Poelang Kampoeng ke Cinangneng

Oleh Hera Hizboel

PADA suatu siang yang terik (22/4) Dinda, putri kecilku pulang sekolah dengan wajah sumringah. Dia mencium tanganku dan kedua belah pipiku sembari sibuk bercerita tentang rencana sekolahnya yang akan menyelenggarakan piknik bersama ke Desa Wisata Cinangneng (Bogor) pada Kamis pekan depan. Ditunjukkannya surat dari sekolah yang berisi jadwal piknik dan formulir pendaftaran. Rupanya, karena event itu merupakan event jalan-jalan terakhir siswa TK B Sekolah PUTIK, maka sekolah mewajibkan keikutsertaan seluruh anak dan orangtua TK B.

Sepanjang hari itu Dinda terus membujuk aku untuk ikut menemaninya piknik nanti. Dalam hati, aku tidak terlalu antusias untuk pergi. Sebabnya tentu saja lututku yang masih (juga) nyeri kalau dipakai berjalan jauh apalagi kalau medannya naik turun seperti di daerah Cinangneng yang berada di kaki Gunung Salak itu. Tapi, hati ibu manakah yang tega mematahkan semangat putrinya yang memohon-mohon dengan mata berbinar seperti Dinda siang itu. Maka, kusanggupi juga permintaan putriku itu. Sembari tentu saja dalam hati aku berdoa semoga pada hari “H” nanti kakiku cukup sehat.

Sejak hari itu juga hingga sepekan ke depan Dinda tak henti meluapkan harapannya tentang acara yang akan diikutinya di Cinangneng nanti. Setiap ada kesempatan dia membacakan jadwal acara yang ada di lembar surat sekolah yang ditujukan untukku. Acara Kartinian di sekolahnya yang diadakan beberapa hari sebelum ke Cinangneng tidak cukup menarik minat Dinda. Ya, Dinda yang aktif tentu saja lebih tertarik dengan kegiatan outdoor macam bermain angklung, berlatih gamelan, dan memandikan kerbau di sungai ketimbang lenggang-lenggok jalan di catwalk sekolahnya. Maka, jadilah persiapan lomba kartinian dilakukan sekedarnya saja olehku. Baju Bodo dari Sulawesi Selatan yang kubeli untuk anakku tidak kulengkapi dengan accessories yang heboh, agar Dinda tetap nyaman ketika tampil membawakannya.

Poelang Kampoeng ke Cinangneng

Kamis pagi (29/4) langit Jakarta berwarna biru. Matahari bersinar cerah, secerah hati anak-anak TK PUTIK Cipayung yang berbaris rapi menuju dua bus besar bertuliskan White Horse yang parkir tepat di seberang sekolah. Aku dan Dinda plus asisten (pribadi) mendapat jatah kursi di bus nomor 2. Tentang asisten (pribadi) yang perlu-perlunya kuajak serta, tentu saja untuk menolong dan “mengawal” Dinda kalau harus berjalan jauh melalui pematang sawah untuk berkunjung ke rumah-rumah penduduk di sekitar Desa Wisata Cinangneng. Karena lututku juga, aku hanya akan menemani Dinda di acara-acara yang medannya aman-aman saja.

Bus mulai bergerak meninggalkan PUTIK tepat pukul 07.15 sebagaimana jadwal yang tertulis di surat sekolah. Zidane, salah seorang teman sekelas Dinda pada menit terakhir mengurungkan keberangkatannya, karena salah seorang pamannya sakit. Sekitar lima belas orang anak plus orang tua dan pengantar memenuhi bangku-bangku bus bagus itu. Bu Lisbet, bu Lia, dan seorang satpam sekolah mengawal anak-anak yang ada di bus 2. “Insiden” kecil yang terjadi sempat membuat bus mendadak menepi pada jarak lima puluh meter dari PUTIK. Penyebabnya adalah topi plus tas kecil milik Dinda yang tertinggal yang memaksa bus menepi. Semenit kemudian bus benar-benar berangkat.

Ketika bus mulai masuk ke jalan tol Jagorawi, dua bu guru cantik mulai beraksi. Bu Lisbet dan bu Lia “duet” memberikan tebak-tebakan pada anak-anak dan orang tua dengan hadiah menarik yang sudah disiapkan, dan mengajak bernyanyi di sela tebak-tebakan. Tentu saja kepiawaian dua guru itu membuat perjalanan menjadi riuh. Anak-anak dengan serius menyimak pertanyaan dan melonjak girang ketika tebakannya benar dan mendapat hadiah. Kecerdasan, keberanian, dan spontanitas anak-anak yang demikian mengagumkan tentu saja hasil dari pembelajaran dan pembiasaan mereka di sekolah. Tak ada yang menangis karena tidak kebagian hadiah, tak ada yang mengejek teman karena jawaban temannya salah, dan ikut bersorak senang ketika temannya mendapat hadiah, adalah deretan sikap positif semua anak yang patut diacungi jempol.

Keasyikan bernyanyi dan bermain tebak-tebakan membuat kami kesasar. Cinangneng terlewati hingga ratusan meter. Yang mencengangkan, ternyata sopir bus tidak tahu letak persis Desa Wisata Cinangneng dan para ibu guru pun belum pernah pergi ke sana. Yang melakukan survei lokasi dari pihak sekolah rupanya adalah orang dari administrasi yang saat itu justru tidak ikut. Hahahahaha….

Aku yang pernah ke Cinangneng bertahun lalu untuk menjenguk istri sopirku yang melahirkan, yang kebetulan berasal dari desa itu tentu saja tidak terlalu ingat jalan masuk ke lokasi. Aku baru sibuk mencari tahu lewat ponsel ketika melihat rambu ke arah Gunung Bunder sudah di depan mata. Seorang kerabat yang memiliki villa di Gunung Bunder pun segera kuhubungi dan kutanyakan letak persis jalan masuk ke Cinangneng. Akhirnya, bus segera mencari tempat aman untuk putar arah. Tak disangka ternyata bus nomor 1 pun ikut kesasar sebagaimana halnya kami. Seisi bus gaduh menertawakan kejadian itu. Bayangkan saja, dua bus besar dengan isi puluhan anak kecil sibuk berputar arah di jalan yang tidak terlalu lebar itu, dan tentu saja hal itu membuat banyak kendaraan lain harus berhenti memberi jalan.

Semua orang kemudian serius berkonsentrasi mencari papan penunjuk bertuliskan Desa Wisata Cinangneng. Yang menggelikan, kerabatku mengatakan bahwa papan petunjuk yang harus kami cari itu berwarna kuning, padahal ternyata berwarna merah! Meski “gaduh” tapi akhirnya semua bernapas lega ketika tak lama kemudian kami sampai di tempat yang dituju. Dengan sabar anak-anak turun dari bus satu persatu dan berjalan menuju sebuah kawasan bagus bertuliskan Desa Wisata Cinangneng yang terletak beberapa meter dari tempat parkir.

Cinangneng Village adalah kawasan wisata yang cukup luas. Beberapa bangunan permanen bergaya tropis yang ada di sekitar lokasi, di tata dengan apik. Meski berada di wilayah Jawa Barat tapi atmosfir yang diciptakan lebih terkesan Bali. Hester Basoeki sang pemilik rupanya memilih menegaskan unsur ke Sunda-an Cinangneng Village lewat menu paket wisata yang diramunya. Tak hanya rombongan anak sekolah yang bisa berkunjung ke sana. Rombongan keluarga dengan jumlah minimal 20 orang pun dilayani dengan paket harga yang sama dengan rombongan besar. Untuk dewasa dikenakan biaya Rp. 90.000,-/orang dan Rp. 195.000,-/anak.

Beragam Kegiatan di Kampoeng

Seluruh rombongan dikumpulkan di sebuah ruang terbuka dengan deretan bangku-bangku berwarna biru. Anak-anak menempati kursi biru itu dan orang tua duduk di kursi lenong kayu yang ada di pinggir arena. Mamang dan Teteh pemandu dari Desa Wisata Cinangneng satu persatu memperkenalkan diri sambil berdiri rapi berjejer di samping spanduk persegi berisi notasi lagu sunda di depan anak-anak. Tapi, acara tidak bisa segera dimulai karena rombongan bus nomor 3 dari PUTIK Pondok Kopi belum tiba. Salah seorang murid yang ada di bus itu ternyata adalah artis cilik bernama Cinta (anak perempuan dari artis Uya Kuya), yang siang itu diliput kegiatannya oleh stasiun televisi SCTV. Semua anak diminta bersabar beberapa menit lagi. Bu guru segera mengambil alih kendali. Anak-anak diajak bernyanyi-nyanyi agar tidak jenuh.

Setengah jam kemudian rombongan baru tiba. Acara pertama segera dimulai setelah sebelumnya bu Lisbet menjelaskan dan meminta izin liputan untuk SCTV. Anak-anak segera tersedot perhatiannya ke depan. Setiap anak dibagikan alat musik tradisional Sunda-Angklung. Salah seorang mamang pemandu berdiri sembari menunjuk not-not yang ada di spanduk dan mengajak anak-anak membunyikan angklungnya sesuai not masing-masing. Maka, disiang yang terik itu mengalunlah lagu “Burung Kakak Tua” lewat alat musik bambu yang dipegang anak-anak kecil, meningkahi kicau burung dan semilir angin kiriman dari Gunung Salak. Usai lagu pertama, mengalun lagu ke dua. Kali ini sebuah lagu Sunda. Liukan notasi khas Tanah Pasundan pun membelai telinga dan hatiku.

Setelah belajar angklung, anak-anak dibagi perkelompok untuk bergiliran mengikuti acara demi acara. Hal itu dilakukan agar semua anak kebagian berkegiatan sesuai durasi yang disediakan. Acara melukis di atas caping (topi khas yang dikenakan oleh Pak Tani di sawah) disambut gembira. Anak-anak dibagi caping dan alat lukis satu-satu. Teteh pemandu membolehkan anak-anak menggambar apa saja sesuai keinginan mereka dan diminta menuliskan namanya. Ya, setelah dilukis caping-caping itu akan dijemur dan akan dibagikan ke setiap anak sesuai namanya, sebelum pulang.

Selanjutnya anak-anak digiring ke sebuah meja di tepi kolam renang. Mereka merubung meja yang sudah berisi perlengkapan membuat kue Bugis (kue khas dari Sunda). Dengan serius anak-anak menyimak penjelasan para teteh dan mencoba membuatnya satu persatu. Setelah semua adonan selesai dibentuk selanjutnya dikukus dan akan dibagikan juga satu-satu bersama caping nanti.

Usai membuat kue Bugis, anak-anak diajari caranya membuat Jahe Bubuk untuk membuat minuman menyehatkan “Wedang Jahe”. Kali ini tak hanya anak-anak yang serius, para ibu dan bapak-bapak pun tampak menyimak baik-baik. Termasuk aku yang dengan sungguh hati akan mempraktekkannya nanti di rumah.

Berikutnya anak-anak dikumpulkan di sebuah ruang terbuka mirip panggung pertunjukan yang masih berada di sekitar kolam renang. Rupanya anak-anak akan diajari caranya menari Jaipong-tarian khas Sunda yang terkenal itu. Setelah semua anak menyampirkan selendang jumputan yang dibagikan di leher masing-masing, kemudian diberi contoh beberapa gerakan tari. Tak lama kemudian, mengalunlah musik dinamis berirama Sunda dari tape recorder yang menjadi pengiring tarian anak-anak. Hebatnya, meski tak lebih dari lima menit diberi instruksi, tapi semua anak bisa menari sesuai yang dicontohkan teteh pemandu di depan mereka. Sangat menakjubkan.

Seperti tak kenal lelah, anak-anak kemudian diajari cara membuat tahu dan bermain gamelan. Ketika memperhatikan cara membuat tahu, ekspresi mereka tak seantusias ketika berhadapan dengan seperangkat gamelan. Bagaimanapun musik memang memiliki daya tarik yang sangat kuat bagi anak-anak. Nang ning neng nongNang ning neng nong… demikian bunyi yang terdengar.

Dimenit-menit awal belum ada harmoni yang terdengar. Tapi beberapa menit kemudian setelah dijelaskan cara memainkan dan cara bekerja sama yang benar dalam bermusik, terdengarlah sebuah komposisi sederhana yang cukup merdu di telinga dan hati. Meski anak-anak masih senang dengan alat musiknya masing-masing, tapi mereka sudah harus mengikuti acara selanjutnya yakni membuat wayang golek dari pelepah daun singkong.

Entah karena durasi yang terbatas atau aku yang lamban tiba di meja praktek membuat wayang, Dinda tidak berhasil menyelesaikan wayangnya. Lututku yang nyeri sudah tak sanggup lagi berdiri lama-lama. Letak tempat acara demi acara yang cukup jauh dengan medan naik turun, tentu saja cukup membebani lututku. Padahal setiap anak harus didampingi ibunya untuk bisa menyelesaikan wayangnya. Dalam hati aku agak iri melihat Wulan ibunda Naila menenteng karyanya ketika menuju bus menjelang pulang. Tapi, tentu saja aku harus terima nasib. Hiks hiks hiks

Waktu sudah menunjukkan pukul 12.10. Waktunya makan siang untuk semua. Karena keterbatasan waktu, kami harus menyelesaikan makan siang dengan menu sayur asam dan ayam goreng plus sambal itu dengan segera agar semua acara bisa selesai tepat pada waktunya.

Setelah makan siang, aku tidak lagi bisa mendampingi Dinda mengikuti kunjungan ke rumah-rumah penduduk dan memandikan kerbau di sungai, karena medan yang harus dilalui sungguh tidak memungkinkan bagi lututku. Kendali mendampingi Dinda pun kuserahkan pada Ninik-pengasuhnya, dan kamera video kutitipkan pada Sisca (ibunda Deniss). Aku minta tolong Sisca untuk merekam gambar anakku memandikan kerbau di sungai. Pasti menarik, pikirku.

Aku kemudian beristirahat di sebuah pendopo terbuka sembari ngobrol dengan Wulan dan menikmati sepoi angin. Kami punya alasan sendiri-sendiri mengapa tidak mendampingi anak-anak kami saat itu. Aku dengan lututku yang bermasalah, dan Wulan yang kecapekan dan merasa sudah pernah mengikuti kegiatan serupa di tempat yang sama beberapa waktu lalu.

Di tengah keasyikan kami mengobrol, udara yang sepanjang pagi dan siang itu terasa panas tiba-tiba terasa dingin. Kulihat langit mulai gelap dan awan tebal tampak berarak. Wulan segera beranjak menuju tepi sungai untuk menjemput Naila dan memandikannya, sedangkan aku sendiri mencoba menyusul pelan-pelan di belakangnya. Kuminta Wulan bergegas saja khawatir didahului hujan, karena aku tidak terlalu berambisi bisa mencapai tepi sungai yang letaknya sangat-sangat curam itu.

Benar saja, beberapa menit kemudian hujan turun dengan deras seolah ditumpahkan dari langit. Aku segera balik arah menuju pendopo menunggu Dinda dan Ninik datang. Hanya hitungan menit mereka sudah ada di depanku dan segera kuminta Ninik memandikan Dinda dan menggantikan bajunya. Selanjutnya, seluruh rombongan berkumpul kembali di ruang tempat anak-anak bermain angklung tadi dan mengantri untuk menerima hasil karya masing-masing anak hari itu. Ada caping lukis dan ada kue Bugis. Sebelum pulang, anak-anak menerima sertifikat tanda keikutsertaan mereka pada “Program Poelang Kampoeng Cinangneng dari Mamang pemandu”. Setelah itu semua menuju bus masing-masing untuk kembali pulang.

Baru beberapa meter melangkah, kami dipanggil untuk kembali ke ruang pertemuan karena rupanya ada sesi pemotretan dengan mamang dan teteh pemandu,untuk kenang-kenangan. Dinda yang sudah capek dan saat itu tengah terkagum-kagum pada angklung di tangannya, menolak ajakan itu. Alat musik bambu seharga 20 ribu yang kubeli di tempat penjualan souvenir itu rupanya cukup membius Dinda, sehingga dia tidak berminat foto-foto. Aku dan beberapa orang lain yang juga enggan berfoto, beriringan menaiki bus. Hujan yang sempat berhenti sejenak segera turun kembali dengan derasnya begitu bus mulai bergerak meninggalkan halaman parkir Cinangneng Village.

Aku yang sudah kecapekan langsung terlelap begitu bus membelah jalan raya. Ayunan bus dan suara hujan di luar memabukkanku. Tak sampai 15 menit aku terlelap, aku terbangun oleh suara riuh rendah anak-anak. Stamina bu guru dan anak-anak sungguh mengagumkan. Semua segar bugar dan tetap gaduh bercengkerama. Sekali-sekali Sisca mondar-mandir memotret kegaduhan itu. Meski sambil duduk, aku ikut-ikutan mengabadikan dengan kamera saku dan kamera video yang ada ditanganku.

Alhamdulillah semua berjalan lancar dan menyenangkan. Kami sampai di PUTIK pukul 15.25 dengan selamat. Hujan masih turun dengan derasnya. Satpam sekolah menyambut kami dengan sigap dengan payung di tangan dan mengantar setiap anak masuk ke mobil jemputan masing-masing. Suamiku dengan manis sudah menunggu. Mobilnya ada dibarisan terdepan para penjemput, sehingga bisa langsung melesat begitu aku dan Dinda masuk ke mobil. Karena hujan pula aku abai pamit pada bu guru dan teman-teman para orang tua. Semoga semua maklum. Tentu saja terima kasih sepenuh hati atas kesabaran dan kebaikan hati bu Lisbet dan bu Lia. Sungguh, sebuah akhir perjalanan (wisata) yang menyenangkan, yang tentu saja akan menjadi catatan indah di benak anak-anak yang sebentar lagi akan melangkah ke bangku sekolah dasar.

[]

Menang Kuis di Bis

Dinda dan Bunda

Dinda dan Naila

Dinda dan Rani

Main Angklung

Belajar Gamelan

Melukis Caping

Caping Lukis Itu

Membuat Kue Bugis

OTW to Jakarta

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 103 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: