[Tribute to Palestina] Lima Puisi Sederhana

Oleh Syaiful Alim

Sajak Kesatu: Puisi Mengecam Perang yang Tumbuh, Mengancam Pedang yang Kambuh

Tanah basah nanah, udara aroma amis darah
air mata manis di lidah, menitis tak sudah.
Langit pecah, tumpah derit derita jenazah
jerit sumpah, melimpah sampah, mengikis ludah.

Perang yang tumbuh subur di gembur dendam,
mayat terkubur di bubur reruntuhan, yang selamat kabur, tubuh mengucur demam.

Berapa lalat melayat, berapa jemaat melafad doa selamat
berapa jumat tersesat tanpa alamat, berapa nisan terpahat
berapa malaikat menyiapkan liang lahat, berapa jiwa tersayat
berapa bocah kehilangan riwayat silsilah, berapa kekasih tak menamatkan kisah.

Maut mengintip dari celah pintu langit.
Raut-raut wajah melancip, terselip pita bunga kamboja di sela-sela peta nasib.
Hidup adalah kesediaan menelan pil pahit.

Mimpi terindah adalah menanti mentari terbit. Malam-malam mabuk peluru
tidur bercampur baur serbuk mesiu.
Hidup adalah kesiapan tempur, menyongsong meriam menderu.

Biarkan kami tidur sejenak, kembali ke masa kanak
menerbangkan layang-layang ke langit retak.
Lalu kami duduk khusyuk menyaksikan layang-layang mengarungi petak-petak langit.
Hidup adalah kebangkitan melawan sakit.

Kami ingin jadi burung. Terbang menjauhi rumah murung
hinggap dari pohon ke pohon, memohon penggembala domba meniup seruling
goyangkan dedaun di reranting, hidupkan ilalang kering.

Tapi! Tapi kami jerah bermimpi. Sejak tank-tank berdetak nyaring
di jantung ini.
Tapi! Tapi kami kapok berharap. Desing peluru jadi momok mengerikan
di pojok-pojok masjid, gereja dan berabad ibadah yang nyeri.

Saudara, perang tak menjanjikan apapun
selain api sepi yang membakar embun.
Saudara, perang tak menghasilkan apapun
selain dingin yang rimbun.

Akulah Penyair, walau tersingkir, masih mahir melahirkan kata-kata
sebagai mahar meminang duka kita.
Aku menambal luka waktu walau selalu jadi tumbal kuasa.
Di jemari Penyairlah semua bermakna.

Akulah Penyair, menulis sajak, lumpuh oleh peluh
mengecam perang yang tumbuh, mengancam pedang yang kambuh
menyangga gubuk hendak rubuh, menampung air mata yang luruh
menanggung luka aduh, menunggang punggung rapuh.

Akulah Penyair, menulis tangis gadis-gadis di kamp-kamp pengungsi
mengiris sepi dengan puisi.
Percayalah, Penyair hadir mengusir rindu tak bertepi.

Puisi, aku mencintaimu!

[]

Sajak Kedua: Perempuan Perdamaian

Jilbab hitam membalut rambut
serta dada gadis palestin itu begitu berlumut
lembab oleh darah dan dendam tersulut
namun keelokan wajahnya tak nampak surut.

Ia mencungkili kerikil di sisa rumah runtuh
untuk mencicil membangun gubuk kedamaian penuh
di kecamuk perang, perang yang selalu tumbuh.

Ia mendengar gemuruh pilu
jilbab disingsingkan, berlari menuju bising peluru
menemui anak-anak di kemah-kemah pengungsi
mengajak mereka membaca sajak dan bernyanyi.

Larik-larik sajak yang tergeletak di pecahan peluru.
Lirik-lirik lagu yang dicetak dari derap sepatu serdadu.

Dalam hujaman tembak mereka bersajak.
Dalam kejam amunisi mereka bernyanyi.

Aduhai, siapalah yang terkoyak dengan lembut sajak.
Aduhai, siapalah yang terkulai dengan merdu lagu.

Dengarlah. Dengarlah. Sajak itu makin mengombak.
Dengarlah. Dengarlah. Nyanyi itu makin nyeri.

“Kami sabar menanti kuncup perdamaian mekar
Seperti kami sabar menggauli lapar.”

“Kami kumpulkan kuntum-kuntum zaitun selagi bisa
Kami pikul harum harapan yang masih sisa.”

“Kami menangis tanpa air mata
Kami mengemis mata air di langit tak bernama.”

“Kami merdeka dari segala penjajah
Kami hidup dan mati di bumi sejarah.”

“Kembalikan Ayah-Ibu kami
Kembalikan darah-rindu kami”

Lihat. Lihatlah. Langit koyak oleh nyaring nyayi itu.
Lihat. Lihatlah. Bumi retak oleh runcing sajak itu.

Tapi tetap saja pedang berdenting
perang berdesing
beribu kuncup zaitun jatuh pecah berkeping
berjuta tubuh terbaring kering.

Beri kami roti gandum
sudah lama kami mati oleh leleh dentum.
Beri kami zaitun sekuntum
sudah lama kami tak mencium harum.

Tapi siapa yang memberi, jika tangan-tangan putus berserakan di lantai rumah ibadah
jika kapal-kapal sembako terjungkal di lautan darah
jika toko-toko hancur roboh berterbangan tak tentu arah.

Siapa? Siapa? Siapa?

Jawab! Jawab! Jawab!

Sesungguhnya apa yang kita ributkan?
Apa yang kita perebutkan?

Apa? Apa? Apa?

Jawab! Jawab! Jawab!

Perempuan perdamaian terus bersajak dan bernyanyi
sepi makin rinai
api amunisi makin ramai.

[]

Sajak Ketiga: Dengan Apa Kudidihkan Pedih, Kekasih?

Entah sejak kapan duka itu
singgah di rumahmu
sanggah ramahmu
marah dan mengusirmu.

Kau mengetuk pintu demi pintu
hidup redup seolah yatim piatu
kau tak kuasa mengutuk
tubuh lapuk menahan kantuk.

Buah Zaitun di kebun berguguran
busuk di tanah bercampur nanah.
Banyak anak berak air mata menimbun gurun
hujan darah turun, tidur tanpa denah kemah.

Sementara para tentara itu
tak jera ranjau mimpimu
dengan peluru luruh
tanpa haru menderu keruh.

Aduhai, adakah paling aduh
kecuali luka yang diseduh
sedih tak sudah terbasuh
oleh leleh lelah tanpa asuh?

Aduh! hai kau yang terpukau dadaku
tembak dan tebak detak jantungku.
Aku lama mati meniti jalan tanpa henti
hentakan mesiu yang meski.

Aduh! hai lihatlah ke laut yang jauh!

Seribu serdadu lesatkan malaikat maut bersayap kabut
mencabut denyut-denyut laut
alam tiba-tiba hitam senyap
malam tiba mendekap harap.

Kapal terjungkal hanyut
luka kian kekal dalam surut
kepada siapa luka dijual atau diobral
segala mengental segila menebal.

Harus kuungkapkan dengan apa kedukaanmu
sumur air mataku kemarau
kata-kata pisau tak mampu menujah dada beku
oh duka berabad lama, terpaku pada batu.

Dengan apa kudidihkan pedih, Kekasih?

[]

Sajak Keempat: Zaitun

Ketika kuncup-kuncup embun belum memekar
penduduk Zaitun itu tertunduk gegar.
Sisa-sisa kantuk tertumbuk pucuk-pucuk peluru
subuh lapuk, sembahyang berpeluk mesiu.

Embun pun pecah
ranting-ranting zaitun patah
Baitul Maqdis menangis
kering sudah senyum manggis bocah-bocah manis.

Di mana lagi tadarus dedaun
“Demi buah Tin, demi buah Zaitun
demi gunung Sinai
demi negeri damai ini”

Siapakah yang menyuruh butir-butir peluru itu
untuk membunuh kuncup-kuncup zaitunku
siapakah yang mengayuh kupu-kupu bersayap besi itu
meluruhkan darah dan meleleh nanah di dadaku.

Di mana kujumpa lagi negeri Zaitun berbuah embun
beningnya mengheningkan doa.
Dimana kujumpa lagi negeri Zaitun berkerudung bulan
terangnya mengeringkan duka.

Aku di sini memunguti jerit kata-kata
merakitnya jadi puisi
seraya sakit melantunkan doa-doa
jauh dari mati.

[]

Sajak Kelima: Menampung Air Mata, Menabung Mata Air

Duka dan petaka seolah hujan
mengguyur kota
padamkan lampu rumah dan jalanan
air mengucur dari genting kaca.

Karam O Karam
Dendam O Dendam

Bagimana melupa dendam
jika meriam melulu berdentam?

Bagaimana menunda air mata
jika berjuta senjata merendam tenda?

Bagaimana memendam geram
jika luka disiram air garam?

Langit Gaza diselubungi jelaga
seribu serdadu serbu gubuk-gubuk pengungsi
kampung dikepung abu senjata
para syuhada menjemput surga
ditangisi seisi bumi.

Kami saksi aksi keji!

Mari menampung air mata
dari sisa-sisa yang sia-sia
diteteskan di dada-dada manusia
tanpa jiwa tanpa merasa dosa.

Mari menabung mata air
dari celah-celah batu
sisa air wudhu
juga telaga yang tawadhu
menuangkan segenang kenang
ke mulut-mulut haus
hangus oleh berhunus-hunus
senjata di gurun tandus.

Menampung air mata
mendera derit derita.
Menabung mata air
bendera berdansa disambut angin semilir.

[] Khartoum, Sudan, 2010.
——————————-

Lima Puisi Sederhana di atas disertakan dalam seleksi buku Antologi Palestina.

Mari kita bantu saudara-saudara tercinta kita di Palestina dengan apa yang kita bisa.

Mohon info ini disebarluaskan. Mohon maaf dan terima kasih.

Rekening Mer-C untuk Palestina :
BCA cab. Kwitang No. Rek. 686.0153678
BSM cab. Kramat No. Rek. 009.0121.773
a.n. Medical Emergency Rescue Committee

Rekening KISPA untuk Palestina :
Bank Muamalat Indonesia cab.Slipi
No. 311.01856.22 an.Nurdin QQ Kispa

Long Journey_nn

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 103 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: