with you. List the first fifteen you can recall in no more than fifteen minutes. Tag fifteen friends (at least, heeehaww….), including me, because I’m interested in seeing what films my friends choose. (To do this, go to your Notes tab on your profile page, paste rules in a new note, cast your fifteen picks, and tag people in the note – upper right hand side.)

Dapat kuis ini Akhi Dirman dimana dia juga dapat kuis ini dari mbak Maimon Herawati, senior di FLP (nah loh).

Okelah…ini dia film terbaik menurutku.

My Name is Khan (1)

Filmnya menyentuh banget. Saya sampai beberapa kali menitikkan air mata menontonnya. Tentang perjuangan seorang yang menderita Autis untuk mendapatkan cinta dari istrinya hingga mengantarkannya untuk mengelilingi benua Amerika sana.

Kenapa saya meletakkan film India di nomor satu, karena saya suka film India…Hehehe. Ini gara-gara dahulu kala, TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) adalah channel paling bersih yang bisa diterima oleh antena rumah saya sebelum saya pindah ke rumah sendiri sekarang. Apa, TPI itu singkatan dari Televisi Pendidikan India ya? Saking seringnya memutar film India (mungkin karena ongkos sewa royaltinya yang murah). Tadinya sih nggak suka nonton film India, tapi berkat cuci otak yang baik dari TPI akhirnya berusaha untuk menikmati dan akhirnya mulai menemukan keasyikan.

Ada tiga unsur menarik dari film India menurut saya.

  1. Coba perhatikan semua lirik lagu-lagunya yang buanyak itu (ini untuk film India jaman dulu ya). Ternyata, semua sound track-nya tidak dibuat untuk latar cerita saja, tapi juga untuk menguatkan pesan dari cerita itu sendiri. Saya mulai tertarik baca puisi gara-gara keseringan baca teks lirik lagu di film India. Kata-katanya menarik, maknanya dalam tapi sama sekali tidak cengeng atau kampungan. Belakangan, Indonesia pernah membuat film mirip film India, eh, apa sinetron ya? Tapi, sepertinya pembuat syairnya tidak pandai memanfaatkan isi cerita jadi akhirnya lagu yang muncul cuma untuk hiburan belaka. Kadang, terasa untuk memperpanjang durasi saja.
  2. Konflik. Semua film India punya satu konflik besar tapi konflik itu beranak pinak menjadi konflik kecil-kecil. Dan ini yang membuat saya tertarik. Penulis ceritanya, menurut saya kreatif. Bayangkan, bagaimana memanage konflik besar agar tidak dominan dan mengelola konflik kecil agar tidak terlupakan, menurut saya sebuah pekerjaan kepenulisan cerita yang amat sulit. Semua konflik besar dan kecil diolah saling membantu menutupi kekurangan dan mengangkat kelebihan jalinan cerita.
  3. Pengambilan gambar lokasi yang menarik. Jujur, jika saja kita mau bertanya pada banyak orang yang pernah menjejakkan kakinya di India sana, mereka pasti akan sepakat bahwa India itu negeri yang jorok, kumuh, tidak teratur, dan tidak sedap dipandang mata. Tapi, semua itu tidak tercover oleh industri film mereka. Dan ini yang membuat India menjadi menarik. Bahkan ada teman saya yang sampai bilang “I have to go there.” dan menemukan kekecewaan karena ternyata Bollywood itu cuma bagus di film saja. Jadi, saya selalu tersenyum melihat keindahan pemandangan yang ditampilkan di film India, karena itu membuktikan bahwa orang India amat mencintai negaranya. Dan ciri orang yang mencintai itu kan akan berusaha keras menutupi semua kebobrokan dan aib yang dicintai agar tidak diketahui oleh orang lain.

Slamdog Millionaire (2)

Ini cerita tentang seorang pemuda yang mencintai seorang gadis yang menjadi teman mainnya ketika masih kecil dahulu. Dia berusaha untuk mendapatkan cinta gadis tersebut, salah satunya dengan mengikuti sebuah kuis Who Wants To Be A Millionaire.

Masih ingat point ketiga yang menurut saya terdapat pada film India? Nah, film Slamdog Millionaire ini tidak dibuat oleh Sutradara India asli, tapi keturunan Amerika. Jadi, lihat perbedaannya. Mulai disorot sisi lain dari negeri India, yaitu ada daerah kantong kemiskinan yang amat sangat kumuh dan miskin. Itu sebabnya Amitha Bachan yang menonton film ini di bioskop langsung cemberut dan protes. Dan karena yang bikin orang bule, maka tetap, orang Amerika di film ini digambarkan sebagai orang yang dermawan dan beradap (digambarkan lewat tokoh turis amerika yang ikhlas meski dirampok malah bersedia menolong).

3 Idiots (3)

Ini film tentang tiga orang bersahabat yang berasal dari sebuah universitas yang sama. Ketika masih menjadi mahasiswa baru ketiganya disebut idiots oleh seorang dosen yang merasa paling pintar. Filmnya lucu dan menyegarkan, menurut saya. Ada kisah percintaannya juga.

Initial D (4)

Oke. Cukup dengan film India, kita beralih ke film Asia lainnya, ya. Yaitu sebuah film balap mobil dengan pemain Jay Chou. Saya suka film ini, suka banget. Sudah menonton berkali-kali tapi tetap saja suka dan belum bosan. Kenapa saya suka film ini? Karena aslinya saya tidak dapat mengemudikan kendaraan. Hahahaha…alasan konyol, ya?.

Tapi memang betul, karena tidak dapat mengemudi, maka saya selalu berkhayal suatu hari nanti akan ngebut dalam mengemudikan kendaraan. Meski harapan untuk ke arah itu sebenarnya amat sangat tipis untuk terjadi. Kenapa? karena saya mengalami kesulitan pada orientasi perbedaan kiri dan kanan. Itu sebabnya, di tangan kanan saya selalu bertengger sebuah jam dan sebuah cincin. Kedua benda ini membantu saya untuk mengingatkan, inilah arah kanan.

Oh ya, saya suka dengan ketenangan Jay Chou ketika mengelola emosinya sebagai pembalap. Dia tidak merasa sedang balapan. Dia menikmatinya. Artinya begini, pesan moral dari film ini, ketika seseorang mencintai apa yang dia kerjakan, maka InsyaAllah dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik dengan hatinya yang ikhlas. Jadi, cintai apa yang kamu kerjakan dan kerjakan apa yang kamu cinta mengerjakannya, it’s a must. Lomba bukan segalanya. Karena setiap kali kita memenangkan sesuatu, pasti akan ada pemenang yang lebih jago dari kita. Mengejar posisi pertama dalam sebuah perlombaan adalah sebuah kesalahan dan kekalahan yang akan dipetik oleh peserta lomba. Tapi mengejar untuk memberikan yang terbaik karena kita mencintai apa yang kita kerjakan itu, meski hasilnya mungkin kalah, adalah kemenangan yang akan diraih oleh seorang peserta lomba.

Infernal Affair: Trilogy (5)

Ini sebuah film tentang usaha polisi untuk menyusupkan agen mata-matanya di tubuh mafia. Amat sangat menarik dimana orang baik-baik, dilatih untuk berpura-pura menjadi penjahat hingga polisi bisa mengetahui sepak terjang sindikat mafia ini beraksi dan harapannya bisa menggulung kejahatan. Sedangkan sebaliknya, ternyata sindikat mafia juga melakukan hal yang sama di tubuh kepolisian Hongkong. Mereka juga melatih penjahat mereka untuk berpura-pura menjadi pollisi baik-baik agar bisa memperoleh informasi yang memudahkan mereka melakukan tindak kejahatan. Rumit kan? Nah… disinilah kekaguman saya pada tim kreatif penulisnya. Luar biasa, menurut saya. Semua konflik dijalin amat kuat dan semua karakter ditonjolkan hingga tak satupun yang bisa menebak “ujungnya gimana ya?”. Saya belajar banyak dari penonjolan penggambaran karakter-karakter yang ada di film ini. Tidak ada satu pun tokoh utama yang terlihat mendominasi, semua tokoh punya posisi yang sama kuatnya, dalam arti, jika tokoh itu dilemahkan, maka ceritapun menjadi lemah. Menurut saya yang baru belajar menulis, menjalin sebuah cerita dimana menjaga agar tidak ada tokoh yang terlalu mendominasi dan terlihat amat power full dalam jalinan cerita itu adalah sebuah kesulitan.

Eye in The Sky (6)

Ini film Hongkong tentang (lagi-lagi) mata-mata polisi. Tapi kali ini tentang seorang polisi senior yang bertugas untuk melatih sekelompok polisi berbakat yang masih muda untuk menjadi mata-mata yang hebat. Filmnya serius, tapi menarik. Konflliknya kecil sekali, lebih ke arah konflik pribadi yang dimiliki oleh polisi tua ini yang merasa bahwa idealisme ternyata tidak mendatangkan apa-apa selain dedikasi dan kehampaan dan kesendrian di usianya yang memasuki pensiun. Istrinya pergi meninggalkannya karena tidak tahan hidup miskin dan sering ditinggal pergi. Sedangkan di mata para polisi muda berbakat sebaliknya, bahwa idealisme adalah segala-galanya yang bisa membuat hidup ini terasa sempurna.

Gambaran yang amat kontras dari mereka yang sudah pernah merasakan asam garam kehidupan dan mereka yang baru saja disuguhi hidangan makanan asam garam tentang kehidupan. Mana yang benar? Tonton saja film ini, bagus kok. Saya belajar tentang cara menjalin emosi agar bisa selalu tertata apik, dan jangan lupa adegan kekerasannya yang sadis, hmm…ternyata tidak sesadis yang disangka kok.

Red Clift (7)

Film yang disutradari oleh John Woo ini katanya adalah film yang memakan biaya pembuatan hingga 800 miliar dollar. Wow. Ceritanya ber-setting tahun 208 Sebelum Masehi, hari-hari terakhir pemerintahan Dinasti Han, Perdana Menteri pandai Cao Cao (Zhang Fengyi) meyakinkan Raja Han bahwa satu-satunya cara untuk menyatukan seluruh daratan Cina yaitu dengan menyatakan perang terhadap kerajaan-kerajaan Xu di bagian barat dan East Wu di bagian selatan. Maka di mulailah kampanye militer besar-besaran, dipimpin oleh sang Perdana Menteri. Sejumlah peperangan terjadi, baik di laut maupun daratan, dan akhirnya memuncak di Perbukitan Merah (Red Cliff).

Apa yang menarik dari film ini? Strategi perang yang terdapat di hampir sepanjang film. Entah mengapa saya selalu senang membaca semua kebijaksanaan perang yang terjadi di sepanjang kekaisaran Dinasti China yang berganti-ganti itu. Pada tiap-tiap dinasti pasti ada seorang yang bijaksana dengan pemikiran yang brilian. Nah, kebijaksanaan ini yang maknanya amat dalam bagi saya. Yaitu, bagaimana caranya kita bisa memenangkan sebuah peperangan tanpa harus mengorbankan harga diri, melepaskan idealisme, meminimalisir jatuhnya korban yang tidak berdosa, melindungi tokoh-tokoh kunci yang memang diperlukan untuk menegakkan kerajaan.

Nah, pernyataan yang terakhir ini selalu mengingatkan saya pada pertanyaan setiap kali ikut test-psikologi waktu jaman sekolah dahulu. Pernah kan ketemu pertanyaan, “Siapa yang akan kamu selamatkan jika kapal yang kamu tumpangi tiba-tiba bocor sedangkan perahu penyelamat cuma ada satu di kapal tersebut?”.

Jujur, saya dahulu menjawabnya dengan kesal. Mau nolong siapa kek, terserah saya dong. Tapi, setelah membaca banyak sekali kebijaksanaan yang tertuang dalam ilmu perang Dinasti China (hahaha, kesannya militer banget ya, padahal sih karena saya memang pecandu film berlatar kerajaan China; saya tidak begitu suka film perang Hollywood yang amat tidak masuk akal. Ayah saya selalu bilang, “Orang Amerika itu selalu bermimpi bahwa hanya mereka seorang yang bisa menyelamatkan seluruh isi dunia.” Itu sebabnya saya tidak begitu respek pada film perang Hollywood, tapi menaruh perhatian amat besar pada semua film perang kerajaan di China).

Apa yang saya peroleh dari kebijaksanaan peperangan di Dinasti China? Yaitu, bahwa dalam hidup ini, akan selalu ada tokoh yang hanya menjadi pion saja sepanjang hidupnya. Dia ditaruh di depan untuk dikorbankan karena memang tidak ada artinya. Dia ada atau tidak, negara bisa tetap berdiri. Sebaliknya, ada tokoh-tokoh kunci yang harus diselamatkan karena jika tidak, berhentilah kehidupan ini, matilah negara ini, dan berhenti pulalah cerita.

Setiap kali selesai menonton, saya selalu merenung, “Saya termasuk pion atau bukan ya? Jangan-jangan, ada atau tidaknya saya dalam hidup ini sebenarnya tidak pernah diperhitungkan oleh orang lain?” Aih…mengerikan sekali. Jadi, “Ayo Ade, berusaha untuk memberi arti. Berusaha untuk memberi kenangan yang terbaik pada banyak orang.”

Hmm…kebetulan suami saya jago main catur, pernah dia mengajari saya main catur dan saya selalu kalah. Akhirnya, saya mengetatkan peraturan. Dia cuma boleh main (di akhir pertandingan) dengan dua buah anak catur saja, yaitu Raja (hehe, otomatis dong) dan pion. Tapi…hiks, ternyata suami saya bisa tetap menang. Dan ini mampu mengubah pola pikir saya secara ekstrem ternyata, yaitu bahwa kedudukan dalam kekuasaan itu bukan segalanya. Tapi kebijaksanaan, keluwesan bersikap dan berpikir smart menyikapi hiduplah yang amat berarti. Bayangkan, si pion suami saya itu akhirnya diubah jadi menteri dan saya langsung di-skak mat!!!

Children of Heaven (8)

Ya, ini film lama sih, tahun 1997-an. Tapi aku suka film ini, emosinya kuat, ceritanya sederhana tapi dibangun dengan amat apik. Dan aku menangis ketika menontonnya. Juga jadi pelanggan ikan Gararufa kalau lagi pegal-pegal kaki di Fish Therapy (loh? apa hubungannya? Hahaha). Tapi aku suka dan terharu melihat kasih sayang yang sederhana tapi dalam dari Ali kepada adiknya Zahra.

Forest Gump (9)

Ini film Hollywood yang dimainkan oleh Tom Hanks. Aku suka film ini karena bertebaran banyak sekali quotes-quotes sederhana yang memiliki arti amat dalam. Ini salah satunya:

Forrest Gump: Will you marry me? [Jenny turns and looks at him]
Forrest Gump: I’d make a good husband, Jenny.
Jenny Curran: You would, Forrest.
Forrest Gump: …But you won’t marry me.
Jenny Curran: [sadly] …You don’t wanna marry me.
Forrest Gump: Why don’t you love me, Jenny? [Jenny says nothing]
Forrest Gump: I’m not a smart man…but I know what love is.

Hehehe, perempuan itu dimana-mana sama kok. Dia cuma ingin dicintai dengan pasangannya dengan cinta yang bisa membuatnya merasa nyaman.

Atau quotes yang ini nih:

Forrest Gump: My momma always said, “Life was like a box of chocolates. You never know what you’re gonna get.”

Pretty Woman (10)

Oke, saya suka banget sama Richard Gere, dan di film ini sepertinya Richard Gere keren abis. Senyumannya itu lohaduh duh… selalu bikin deg degan.

Fast and Furios: Pentaquel (11)

Semua serialnya dari 1 sampai dengan 5 sukaaaa semua. Nggak tahu kenapa suka, mungkin ya sama dengan alasan kenapa suka film Initial D, tapi mungkin juga karena suka aja lihat Vin Diesel yang macho abis, atau…suka aja dengan tayangan kejar-kejaran dan kebut-kebutan yang mendebarkan itu. Trully Awesome.

The Fugitive (12)

Kisah tentang seorang dokter yang difitnah telah membunuh istrinya. Jalinan ceritanya tidak terduga, amat menarik. Aku suka semua film yang tidak bisa diduga mau dibawa kemana. Juga suka lihat Harrison Ford yang terlihat begitu menjiwai karakter sebagai seorang dokter yang pintar, penuh perhitungan tapi tidak pernah ceroboh memikirkan sebuah rencana.

Indiana Jones (13)

Semua serial film Indiana Jones yang diperankan oleh Harrison Ford aku suka. Dan makin suka karena bapaknya Indiana Jones, yaitu Mr. Jones, adalah Sean Connery. Dua lelaki gaek ini aku suka aja. Terutama janggutnya Sean Connery (apa hubungannya?).

Pirates of The Caribean (14)

Mungkin ini satu-satunya film khayalan yang aku suka jalan ceritanya karena menurutku sih seru. Mau lebay, ya nggak usah nanggung, habis-habisan sekalian kayak khayalan yang ada di semua serialnya Pirates of The Caribean ini. Aku begitu menikmati semua khayalan yang habis-habisan di film ini. Kuncinya, tidak usah berpikir. Just enjoy.

Ah…sudah sampai 15 ya? Nggak terasa. Aku jadi bingung, di nomor terakhir ini mau meletakkan yang mana, karena aslinya masih ada dua film lagi, yaitu; Pride and Prejudice, serta Cinderella.

Ada quotes yang aku suka dari film Pride and Prejudice, yaitu salah satunya:

- Strength is nothing than how well you hide the pain.
If a woman conceals her affection with the same, skill from the object of it, she may loose oppertunity to fixing him.

Sedangkan, di film Cinderella, ada sebuah quotes yang aku suka banget, yaitu:

- You are beautifull because I Love You, or I love You becouse You are Beautifull…I’m so confuse. But I can’t stop thingking of you.

Yaaa…sudah habis ya jatah 15 filmnya? Dan aku belum meletakkan satu pun film Indonesia disana? Hiks…maaf ya. Lain kali rasanya harus bikin deh 15 film Indonesia yang menginspirasi.

[]


EAT PRAY LOVE = Everyone Has A Problem…

Oleh Very Barus

 

 

TADI malam gue nonton EAT PRAY LOVE. Bukan..bukan karena film yg diadaptasi dari novel besutan Elizabeth Gilbert dengan judul yang sama ini mengambil salah satu lokasi syuting di Bali. Melainkan karena gue emang pengen nonton saja.

Tapi, sebelum nonton gue BBM-an dengan teman2 gue. Beberapa diantara mereka bilang filmnya MEMBOSANKAN! Bahkan yang lebih parah ada yang nyuruh gue membawa bantal dan guling… wow! Bikin gue semakin maju tak gentar untuk menonton.

8:30 Malam…

Gue sudah duduk manis beserta teman2 untuk memantengin acting mbak Julia dan tante Chritine Hakim ini. Tanpa popcorn dan soft drink. Karena sesungguhnya gue sangat terganggu kalo ada orang nonton sambil ngunyah2 popcorn atau sejenis snack lainnya. Paling MENYEBAL KAN lagi, kalo pedagang Popcorn sekarang sudah keranjingan masuk ke dalam bioskop menjajakan snck dan soft drink…. Sangat2 mengganggu!

10 Menit pertama..

Gue memantengin acting ibu dua anak ini yang memerankan tokoh Elzabeth atau Liz (si penulis novel) yang gundah gelisah akan nasib perkawinannya yang tidak bahagia. Meski sesungguhnya Liz punya suami Stephen (Billy Crudup) yang setia dan baik hati. Tapi hatinya kosong dan bimbang…maka jalan terbaik adalah BERCERAI. Sampai akhirnya Liz mencari kebahagiaan semu dengan bercinta dengan pria lain, David (James Franco), seorang actor panggung dan juga guru Yoga. Berharap bisa menentramkan hatinya. Namun, Liz tidak menemukan kebahagiaan itu di hati David. Maka hubungan tanpa status itu pun bubar. Namuna David member recomendasi agar bermeditasi ke India untuk mencari keseimbangan hidupnya.(sambil memberikan nama guru meditasi di India)

Tapi, ditengah kebimbangan hidup, Liz akhirnya memutuskan ingin berpetualang ke 3 negara yaitu ITALI-INDIA dan BALI. Orang bule selalu beranggapan kalau BALI salah satu Negara bukan pulau.meski sesungguhnya seharusnya ITALI- INDIA dan INDONESIA (BALI)

ITALI

Selain Negara yang romantic, menurut Liz, bahasa Itali juga seksi. Juga makanan2 di Itali juga menggugah selera makannya yang sudah lama sirna. Liz bisa makan sepuas2nya di Itali tanpa memikirkan melonjaknya berat badan. Pizza, Paggeti, pasta, ice cream dan semua makanan lezat masuk ke temboloknya. Dan Liz benar2 menyukai hidup di Itali. Apalagi ketika dia bertemu dengan teman barunya disana. Liz menemukan keharmonisan kekeluargaan yang kental di Itali.

Meski ada yang tidak singkron pada saat syuting di Itali. Terlihat keteledoran saat Liz menemani dua teman prianya sedang cukur jambang dan rambut. Ketidak telitian tersebut terlihat saat mereka selesai cukur jambang dan kumis, eh, saat adegan di jalan jambang dan kumis sahabat prianya masih terlihat lebat. Padahal mereka baru selesai cukuran dan potong rambut di barbershop!

INDIA

Meski banyak yang bilang saat adegan di india sangat membosankan, justru gue merasa aman-aman saja tuh mengikuti adegan demi adegan. Melihat kepanikan Liz saat tiba di india yang terkenal dengan HIRUK PIKUK-nya kehidupan di India. Juga saat kulitnya bentol2 karena digigit nyamuk. Juga saat Liz tertidur saat mengikuti meditasi…. Semua menggelikan.

Juga saat Liz mengikuti prosesi pernikahan sahabat barunya di India. Juga menggambarkan kalo ternyata bukan dia saja yang mengalami permasalahan dalam pernikahan…banyak!!! Teman meditasinya yang orang Amerika juga bermasalah dalam hidup dan pernikahannya.

Tradisi unik yang gue dapat di India adalah, kita tidak boleh meminum minuman botol langsung dari botolnya. Harus pakai sedotan. Karena katanya PAMALI..

Ada quote yang membekas di hati gue adalah saat Liz berinteraksi dengan sahabat meditasinya Richard dari Texas (Richard Jenski) :”Jika kamu tidak bisa menguasai dirimu, maka kamu akan selalu dalam masalah….”

BALI

I love BALI so much..!!!

Saat Liz hijrah ke Bali, gue sudah dimanjakan dengan pemandangan hijaunya tebing2 yang dipenuhi tanaman padi yang terbentang luas. Laut yang biru serta pemandangan2 lainnya yang sudah nggak usah malu2 bilang kalo BALI emang TOP BGT!

Liz kembali ke Bali untuk bertemu dengan Ketut Liyer(Hadi Subiyanto). Seorang dukun yang sudah uzur tapi polos dan kocak. Liz tertarik datang ke Bali, karena saat liburan sebelumnya, Liz bertemu Ketut dan meramal kalo kehidupannya akan bermasalah dalam 6 bulan kedepan.. dan menyuruh Liz datang lagi ke Bali untuk bertemu Ketut.(sambil menyerahkan lukisan gambar patung)

 

Lika liku kehidupan baru mulai dirasakan Liz di Bali. Kehidupan dugem yang dijabaninya sampe pagi. Bahkan liz bertemu dengan musisi dadakan saat di tempat clubbing. Sempat hampir bercinta di pantai. Namun Liz kabur… dan ada kata-kata menarik yang diucapkan pria yang kata sahabat Liz mirip STING itu adalah: “Semua orang harus punya ASMARA di BALI…” (gue suka kata2 itu. Karena bener2 terbukti hehehheheh)

 

Liz juga bertemu dengan Wayan (Christine Hakim), seorang tukang pijat yang juga bermasalah dengan perkawinanya. Wayan bercerai dengan suaminya tapi tidak mendapat warisan sedikit pun. Maka Wayan pun banting tulang untuk menghidupi anaknya.

Kata2 bijak dari Wayan yang gue suka adalah : ”Disini..Bercerai membuatmu sedih dan dikucilkan..”

Sampai akhirnya, Liz menemukan cintanya di Bali…. Dia bertemu dengan duda asal Brazil bernama Felipe (Javier Baderm). Sama-sama gagal dalam pernikahan dan akhirnya menemukan cintanya di Bali…

 

Kalo elo teliti dan cermat menonton film besutan RYAN MURPHY ini, sangat banyak makna dan filosofi yang kita dapat. Dan dari rangkuman semua kisah yang bisa gue petik adalah……

  1. Everyone has a problem… semua orang yang hidup pasti punya masalah. Jadi jangan pernah merasa kita seorang diri yang memiliki masalah hidup yang berat. No… everyone !!!
  2. Jangan pernah lari dari masalah.. hadapilah masalah seberat apapun itu. Karena setiap masalah ada solusinya. Meski Liz lari ke beberapa Negara, tapi hatinya tetap hampa. Karena masalah yang dihadapinya tetap menghantui hidupnya.
  3. Ketika kamu gagal dalam bercinta.. Jangan pernah takut untuk jatuh cinta lagi… karena sometimes if u loose balance in love, u will find balance in life…

Hingga menit terakhir film ini bergulir….. gue tidak tertidur tuh…!!!

OVER ALL..I LOVE THIS MOVIE…

 

[]



Menonton ‘Badik Titipan Ayah’

Oleh Dwi Klik Santosa

SUDAH lama saya tidak menonton film garapan Pak Dedi Setiadi. Jika nama sutradara ini disebutkan, masih terkenang nyanthel dalam ingatan saya film-film serial  beraroma Indonesia Asli. Sangat sederhana tapi begitu lama mengikatkan kenangan. Sebut saja Film ACI. A bisa AmirC bisa Cici. I bisa Ito. Tapi ACI, Aku Cinta Indonesia. Serial Film TV yang legendaris saya rasa. Disiarkan setiap malam minggu sehabis Isya’ oleh TVRI Pusat. Wuiii … menyenangkan. Begitu pun yang masih saya ingat, selain itu, juga ada film-film bernas: serial Keluarga Cemara dan Rumah Masa Depan. Sangat Indonesia dan mencerdaskan, menurut hitungan saya.

Suatu sore di hari Sabtu, 2 Oktober 2010, ketika saya sedang ogah-ogahan karena dilindap demam yang menyebalkan, seorang teman mengirimkan sms. Ada film “Badik Titipan Ayah” sutradara Dedi Setiadi, bintangnya Widyawati, di SCTV jam 22.oo, tolong nonton ya …. Wah, jika teman ini tidak spesial bagi saya, tidak mungkin ia menekankan kata “tolong” seperti itu. Hmmm ….

Karena masih surup, badan panas tak terkira, saya harus bikin strategi.  “Aku harus nonton film itu” … lalu saya pun tidur. Dan agak sial, hujan yang rimis-rimis melelapkan baring saya di depan TV. Bangun-bangun langsung nyetel SCTV …  dan sudah jalan film itu. Sepertinya saya ketinggalan 10 – 15 menit-an. Yaaahhh …

“Badik Titipan Ayah” … tadinya saya mengira yang jadi Daeng Tiro atau yang sering dipanggil Tetta “dengan tekanan tertentu” dalam setiap adegan itu adalah akting Pak Amoroso Katamsi. Hanya karena kurang membaca informasi dan kurang mengenal sosok sebenarnya si aktor pemeran orang tua penuh kharisma itu kiranya, baru ngeh setelah film selesai, membaca teks ternyata Pak Aspar Paturusi. Luar biasa bagus akting itu. Setiap kali muncul adegan Tetta, melulu menegangkan urat syaraf saya. Teatrikal dan sangat kuat. Saya seperti mengenal betul karakter sang Daeng: seperti ayah saya sendiri di kampung. Ya, ampun. Kerasnya beliau itu laksana batu. Bahkan masih begitu hingga detik ini.  Sebegitu ngotot dan militan meyakini setiap pendapat dan keputusan yang dibuatnya.

Konflik keluarga yang tersentral dari hierarki seorang ayah. Otoriter! Selama bertahun-tahun, saya selalu bertanya dan ingin menggugat fakta ini. Disebabkan empirisme hidup saya yang seakan-akan terbelenggu, karenanya saya begitupun keempat saudara saya ingin saja sepanjang jalan, memberontak.

Tapi, Ya, Tuhan … apakah ayah saya salah? Apakah Daeng Tiro salah? Bukankah karena militansi, adat dan istiadat itu kukuh tegar berdiri. Ia memiliki harkat dan martabatnya yang kokoh, setegar gunung karang. Jangankan penjajah, sudah pasti penjilat tak akan tedas melindasnya. Bukankah begitu, karakter-karakter itu kita kenal dari ruang-ruang baca dan cerita-cerita menggelegar dari orang-orang tua kita ketika sedang berkisah tentang pahlawan-pahlawan kita. “Pantang bumi dipijak jahanam!” bukankah begitu elan Pattimura menggelegak.

Daeng Tiro. Orang tua buta. Seorang yang tegas, tak disangsikan. Seorang yang jujur, tak diragukan. Jika tidak, tidak mungkin sang istri — diperankan artis kawakan Widyawati – meyakininya sebagai suami tercinta. Begitupun Tenry dan Aso, kedua anaknya. Lha .. tapi apa salah Tenry. Apa salah ia jatuh cinta? Kenapa Tetta Tiro melarangnya, bahkan ingin membunuhnya, menghilangkan saja dari percaturan hidup di muka bumi. Bukankah ia darah dagingnya? Bukankah ia buah kecintaannya?

“Aku mencintai Tetta. Tapi aku juga cinta Firman, laki-laki pilihanku,” begitu kata Tenry. Dan lalu Tenry pun memilih hengkang dari rumah. Kawin lari bersama Firman, laki-laki tersayangnya sebagai pasangan hidup.

“Aso! … engkau harus melakukannya. Demi kehormatan. Demi martabat,” seru Daeng, tandas menyerahkan badik itu.

Dan, begitulah, Aso yang mahasiswa. Pikirnya terbelah. Perintah Tetta tercinta adalah amanah. Sedang hati nurani adalah fitrahnya. Bukankah Tenry adalah saudara kandungnya. Sedarah dan memiliki kehormatan yang sama sebagai manusia.

Fragmen demi fragmen mengalir. Tegang. Dramatis. Teatrikal. Kultur Bugis- Makassar dikemas dalam film yang padat. Ilustrasi musik yang pentatonik ranah Sulawesi pun selama sejam lebih, meregang menyayat, makin mempertajam,  agar perhatian tak lepas, terus melototi hingga film purna.

“Biarkan kami sekarang berdamai, Tetta … jangan lagi badik itu kau wariskan kepada anak-anak kita untuk mencerai cinta itu satu sama lain …,” begitu ibunda, istri Daeng Tiro bicara dengan airmata di hadapan mayat Tetta yang terbujur. Daeng Tiro mati dalam goncang meyakini kecintaannya pada putri tersayang, namun perih karena dijalari racun kesumat yang dideritanya. Kata-kata perempuan sendu itu menjadi pamungkas yang meredakan semua ketegangan. Hingga mampu meleburkan kemarahan dan was-was  itu menjadi airmata-airmata. Betapa sedetik saja, jika ode lembut menyayat itu telat bersuara, maka tujahan badik-badik tak ayal akan memuncratkan darah, kian dalam menancapkan kesia-siaan.

Dendam persahabatan. Inilah muasal. Dulunya Daeng Tiro punya sahabat lekat. Tapi karena suatu hal, mereka terlibat pertengkaran. Dan memuncak, hingga dalam sebuah perjalanan bersama naik mobil. Mobil yang dikendali si sahabat hilang kontrol, menabrak pohon. Sahabat itu tewas. Sedang Daeng Tiro sendiri mengalami kebutaan karenanya. Tragedi. Meski telah merenggut dan membawa kematiannya, namun dendam pada pengkhianatan itu terus menyala. Dan mata yang buta, kebutaan yang terjadi karena meyakini nilai sebuah kejujuran, salahkah jika mengharuskan badik itu harus dititipkan? Bagaimana kira-kira, halnya dengan kita. Jika ada anak perempuan kita jatuh cinta dengan seorang laki-laki, dimana ia itu terlahir dari seorang yang kita anggap sahabat terbaik, tapi kemudian berkhianat? Akankah kita seperti Daeng Tiro?

[]

Zentha

7 Oktober 2010

: 09.57



Red CobeX—Komedi Garing

Oleh Very Barus

TADI malam, katanya pemutaran film Red Cobex serentak di beberapa kota. Rasa penasaran gue sebenarnya sudah cukup lama dengan film ini. Apalagi ketika membaca posting-an TWITTER para pemain yang mengisahkan kekonyolan- kekonyolan saat syuting—bener-bener makin penasaran.

Akhirnya, usai nonton bola Argentina vs. Korea, gue dan teman-teman pun ngacir ke BSM untuk nonton RED COBEX

Lo tau sendiri kan, deretan nama-nama pemainnya sudah tidak diragukan lagi untuk bikin KOCAK nih pelem. Ada Tika Pangabean, Indy Barends, Sarah Sechan, Aida Nurmala, Cut Mini, Shanty, Irfan Hakim dan Lukman Sardi. Yang jelas nama-nama tersebut bikin gue sangat tertantang pengen nontonnya…

Jam 8.55 WIB, pelem dimulai—penonton cuma ada 10 orang. Gue dan teman ada 4 orang plus 6 orang penonton lainnya…duh, makin prihatin aja kalo melihat sepinya penonton.
Pelem dimulai dengan aksi gaduh para pasukan RED COBEX—ceritanya Tika dkk. ini jagoan gitu deh. Preman gitu deh..!!! Menyerbu para preman-preman yang suka merusuh di pasar, kampung dll…

Awal penampakan di pelem itu bener-bener bikin gue tertawa terpingkal-pingkal…lucu!! Seru…!! Dan bener-bener bikin gue yakin kalo pelem ini pasti akan bikin ngakak sampe akhir cerita…

Tapi memasuki menit-menit berikutnya, kok kocak-nya dipaksakan…trus…adegan-adegan kocak yang dibuat sudah pernah dilakukan oleh sitkom-sitkom di teve. Jadi nggak orisinal…basi dan gue jadi tertawa sinis…

Kemudian…sampai kepertengahan cerita…semua semakin nggak jelas…kocak-nya semakin maksabener-bener penulis skenarionnya nggak jeli dan nggak kaya akan unsur cerita komedi yang baru dan orisinal…pokoknya bikin gue greget de

Sampai akhir pelem ini, gue sama sekali NGGAK PUAS. Karena ceritanya banyak yang KENTANG alias ketawa nanggung!

Padahal, kalo sutradaranya jeli (Upi…oh Upi…) dia bisa menggali kelucuan dari masing-masing pemain…tapi di sini justru tidak semua pemainnya menonjol…

Yang paling bisa bikin gue ketawa adalah Tika Pangabean…Shanty dan kadang-kadang Indi Barends…

Sedangkan Sarah Sechan yang terkenal dengan kekonyolannya…sangat MAKSA dengan logat MADURA-nya. Jadi sibuk sendiri dengan logat tersebut.

Begitu juga dengan CUT MINI…kenapa juga harus pake gigi PALSU sehingga ribet sendiri dengan giginya.

Aida Nurmala yang juga terkenal jago akting tapi disini MELEMPEMnggak eksplore. Sibuk dengan logat Jawa yang kadang kecolongan logat jakartanya…

Sehingga sia-sia menampilkan nama-nama kondang tersebut untuk menjamin film itu bagus dan lucu. Seandainya para pemain tampil sebagai jati diri mereka tanpa harus memerankan tokoh yang bisa bikin ribet diri mereka, mungkin ceritanya akan jauh lebih seru lagi…

Lukman Sardi lumayan…tapi kadang-kadang untuk menjadi orang AMBON dia suka kelupaan dialek…kebobolan lagi deh

Revalina S Temat juga nggak pentingggggg banget sok kocak tapi nggak dapat..

INTINYA…

Pelem ini BASI…

Kocaknya KENTANG…

Komedi Tidak Orisinal… Sudah pernah dibuat komedi-komedi sebelumnya.

Pemainnya KENTANG juga…

Nilai…5 dari poin 10.

[]

Poster film Red CobeX


Minggu Pagi Di Victoria Park

Oleh Very Barus

Tadi malam, gue dan 4 orang teman nonton film Minggu Pagi di Victoria Park, di BSM Cinema. Sempat pesimis dan berat hati masuk ke dalam bioskop. Bayangin aja, waktu masuk ke dalam bioskop tidak satu pun ada penonton—bukan karena kami kecepatan masuk. Tapi emang bener-bener nggak ada penonton. Jadi saat nonton gue dan teman-teman clingak-clinguk. Sempat melontarkan kalimat.

Wadoh, kita salah beli tiket nih! Gila! Menontonnya aja cuma kita doang. Pasti filmnya jelek dan membosankan!”
Alaaa….itung-itung nonton film serasa di rumah sendiri aja..” ucap teman menghibur kegundahan kami. Oke lah kalo begitu……

Film pun dimulai….

Opening screen-nya menampilkan kemegahan kota Hongkong dengan gedung-gedung pencakar langit dan juga hiruk pikuk manusia berlalu lalang. Ciri khas kota Hongkong yang never sleep
Gue senyum-senyum sendiri melihat ke indahnya Hongkong. Lamunan gue langsung terbang ke Hongkong saat tutup tahun kemaren gue dan teman-temen menghabiskan tahun 2009 di Hongkong dengan segala hiruk pikuknya.

Film terus berputar…. cerita bergulir bak sedang menyaksikan kisah yang sesungguhnya. Gue terus memantengin tuh pelem serasa nggak berkedip. Konflik di film ini “sangat dapat” dan natural. Semua pemain memerankan tokoh mereka dengan natural. Logat jawa nan medok membuat gue senyum-senyum sendiri (lagi). Teringat (lagi) saat gue interview beberapa TKI di sana saat mereka sedang nongkrong di Victoria Park. Dandanan boleh mirip artis Hongkong. Tapi logat tetap JAWA MEDOK.

Pada film itu juga digambarkan bagaimana hubungan sesama jenis (lesbian) menjadi hal yang sangat biasa. Bahkan mereka tidak sungkan berciuman di depan umum dan juga tinggal serumah bareng. Begitu juga konflik terlilit hutang yang juga banyak dikeluhkan oleh TKI di sana. Hubungan percintaan dengan pria BANGLADES yang tukang morotin…semua benar-benar dikisahkan, layaknya apa yang diceritakan para TKI saat gue wawancara mereka tempo hari itu…

Akhirnya gue puas… dari awal film hingga sampai pamungkasnya, tidak ada rasa jenuh menontonnya. Gue suka film ini… gue suka SEKAR (Titi Sjuman). Gue suka Mayang (Lola Amaria) dan gue suka semua pemain-pemainnya. Sangat berkarakter dan sangat menjiwai peran mereka sebagai TKI.

Titi Sjuman yang logat jawanya begitu medok. Dengan umpatan “J****KKKK…!!!!” saat marah pada temannya. Membuat aku tertawa geli. Lola yang sebagai kakak di film ini juga sangat pas memerankan Mayang. Kalem dan lembut namun gigih.

Gue bener-bener memuji penulis skenario cerita ini (Titien Watimena) yang mampu mengemas kisah yang juga bisa membuat emosi kita up and down. Dan memuji kenekatan Noe Letto memproduseri film ini. Dan ternyata menurut aku SUKSES!

Banyak kisah-kisah menarik di film itu yang dikemas “pas” oleh Pic(k)lock Production ini. Sehingga tidak menimbulkan kejenuhan, over acting dan juga terlalu diulur-ulur seperti kebanyakan film-film lokal yang beredar…untuk menghabiskan durasi, alur cerita terlalu dipanjang-panjangkan…berliku-liku tapi tidak jelas… tapi film ini BEDA!

Saran gue nonton deh film ini…. Cukup recomended sebagai tontonan di akhir pekan ini….

Ada sepenggal kisah saat gue nonton film ini :

Sepulang gue dari Hongkong Januari kemaren, gue sebenarnya tengah mempersiapkan novel terbaru gue ber-setting kota Hongkong yang mengisahkan tentang TKI yang bekerja di sana. Gue tertarik dengan kehidupan para TKI yang ternyata banyak banget yang menjadi LESBIAN dengan latar belakang masalah yang beraneka ragam. Sehingga gue pikir menarik juga untuk di angkat ke dalam novel. Itu sebabnya gue mewawancarai beberapa TKI yang lesbian lengkap dengan pacar-pacar mereka (perempuan). Juga tempat-tempat mangkal mereka gue jabani….

Tapi anehnya, hampir 40 persen imajinasi gue sama dengan imajinasi penulis skenario film ini… dan mereka memvisualisasikannya ke dalam film ini……padahal gue sama sekali tidak kenal sama penulis film ini…tidak tau mereka bikin film ini dan juga tidak terbesit untuk meniru kisah-kisah di dalam film ini. Meski ada 60 persen cerita yang berbeda dalam bukuku kelak…

Sementara imajinasi gue sedang MANDEG menulis novel tentang TKI di Hongkong. Karena gue belum mendapatkan FEEL kota Hongkong lagi… teman gue menyarankan agar gue tinggal sebulan di Hongkong untuk bisa mendapatkan FEEL kisah TKI Hongkong…

Hmmm…….. semoga saja bisa..!!!

Resensi MPdVP gue kutip dari Detik.com (www.detik.com)

Film produksi Pic[k]lock Production ini berfokus pada Mayang, anak pertama dari pasangan Sukardi dan Lastri yang disuruh ke Hong Kong untuk mencari tahu keadaan adiknya, Sekar (Titi Sjuman yang bermain ciamik) yang tidak lagi mengabarkan kondisinya selama beberapa bulan.

Sebenarnya, antara Mayang dan Sekar ada hubungan ‘sibling rivalry’ alias permusuhan antar saudara. Sang ayah selalu memuji Sekar yang selalu mengirim uang dari jauh, sembari merendahkan Mayang yang masih menumpang dan cuma seorang petani tebu.

Hubungan keduanya, yang terasa sekali relasi kimiawinya, inilah plot utamanya. Dan dari sini kita mengetahui sisi-sisi lain dari kehidupan TKW. Proses pembuatan yang memakan waktu dua tahun itu juga menjadi keuntungan tersendiri dalam menyelami para TKW. Dari segi skenario, Titien Wattimena menulis bagus dan menebus kekurangannya di ‘Menebus Impian’.

‘Realitas’ lain adalah betapa banyak para TKW yang terjebak untuk berutang pada lintah darat bernama Super Kredit. Salah satunya adalah Sekar, yang luntang lantung dan kerja serabutan untuk menyambung hidup plus menyicil utang dengan cara apapun.

Judul film yang awalnya bertajuk ‘Hong Kong Rhapsody’ ini terinspirasi dengan ritual para pekerja ini yang hobi berkumpul lengkap dengan dandanan dan telepon genggam layaknya anak gaul di Victoria Park tiap Minggu Pagi. Di tengah film, ada poster sayembara via sms untuk memboyong band favorit dari tanah air. Siapakah itu, hayooo?.

Film ini juga diperkuat oleh Donny Damara, Imelda Soraya, Permata Sari Harahap, dan Donny Alamsyah. Para pemain bekerja ekstra untuk berdialek Jawa Timuran, walau satu dua aktor masih terdengar seperti cengkok Jawa Tengah. Dan bintang yang paling bersinar sesungguhnya adalah Yadhi Sugandhi yang benar-benar menjadikan kota Hong Kong sebagai panggung.

Sang penata kamera itu bekerja sama dengan Art Director Rico Marpaung–berhasil menyajikan sudut-sudut kota dan memberikan identitas yang kuat.

Dan jangan bayangkan film ini seperti ‘Betina’ yang terkesan “art”, garapan Lola sebelumnya. Film ini cukup komunikatif dan beberapa adegannya mampu mengusap tombol emosi kita.

[]


Cinta Masih Puitis

Oleh Naimah Herawati Hizboel

Di tengah suasana “panas” oleh hebohnya pemberitaan video percintaan Luna Maya, undangan dari Mizan Productions untuk menghadiri preview film berjudul “3 Hati: Dua Dunia Satu Cinta,” bagai oase yang mendinginkan. Membangkitkan kembali semangat dan gairah tak terkira.

Film 3 Hati_Dua Dunia Satu Cinta

Baru membaca judulnya yang bagus saja sudah membuat optimismeku (mengenai cinta) kembali berdetak. Sehingga, aku pun bertekad untuk menghadiri undangan itu. Maka, jadilah hari Selasa pagi (8/6) itu aku dengan sadar menyerahkan diri menjadi bagian dari kemacetan tak terkira sepanjang Cibubur-Antasari-Gunawarman-Senopati, hingga sampai di Blitz Megaplex di kawasan SCBD. Waktu yang kuperkirakan satu setengah jam bisa mencapai Pacific Place, ternyata meleset. Hampir dua jam aku baru bisa sampai di lokasi. Itu pun setelah aku nekad menyerobot mengikuti barisan mobil mewah yang dikawal oleh polisi mulai dari jalan Gunawarman hingga SCBD. Untungnya, semua ketegangan pagi itu kemudian terbayar lunas oleh film manis berdurasi seratus enam menit itu.

Film 3 Hati: Dua Dunia Satu Cinta

Akhir-akhir ini, konsep hubungan percintaan anak-anak muda kian jauh bergeser dari kaidah dan nilai-nilai cinta yang semestinya (nilai-nilai budaya dan agama). Hal itu membuatku “capek” melihat hubungan cinta yang ada di sekelilingku. Aku pun nyaris “putus asa” dan kehilangan harapan bahwa cinta masih romantis. Namun, semua keresahan itu kemudian berakhir setelah menonton film ini.

Film 3 Hati: Dua Dunia Satu Cinta, bercerita tentang hubungan cinta antara Rosid (diperankan oleh Reza Rahadian), seorang pemuda Muslim idealis yang terobsesi menjadi seniman besar seperti WS. Rendra, dengan Delia (dimainkan oleh Laura Basuki), seorang gadis Katolik berwajah manis. Tentu saja hubungan mereka ditentang habis-habisan oleh Mansur, ayah Rosid yang keturunan Arab, dan orang tua Delia yang orang Manado.

Di luar konflik hubungan cinta Rosid-Delia, ada juga persoalan menarik lain yang juga dimunculkan dalam film ini, yakni gaya seniman Rosid dengan rambut kribonya yang selalu membuat sang ayah gusar karena anaknya tidak pernah bisa memakai peci. Padahal, bagi sang ayah, peci merupakan lambang kesalehan dan kesetiaan pada tradisi dan agama. Sementara, bagi Rosid keengganannya memakai peci tak sekedar karena rambut kribonya melainkan karena ia tak ingin kepatuhannya menjalankan syariat (agama) dicampurbaurkan dengan tradisi leluhur yang disakralkan.

Latar belakang yang cukup ekstrem antara Rosid dan Delia (kerap dilafalkan Delilah oleh Muzna, ibunda Rosid), tentu saja menjadi konflik utama dari awal hingga akhir film. Rosid terlahir dari keturunan Arab-Muslim yang sangat taat memegang tradisi agama dan leluhur, sedangkan Delia terlahir dari keluarga Manado-Katolik, yang juga sangat taat beribadah.

Menariknya, Rosid dan Delia adalah dua anak muda yang rasional dalam menghadapi persoalan yang melanda kehidupan cinta mereka. Sehingga, mereka tak hanya sibuk bergelut dengan perasaan cinta yang bergulung-gulung, tapi mereka juga memikirkan perasaan orang-orang di sekitar. Di satu sisi mereka kukuh menggenggam perasaan cintanya, tapi di sisi lain mereka sangat peduli pada kepanikan yang melanda ayah dan ibunya. Berbagai cara yang dilakukan oleh orang tua mereka, seperti Delia yang akan dikirim sekolah ke Amerika, dan Rosid yang hendak dijodohkan dengan Nabila (diperankan oleh Arumi Bachsin), gadis cantik berjilbab yang ternyata juga mengidolakan Rosid, dihadapi dengan sabar tanpa kehilangan style mereka sebagai anak muda. Berhasilkah Rosid dan Delia bersatu dalam ikatan pernikahan? Jawabannya harus disaksikan sendiri di film ini.

Film ke lima produksi Mizan Productions ini menghadirkan pemain-pemain muda berbakat seperti Reza Rahardian, peraih piala citra sebagai Pemeran Pendukung Pria Terbaik Festival Film Indonesia 2009. Kemampuan akting Reza diadu dengan kehadiran dua gadis cantik Laura Basuki (Delia) dan Arumi Bachsin (Nabila). Laura Basuki bermain sangat cantik. Ia mampu membawakan perannya sebagai Delia yang terombang-ambing perasaannya, antara cintanya pada Rosid, kekasihnya, dan cintanya kepada kedua orang tuanya dengan sangat baik. Semua pergulatan hatinya terbaca lewat bahasa tubuh dan ekspresi wajahnya. Nama terkenal lain yang juga terlibat di film ini adalah Ira Wibowo dan Robby Tumewu yang dipasangkan menjadi orang tua Delia, dan ada Henidar Amroe yang menjadi ibunda Rosid.

Akhirnya, lewat film yang manis dan romantis garapan sutradara Benni Setiawan dan diproduseri oleh Haidar Bagir ini, penonton seolah disadarkan, bahwa cinta masih indah, dan cinta masih puitis. []

16 Juni 2010


Resensi : The Kite Runner (2007)

(Iranian film)

***

Menebus Persahabatan di Afganistan

Dikisahkan tentang persahabatan dua orang anak, Amir Jan dari suku Pasthun, dan Hassan dari suku Hazara. Amir Jan adalah anak dari seorang pembesar di Afganistan, sedang Hassan adalah anak pembantu di rumah Keluarga Amir Jan. Kedua anak ini aman dekat. Satu hal, sebab keduanya telah saling mengenal semenjak mereka masih bayi. Kekek Hassan sudah ikut keluarga Amir Jan, kemudian ayahnya.

Turun-temurun keluarga Hassan telah bekerja di keluarga itu. Amir dan Hassan memiliki kegemaran yang sama; yakni bermain layangan. Layang-layang memang, dikisahkan, mengisi keseharian orang Afganistan. Jika musim, langit Afganistan nyaris dipenuhi puluhan ribu layangan.

Karakter Amir, dikisahkan, adalah anak yang lemah. Kerap ia mendapat intimidasi dari seorang anak Pasthun lainnya bernama Assef. Ayah Assef juga adalah kolega ayah Amir.

Ketika Assef mengintimidasi Amir, Hassan dengan sigap membela. Assef segan pada Hassan yang tidak kenal takut. Kendati ukuran tubuh Assef melebihi Hassan, namun Hassan tidak pernah gentar ketika berhadapan dengan Assef. Makanya, jika ada Assef, Amir tidak perlu khawatir jika berada di dekat Hassan.

Selain berani Hassan amat gemar belajar apa saja, termasuk membaca. Dan dengan senang hati, Amir mengajari Hassan membaca, di setiap waktu, di kuburan kota.

Amir kecil juga tidak bertanggungjawab. Sebaliknya, Hassan kerap mengambil tanggung jawab tersebut. Inilah pemicu konflik yang kemudian akan memisahkan kedua sahabat ini.

Suatu ketika, Amir dengan sengaja menghilangkan sebuah benda berharga pemberian ayahnya. Dengan sengaja pula benda itu disembunyikan di bilik Hassan. Tujuannya adalah agar Hassan meninggalkan rumah keluarganya.

Benda itu kemudian ditemukan. Namun ayah Amir tidak marah. Hassan lalu memgakui hal yang tidak dilakukannya.

Kendati ayah Amir tidak peduli dengan kejadian itu, tetap saja ayah Hassan bersikeras bahwa kejadian itu adalah pertanda bahwa sudah saatnya mereka harus meninggalkan rumah itu. Disinilah kedua sahabat ini terpisah.

Waktu berlalu. Amir dikirim ayahnya kuliah di Amerika Serikat. Saat invasi Rusia ke Afganistan tahun 1979, ayah Amir Jan membawa lari anaknya keluar dari Afganistan dengan menyerahkan seluruh hartanya pada seseorang yang kemudian membantu mereka keluar dari Afganistan yang sedang digejolak perang.

Di Amerika, keluarga Amir Jan memulai hidup dari nol. Ayahnya menjadi pedagang kelontong disebuah tradisional market. Usaha keras ayahnya, menjadikan keluarga itu kembali hidup normal dengan penghasilan yang lumayan. Amir Jan menyelesaikan sekolahnya kedokterannya. Namun, bakatnya sejak kecil tidak  ditinggalkannya, menulis. Amir Jan kerap menunjukkan karyanya pada Pamannya.

Karena bakat inilah, sebuah novel karya Amir Jan berhasil diterbitkan. Amir Jan lalu menikahi anak seorang mantan Jenderal era Afganistan lama dari suku Pasthun.

Meski si Jenderal demikian keras, namun kegigihan Amir Jan akhirnya membuatnya berhasil menikahi wanita pujaannya. Namun kisah ini ternyata baru dimulai di sini.

Tahun 2000 pamannya menghubunginya. Ia diminta datang di Pakistan, dimana pamannya tinggal sekarang. Pamannya berhasil memperoleh suaka oleh pemerintah Pakistan. Saat pertemuan pertama sejak invasi Rusia itulah, paman Amir Jan menceritakan semuanya.

Beberapa waktu lalu, ia menerima surat dari seseorang yang kemudian dikenalinya adalah Hassan kawan Amir dahulu. Surat itu meminta pamannya, agar mengupayakan pencarian terhadap anak Hassan yang diculik Taliban. Plot film ini sudah berganti. Rusia tidak berkuasa di Afganistan lagi, digantikan Taliban yang memenangi pemilu.

Kabar lain yang menyertai surat itu adalah Hassan telah meninggal dunia, ditembak Taliban. Sikap keras Hassan ketika Taliban hendak menyita miliknya, membuatnya ditembak. Peristiwa itu terjadi beberapa pekan setelah Hassan mengirimi paman Amir surat tentang anaknya. Sedang kabar meninggalnya Hassan diperoleh dari kawan sedesa Hassan.

Disinilah Amir Jan mengalami dilema batin yang hebat. Rasa bersalah menguasainya. Bayangan tentang tindakannya dulu, menghantuinya. Ia teringat kata-kata Hassan padanya ketika mereka masih kecil, bahwa kelak dia harus lebih bertanggungjawab, sebagai penerus nama keluarganya. Ketika itu Amir begitu acuh dengan nasihat Hassan.

Rasa bersalah, dan hendak membuktikan bahwa dia telah berubah menjadi lelaki yang bertanggungjawab, memaksa Hassan mengambil tanggungjawab pamannya; dia harus mencari anak Hassan apapun resikonya.

Soalnya kini, bagaimana menembus wilayah Afganistan yang telah dikuasai Taliban. Seorang moderat, yang selama ini menjadi pengubung Taliban di Pakistan dikenalkan pamannya pada Amir Jan. Melalui orang ini, Amir menyusun rencana menyusup ke wilayah Taliban. Melalui orang inilah, Amir tahu bahwa anak lelaki Hassan kini berada di markas Taliban, sebagai penari. Amir lalu menyiapkan segala yang diminta penghubung ini. Menyiapkan uang yang akan diberikannya di perbatasan Pakistan-Afganistan, berdandan dan mengenakan janggut palsu ala Taliban. Kendala lain timbul; bagaimana mereka bisa bertemu pemimpin Taliban yang menyekap anak lelaki Hassan.

Pada pertemuan Taliban di stadion nasional Afganistan, saat menyaksikan hukum rajam terhadap dua penzina, Amir dikenalkan pada pemimpin Taliban oleh penghubung itu. Lalu keduanya diajak ke markas, dan selanjutnya urusan Amir diserahkan pada seorang tangan kanan sang pemimpin Taliban.

Saat Amir dipertemukan dengan anak lelaki Hassan, saat itu pula penyamarannya terbongkar. Ternyata, tangan kanan pemimpin Taliban adalah Assef, anak suku Pasthun yang dahulu sering mengintimidasinya.

Amir memohon agar Assef melepaskan anak lelaki Hassan. Assef bukannya mengabulkan permohonan Amir, justru kesempatan itu digunakannya untuk membalas Hassan melalui anak lelakinya.

Tidak ada tindakan lain bagi Amir, kecuali melarikan anak lelaki Hassan. Sebuah pukulan membuat Assef terjatuh, dan kesempatan itu digunakan ketiganya untuk lari dari markas Taliban.

Pelarian ini digambarkan cukup dramatis. Dikejar puluhan Taliban bersenjata, ketiganya akhirnya berhasil keluar dari Afganistan.

Singkat kisah; Amir lalu membawa anak lelaki Hassan ke Amerika. Banyak kenangan yang meliantas dibenak Amir tentang sahabatnya Hassan tatkala memandang anak lelaki Hassan. Anak lelaki itu begitu mirip dengan sahabatnya. Inilah saat bagi Amir untuk menunjukkan tanggungjawab itu, sesuatu yang dahulu sering disindirkan Hassan kecil padanya. Amir berjanji, tidak akan melewatkan waktu bermain layangan lagi, terlebih tidak akan membuang waktu lagi, tanpa anak Hassan bersamanya. Semua ditebusnya demi Hassan, dan karena Hassan.

Kisah ini sangat menarik, sebab penonton disodori kehidupan masyarakat Afganistan yang unik, lengkap dengan prinsip-prinsip hidup mereka sehari-hari. Kisahnya begitu mengalir, hingga perpindahan plot dan setting lokasi tidak tampak mengganggu jalan cerita. Konflik yang dihadirkan mengayun, sesekali haru, tegang, lalu berubah dramatis. Film ini memenangkan festival film international di Cannes, sebagai film asing terbaik. Rasanya pantas menjadi referensi tontonan Anda.

***

Film Kite Runner, yang diproduksi tahun 2007 ini, disutradarai oleh Marc Forster berdasarkan novel yang sama karya Khaled Hosseini. Kebanyakan dialog dalam film ini menggunakan bahasa Persia (Iran) dan bahasa Inggris. Dua pemeran muda tetap menggunakan bahasa asli mereka, sedangkan beberapa aktor dewasa harus belajar bahasa Persia.

Film ini pernah dinominasikan pada Golden Globe Award untuk Film Berbahasa Asing Terbaik pada tahun 2007. Film ini dinilai oleh Alberto Iglesias pantas dinominasikan untuk Best Original Score pada Golden Globes dan Academy Awards (Piala Oscar).

Marc Forster sendiri adalah sutradara film laris lainnya; Monster’s Ball dan Finding Neverland. Diproduksi oleh Dreams Works Picture. Diedarkan oleh Paramount Vantage.

***

Resenser :

Ilham Q. Moehiddin

Founder The Indonesian Freedom Writers Group

Kabar terkait : www.kapanlagi.com


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 103 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: